
Kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Sebenarnya di mana sih anak kecil itu sekarang? Kenapa coba aku selalu merasa berdosa dan selalu merasa bersalah setiap kali aku memikirkan anak kecil itu!"
Ucapnya dalam hati sedih dan bingung.
"Padahal kan dulu perjanjian aku sama anak kecil itu hanya sekedar perjanjian agar aku bisa membuat anak kecil itu senang. Dan lagian kalau menurut aku, pada saat itu anak kecil itu juga enggak tau arti dari perjanjian itu sebenarnya apa," ucapnya lagi dalam hati, ia berbicara seperti itu karena ternyata 12 tahun yang lalu, Ia dan anak kecil tersebut sudah sama-sama membuat sebuah janji. Namun entah sebuah janji apa yang sebenarnya sudah ia buat dan anak kecil tersebut.
"Dan aku rasa, anak kecil itu juga sekarang pasti udah lupa dengan perjanjiannya itu!" Ucapnya lagi dalam hati.
"Tapi,,, kalau anak kecil itu beneran udah lupa, kenapa sampai sekarang aku masih terus merasa berdosa dan merasa bersalah kayak gini yah setiap kali aku memikirkan anak kecil itu! Dan kenapa juga bayang-bayang wajah anak kecil itu secara tiba-tiba selalu muncul dalam mimpi dan pikiran aku sampai sekarang?" Ucapnya lagi semakin bingung.
"Apa jangan-jangan! Anak kecil itu enggak lupa sama sekali lagi sama janjinya itu sampai sekarang? Dan sampai sekarang juga jangan-jangan, anak kecil itu masih menunggu aku lagi?" Ucapnya lagi bertanya-tanya.
"Kalau sampai semua itu benar, kasihan juga anak kecil itu! Kalau anak kecil itu harus menunggu aku sampai sekarang! Sedangkan aku disini enggak setia sama sekali sama dia! Dan bahkan besok itu adalah hari pernikahan aku untuk yang kedua kalinya," ucapnya lagi merasa bersalah dan merasa kasihan terhadap anak kecil tersebut jika sampai semua itu benar terjadi kepadanya. Kemudian Ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Kalau sampai semua itu benar, anak kecil itu masih menunggu aku sampai sekarang! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sedangkan keberadaan anak kecil itu aja aku enggak tahu sekarang ada di mana? Jangankan tempat tinggalnya! Wajah anak kecil itu aja aku enggak tahu sekarang kayak gimana?" Ucapnya lagi serius, kalau sekarang ini ia memang benar-benar tidak tau di mana anak kecil itu berada, dan seperti apa wajahnya sekarang, karena ia dan anak kecil tersebut memang hanya pernah bertemu satu kali, yaitu 12 tahun yang lalu. Namun dengan secara tiba-tiba ia pun langsung tersenyum.
"Tapi yang aku tahu dengan pasti, sekarang ini anak kecil itu pasti sudah tumbuh dewasa, dan yang pastinya lagi sekarang ini anak kecil itu pasti bertambah semakin cantik," ucapnya lagi dalam hati sambil terus tersenyum mengingat betapa cantiknya wajah anak kecil itu dulu saat bertemu dengannya, yang pastinya sekarang ini dengan usianya yang bertambah semakin dewasa, pastinya wajahnya juga bertambah semakin cantik seperti apa yang ada didalam pikirannya.
"Coba aja kalau sekarang ini Tuhan mempertemukan aku kembali sama anak kecil itu! Aku janji sama diri aku sendiri! Kalau aku akan menepati janji aku dulu! Aku akan setia menunggunya sampai ia dewasa untuk menikahinya! Dan aku juga akan selalu menjaga dan melindunginya seperti apa yang dia mau, seperti pada saat itu!" Ucapnya lagi dalam hati sambil mengingat kejadian 12 tahun yang lalu antara ia dan anak kecil tersebut.
Flashback 12 tahun yang lalu.
DI SEBUAH TAMAN YANG BERADA DI JAKARTA.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Terlihat Bara yang dari tadi sedang berlari kecil disebuah taman tersebut sambil menikmati udara segar.
"Ternyata di Jakarta masih ada juga yah tempat yang sesejuk ini!" Ucapnya sambil tersenyum dan terus berlari kecil mengelilingi taman tersebut, hingga akhirnya ia pun mendapati segerombolan anak kecil yang sedang ribut.
"Iiiiiihhhh, awas! Kamu enggak boleh main bareng kita!" Teriak salah satu dari mereka marah, sambil mendorong tubuh salah satu temannya yang tak lain adalah anak kecil yang selama ini selalu muncul dalam mimpi dan pikiran Bara.
"Aw, Sssttttt! Sakiiiiit!" Ucapnya menangis kesakitan sambil memegangi lututnya yang terluka dan berdarah.
