
"DEG, "
Perasaan detak jantung Clarisha melonjak tinggi menatap wajah Lukas yang begitu dekat, tersirat bayangan kelembutan dari Direndra,mengingat nama itu dengan gelagap gugup gadis itu merasa malu, sampai dia menyembunyikan raut wajahnya dengan memalingkan dirinya agar tidak terbaca oleh Lukas,
batinnya
"Kenapa harus mengingat Direndra disaat seperti ini? ingat Finesha mulai hari ini kau adalah Clarisha,bukalah lembaran baru, kau harus trima itu,lupakan kenangan lama, hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini, "
menyakinkan diri dengan menyembunyikan ekspresi muka Clarisha,sembari menahan dahinya dengan jemari tangannya,
tiba-tiba saja dia sudah berada di depan Clarisha,
"Kau baik-baik saja, Clarisha! apa kepala mu sakit, emm, katakan sesuatu? jangan membuat ku cemas? "
mencoba memaksanya untuk bicara,
menghela nafas panjang sambil memberitahu nya,
"Paman, aku baik-baik saja kok, cuma-"
kalimat itu terpotong karena secara mendadak ada seorang wanita yang membuat Clarisha menatap tajam kearah nya,
langsung sekejap saja Lukas berkata,
"Apa kau tidak tau cara bertamu, Reiya? "
sorot mata yang seharusnya marah karena teguran dari Lukas,tapi reaksi yang diperlihatkan malah justru sebaliknya,
ini ni, tipe wanita yang gak akan mempan sama yang namanya halangan, pasti bawaannya nerjang mulu, tunggu seperti nya dia sengaja melakukan hal semacam gebrakan, agar bisa membuat Clarisha menyimpulkan kalau dirinya bukan sekali ini saja pernah memasuki ruang kantor, tanpa kendala apapun,
dia pikir begitu, biarin aja, setidaknya Lukas gak memberikan respon positif, tapi masih ada pertanyaan yang membuat Clarisha penasaran, tentu saja, melihat semua yang ada dalam balutan tubuh wanita itu memiliki lebel yang fantastis,
tapi aneh juga Paman Lukas gak ngelirik dia sama sekali, seolah dia hanya gadis biasa yang sedang berada di sekitar nya, namun tiba-tiba saja Lukas memperjelas keadaan, walaupun Clarisha diam hanya untuk menjadi pendengar yang baik,
"Clarisha, kenal kan, dia Reiya, partner kerja ku yang baru, kemarilah mungkin kau ingin mengenalnya! "
Lukas pasti berpikir gadis pemilik mata hazel biru itu berdiri untuk mendekati nya, dan hendak akan menjulurkan tangan demi berkenalan, tapi sebaliknya,dia hanya memberikan sesuatu yang membuat Lukas terkesan terbawa ucapan nya,
berdiri tepat disisi bahu kanannya, menghadap berlawanan ia buka suara,
"Apa gunanya orang yang tidak memiliki niat baik untuk itu, jika ya, kau pasti sudah menimpali ucapan Lukas untuk mengenal gadis yang baru saja tertidur di sofa ruang kantor nya, bukan begitu, Reiya! "
kalimat penyambung Reiya membalikkan keadaan,
"Ternyata kau bukan sembarang orang, baru pertama bertemu bisa langsung menebak niat seseorang, itu mengejutkan,tapi, bukannya seharusnya kau cukup tau batasan mu dan tempat mu, gadis muda! "
