Terkunci Dalam Dunia My Uncle

Terkunci Dalam Dunia My Uncle
Hari Buruk


__ADS_3

Semuanya, apakah akan membuat ku selalu kena masalah, sekali lagi bertemu dia menjadi kakak angkat ku, lalu menggunakan kesempatan ini untuk mempermainkan ku lagi, memukul dada bidangnya, dengan kedua tangan bersusah payah mencoba melepas dari cengkraman bibir nya, itu malah semakin membikin dia lebih serius lagi membalik tubuh ku tanpa menghentikan ciumannya, sekarang aku merasakan kesulitan untuk bernafas, dengan langkah kaki yang sekarang berbalik berjalan mundur melangkah seperti kemauannya, sehingga beberapa pijakan kaki itu terhenti kala sebuah ranjang tepat dibelakang ku nyaris membikin aku tak bisa lagi berpikir dengan kondisi terberat ku,


(berat gimana? bukannya itu nikmat! )


nyingkir dan jangan muncul lagi untuk saat ini, kondisi ku lagi kacau kali ini,


(it's okay, selamat bersenang-senang,)


lalu tak disangka dia tiba-tiba saja mendorong tubuhku sehingga secara spontan aku terjatuh diatas ranjang besar miliknya,


"Bakk, "


Dia menghentikan serangan nya sembari menatap wajahku yang semakin merah dengan nafas yang Tersengal-sengal sebab ulahnya yang tak kunjung memberi jeda sponsor dalam ciumannya, setidaknya drama romantis nya bisa sedikit beristirahat,


(lo pikir itu film apa? main pakek sponsor pula,)


Ya kan setidaknya kasih tanda koma kek kan bisa,


(Bukan tulisan yang harus ada tanda bacanya,)


emang lo pikir hidup hidup gak perlu untuk bernafas apa?


(benar juga sih,)


Diem lo bawel,


tak berhenti sampai disitu, jemari tangannya sekarang bergerak bermain dengan beberapa helai rambut panjang ku, ditariklah perlahan dalam sentuhannya kemudian mendekatkan pada bibir nya, menghirup aroma sekaligus menciumnya tepat dihadapanku dengan tatapan yang begitu tajam tersirat berbeda,


Ujarnya,


"Kau akan ku biarkan keluar, setelah adikku menunggu dengan baik disini, setelah ganti baju selesai, Oke, sayang! "


terdengar aneh,


"Hii, sejak kapan embel-embel itu menempel pada ku, Paman? "


terhenti sejenak,


"Kau bilang apa tadi? "


Gawat aku keceplosan dengan panggilan yang sudah menjadi kebiasaan ku sebelum nya, ini menyulitkan,


"Ah, tidak kak, kau ganti pakaian saja terlebih dahulu, biar aku menunggu disini! "


gila aku terjebak dikamar kakak pertama dan itu adalah Frand Huyan kenapa harus dia coba?


Selesai dia menggunakan kemeja dia berjalan ke arah ku masih terduduk diatas ranjang miliknya,


gumamku,


"Kau pria tapi kenapa begitu lama memilih kemejanya? "


jawabnya,


"mencari sesuatu yang sedang ingin dikenakan, "


sahutku


"Kalau sudah ketemu berikan ponselku sekarang! "


tersenyum sambil mengatakan kepada finesha,


"Carilah dibawah bantal tidur dibelakang mu itu! "


langsung bergegas sambil tengkurap dia menyingkap satu persatu bantal yang ada dihadapan nya, ternyata-


kediamannya membikin Huyan penasaran,


"apa kau sudah menemukan nya Fine? "


terkejut mendengar nama panggilan nya berubah,


"Ya, sejak kapan kau ubah nama panggilan ku? "


Ujarnya,


"Apa Mom tidak memberitahukan itu kepada mu? "


sambil membenarkan dasi, sama sekali tak direspon oleh nya, akhirnya ia langsung mendekat kearah adiknya dan melihat sendiri apa yang sedang dilakukan nya dengan begitu serius tanpa menghiraukan perkataan nya, lalu tak diduga Finesha sedang terbawa suasana menonton keseruan dari Anime series,


duduk disamping nya dan mencoba bertanya kembali,


"Apa kau mendengar ku? "


