Ternyata DIA Istri Terbaik

Ternyata DIA Istri Terbaik
ayah bunda masih kecewa~ ninsya terbakar emosi


__ADS_3

kediaman wisnutama


"teh nya yah" bunda vena menyuguhkan teh di meja kerja suaminya.


"hm terimakasih bund" jawab ayah wisnu.


"ayah kenapa? apa ayah sakit?" tanya bunda vena pada ayah.


semenjak perceraian iqdam dan nada, ayah wisnu dan bunda vena jarang berkomunikasi dengan nada.


nada sulit dihubungi, dia juga enggan memberitahu dimana dia sekarang tinggal.


"nggak bund, ayah kepikiran nada saja, ayah mencari tahu dimana dia tinggal sulit sekali, beberapa hari ini ayah bermimpi tentang pesan wiradinata pada ayah dulu" jawab ayah wisnu pada istrinya.


"hm bunda juga rindu dengan nada yah, bunda merasa bersalah pada dia" timpal bunda vena pada suaminya.


"tok tok tok" suara ketukan pintu menghentikan percakapan suami istri paruh baya itu.


bunda vena berjalan ke pintu untuk membukakan pintu.


"eh bik tanti, ada apa bik?" tanya bunda setelah membukakan pintu ternyata bik tanti.


"itu nyonya den wisnu dan istrinya datang mu bertemu tuan dan nyonya" jawab bik tanti.


"oh iya nanti kami akan segera turun bik" kata bunda vena pada bik tanti.


kemudian bunda vena menutup pintu dan msuk kembali ke ruang kerja suaminya.


"anak itu lagi bund?" tanya ayah wisnu pada istrinya.


"hmm iya yah" jawab bunda vena dengan singkat.

__ADS_1


"turunlah kalau kamu ingin menemuinya, aku masih belum mau menemui mereka" kata bunda vena.


"tapi bund"


"yah, jangan memaksa bunda" kata bunda vena menegaskan.


wisnutama kemudian keluar dan turun keruang tamu untuk menemui anak dan menantunya itu, sedangkan bunda vena memilih kembali ke kamarnya, dia masih belum bisa menerima ninsya sebagai menantunya walau ninsya sedang hamil.


sikap ninsya yang ditunjukkan selama ini sangatlah buruk, awalnya bunda vena ingin mencoba menerima ninsya sebagai menantunya, tapi ninsya tak kunjung berubah, dia tetap arogan dan bersikap sombong.


"kalian sudah lama?" suara ayah wisnu mengagetkan iqdam dan ninsya yang sedang duduk di ruang tamu.


"belum yah, ayah bagaimana? sehat kan yah? bunda mana?" tanya iqdam pada ayahnya.


"sehat alhamdulillah, bunda di kamar, kalian ada apa kesini?" tanya ayah wisnu lagi.


"hm ini yah kami bawakan kue untuk ayah dan bunda, nanti di makan ya" ninsya menyodorkan sekotak kue pada ayah wisnu dengan senyum terpaksa nya, dia sebenarnya malas diajak kerumah orang tua iqdam karena mereka kerap kali menolak bertemu.


"hm baik yah, mungkin satu atau dua minggu lagi akan segera melahirkan cucu ayah ini" jawab ninsya dengan semangat.


"ohh begitu, semoga persalinannya lancar" kata ayah.


"terimakasih yah" jawab iqdam dan ninsya bersamaan.


"ada lagi yang ingin kalian bicarakan? kalau tak ada kalian boleh pergi" kata ayah wisnu.


ninsya yang mendengar perkataan ayah mertuanya langsung berubah ekspresi yang tadinya senyum kini menjadi cemberut.


"ayah tak bermaksud mengusir kamu dan istrimu, tapi kamu tahu sendiri dam jika bunda belum bisa menerima ninsya menggantikan nada, perbaiki sikap kalian, ayah yakin jika nanti bunda akan luluh jika kalian menjadi lebih baik, kamu juga lebih tahu sifat bundamu dam" kata ayah wisnu.


"ayo kita pergi mas, ini yang nggak aku suka dari orang tuamu, selalu menyebut-nyebut nama wanita murahan itu lagi, persetan jika bundamu tak menyukaiku, aku tak peduli lagi" kata ninsya dengan marah dan beranjak pergi dari ruang tamu.

__ADS_1


"tunggu sya, jangan bersikap seperti ini, sya ninsya tunggu" iqdam mencoba mengejar ninsya yang terus berjalan keluar tanpa menghiraukan panggilannya.


ayah wisnu yang melihat sikap iqdam dan


ninsya hanya menggelengkan kepalanya,


"iqdam iqdam semoga kamu cepat sadar jika istri yang kau pertahankan ini sangat merugikan hidupmu," batin ayah wisnu.


"sya tunggu, hari ini kita kan sudah sepakat akan memperbaiki hubungan dengan ayah dan bunda, tapi kenap kamu malah bersikap seperti ini?" iqdam menahan tangan ninsya yang akan masuk kedalam mobil.


"cih gak sudi akh jika harga diriku di injak-injak terus, aku gak mau terus mengemis pada orang tuamu yang tak pernah menganggap aku ada" jawab ninsya lebih marah.


"kamu kenapa jadi seperti ini sya? kamu bukan ninsya yang ku kenal, kenapa kamu sekarang semakin arogan sekali" tanya iqdam.


"kamu mas yang buat aku seperti ini, orang tuamu juga yang membuatku begini, kalau saja hubungan kita tetap seperti dulu, tanpa ada wanita murahan dan gatel bernama nada itu, sikapku akan tetap seperti dulu" kata ninsya kemudian masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.


"repot-repot tadi aku sempatkan membeli roti untuk mereka, bukannya terimakasih malah mengusirku, sudah pada tua bukannya sadar diri malah semakin menjadi, semoga kalian cepet mati saja" gerutu ninsya menyumpahi kedua orang tua iqdam.


iqdam yang masih berada di luar mobil sebenarnya juga ingin marah tapi karena keadaan ninsya dia tak mungkin meluapkannya.


"gue harus sabar, keadaan ini gue sendiri yang buat" iqdam mencoba menenangkan dirinya sendiri, setelah beberapa saat tenang iqdam kemudian masuk mobil.


"kita pulang ya" kata iqdam pada ninsya, iqdam mengalah dengan kemarahan ninsya karena saat dirumah sakit dokter mengatakan kehamilan ninsya cukup rentan, jadi ninsya tidak boleh terlalu banyak fikiran dan kerja berat.


"hm" jawab ninsya,


"aku minta maaf, sudah jangan marah lagi, kasihan anak yang ada di dalam perut kamu jika kamu terus marah-marah" kata iqdam memperingatkan ninsya.


setelah ninsya mendengar perkataan iqdam dia juga teringat perkataan dokter.


"kalau kamu nggak mau aku marah terus ayo temani aku shoping ke mall" jawab ninsya.

__ADS_1


"shoping? bukannya 2 hari lalu kamu sudah shoping? masak sekarang sudah mau pergi shoping lagi?" tanya iqdam.


__ADS_2