menyinggung diri Clarisha yang tidak tau aturan
Reiya pikir dia gadis seperti apa sampai bisa mengatai nya seperti itu, jelas Clarisha tidak Terima, tapi dia berpikir dua kali untuk membalas ucapan dengan gertakan yang lebih menarik,
lain kali seperti nya Reiya harus jera melakukan hal ini pada gadis bermata hazel biru yang begitu diperhatikan Lukas,sebab yang dia lawan saat ini bukanlah Clarisha yang dulu,lalu gadis itu dengan sengaja memberikan kecaman pada Lukas dan bukannya Reiya, disinilah titik dimana dia akan tau siapa yang tidak cukup tau batasan ditempat CEO yang dipermasalahkan,
"Baiklah, Lain kali aku tidak akan pernah datang lagi ketempat dimana aku harus cukup tau diri mengenai batasan ku, Kau dengar itu,Lukas! "
Clarisha berjalan keluar membanting cukup keras pintu kantor CEO, sehingga semua para bodyguard terkejut melihat wajah kecewa Nona Clarisha,
dia berpikir untuk pergi dari tempat ini,terdengar suara perdebatan dari dalam kantor Lukas,terserah, Clarisha benar-benar gak peduli namun akhirnya ia menyodorkan tangannya seolah meminta sesuatu pada pria berjaz hitam menunggu didepan pintu,
katanya,
"Nona membutuhkan sesuatu? "
"ya, boleh aku pinjam ponsel kamu sebentar! "
"Tentu, nona, "
sambil memberikannya pada Nona Clarisha, dia adalah penjaga kedua yang berada semobil tadi waktu kemari, jadi mungkin dengan meminjam ponselnya bisa menemukan nomor Sizen yang dicarinya,
saat kontak dibuka ternyata seperti dugaan,penjaga ini memiliki semua nomor penghuni Vila Sizen, langsung saja tanpa pikir panjang dia menghubungi lewat ponsel miliknya,
panggilan terhubung,
ketika rapat berlangsung terdengar getaran dimeja milik CEO Sizen, ia mengambil ponsel itu lalu mengeceknya ternyata, orang yang menghubungi nya adalah penjaga Lukas,Sizen sudah mulai curiga,
lalu diapun mengangkat nya sebelum Sizen berbicara dia kaget karena yang keluar adalah suara Clarisha,
"Hallo Paman,apa kau mendengar ku? jika ya tolong jemput aku, aku tidak tau harus menghubungi siapa? ku tunggu jemputan Paman di depan perusahaan Lukas! "
pikirnya,
"Lukas, hmmm, sepertinya dia sedang kesal, mirip Mommy nya, "
kemudian Sizen tanpa penolakan langsung mengakhiri pertemuan rapat,pergi menuju mobil yang sudah menunggunya didepan, sebab sebelum ini dia menghubungi supir nya untuk menunggu dirinya tepat didepan pintu masuk,
Kata Sizen,
"Pak lakukan perjalanan cepat menuju ke depan perusahaan Lukas, sekarang juga! "
" Baik Tuan, saya mengerti! "
__ADS_1
dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa sampai ke tujuan, tibalah saat dia mencemaskan Clarisha yang bersikap mendadak seperti ini,
"Apa mereka berdebat? mustahil itu terjadi kalau bukan faktor orang ke-tiga,selama ini sikap Lukas tidak lah mudah membuat masalah dengan orang terdekatnya,ya bisa jadi alasan nya pasti wanita lainnya,Hahh, Lukas apa yang tengah kau lakukan?"