Masih serius menonton Anime yang sedang berlangsung, merasa tidak diperhatikan atau bahkan dihiraukan akhirnya, ia juga membaringkan diri diranjang tepat disebelah nya, memiringkan tubuhnya tepat menghadap pada wajah Finesha, sambil satu tangannya dijadikan penyangga kepalanya, menatap penuh pada Adiknya, pada akhirnya juga berakhir tak dianggap keberadaannya,


lalu dia memainkan trik dengan sedikit menggoda nya,


"Kau semakin Cantik, Finesha! "


jemari tangan yang asyik bermain rambut yang berada didekat telinganya, masih juga tak kunjung mendapatkan perhatian,


ungkap dalam hatinya,


"Aku dikalahkan dengan benda pipih itu, liat saja apa yang akan aku lakukan sekarang?"


karena kesal ia pun langsung menutupi layar ponsel miliknya yang saat ini dalam posisi miring,


Celetuknya,


"Kau tau ini lagi seru-serunya dan kau menghalangi pemandangan, Kak tarik kembali tangan mu atau?"


jawabnya,


"Tidak, atau apa? "


mencoba melepasnya,namun itu terlalu kuat buat Finesha, akhirnya dia mendapatkan ide dengan menggigit telapak nya hingga berbekas gigitan kemerahan, tapi tak juga dilepas,


katanya,


"Sebenarnya apa yang kakak mau sih? kau sudah mengunci ku disini, tak membiarkan ku pergi keluar dengan ponselku, sekarang apa lagi, kak Huyan? "


tersenyum melihat Finesha,


"Cium pipi ku sekarang juga, Sayang! "


terkejut,


"Apa? "


Ungkapnya,


"Kenapa? bukannya kau juga menyukainya, sa-yang, "


tiba-tiba suara pengganggu datang,


"Dok, dok, dok, "


ketukan pintu mengubah segalanya,


batinku,


kuharap ini bisa membuat ku lolos dari kamar Frand Huyan,


namun bukannya beranjak dari dekatku, malahan dia nampak santai sambil memandangiku,


"Apa? "


masih dengan keputusan yang sama,


"Cium aku! "


mendesah jengkel,


"Hah, berhenti mengatakan hal itu kak! "


karena senang melihat reaksi dari adiknya maka dia sengaja membuat sebuah tawaran sekaligus meminta imbalannya,


ungkapnya,


"Kalau kau menciumku sekarang, maka aku akan memberimu kabar tentang Mommy nya Clarisha, bukankah itu sangat penting bagimu, Adikku manis? "


gerutu dalam hatiku,


"Kenapa dia begitu pandai membuat ku tak bisa menolak tawaran nya? tapi kenapa harus dengan imbalan yang menyebalkan itu?dasar! "


kataku,


"Benarkah dan itu tidak bohong, tidak bisakah imbalannya diubah, kakak! "


Huyan berpikir,


"Jadi kau ingin aku tidur disamping mu malam ini,"


tercengang dan emosi,


"Apa kau gila? "

__ADS_1


ke jengkelannya membikin Huyan semakin gemas,


"Aku cukup sadar dengan keinginan ku ini, Adik! "


Finesha memikirkan Mommy nya Clarisha, sebab dia ingin mengetahui kondisinya setelah semua yang tengah terjadi,


kembali mencoba mengubah pendirian ku,


"Pikir kan baik-baik, sebab tak ada orang yang mengetahui lebih jelasnya semua keadaan itu kecuali aku, Finesha! bukannya kau juga paham mengenai hal itu? "


mendengar penuturannya, maka hati Finesha pun goyah sehingga akhirnya dia mencium pipi Huyan dengan wajah cemberut nya,


"Emmah, "


ciuman yang setengah kesal,


"Aduh, Adikku benar-benar mengemaskan, "


jawab ku,


"sekarang mana imbalan ku? "


balasnya,


"Baiklah, maka dengar kan,dia saat ini sedang berusaha mencari mu, dan mendapatkan dirimu sampai kau dinyatakan ditemukan, hingga Shintya sendiri melihat bahwa kau tengah berada dalam genggaman nya menjadi putri pengganti bagi nya,segala upaya dilakukan hanya demi mengetahui keberadaan mu, Finesha! "


sejenak aku kaget hingga waktu itu aku langsung mendaratkan daguku tepat diranjang,


