
Gelap nya malam membuat tatapan Sizen tak kunjung bisa terlepas untuk melihat wajah merona Clarisha, walaupun sudah tertidur lelap, tautan mata itu seolah tak bisa teralihkan dengan yang lainnya, hingga tiba disaat getaran ponsel membuyarkan lamunannya, ia terkejut, karena lupa memberitahu semua saudara nya, kala dirinya sedang menjaga gadis bermata hazel biru yang masih terbaring dibed pasien,
panggilan pun diangkat Sizen, pasti yang pertama menghubungi adalah Lukas,siapa lagi selain dia, orang yang begitu risau tak karuan, sebab dia lah Paman yang merasa bersalah atas apa yang terjadi waktu itu,
ucap Lukas,
"Kak Sizen, dimana kalian saat ini? kupikir sudah ada di Vila, tapi ketika aku kembali, hanya ada Darka, Deray, dan Shinje, kalau begitu sekarang posisi kakak dimana? "
mencoba mencari tahu keberadaan Clarisha dari saudara tertua,
ya, bagaimana pun Sizen harus memberitahu nya tentang keberadaan Clarisha, sebenarnya agak gak enak juga, karena Sizen sebelum ini sudah Berjanji untuk tidak memberitahu keberadaan nya pada Lukas, tapi yang namanya kakak pasti akan sulit untuk menyembunyikan hal itu apalagi jika berurusan dengan Lukas, dari ke-empat saudara nya, dialah sosok adek yang begitu dominan dalam kehidupan Sizen,
Lalu dengan terpaksa ia memberitahu tempat dimana mereka berada saat ini,
"Kau mengkhawatirkan Clarisha bukan,itulah alasan utama kau menghubungi ku, Lukas, Aku hanya akan katakan satu hal, maka dengarkan dengan baik, dan jika untuk kedua kalinya ini terjadi, Aku mungkin gak akan menjadi seperti seorang kakak yang kau inginkan, dengar itu baik-baik, Clarisha sedang terbaring di bed pasien rumah sakit, "
Sizen memutuskan panggilan dan memberikan alamat rumah sakit yang ditempati Clarisha, beserta kamar dirinya menginap,
Seseorang seperti Lukas pasti begitu cemas akan wanita yang menganggu dirinya,dari semua pemikiran yang saat ini sedang mengusiknya, dialah orang pertama yang membuat nya harus bergegas ke bagasi mobil dan melakukan perjalanan malam demi melihat keadaan gadis bermata hazel biru yang sangat disukai nya, beberapa jam kemudian, sampailah dia tepat didepan kamar inap Clarisha,
Sizen tidak akan terkejut, kala melihat sang adik tertua berlari sampai ngos-ngosan datang kemari untuk melihat kondisinya,
"Kak, bagaimana keadaan nya? apa terjadi sesuatu yang membuat nya sampai berada disini? "
rasa penasaran itu membuat dirinya langsung bertanya pada sang kakak, sebab dia pikir Sizen lah yang menjadi faktor Clarisha sampai jatuh sakit,
lalu dengan jujur Sizen memberitahu kejadian sebenarnya pada Lukas,
"Kaulah pemicu dia mengalami stress, luka sebelumnya yang membekas diingatan Clarisha begitu berpengaruh pada ingatan nya, sedikit saja dia terbawa suasana buruk, maka kondisi fisik tubuhnya secara mendadak mengalami drop seketika, aku membawa Clarisha disini setelah dia keluar dari perusahaan mu, Lukas, "
mendengar hal itu dia mengacak-acak rambutnya tidak menyangka karena ulah nya, bisa berdampak buruk pada seseorang yang begitu disayanginya,
tidak disangka Clarisha mengigau memanggil nama Pamannya saat itu,
"Paman kau dimana? "
mendengar suara berat Clarisha langsung saja tanpa pikir panjang Lukas membuka pintu kamar inap didepannya, masuk dan duduk disamping tubuh lemah yang terbaring di bed pasien,
ujarnya,
"Aku disini Clarisha, kau istirahat lah kembali! "
mendengar suara yang berbeda,akhirnya walau berat dia terpaksa membuka kelopak matanya, untuk melihat apa benar dugaan nya kalau suara itu tidak lain adalah ciri khas Lukas,
seperti dugaan nya, tepat dihadapan dirinya saat ini adalah orang yang sengaja ingin dihindari Clarisha,
pikir nya,