Melihatnya terjatuh sampai menangis seperti itu, alih-alih kasihan, mereka semua malah justru meledeknya sambil menertawakannya.
"Cupu, cupuuuu! Anak cupu!" Teriak mereka semua secara bersamaan sambil terus tertawa meledeknya, sehingga Bara yang sedang melihatnya pun merasa kasihan, dan langsung buru-buru menghampiri mereka semua.
"Heh! Ada apa ini, ada ap,,,," Seketika teriaknya itu pun terpotong.
"Eh, ada kakak-kakak yang mau kesini! Ayo sekarang juga kita kabur! Ayo, ayo, ayo!" Ucap salah satu dari mereka tergesa-gesa sambil buru-buru lari mengajak semua teman-temannya kabur meninggalkan anak kecil tersebut yang sampai sekarang masih terus menangis.
"Hiks,, hiks,, aduh sakiiiiit, hiks,, hiks,, kaki aku sakit bangeeeeet!" Ucapnya sambil terus memegangi lututnya itu yang berdarah.
"Ya ampun De, Ade enggak papa kan?" Ucap Bara yang baru saja sampai dan sudah berdiri tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, sakit kaaak, hiks,, hiks,, kaki aku sakiiiiit, hiks,, hiks,, kaki aku berdaraaah!" Ucap anak kecil tersebut sambil terus menangis dan menunjukkan luka dilututnya itu yang berdarah.
"Ya ampun De, lutut Ade berdarah?" Ucap Bara kaget dan panik.
"Ya udah, ya udah! Ade tenang aja yah! Nanti biar kakak obatin, ayo sekarang kita kesana!" Ucapnya lagi tergesa-gesa sambil menunjuk ke arah Cafe yang berada tepat di pinggiran taman tersebut.
"Hiks,, hiks,, tapi aku enggak bisa jalaaan, hiks,, hiks,, kaki aku sakiiiiit, hiks,, hiks,, aku pengin digendooong?" Rengek anak kecil tersebut dengan polosnya memintanya seperti itu, sehingga membuat Bara pun tersenyum mendengarnya.
"Ya udah, ya udah! Nanti biar kakak gendong! Tapi syaratnyaaa, Ade enggak boleh nangis lagi, yaaah?" Ucapnya sambil menghapus air matanya, kemudian ia pun langsung buru-buru menggendong dan membawanya menuju Cafe tersebut. Sesampainya Ia di dalam Cafe tersebut, Ia pun langsung buru-buru mengobati luka dilututnya itu.
"Aw, Sssttttt! Pelan-pelan kakak! Hiks,, hiks,, sakiiiiit!" Ucapnya sambil terus menangis kesakitan.
"Iyaaa, ini juga kakak udah pelan kok!"
Ucap Bara dengan sabarnya sambil terus mengobati luka dilututnya itu.
"Lagian ini juga kakak udah mau selesai kok ngobatinnya." Ucapnya lagi.
"Tuuuh, kan bener udah selesai!" Ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Oh iya bener, udah selesai," ucap anak kecil tersebut yang juga ikutan tersenyum.
"Gimana sekarang kakinya! Masih sakit enggak?" Ucap Bara.
"Masih sakit sih kak, hiks,, hiks,, tapi sekarang udah enggak terlalu sakit," ucap anak kecil tersebut yang masih terdengar jelas suara isak tangisnya.
"Hiks,, hiks,, enggak mau kak! Aku enggak mau ngelawan. Soalnya kata mamah, aku ini harus selalu baik sama temen-temen aku!" Ucap anak kecil tersebut dengan polosnya menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum mendengarnya.
"Ade salah. Lain kali Ade enggak boleh kayak gitu! Kalau temen-temen Ade udah sampai berani berbuat kasar kayak tadi! Untuk jaga-jaga, Ade harus ngelawan!" Ucapnya mencoba untuk menasehatinya seperti itu.
"Kalau temen Ade dorong Ade, Ade dorong balik! Terus kalau temen-temen Ade pukul Ade, Ade juga pukul balik!" Ucapnya lagi.
"Tapi aku takuuuut," ucap anak kecil tersebut sambil merengek.
"Ngapain takut, kan mereka juga udah kasar sama Ade!" Ucap Bara.
"Iya sih,,,," ucap anak kecil tersebut lagi.
"Tapi emang kakak juga suka kayak gitu sama temen-temen kakak! Kalau temen-temen kakak pada kasar sama kakak, kakak lawan mereka! Terus kalau temen-temen kakak pukul kakak, kakak juga pukul mereka!" Ucap anak kecil tersebut.
"Iya, kakak lawan mereka! Kakak kalahin semuanya!" Ucap Bara sambil tersenyum bercanda, sehingga membuat anak kecil tersebut pun ikut tersenyum.
"Lagian kalau tadi itu enggak ada kakak, udah jadi apa Ade sekarang? Kalau Ade diem aja kayak tadi enggak mau ngelawan mereka!" Ucapnya lagi.