"Benarkah, lalu apakah kau akan memberitahu nya sekarang? "


mencoba menebak namun Frand Huyan hanya tersenyum duchennes padanya, serta mengalihkan suasana,


ucap Frand Huyan,


"Anime apa yang kau tonton saat ini? "


hari buruk ini membikin mood menyenangkan menjadi berubah seketika,


"Memang kenapa? "


ketusnya pada kakak pertama nya,


"Jangan ngambek, apalagi cemberut,itu membikin aku semakin tergoda! "


menatap sendu kearah nya,


"Hentikan, aku sedang tidak ingin bercanda kakak!"


masih dalam pertanyaan yang sama,


"Apakah semenarik itu? "


"Ya, "


"Tentang apa? "


"Konflik Brothers, "


"Bukan kita, tapi anime itu adekkk! "


"Ngajak perang ni! "


"Mau lanjut yang hangat, okey kakak udah siap! "


"Bik ina lebih siap dua puluh empat jam, untuk wedang jahe nya, okeyy, kakak ku! "


"Kok wedang jahe! "


"emang maunya apa? "


"Kamu! "


"Ditolak, "


"Kan tidak nembak, "


"buset, kak berhenti ngusilin aku deh, berikan kuncinya biar aku pergi dari sini! "


"Gak, "


"Kenapa sih kak? "


"karena kamu, "


"Aku, apa aku buat masalah lagi? tidak kan! "


"Ya, "


"Karena aku semakin menyukaimu, Finesha, "


dibuat bungkam dengan percakapan serius mereka,


balasnya,


"Terserah aku sama sekali tidak perduli!


(yang bener)


diem lo bawel,


walaupun aku mengatakannya jangan, itu juga bukan hak ku atas keberadaan perasaan yang ada dalam hidup mu, dengan prinsip kuat mu itu bahkan kokohnya keputusan tak kan mampu dicegah dengan mudahnya, kakak,


hari ini bagi Finesha berasa begitu buruk dalam sejarah permasalahan yang ada, mencoba melupakan, tapi keadaan melekat kan kembali dengan sebuah pertemuan yang mengejutkan ini,


tibalah saat dimana semuanya membingungkan Finesha, dibalik pintu ternyata telah kedatangan seseorang yang tak lain lagi dia adalah,


kata Finesha,


"Kak Hezan, "


gelagat aneh Huyan terlihat saat beranjak pergi secara langsung menuju ke pintu tersebut,


batin adik manisnya,


"Jangan bilang kalau dia mau mencoba membuka pintu itu sekarang! "


suara panggilan terdengar,


"Kak Huyan, apa kau sedang ada didalam? "


memegang gagang pintu sembari tersenyum melihat ku,


"Perasaan ku mulai gak enak ni, "


dan ternyata persis sama seperti dugaan ku dia,


Dasar, dia benar-benar membuka gagang Pintu dan seketika aku dibuat kebingungan kelabakan didalam sana mencari tempat persembunyian, Awas dan tunggu pembalasan ku!


mencari tempat dan


seruku,


"Ketemu, "


membungkam mulutku tepat saat pintu mulai terbuka,


kata Hezan,


"Kak, kenapa kau begitu lama membuka pintu? "


jawab tenang, seperti biasa seolah tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya,


gumam pelan Finesha,


"Dia memang seorang aktor yang handal,"


balas Huyan,


"Mencari pakaian yang nyaman dikenakan adalah hal yang paling sulit, "


batinku berontak,


"Alasan, "


mereka berdua berbincang hingga pada titik dimana Hezan meminta untuk,


"Bolehkah aku berbicara didalam bersama dengan mu, kak Huyan? "


sambil tersenyum dia menimpali langsung,


"tentu boleh juga, "