"sepertinya Paman sengaja membiarkan dia tahu, walaupun aku sudah mencoba mengatakan, tapi sepertinya, darah yang mengalir akan sulit untuk diajak berkompromi, hmmm, ketemu lagi dengan Lukas, sebaiknya tidur lagi, malas berurusan dengan pria ini, "
tubuh yang hendak dibaringkan kembali ternyata dengan sigap Lukas menggantikan bantal itu dengan tubuh nya,
melihat tingkah Lukas membuat Sizen tersenyum dari luar dan meninggalkan keduanya,
namun tidak sengaja sosok berjalan itu terlihat seperti Sizen, dia sengaja pergi meninggalkan kami berdua, demi menjaga perasaan sang adik, ya, dia termasuk kakak yang baik hati, masih mengingat kalau memiliki adik yang sikapnya menyebalkan ini, mau menghindar malah dipertemukan, Sizen kau keterlaluan,
kepala Clarisha berada tepat didada bidang milik Lukas, dia bertanya pada gadis itu,
"kau baik-baik saja, Clarisha? "
dengan ragu dia bicara, tentu dia bersikap seperti itu, sebab dia tahu Lukas lah penyebab semuanya,
Jawab Clarisha,
"Sudah lebih baik Paman, "
seadanya dia memberitahukan,lalu
kembali Lukas masih mengajak nya berbincang,
"Maaf, sudah membuat mu berada di tempat seperti ini, bukan niatku membuat mu terbaring seperti ini, "
kesedihan itu terpancar jelas didepan mata Lukas,
sehingga secara tidak sengaja Clarisha tersenyum melihat ekspresi Lukas padanya,
"wajah sedih itu menarik juga, pasti gadis usil itu juga menyukainya, sampai bersikap seperti itu padaku! "
kesal cemberut, hingga menggerutu didekat Lukas,
sampai kebiasaan lamanya kembali lagi, kemarin sejak menjauh Clarisha sudah tak pernah merasakan sentuhan usil dari pamannya,namun sekarang sepertinya tangan yang satu ini sudah mulai aktif bergerak bermain lembut dikepala ku,walaupun sentuhan nya sedikit berbeda dari sebelumnya,
"apa yang membuat mu begitu tertekan dari kejadian sebelumnya, Clarisha? "
sepertinya pertanyaan ini untuk bisa mengetahui letak kelemahan yang membuat ku terjatuh seperti ini,
"Aku juga tidak tau, tapi saat dia mengatakan mengenai tempat juga batasan ku, tidak tau kenapa aku mengingat kejadian saat hari pernikahan ku berakhir sempurna, untuk tersakiti dan terbunuh di tempat,"
tidak tau kenapa rasanya sulit untuk tidak menjelaskan,
lalu Lukas pun kembali penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Clarisha,
"maksud mu, kau membuat ku bingung dengan semua perkataan mu, Clarisha? "
semakin penasaran dengan semua ucapan nya,
"sudahlah, aku mengantuk mau istirahat sebentar Paman! "
masih mendapatkan perhatian lebih dari Lukas,
"ya, tidur lah, mimpi indah, Clarisha! "
__ADS_1
gumamnya dalam hati,
"tentu saja akan mimpi indah, toh mimpi buruk nya sudah terdampar disini, hemmm, kembali nya Lukas, setidaknya bisa membuat ku sedikit tenang jika perhatian itu seperti seorang Paman yang menyayangi keponakan,tapi jika seperti saat datang ke perusahaan, semua terasa menyesakkan saja, "
mata hazel biru itu akhirnya tertidur lelap,
keesokan harinya, datanglah seorang perawat membawakan air hangat untuk membersihkan tubuh Clarisha beserta lap sebagai pengusapnya, namun Lukas terkejut, sebab kata perawat itu,
"Tuan, ini bisa segera langsung dilap istrinya, mumpung airnya masih hangat, "
Jawab Lukas dengan senyuman yang jujur
"ya, nona, terima kasih sudah mengantarkan nya, "
setelah perawat itu hilang, sirna, tinggal terpasang wajah cemberut Clarisha, melihat sang Paman membawa air hangat,
"berikan padaku, aku bisa melakukan nya sendiri, Paman? "
namun tangan itu sudah siap untuk melakukan pembersihan total padaku,
sepertinya jika sudah berurusan dengan Lukas, Clarisha benar-benar kerepotan dengan tingkah dan ulah nya,
"Tunggu, ya, apa yang sedang coba Paman lakukan? jangan men-coba men-dekat,atau a-ku-"
bahkan Clarisha menjadi gagap seketika karena Lukas semakin maju kedepan,
"kau akan apa Clarisha? coba lanjutkan! aku ingin tau apa yang bisa kau lakukan dengan keadaan mu yang seperti ini, istriku! "
