Terkunci Dalam Dunia My Uncle

Terkunci Dalam Dunia My Uncle
Takdir Nyata


__ADS_3

Hampir beberapa menit bibir mereka berdua saling bersentuhan merasakan rasanya bak es americano dengan lemon yang segar,


yaa, tau sendiri la gimana rasanya?


"Dok, "


"Dok, "


"Dok, "


suara ketukan pintu menghentikan segalanya,baru kemudian dia Ular piton itu langsung beranjak dan melihat siapa yang berani mengganggu nya, gagang pintu perlahan terbuka,namun tak terduga amarah yang tiba-tiba saja memuncak itu akhirnya mereda, sahutnya dengan lembut,


"Kau disini? "


aku pun kaget, bagaimana tidak emosi yang menggila hanyut sudah tertelan ombak yang datang menghampiri nya,


siapa sih dia? penasaran pikir ku terus membayangkan wajah siapa dibalik pintu itu, dan langsung dengan mata hazel biru berbinar memperlihatkan kebahagiaan tersirat sendiri oleh ku,ternyata aku melihat wajah dibalik pintu yang terbuka adalah,


"Kak Dirga! "


pantas kalau ular piton itu bungkam nya bukan main, karena kakak terbaikku datang menjenguk ku, tapi mata ku tertegun kala nampak seseorang dari belakang dirinya kini memperlihatkan kekhawatiran sebab,


"Oh ya, Clarisha, Kakak bawa sahabat terbaik ku datang melihat kondisi mu, dia adalah-? "


benarkah apa yang aku lihat, seribu luka ku kini terbuka kembali menatap wajah dari kebodohannya,


Sahut ku,


"Direndra_"


mereka berdua terkejut bukan main mendengar secara langsung nama yang seharusnya tak aku ketahui, sehingga timbullah kata tanya dari Kak Dirgha,


(Lo tu di tahan dikit napa, ini bukan hidup lo, melainkan Kehidupan Clarisha yang kau tempat ini, inget gak?)


sekali lagi lo nongol ceramahin gue, akan ku buat kau gak bisa lagi komen di episode kali ini,


(ya baiklah, okey, see you)


rasa penasaran itu membuat Dirgha bertanya,


"Jadi kalian sudah saling kenal, tapi sejak kapan? dan kenapa tidak ada yang memberitahu ku dari dua orang yang saling bertatap agak aneh ini! "


wajar kakak merasakan aura aneh, namun lebih membingungkan ucapan ku kepada Direndra pastilah membikin dia berpikir seribu bahasa, tentang siapa aku, dimana dia mengenal ku, kapan dia memulai semuanya,terlihat kediamannya hingga resah dari raut wajahnya tersirat jelas.


Rasa kaget mu melebihi diriku, Direndra, aku tak akan pernah lupa seumur hidupku dengan semua pengalaman hidup ku dimasa lalu, kau dan aku, kini hanya sebatas sebuah kenangan pahit dalam persinggahan, mantan calon mempelai pria.


Diam, kedua bibir kami saling tertutup tanpa jawaban yang memperjelas pertanyaan kak Dirgha, sampai tanpa sadar Ular piton itu mengawasi ku dengan bayangan fantasi nya tentang ku,


aku gak peduli dengan cara mu berpikir, yang kini ku sesali kenapa harus bertemu dengan orang dari kehidupan Finesha, apakah ini nyata? ya ini adalah sebuah takdir nyata yang kembali menghubungkan ku kembali pada nya, kenapa kak Dirgha harus memiliki sahabat terbaik dan itu Dia, tidak adakah yang lain, dari jutaan orang kenapa harus-,


karena bengong kak Dirgha memanggilku sembari menyentuh bahu ku, aku pun jelas langsung menatap kearahnya,


"Clarisha ada apa? kenapa sekarang kau kembali seperti dulu, diam tanpa bicara bahkan tanpa respon sedikitpun, Paman apa ini terjadi sebelum nya? "


jawab paman,


"Bukan, ini pertama kalinya dia bersikap seperti itu, Dirgha, mungkin ada alasan dibalik kediamannya, aku juga tidak mengetahui nya? "


masih terpaku tiada henti menatap tepat pada kedua mata yang saling beradu,


lalu pikiran ku sesaat lenyap kala kak Dirgha memeluk erat tubuhku, betapa hangat pelukan erat jemarinya yang kini melekat dibagian tubuh ku,