Kecemasan ku meningkat,


"Bagaimana kalau persembunyian ku, diketahui olehnya? mampus aku! "


sambil menggigit jari,

__ADS_1


pikir ku lagi,


"Dia memang sengaja menguji kesabaran ku! "


akhirnya ia pun duduk dikursi yang terletak di dekat jendela, dengan nuansa udara sejuk dari luar, membikin dua kursi dan meja persegi itu diporsikan pada tempat yang tepat, dengan tatanan meja begitu rapi, vas sebagai keindahan diatas sana, sebagian meja tertutup penuh dengan taplak yang senada dengan corak ruangan,


ujarnya dalam hati,


"Sepertinya aku salah memilih tempat kolong meja sebagai persembunyian terakhir ku, "


bisa dilihat dari bawah dua pasang kaki menemani keberadaan Finesha disana,


"menjengkelkan melihat kondisi ku bersama dua model celana yang sama warnanya, kemudian merk sepatu yang dikenakan juga sejoli, sekarang tinggal repotnya, sampai kapan aku akan meringkuk dikolong bawah meja ini? "


sedih melihat kondisi tragis dirinya terjebak dalam kehidupan yang membuat dia akan mengalami lilitan masalah dari kakak pertama nya,


pikir nya,


"Haruskah aku mencubit nya untuk memberitahu kan agar tidak berlama-lama, perbincangan yang sama sekali tak ku mengerti ini, "


masih melongo memikirkan dibawah sana,


"Sepertinya itu ide buruk, bagaimana jika aku sampai salah mencubit,?waduh,bisa gawat urusannya,tentu langsung tertangkap, baru saja sebentar menjadi adik angkat, ketahuan sembunyi dikolong meja, meringkuk tak berdaya, inilah nasib yang sudah menjadi bubur, hahh, "


setelah beberapa jam, akhirnya ketiduran yang lelap berasa kolong meja bak ranjang empuk hingga tanpa sadar ia terbangun dan,


"Dukk, "


"Haduh, Kepala ku, kenapa atap rumahnya begitu dekat? "


saat membuka mata ternyata,


"Hemm, pantesan, kalau namanya kolong pasti gak akan jauh dari atapnya, lawong cuma segitu, "


keluar dari bawah meja, ia menguap bahkan merilekskan tubuh nya yang begitu capek didalam sana, tepat saat gagang pintu terbuka, Huyan dan Hazen terkejut,


ucap Hezan,


"Kau didalam, sejak kapan? dan apa yang sebenarnya terjadi? "


Finesha langsung menunjuk ke arahnya,


"Ya, tanya padanya, dia yang akan jelaskan semuanya,menyebalkan!"


berjalan sempoyongan,


melihat hal ini Hezan tidak tinggal diam, dia langsung mengomentari sang kakak,


"Jika kakak gak suka status nya dalam keluarga kita sebagai adik, seenggaknya kau gak sampai begitu buruk juga memperlakukan nya, Ku pikir kakak orang yang cukup pengertian ternyata itu cukup salah juga, tenyata mempercayakan tak semudah yang terlihat, "


berjalan kebawah pergi meninggalkan nya,


gumam Huyan,


"Sepertinya dia sengaja membalas ku, kita lihat siapa yang akan mengalami kekalahan, Adikku tersayang, "


berjalan menyusuri anak tangga, disana dia tengah melihat banyak diantara para pelayanan sedang sibuk menyiapkan hidangan diatas meja,


ungkap ku yang kaget dengan semua makanan diatas meja begitu komplit bak menu semua ada disana, menakjubkan,


kata Hezan sambil membelai rambutnya,


"Kenapa bengong? "


jawabku sembari terkekeh kecil,


"Bukankah itu terlalu banyak! "


melihat kearah meja,


"Tidak juga, bahkan nanti kau bisa makan sepuasnya, sepertinya perut kecil itu perlu diisi banyak, bukan begitu! "


jawabku yang tersenyum padanya,


"Ya kakak,tapi gak sebanyak itu juga kan, "


mata yang nampak suasana berbeda dari keduanya akhirnya berjalan melangkah mendahului mereka,sambil menerobos ditengah keduanya dengan berjarak cukup dekat, sehingga hati Huyan merasa tidak begitu suka dengan keakraban itu, sebab hal itu begitu mengusik dirinya, Aku pun langsung berceloteh kecil,