senyum menyeringi membuat gadis itu lebih takut kalau dia benar-benar akan mendapatkan masalah,
"kenapa kau mala, menirukan ucapan perawat itu,Lukas! "
mendengar nama Lukas dipanggil langsung saja dia tak bisa menahan gejolak dirinya sehingga,secara spontan menekan tengkuk leher Clarisha dan mulai ******* bibir manis miliknya, tapi tidak disangka,dia melakukan perlawanan dengan menggigit Bibir Lukas hingga berdarah, sontak hal itu pasti dipikir nya bisa menghentikan tindakan Lukas,
"Aku bilang,jangan melakukan hal yang tidak aku inginkan, Paman Lukas,"
jelas Clarisha sangat kesal, dia juga baru membaik, tapi Paman yang satu ini, benar-benar membuat kondisi nya semakin memburuk,
"Apa kau tau Clarisha? bagaimana kau akan menjelaskan saat aku kembali kerumah dengan bibir lecet seperti ini? "
Lukas kembali mengerjai gadis itu,
sebenarnya sikap Lukas kalau dirumah seperti seorang Paman yang sangat perhatian pada sang keponakan,dan kalau keluar dari tempat persembunyian, dia langsung main mangsa keponakan, Clarisha dalam masalah besar jika masih tetap disamping nya,
gak mungkin jauh juga,kan tinggal seatap,
jawab Clarisha jengkel,
"sehari tak mengerjai ku bisa gak Paman? "
wajar kalau kesal, Paman nya benar-benar membikin Clarisha geleng-geleng kepala, gimana tidak, dia selalu suka melakukan sesuatu sesuka dirinya, setidaknya pikirkan Clarisha juga, tapi nyata nya engak sama sekali,
"menurut mu? "
sikap agresif dan tangguh selalu tersirat dari raut wajahnya,
"mustahil kau akan meberiku ruang istirahat jika bukan dirumah, "
ya, nasib Clarisha memang sulit ditebak, semua bergantung dari sikap Lukas padanya,
"itu pun kau tau, "
dia udah tua, dipanggil Paman, suka banget ngisengin keponakan,
"ya, itu sangat keterlaluan! "
kesal karena keegoisan Paman,
"tidak juga, atau kau ingin aku tukar tempat,bukankah berbahaya kalau buaya berkeliaran dimalam hari, saat mangsa sedang terlelap tidur,Clarisha?"
wah, bisa-bisanya, Lukas seorang Paman,yang bertugas menjaga keponakan, malah,mencoba menggunakan sift malam sebagai sasaran, terkadang Clarisha berpikir, apa benar dia saudara kandung Mommynya,
"kau benar-benar, membuat ku pusing! "
memang bingung kalau urusan mengenai Paman yang satu ini
"butuh pijatan! "
memberi tawaran, seolah mau mencoba melahap Clarisha dengan mulut buaya nya,
memikirkan kata-kata itu membuat bulu kuduk Clarisha berdiri, langsung saja dia menampik nya dengan mudah,
"Tidak, Terima kasih, tidak baik seorang pasien dipijat tanpa anjuran dokter, "
mengesalkan,
"kau memang pandai membuat alasan, "
karena merasa kalau Clarisha sudah sedikit, mengalami perubahan sikap,
"kau juga pandai mengambil kesempatan, "
tegas nya membuat senyum afiliasi keluar secara tiba-tiba, mengejutkan,
kata Lukas,
"jadi kau mengakuinya! "
menutup bibir itu rapat-rapat, takut jika jawaban yang akan diberikan, berdampak buruk pada Clarisha,tiba-tiba saja sekelompok Paman datang menyerbu ruangan ini,dalam benaknya,
"kedatangan mereka pasti banyak mencuri perhatian, mustahil jika tidak, mereka berempat perfect, tapi kecuali Paman Shinje, dia tukang pembuat onar, "
__ADS_1
diluar bisa terlihat beberapa wanita mengintip dari pintu kamar inap,
kata Clarisha,
"Terima kasih sudah menjengguk ku, teruntuk semua Paman! "
mereka datang bukan dengan tangan kosong, Paman Darka dan Deray, membelikan sebuah boneka yang sangat cantik, lalu Paman Shinje memberikan coklat se kotak penuh, dan yang paling Clarisha sukai yaitu satu buket bunga mawar merah, menakjubkan, tapi disela itu nampak Lukas memberikan kode dengan meletakkan satu jari manis tepat dibibir tengah nya,
ujarnya,
"dia Paman yang telah lulus menghantui sang keponakan, "
kesimpulan dari semua sifat Lukas padanya,
tanya nya,
~Darka,