"Kakak aku baik-baik saja, memang Mommy tidak datang kak? "


tanya ku yang sengaja untuk menepis pembicaraan yang sama sekali tak aku inginkan,


jawab nya lembut hingga membikin semua kerinduan ku padanya seolah sirna seketika,


"Mommy gak akan bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung, sebab tugas Mommy lebih berat dari sebelumnya, dan ada alasan dibalik ketidak datangannya kemari, jangan khawatir, Mommy menyanyangi mu, Clarisha! "


ucapannya bak sebuah pertanda bagi ku, kekacauan dalam pikiran ku semakin menjadi, kedatangannya seratus persen berhasil mengubah situasi kondisi bahkan sikap ku, seperti kembali ke tempat dimana jati diri ku berada, kali ini, aku gak akan membiarkan mu lolos Direndra,


Frand Huyan yang masih disana, diselimuti penuh banyak nya teka-teki lain dari membaca keadaan disana, entah apa itu, tapi bisa dipastikan bagi nya,


"Kau menempatkan dia sisi dirimu yang berbeda tepat dihadapan ku, Clarisha,dan kenapa harus dia yang mendapatkan sisi ke agresifan mu itu? atau kau berniat untuk mendapatkan nya? mungkin melakukan rencana yang lain adalah sebuah tindakan tersembunyi demi berhasil melakukan serangan pada seorang pria yang bernama Direndra, memang adakah yang nampak spesial dari nya! bagi ku dia hanya orang biasa saja,"


Tiba-tiba saja sebuah panggilan ponsel berdering dan itu milik Direndra, ketika dia mengangkat nya ternyata aku mendengar sebuah nama yang nyaris ingin menghancurkan ponsel itu, tapi mau tidak mau aku harus terus menahan emosiku yang meluap hampir tak terbendung ini,


katanya,


"Kenapa kau masih menghubungi ku, Fenesha? bukankah perceraian kita sudah berakhir dan kau pun harus pergi bersembunyi bersama ibu mu, jika tidak, kalau sampai keberadaan mu diketahui Tuan Henson,kau akan dikubur hidup-hidup olehnya, bukankah dibalik insiden penabrakan dari lokasi sekitar Toko bunga itu adalah kau, sang pelaku misterius yang sekarang bahkan masih dalam pencarian, atau haruskah aku menghubungi polisi?"


"Tut, "


"Tut, "


.

__ADS_1


"Tut, "


"Panggilan nya langsung ditutup,menakjubkan, apa dia pikir bisa lolos semudah itu dari Tuan Henson, dasar gadis bodoh, aku tidak tau kenapa walaupun kembar kenapa otak nya lebih tragis dari seorang psikopat? "


tanya Dirgha,


"dari gadis gila itu? "


jawab nya langsung,


"Ya, kenapa hidup ku harus hancur ditangan wanita aneh itu! "


kekesalan itu nampak tersirat penuh kala dia memanggil nama,


"Yang ku ingin kan hanyalah dirimu, Finesha! "


kata Dirgha,


"sepertinya itu mustahil dengan keadaan mu yang seperti ini? "


mendengar percakapan mereka sontak langsung detik itu juga aku melongo sejenak,


tunggu dia bilang kecelakaan tragis itu ada, dan benar menimpa Finesha berarti itu nyata, bukan sekedar mimpi atau semacam halusinasi dalam bayangan tidur ku, apa-apa an ini,


mencela pembicaraan mereka,


"lalu dimana saat ini dia dirawat? "


tanya ku membuat Direndra bingung, tapi tidak kusangka dia langsung memberikan suara nya,


"Di hospital XXX_, kau mengenal Finesha? apa kalian saling berhubungan sebelum nya? dan kenapa dia sama sekali tidak memberitahu ku? "


Kecemasan ku membuat pikiran ku hanyut sehingga dengan meronta-ronta ingin melihat kondisi yang tengah dialami oleh tubuh Finesha,


"Kak sekarang bawa aku ke Hospital itu, aku ingin melihat kondisi Finesha, kak bantu aku menemuinya tolong, aku mohon sekali ini saja padamu! "


permohonan kali ini mengejutkan Dirgha sebab dia sama sekali tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, atau mungkin ada hubungan yang sebelumnya terjadi diantara mereka,


"Kenapa kau bersikap sekeras ini, Clarisha? "


bahkan Frand saja terpaku melihat ekspresi ketakutan dalam diri Clarisha sehingga,


"Dirgha sebaiknya kau bawa adik mu mengunjunginya sebelum sesuatu terjadi pada kondisi kestabilan tubuh nya berubah, kau mendengar ku, Dirgha? "


