
"M_masukin punya mas?" Ucap Tania, bingung.
"M_maksud mas, bikin Dede bayi?" Ucapnya lagi.
"Iya sayang, bikin Dede bayi!" Ucap Bara, lebih jelas lagi.
"Kamu mau kan, sayang? Bikin Dede bayi, sama mas?" Ucapnya lagi, sambil menatap dalam wajah cantiknya, dengan penuh harap.
"T_tapi mas, Tania takuuut! T_Tania belum pernaaaah!" Rengek Tania, yang langsung saja ketakutan seperti itu.
"S_soalnya kan, kata temen-temen Tania yang udah pada pernah bikin Dede bayi sama pacarnya, k_katanya! Kalau bikin Dede bayi itu, pas pertamanya, sakiiiiit!"
"T_Tania nggak mau, maaas! Takuuut, sakiiiiit!" Rengek nya lagi, yang memang benar-benar sangat takut, jika ia harus melakukan hubungan seperti itu, dengannya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, langsung tersenyum, dibuatnya.
"Ya ampun, Taniaaa! Kamu ini bener-bener polos banget, sih? Kamu belum tau aja, bikin Dede bayi itu, rasanya kayak gimana! Coba kalau kamu udah tau rasanya itu kayak gimana, mas yakin! Pasti kamu ini, bakalan ketagihan!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah cantiknya. Kemudian, ia pun langsung mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"Kamu nggak usah takut yah, sayaaang! Kamu nggak usah takut!" Ucapnya lagi, dengan penuh perhatiannya.
"Rasanya itu, nggak sakit kok! Rasanya itu, Enak! Yaaah?"
"Lagian, mas juga janji deh, sama kamu! Mas masukin nya, pasti pelan-pelan!" Ucapnya lagi, mencoba untuk merayunya.
"Karena apaaa?"
"Karena mas juga nggak mau! Kalau istri cantik mas yang masih kecil, ini nih, hah! Sampai kesakitan!" Ucapnya lagi, sambil terus tersenyum, dan mencubit gemas hidungnya.
"Iiiiiihhhh mas Baraaa, sakiiiiit! Jangan cubit-cubit, hidung Tania teruuuuus!" Rengek Tania, sambil tersenyum dengan sangat manjanya.
"Iya, nggaaaak!" Ucap Bara lagi, yang juga ikutan tersenyum.
"Ya udah! Kalau gitu, mas masukin, yah? Punya mas, sekarang?" Ucapnya lagi, yang langsung saja meminta izin seperti itu lagi, kepadanya.
"I_iya mas," ucap Tania, yang langsung menganggukkan kepalanya.
"T_tapi beneraaan! Mas masukinnya, pelan-pelaaan!" Rengeknya lagi, mencoba untuk mengingatkan.
"Iya, sayaaaang," ucap Bara lagi, sambil terus tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memasukkan juniornya, yang sudah sangat menegang dan mengeras itu, tepat ke bagian bawahnya.
"Ah maaaas, aaaaah! S_sakit, maaas? Pelan-pelan, masukinnyaaa!"
Desah Tania, yang langsung saja merintih kesakitan, karena merasakan permainan nakal dari Bara, suaminya itu.
"Aaaah, ssssttttt! Aduh sayaaaang, punya kamu, aaaaah ssssttttt! Sempit banget, sayaaaang! Aaaah, sssssttt, susah banget dimasukinya, sayaaaang!" Desah Bara, dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil terus berusaha untuk menerobos dinding selaput keperawanan Tania istrinya, yang memang benar-benar masih sangat sempit itu, dengan lebih kencang lagi.
"Ah maaaas, aaaaah! pelan-pelan maaas! Aaaaah, sakiiiiit!" Desah Tania lebih kesakitan lagi, dengan suara yang terdengar sangatlah kencang.
"N_nggak, nggak mau mas! Ah, sakit maaaas! P_punya mas nya, kegedeaaan! Ah, sakiiiiit! Nggak bakalan bisa, aaaaah, di masukiiiiiiin!" Desah Tania lagi kesakitan, sambil teriak-teriak . Sehingga Bara yang mendengarnya pun, tak tega. Perlahan, ia pun mencoba untuk menghentikan permainannya itu, sejenak.