"Dasar Paman aneh, "


tidak tau kenapa? padahal aku sudah bersuara begitu pelan, tapi dia sekarang berbalik kepada ku sambil berkata,


"Hutang itu akan aku tarik nanti, Adik! "


"Glek, "


aku menelan salivaku sebab dia sudah sengaja memberikan kode peringatan, bahwa sebentar lagi dia akan melakukan sesuatu kepada ku,


"sepertinya inilah nasib pada hari buruk ku, "


(Bukan buruk, tapi spesial,)


emang enak, lo asal ngomong doang,


(bukannya yang ngalamin lebih mendalaminya)


maksud mu apa?


(ciumannya?)


Oh, napa emang?


(gak jadi, terus berhati-hatilah, Finesha)


aku benci saat dia bilang seperti itu,


akhirnya kami berempat pun kumpul semeja makan, suasana keluarga baru ini membikin aku teringat, sang Daddy, apakah dia baik-baik saja? dan bagaimana kabar semua Paman? seolah apa yang kurasakan beralih pada bayangan beberapa hari silam saat bersama dengan mereka,


"Melupakan ternyata lebih sulit dari dugaan, "


jawab Hezan,


"Melupakan siapa Fine? "


kenapa nama ku menjadi Fine lagi?


aku pun langsung menanggapi nya,


"Melupakan seseorang yang pernah singgah dalam hidup ku, "


terkejut, sehingga Delega Rison, yang saat ini harus ku panggil Mom, bertanya padaku,


"Apakah itu Direndra, sayang? "


aku tersedak mengingat Mom mengatakan nama yang bahkan tak pernah sekalipun masuk dalam pikiran ku sejak hari menyengsarakan itu menimpa kehidupan ku,


kataku,


"Bukan Mom, "


tunggu kenapa aku begitu gegabah mengatakan tidak, kalau begitu setelah ini, pasti akan ada sesi pertanyaan yang akan menyudutkan ku, sampai tak sanggup menjawab nya,


"Kalau begitu siapa sayang? Mom sangat penasaran dan ingin mengenal dekat dengan nya?"


sahut Hezan,


"Mom, jangan terlalu memaksanya! "


lalu jawab ku pun dibuat kaget oleh mereka,


"Mom sudah kenal kok, "


melongo sembari berbicara,


"Benarkah, lalu siapa? Mom malah dibikin penasaran sama kamu, "


tersenyum sedikit


kemudian dibalas dengan sahutan yang menghebohkan sehingga,


"Dengan ku, apa Mom menyetujuinya? "


apa aku salah dengar barusan? apa dia gila? bertindak senekat itu tanpa meminta persetujuan dariku membuat ku masuk masalah baru, dia itu sadar gak sih, dasar Paman gila,


jawab serius Mom,


"Setuju saja, jika itu kamu, kalau yang lain Mom akan habisi mereka, "


"Uhukk, Uhukkk,"


aku tersedak mendengar kejelasan Mom, itu berarti ini akan menjadi kesempatan baginya untuk membikin hidupku jadi sengsara,


hahh, gak tau lagi aku bisa berbuat apa jika Huyan sudah bertingkah konyol, mampus sudah ni hidup berada dalam genggaman nya, apalagi kebebasan itu didapatkan dari izin Mom, dia juga aneh, gak meminta penjelasan padaku asal jawab iya, jika orang lain dia akan habisi, emang gak mikir anak orang tinggal main bunuh aja,kelakuan anak sama Mom nya sama-sama gilanya kebangetan,


tanyanya kembali kepada putra pertama nya,


"Tapi kenapa tangan mu memiliki bekas kemerahan seperti itu? apa itu sebuah gigitan? sepertinya berbekas merah begitu, emang sedang ada masalah dengan siapa kamu, Huyan? "

__ADS_1


jangan bilang kalau aku yang memberikan cap stempel merah ditangan nya itu, hancur sudah reputasi ku sebagai adik. waduh gimana ni sekarang?.


__ADS_2