Ia pun menanggapi sang paman,


sahutku,


"Aku baik-baik saja, aku ingin bertemu dengan nya!"


untuk pertama kali dalam hidup Dirgha diliputi kecemasan yang luar biasa, bagaimana tidak, melihat sang adik yang kini tidak bisa berpikir positif dan malah terlihat menakutkan dihadapan nya,


kata Paman,


"Kau jangan cemas Dirgha, aku akan menemani kalian untuk pergi kesana! "


mendengar hal itu memang sedikit mengurangi rasa takut yang menghampiri Dirgha, tapi apa boleh buat langsung detik itu juga mereka berempat pergi menuju Hospital yang merawat Finesha,


Didalam mobil terlihat jemari tangannya bermain aktif, yang menandakan keresahan hatinya sudah sangat sulit diatur, walaupun demikian Clarisha benar-benar sudah sepenuhnya memenuhi seisi pemikiran semua pria yang berada dimobil saat ini, termasuk Direndra, masih terpaku melihat reaksi kepanikan Gadis bermata hazel biru tersebut,seolah tengah membuat nya mengingatkan kepada kebiasaan sikap Finesha yang selalu memainkan semua jemarinya dalam satu genggaman tangan,


katanya,


"Jangan setegang itu, kita kesana dengan hati yang tenang, dan semoga semua baik-baik saja, kau mendengar ku Clarisha! "


entah kenapa suara itu sejenak membikin semua jemari ku terhenti, apa perasaan ku masih ada? atau mungkin karena caranya menenangkan sudah menjadi kebiasaan sempurna untuk diriku, yang sudah lama mengenalnya, mungkin saja seperti itu ya, Wwoi bisa nongol gak,


(apa? katanya gak mau aku ikut campur, makanya gue diam, napa lo panggil mendadak? ada yang masih belum kelar kah?)


ya bantuin aku nyelesain kekhawatiran ku, kali ini aku butuh banget lo banyak bicara supaya pikiran gue bisa jernih,


(yakin gak masalah, tapi bukannya ini akan membuat mu dalam masalah?entah kenapa aku memiliki firasat yang buruk, mengenai perjalanan mu kali ini, walau aku tidak tau apa? )


jadi kau juga sama, akankah seburuk itu,


(belum tau juga, tapi antara dua kehidupan Finesha dan Clarisha jika keduanya saling terhubung bagaimana nasib keduanya? )


aku juga tidak mengerti, mau bagaimana lagi hanya bisa melewati jalannya cerita saja,


(ya kau memang benar)


Setelah perjalanan yang ditempuh lumayan cukup jauh, akhirnya tibalah saat dimana langkah kaki yang berpijak ini mengalami kegemingan yang luar biasa,


ini apa yang sebenarnya terjadi, detak jantung ku berdetak sangat kencang, menggebu tidak karuan, seolah akan ada pertanda buruk yang sebentar lagi terjadi, semoga semua baik-baik saja,


berjalan menelusuri semua arah untuk menuju ke tempat dimana ruangan itu kini berada tepat dihadapan ku, terlihat sesosok pria yang begitu teduhnya, bahkan mata lebam kian memperburuk keadaan nya, kini menatap tajam ke depan pintu kamar inap Clarisha, pria itu tidak lain adalah


"Srekk, "

__ADS_1


pintu dibuka, ternyata,


"Apa yang kalian lakukan di depan kamar ini? "


jawab ku,


"Paman, bisakah aku menjenguk Finesha, sebentar? "


jemari tangan itu menyentuh dahi yang mengernyit sesaat,


"Kau pergi saja! memang siapa kau berani menemuinya? "


berbalik badan mencoba menutup kembali pintu kamar tersebut, lalu aku pun dengan sigap menahan pintu itu dengan menghadangnya dengan jemari ku, mereka yang dibelakang ku heran dengan sangat atas perbuatan ku,


"Adik apa yang kau lakukan? kenapa kau sampai senekat ini? "


aku pun menatap menoleh kearah wajah kakak ku dengan beberapa tetesan air mata sehingga dia pun tidak tau apa yang kini bisa seorang kakak perbuat untuk kesedihan sang adik,