setibanya Sizen keluar dari mobil melihat Clarisha duduk bersimpuh dibawah tanpa Lukas, itu pun dia ditemani penjaga Lukas, karena penasaran ia bertanya padanya,
"Apa yang sedang dilakukan Tuan mu sekarang? "
dia menjawab,
"Berdebat dengan seorang wanita didalam kantor Tuan,kalau tidak salah namanya Reiya,"
mendengar kalimat itu dalam hitungan detik Clarisha berdiri dan masuk kedalam mobil milik Paman Sizen,
pantas kalau Clarisha sampai emosional seperti itu,
pesan Sizen,
"Baiklah tolong katakan pada Lukas jika Clarisha sedang bersama dengan ku, kau ingat pesan itu,"
jawabnya,
"Baik, Tuan Sizen, saya akan sampai kan pesan anda kepada Tuan Lukas! "
mobil itu segera melaju kembali ke perusahaan Sizen, namun terdengar dari arah belakang, nampak Tuan Lukas berlari sampai ngos-ngosan, melihat hal itu langsung Penjaga memberitahu kan,
"Tuan, tadi Tuan Sizen datang kemari menjemput Nona Clarisha atas kemauannya, "
masih bingung dengan semua perkara yang membuat nya kini semakin menjauh dari Clarisha, tau begini dia tak ingin membawanya ke perusahaan jika pada akhirnya semua menjadi kacau balau,padahal kesempatan itu tinggal sedikit lagi sudah sangat sempurna,
Dalam perjalanan, Clarisha terlihat nampak letih dan tidak bersemangat sehingga Sizen bertanya padanya,
"Kau sakit Clarisha? "
menoleh tanpa berbicara namun terdengar nafasnya tiba-tiba menjadi berat,lalu kini dia menyandarkan kembali kepalanya, tanpa basa-basi Sizen melihat ada hal yang tidak beres dari semua gejalanya,langsung saja membuat perjalanan itu berubah haluan,
"pak kita kerumah sakit sekarang juga! "
perjalanan mobil berubah arah, dia meminta pak supir untuk mengemudikan dengan cepat,hingga akhirnya dia berada dirumah sakit terdekat, Sizen mengendong Clarisha ala bridal style,
melihat Clarisha yang tiba-tiba lemah hingga keluar keringat dingin, membuatnya tak bisa berpikir lagi, kini tubuh Clarisha terbaring pada brankar dorong yang berada di UGD, setelah pemeriksaan dokter berlangsung,dia meminta pasien untuk menjalani rawat inap agar bisa melakukan pengecekan secara bertahap,
"Lukas, apa yang terjadi? "
pikiran Sizen sedang kalut, untuk pertama kalinya dia merasakan seolah dirinya sedang mengalami kehancuran, dimana rupa gadis bermata hazel biru itu tak sanggup berkulik di tangannya,
Sizen berpikir lagi, mungkin karena dia sudah masuk ke dalam kehidupan yang beberapa saat sempat menempati kediamannya, hal wajar jika kecemasan itu sebatas takut terjadi sesuatu padanya,
tapi, hati yang bergemuru seolah dirinya telah kehilangan segalanya adalah sesuatu yang tak wajar,
"Sepertinya keadaannya sudah mulai mengacaukan pikiran ku?kuharap ini hanya sekedar rasa simpati dari sang keponakan saja, jika mengarah pada tempat yang lain, ini akan menjadi pertentangan antara Lukas dan Clarisha! Hah, gadis itu benar-benar sudah membuat mataku sulit teralih kan sejak pertama kali bertemu, "
Ya, sejak awal Clarisha sudah menyadari, adanya sesuatu yang aneh dari sikap Sizen padanya, dia mencoba menerka segala sesuatu dalam kehidupan baru secara positif, sebab akan sangat sulit jika semua angan itu mengendalikan dirinya pada jalan pikiran yang berbeda,
selang beberapa saat Clarisha dipindahkan ke ruang inap di bed pasien, Lagi-lagi tubuh itu perlu istirahat, Sizen yang menunggu tak luput dari tatapannya kepada sang keponakan,
