
satu bulan sudah berlalu semenjak nada memutuskan untuk menenangkan dirinya di panti asuhan tempat tinggalnya dulu.
bunda vena beberapa kali menjenguk ke panti asuhan bersama ayah wisnu, mereka pergi ke sana tanpa iqdam, karena nada belum siap bertemu dengan iqdam.
"nak, sudah satu bulan kamu disini, pasti suamimu khawatir dan merindukan kamu" kata ibu panti yang menemui nada sedang menyiapkan makan malam untuk anak-anak di dapur panti.
"tidak bu, dia tak akan khawatir ataupun merindukan aku" jawab nada singkat.
"mana mungkin dia tak merindukanmu nak, dia suamimu, kalian hidup berumah tangga, kalian melengkapi satu sama lain, ibu memang tak tahu apa permasalahan kamu dan suami kamu, tapi kamu tidak boleh seperti ini terus , jika memang ada masalah selesaikanlah jangan menghindar seperti ini, semakin kamu menghindar, hati kamu akan terbebani sayang" ibu panti mencoba menasehati nada, nada yang mendengar nasehat ibu panti hanya mengiyakan saja.
"Mengkhawatirkan ku! merindukan ku! itu adalah hal yang mustahil, dia pasti bersenang-senang dengan istri keduanya" batin nada menertawakan dirinya sendiri.
nada melanjutkan kegiatannya, dia tak ingin larut dengan pikirannya, karena semakin dia berfikir dan mengingatnya dia akan semakin tersiksa dan sakit sendiri.
selama disini nada tak pernah menceritakan pada siapapun apa masalah yang dia hadapi,
dia memendam sendiri sakit yang dia rasakan, dia membiarkan orang-orang mencapnya sebagai istri yang durhaka dan mengatakan bahwa dia istri yang tidak baik karena kabur dari rumah dan meninggalkan suaminya.
ayah wisnu dan bunda vena sudah beberapa kali membujuknya untuk pulang bersama namun dia masih enggan untuk pulang, dia sebenarnya senang karena mereka sangat menyayanginya, dia tak pernah membela dan membenarkan putranya jika memang putranya salah, namun jika mengingat sikap iqdam selama ini dia merasa sakit sendiri.
__ADS_1
ibu panti pun berulang kali menasehati nada tapi nada hanya mendengarkannya.
pagi hari nada bersiap-siap untuk memasak menyiapkan makanan untuk anak panti.
nada pergi ke dapur dan melihat bahan makanan sudah dibeli oleh ibu panti,
tiba-tiba perut nada terasa mual dia buru-buru ke kamar mandi "huwek, huwek , huwek"
nada muntah-muntah tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.
suara nada terdengar sampai halaman belakang , ibu panti yang tadinya menyapu langsung lari masuk .
"nada buk, nada yang di dalam" jawab nada yang masih muntah.
setelah beberapa saat dirasa sudah tidak muntah nada keluar dari kamar mandi.
"kamu sakit nak, wajah kamu pucat sekali?" kata ibu panti yang melihat nada keluar kamar mandi dengan wajah pucat dan keringat dingin.
"mungkin masuk angin saja bund" jawab nada.
__ADS_1
"ya sudah kamu istirahat saja hari ini, biar ibu yang masak" nada yang mendengar kata ibu panti menurut saja, kemudian nada di antar ke kamar oleh ibu panti.
sesampainya di kamar nada memakan sepotong roti kemudian dia meminum obat dan berbaring di ranjang, belum sampai lima menit nada berbaring, tiba-tiba nada merasa mual lagi, dia berlari keluar dan ke kamar mandi lagi.
"kenapa mualnya masih belum hilang" batin nada yang memuntahkan semua isi perutnya lagi, setelah mendingan lagi nada kembali ke kamarnya.
nada kemudian membuka ponselnya, dia mengabaikan ratusan pesan masuk selama sebulan ini, baik itu dari dirga sang dosen ataupun dari iqdam dan lainnya , dia hanya membalas pesan dari thalita sahabatnya.
saat nada membuka google untuk mencari resep menghilangkan mual, matanya tiba-tiba tertuju pada tanggal yang tertera di layar ponselnya.
"tanggal 17, apa sekarang tanggal 17" nada yang baru sadar jika sekarang tanggal 17 dia segera meraih kalender mejanya dia melihat tanggal bulan kemarin.
"bulan ini aku belum dapat haid ku, harusnya aku bulan ini haid tanggal 5 kemarin" nada berbicara sendiri.
"kalau aku bulan ini belum haid apa aku" tanpa sadar tangan nada menjatuhkan kalender yang dipegangnya, nada teringat lagi dengan kejadian malam itu, malam dimana iqdam merenggut paksa keperawanannya.
"nggak, nggak mungkin aku hamil, aku melakukannya hanya satu kali waktu itu" kata nada.
sampai siang hari nada bimbang sendirinya, nada kepikiran dengan kondisinya, setelah berfikir-fikir nada memberanikan diri memesan testpack via online, tak sampai sore hari barang yang di pesan nada sampai.
__ADS_1
......................