"Bener juga yah kata kakak!" Ucap anak kecil tersebut.
"Makasih yah kak, tadi kakak udah mau nolongin aku!" Ucap anak kecil tersebut benar-benar merasa berterima kasih kepadanya.
__ADS_1
"Muachhh!" Kemudian dengan secara tiba-tiba anak kecil tersebut menciumnya, sehingga membuat Bara pun seketika langsung terdiam karena saking kagetnya.
"Kakak baik deh, ganteng lagi! Kakak mau kan jadi pacar aku? Pleaseeee!"
Ucapnya lagi dengan polosnya memintanya seperti itu.
"A_apa tadi Ade bilang? J_jadi pacar Ade?"
Ucap Bara gugup sambil tersenyum menatap kearahnya.
"Iya jadi pacar aku! Kakak mau kan? Pelasseee!" Ucap anak kecil tersebut lagi-lagi memintanya seperti itu sambil merengek-rengek, sehingga Bara pun langsung menuruti apa kemauan nya itu, agar anak kecil tersebut berhenti merengek-rengek seperti itu lagi kepadanya.
"Iyaaa, kakak mau!" Ucap Bara sambil tersenyum.
"Kakak mau jadi pacar aku! Beneran?" Ucap anak kecil tersebut dengan suara tinggi sambil tersenyum karena saking kaget dan senangnya mendengar ucapannya itu.
"Iyaaa, beneran! Kakak mau jadi pacar Ade! Dan mulai sekarang, kita ini pacaran!" Ucap Bara lagi sambil terus tersenyum.
"Hore! Hore! Sekarang aku udah punya pacar, hore!" Teriak anak kecil tersebut sambil tersenyum kegirangan, sehingga membuat Bara pun ikut tersenyum melihatnya.
"Oh iya De, emang Ade tau pacaran itu artinya apa?" Ucap Bara.
"Eemmm? Enggak tau!" Ucap anak kecil tersebut dengan polosnya menjawabnya seperti itu.
"Kalau Ade enggak tau, kenapa Ade pengin jadi pacar kakak?" Ucap Bara sambil tersenyum lucu mendengarnya.
"Soalnya kalau kata Tante aku! Pacaran itu katanya, kita ini jadi punya seseorang yang bisa nolongin kita kalau lagi ada orang yang jahat sama kita! Tadi kan kakak udah nolongin aku, berarti sekarang ini kakak udah jadi pacar aku dooong?" Ucap anak kecil tersebut dengan polosnya menjawabnya seperti itu.
"Oooh gituuu, pacaran itu kayak gituuuu!" Ucap Bara sambil terus tersenyum.
"Iya kata Tante aku! Emang kakak enggak tau?" Ucap anak kecil tersebut lagi.
"Enggak, kakak enggak tau!" Ucap Bara berbohong, karena cowok remaja seusianya mana mungkin belum pernah sekalipun merasakan apa yang namanya pacaran, apalagi ia itu adalah seorang cowok yang sangat tampan.
"Oh iya, aku lupa! Tapi kakak janji kan kalau mulai sekarang kakak mau jadi pacar aku?" Ucap anak kecil tersebut lagi-lagi mengingatkannya seperti itu.
" Iyaaa, kakak janji!" Ucap Bara.
"Berarti mulai sekarang kakak enggak boleh loh cari pacar lagi! Kakak cuma boleh pacaran sama aku aja sampai nanti kalau aku udah gede! Terus nanti kalau aku udah gede, kita menikah deh kayak Tante sama Om aku!" Ucap anak kecil tersebut, lagi-lagi dengan pemikirannya yang polos itu ia memintanya hal yang tidak masuk akal seperti itu, sehingga membuat Bara pun langsung tertawa karena lucu mendengarnya.
"Iiiiiihhhh! Kok kakak malah ketawa?" Ucap anak kecil tersebut ngambek sambil cemberut.
"Kakak janji kan enggak akan cari pacar lagi? Terus kakak juga janji kan kalau nanti aku udah gede, kakak mau menikah sama aku!" Ucapnya lagi masih terus ngambek dan cemberut, sehingga Bara pun langsung buru-buru menjawabnya sesuai dengan keinginannya agar anak kecil tersebut senang.
"Iyaaa, kakak janji! Kakak enggak akan pernah cari pacar lagi, dan kakak juga janji! Kakak akan nungguin Ade sampai Ade gede! Terus habis itu nanti kita menikah deh!" Ucapnya lagi sambil tersenyum, ia berbicara seperti itu hanya untuk membuatnya senang, dan tidak serius sama sekali dengan janjinya itu.
__ADS_1
"Eeemmmm, makasih yah kakaaak? Kakak baik deh!" Ucap anak kecil tersebut sambil buru-buru memeluknya.
"Iyaaa," ucap Bara sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.