"Clarisha,sepertinya kau sudah berhasil membuat ku dengannya akan semakin renggang kali ini, dan untuk pertama kali dikehidupan aku harus dihadapkan dengan saudara ku sendiri, ya, komplit sudah kekacauan yang terjadi, tinggal hari dimana, segalanya akan menjadi rumit untuk mu, Clarisha? jika sejak awal Mommy mu tak membuat keputusan ini, mungkin semuanya akan berjalan seperti kehidupan normal, dan sekarang, semua sudah berubah pada porsinya, "
dulu untuk pertama kali, Sizen mengetahui perasaan yang ada dalam hati Lukas adalah Shintya, dirinya selalu mengawasi gerak-gerik sang adik karena merasa tingkah nya ada kejanggalan, disitu saat Ibu sherya Louis berpesan,
"Biarkan semua berjalan dengan sendirinya,tidak perlu harus ikut campur dalam pribadi mereka, sebab ada hari dimana semua akan mengubahnya, Sizen, "
dan ternyata memang benar, kedewasaan Shintya membuat dirinya menjauh, sedangkan gadis itu sendiri menyadari sesuatu yang akan terjadi kalau terlalu dekat dengan sang kakak, padahal tanpa berbicara apapun, Shintya sudah bisa memilih jalannya sendiri,
disitulah pesan sang Ibu sekarang bergalut padanya,
"Kenapa hatiku juga ikutan salah alamat? ini benar-benar menyusahkan,semoga dia tidak menyadari nya! "
perkataan itu tidak sengaja terdengar oleh Clarisha,
"Maksud Paman, Lukas! "
sambil menatap wajah resah Sizen, yang penuh pertimbangan,
Sizen melongo keheranan mendengar dari kesimpulan Bibir kecoklatan itu, bisa menebak semua dengan sangat mudah, ujarnya,
"Paman Sizen, perasaan tidak ada yang tau kemana dirinya akan dituntun oleh hati, semua terjadi begitu saja, terkadang sebuah debaran membuat seseorang berpikir berkali-kali untuk menarik hasilnya, tapi taukah Paman,sejak awal ekspresi mu sudah tertebak olehku, cuma sejak semula Paman Lukas lah yang lebih mendekatkan diri padaku, "
mereka bicara dengan saling terbuka satu sama lain, memang sikap Sizen sangat jauh berbeda dari Lukas, dia lebih memilih jalan kedua, jika dia dibutuhkan barulah dia mendatangi nya,
melakukan hal itu untuk menjaga perasaan yang tiba-tiba muncul secara bersamaan dengan hati Lukas yang telah ditempatkan untuk Clarisha, dan tidak tau lagi dirinya juga terdampar di pulau yang sama dengan Lukas, yaitu hati Clarisha,
demi menghargai sang adik, dirinya lebih mengalah untuk menjauh, tapi karena alasan inilah Clarisha mengetahui dan lebih memilih menghubungi Sizen saat ada kejadian mendesak yang terjadi padanya,
kata Sizen,
"aku tidak sangka, kau bisa melihat seseorang dengan kesimpulan begitu mudah, walau tidak perlu dipungkiri, sesuai pendapat mu, ya, kau membuat kami berdua dirundung masalah kali ini, apa kau marah mendengar semua kejelasan yang terjadi, apalagi porsi yang terjadi sekarang-"
"Perasaan yang tak seharusnya tumbuh diantara Paman dan keponakannya sendiri,menurutku itu terdengar lucu-"
__ADS_1
ekspresi Clarisha membuat Sizen tersenyum jujur, dan lebih hebatnya gadis itu kini membuat hati Sizen tak lagi cemas,
sebab tanpa diduga jika dia memasang wajah yang begitu tenang saat dirinya membahas mengenai hal perasaan, dipikir Sizen kalau gadis bermata hazel biru yang menarik perhatian nya itu, pasti akan mengalami penolakan secara brutal, marah, meluapkan ketidak benaran dari semua masalah yang terjadi,
tapi logatnya semakin terlihat lebih menawan di pandangan Sizen,
"Kau manis, Clarisha! "
gadis itu tau kalau Paman yang satu ini cara pendekatan nya sangat berbeda,
balik dia jawab,
"tidak juga, kan lebih manis rasa gula dari pada Clarisha, betul tidak, Sizen! "
Clarisha sedang menguji Paman nya, apakah dia memiliki reaksi kalau dirinya memanggil namanya saja, seperti Paman Lukas sebelum nya,