Pintu itu pun kini terbuka, melihat sikap gigihnya Clarisha membikin hati seorang Henson tertegun, membiarkan nya masuk adalah cara termudah dirinya agar mereka semua bisa langsung pergi, memasuki kamar dia terhenti sesaat setelah dengan mata kepala sendiri terlihat tubuhnya kini terbaring tanpa daya, ke-empat pria itu menatap cemas wajah Clarisha, berbeda dengan Henson yang mengkhawatirkan bagaimana kalau gadis itu sampai berbuat nekat, namun ketika tangan itu membelai lembut rambut Finesha, raut wajah Clarisha tersenyum sembari berkata,


"Aku merindukan kebersamaan kita, Finesha? "


mendengar hal itu air mata Henson berderai keluar dengan sendirinya, sesekali sesegukan hati merasa sangat kuat menerkam kesedihan yang terpendam yang dialami semasa hidupnya,


"Finesha,,? apa yang harus aku lakukan padamu? sadarlah,kumohon! "


kalimat itu tiba-tiba saja menjadi penghubung dari hal menakjubkan yang terjadi diantara keduanya,


"Brukk, "


tubuh Clarisha terjatuh diatas lantai tanpa kesadaran,Dirgha, Direndra, Frand sekaligus Henson berlari untuk menolong gadis itu,


Namun tidak terduga dalam keadaan yang sama kondisinya juga memburuk, apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya dokter yang tadi dipanggil melalui tanda tombol seketika menghampiri ruangan tersebut, tapi perkataan nya membikin semua bengong bahkan kacau tanpa bisa sanggup bicara,


"kedua pasien mengalami kondisi kritis, mereka harus melakukan pemeriksaan lanjutan, "


setelah itu kini keduanya dimasukkan keruangan yang sama, namun ketika pemeriksaan dilakukan oleh kedua dokter berbeda ketidak sengajaan terjadi, kedua sisi tangan mereka yang berlawanan terjatuh dari Bed pasien, saling bersentuhan dan dalam hitungan menit sebuah aliran aneh masuk terhubung dalam kedua jari itu,


"Hahhhh, "


sebuah tarikan nafas mengagetkan terjadi pada kedua pasien, nyaris tidak dapat dipercaya keduanya tersadar dengan mudahnya, namun kesadaran mereka berubah tercekat kala Finesha kembali melihat ternyata pakaian yang sama dia pakai masih seperti sebelumnya, dan menatap ke arah beda pasien sebelah terlihat dia memasang raut wajah senyum pada ku,


kini dia kembali tapi terjebak dalam tubuh asliku, begitu pula dengan ku yang tak tau lagi bisa kembali atau tidak dalam kehidupan normal ku,


(liat, ini yang kumaksud dengan kekhawatiran hati ku, terjadi juga to)


nongol disaat yang tepat,


(jangan khawatir itu sudah menjadi tugas ku)


tugas membuatku terjebak lagi dalam permainan aneh lagi, kau tau aku tadi udah tegang banget dengan semua kejadianya, dan sekarang kembali ke laptop lagi, haduh tidak bisakah semua berjalan lancar,


kata Frand yang membuyarkan lamunan ku, tepat di sebelah ku,


"Sepertinya perjalanan mu kembali dengan sangat lancar, "


ucapan nya seolah mengetahui sesuatu pada ku,


"Kenapa kau berbicara seperti itu, Frand Huyan? "


ucapan inilah yang selalu dirindukan dirinya pada sesosok Clarisha, lebih tepatnya, Finesha,


"tidak perlu alasan untuk berbicara bukan! "


dia memang orang yang menyebalkan, lalu gimana kondisi Clarisha disana, sebuah tragedi terjadi tiba-tiba saja ketika Henson berada disisinya dia memeluk erat dirinya namun,


dia mencoba jujur pada Daddy ku,


"Bagaimana jika aku bukan lagi seseorang yang kau sayangi? "


jawab nya,


"Tidak masalah Daddy akan slalu berusaha menjadikan yang terbaik untuk mu, sayang! "


akhirnya dia kembali hidup diposisi ku, ini tidak adil kenapa pertukaran hidup membuatku susah dengan adanya semua yang terjadi dalam keluarga nya, Clarisha aku harus berbicara empat mata dengan mu nanti.


tapi jika aku kembali ke tubuh ku?


(Ku yakin kau merindukan semua pria bening-bening itu, bener to, heheheh)


Tepat sekali,


(Merindukan paman Sizen dan Lukas atau semuanya?)


gak tau sulit untuk ditebak. pikiran ku selalu plin plan kalau berhadapan dengan para paman yang perfect abis itu.


(jika sudah berbicara soal mereka kau seolah sedang tak punya masalah saja)

__ADS_1


benar juga omongan lo.


__ADS_2