"bagaimana keadaan mu, Clarisha? "
jawabnya,
"Baik Paman Darka, semua sudah membaik, lebih dari sebelumnya, "
~Darka,
"bagus kalau begitu, dengan begini kau bisa pulih lebih cepat, dan bisa berkumpul kembali divila, "
sahut Deray,
"kau yakin keadaan mu membaik? tapi bagaimana bisa mendadak tubuh mu menjadi sangat lemah? "
tentu terkejut karena semula saat Clarisha keluar vila dia masih dalam keadaan baik,
kira-kira Clarisha akan menjawab apa ya, namun sebelum dijawab Shinje menghiasi ruangan dengan kekonyolan nya,
Shinje,
"Clarisha, aku kira rumah sakit ini membuat mu lebih cantik! "
jawaban atas pendapat Clarisha,
"itu artinya sebelumnya aku tidak cantik,lebih parah mestinya kalau ada seseorang yang mengawasi ku,"
Sizen sangat tau jelas mengenai orang yang diamaksud,dan mencoba tersenyum dari pertikaian keduanya,antara Paman dan keponakan itu,
tidak disangka Shinje paham betul dari penjelasan Clarisha,
"Memang siapa pengawas yang membuat mu menjadi lebih parah? "
"GLEK, "
Clarisha menelan salivanya sebab orang tersebut, yang dimaksud Olehnya, sedang menatap tajam kearahnya, langsung saja tanpa pikir panjang, dia mengubah serangannya kepada orang lain,
"Paman, Sizen, "
hanya itu satu-satunya jalan, agar dirinya bisa selamat dari tatapan yang ingin memberikan hukuman,tapi Sizen malah tersenyum afiliasi ketika Clarisha menyudutkan nya menjadi pengawas yang mengubah segalanya,
entah bagaimana hasilnya, Paman Sizen menimpali perkataan ku,
"Jika aku seorang pengawas yang membuat mu lebih parah, maka bisa dengan mudah hari ini merencanakan semuanya,karena aku hadir dalam kunjungan untuk melihat mu, bukan begitu, Clarisha, jadi bersiaplah mengenai hal itu? "
Clarisha melongo, mendengar Sizen memberikan peringatan kepada nya, tepat dihadapan semua saudara nya, walaupun mereka tak beranggapan apapun, tapi kenapa aku merasa, itu seperti sebuah peringatan untuk ku,seperti nya aku membuat dua masalah baru dengan pamanku sendiri,
Shinje berkata,
"jika Kak Sizen, sepertinya agak diragukan,tapi kalau kak Lukas, itu baru sempurna! "
tidak tau kenapa, untuk pertama kalinya Shinje mengatakan hal yang sebenarnya, memang terlihat Lukas lebih dominan, tapi bagaimana jika ada dua pengawas sekaligus, itu lebih besar bahayanya,
balik tanya Shinje pada Clarisha,
"Clarisha? apa kau betah berada disini? tempat ini tidaklah nyaman, sampai kapan kau akan berencana disini? "
baru saja dia bersikap normal, sekarang dia membuat Clarisha naik darah,
"Tidak, tidak ada rencana, yang ada ingin pulang ke vila dan tidur nyenyak dikamar, itu hal yang paling menyenangkan, hahh, kenapa ini harus terjadi padaku? "
sahut Shinje,
"Mungkin orang yang sengaja melakukan hal ini padamu karena faktor perasaan, atau karena dia menyukaimu? "
Clarisha terkejut darimana Paman Shinje mendapatkan kesimpulan se aneh itu,
"Masuk kemari, memang apa hubungannya dengan perasaan? jangan bercanda deh Paman Shinje! apalagi menyukai seseorang sampai masuk kerumah sakit, lebih baik tidak mendapatkan kasih sayang kalau ujung-ujungnya, menderita,terdampar di bed pasien membuat ku tidak nyaman Paman! "
Lukas dan Sizen terdiam, seolah percakapan antara Dia dengan Shinje berujung pada sikap mereka padanya,
apakah Clarisha akan menyadari sesuatu ketika keduanya sengaja memasuki kehidupan yang sebenarnya, tak pernah terbayangkan oleh nya, dicintai Pamannya sendiri adalah sesuatu hal yang berbeda.
namun tidak diduga penglihatan Paman Shinje melebihi tajamnya CCTV,
"Kak Lukas, bibir mu kenapa? "
oh my god, masalah baru lagi jika sampai Paman Lukas bilang yang sebenarnya,
tapi untuk Sizen dia sudah paham dengan kondisi yang dialami oleh Lukas,
gumam Sizen dalam hati,
"Jadi mereka sudah sejauh ini, jika tau begini aku tidak akan membiarkan mereka hanya berdua saja,"
__ADS_1