Sizen beranjak dari dekat jendela dan duduk dibed pasien sejajar dengan Clarisha, tegur nya, yang membikin sikap Clarisha berubah menjadi pribadi Finesha,
"jadi keponakan ku ini, ingin menguji pamannya! "
sambil menatap lekat wajah cantik Clarisha,
dia sudah pasti sangat terkejut, kala sang Paman malah membalikkan keadaan dari rasa penasaran akan reaksi nya,
"Aku suka sikap Paman yang seperti ini,"
memasang senyum Duchenne dihadapan Sizen,
ya, ini sama aja ujian Sizen sengaja dibuat oleh Clarisha untuk nya, sebatas mana dia bisa menahan luapan yang tak kunjung diperlihatkan, gadis itu tau, perasaan sebenarnya yang dimiliki Paman Sizen,
tapi senyum yang tak kunjung mendapatkan respon akhirnya membuat dirinya menghela nafas panjang, kemudian membenamkan wajahnya tepat pada kedua kaki yang ditekuk dibed pasien, sembari dirangkul kuat oleh kedua tangan nya,
ternyata persis seperti perkiraan Clarisha,suara yang terdengar dari telinga nya nampak sangat jelas kalau Sizen dirundu kekhawatiran yang berlebihan yang disebabkan oleh Clarisha,
"Clarisha, kau baik-baik saja? sahut lah ucapan ku, setidaknya bisa membuat ku sedikit lebih tenang, Clarisha katakan sesuatu, baiklah, tunggu disini aku akan panggil kan dokter! "
mendengar kegugupan karena takut kehilangan sesuatu Sizen pun bertekad untuk pergi namun, langkah kaki itu terhenti saat Clarisha memegang erat kedua tangannya dengan jemari hangat miliknya,
ujarnya,
"Paman, aku baik-baik saja kok, tadi kepala ku terasa sedikit pusing, maaf sudah membuat Paman cemas! "
balasnya,
"Sekarang bagaimana? apa sudah mendingan? kalau perlu Paman harus memanggil dokter buat kamu! "
kembali berkata,
"Jika Paman didekat ku, maka semua akan membaik pada waktunya, emm! "
tanya Sizen,
"Kamu mengerjai Paman, Clarisha! "
jawabnya,
"Tidak, hanya sedikit-"
Sizen bergegas mendekatkan diri dan mencium dalam,bibir dengan lipstik kecoklatan yang mengundang sensasi aneh saat ini,
Clarisha tercengang, melihat reaksi yang langsung aktif begitu saja hingga seolah membuat jantung nya mau lepas seketika,gimana tidak,reaksi dari penyatuan bibir miliknya yang begitu melekat erat membuat Sizen bertubi-tubi melakukan ciuman yang mendominasi,dalam satu sapuan hangat bibir Sizen membuat kedua mata itu tiba-tiba memejamkan perlahan,merasakan ketulusan sang Paman,sampai Clarisha terbawa suasana dan menikmatinya detik ini juga,
kembali berpikir jernih, Kata Paman membuat ia ingin melepaskan ciuman yang begitu menggila luar biasa, tapi ini tidak bisa diteruskan, Clarisha takut akan terbawa arus yang lebih dalam,
namun tanpa diduga Sizen mengatakan hal yang membuat Clarisha tersenyum kembali,
"Sepertinya, pemberhentian kereta api harus dihentikan sampai di sini! "
bertanya kembali seperti dirinya tidak mengetahui
alasan dibalik perkataan yang aneh itu,
"Kenapa? "
seolah dirinya menginginkan yang lebih, padahal disini dia sebenarnya tidak memahami betul maksud dari perkataan Paman Sizen,
percakapan yang berlanjut,
"Ya, walaupun rell nya masih terus tersambung-"
membikin pikiran Clarisha paham apa yang dijurusan Sizen dengan perumpamaan kereta api, aneh juga si, harus sampai jauh-jauh ke pembahasan itu,
"Takutnya nanti remnya akan benar-benar blong,"
kata yang menjalur lebih sensitif,
"Kau pun,mengerti akan hal itu, Clarisha,"
Tersenyum afiliasi pada Clarisha, karena apa yang dikatakan bisa dengan mudah dipahami sang keponakan.
__ADS_1