"Sakit yah, sayang? Sakiiiiit?" Ucapnya dengan penuh perhatiannya, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, iya mas, hiks,, hiks,, sakiiiiit! Hiks,, hiks,, punya mas nya, hiks,, hiks,, kegedeaaaan! Hiks,, hiks,, jadinya, hiks,, hiks,, nggak bakalan bisa, hiks,, hiks,, dimasukiiiiin! Hiks,, hiks,, sakit mas, hiks,, hiks,, periiiih!" Rengek Tania lagi, yang tiba-bita saja langsung menangis-nangis sesenggukan seperti itu. Karena sekarang ini, ia benar-benar merasakan sakit dan perih yang luar biasa, dari permainannya itu.
"Ssssttttt! Iya sayang, udah udah udaaaah! Kamu jangan nangis lagi, yaaah?" Ucap Bara, dengan penuh perhatiannya.
"Mas janji deh! Sekaraaang, mas masukinnya, lebih pelan lagi, yaaah?" Ucapnya lagi, yang masih terus berusaha untuk merayunya. Karena sekarang ini, ia benar-benar tidak mau, kalau sampai semuanya itu, gagal. Apalagi, ini juga adalah kali pertama, ia bisa menikmati lagi hubungan suami istri yang sangat menggairahkan seperti itu, setelah bertahun-tahun, ia itu hidup menduda.
"Atau nggak, gini aja! Disini ada Lotion nggak, sayang?" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba saja langsung bertanya seperti itu. Sehingga Tania yang memang benar-benar masih sangat polos itu pun, bingung.
"Hiks,, hiks,, L_Lotion? Hiks,, hiks,, emang buat ap,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong.
"Nah itu ada, sayang!" Ucap Bara, yang tiba-tiba saja, langsung melihat Lotion yang ia maksud itu, diatas meja rias Tania istrinya.
"Mas ambil dulu, yah?" Ucapnya lagi, sambil buru-buru melangkah untuk mengambil Lotion tersebut. Kemudian, ia langsung buru-buru melangkah kembali, menghampiri Tania istrinya, yang sekarang ini masih berbaring di atas ranjang tersebut.
"Hiks,, hiks,, emang itu Lotionya! Buat apa, mas?" Ucap Tania lagi, penasaran.
"Buat lulurin, ini kamu sayang!" Ucap Bara sambil tersenyum, dan menunjuk kearah bagian bawah milik Tania istrinya, yang sekarang ini masih terbuka lebar, di hadapannya.
"Biar ini kamu licin, dan gampang dimasukinya!"
"Supaya nggak sakit lagi, yaaaah?" Ucapnya lagi, dengan penuh perhatiannya.
"Hiks,, hiks,, emang bisa mas?" Ucap Tania, yang memang benar-benar tidak tau sama sekali, dengan hal semacam itu.
"Ya bisa dong, sayaaaang!" Ucap Bara lagi, sambil terus tersenyum. Kemudian, ia pun langsung membuka tutup Lotion tersebut, dan langsung buru-buru melulurinya, tepat ke bagian bawah Tania, istrinya itu.
"Eeeemmmm, wangi banget sih sayang, Lotionnya?" Ucapnya serius, kalau aroma Lotion tersebut, memang tercium benar-benar sangatlah wangi.
"I_iya mas! Tapi itu juga udah mau abiiiis! Soalnya, Lotion Tania yang banyak, ketinggalan di rumah, maaas!" Rengek Tania.
"Iyaaaa! Nanti mas beliin yang baru, yaaaah?" Ucap Bara lagi, merayunya. Kemudian, ia pun langsung buru-buru meluluri Lotion tersebut lagi, tepat dibagian bawahnya.
"Eeemmm, kasihaaaan! Punya mas nya kegedean yah, sayang? Jadinya susah deh, dimasukinya, sakit!" Ucapnya lagi.
"I_iya mas, punya mas nya kegedeaaan! Jadinya susah dimasukinya, sakiiiit!" Rengek Tania lagi, dengan sangat manjanya.
"Sabar, yaaaah! Nanti juga kalau udah selesai diluluri Lotion, pasti bisa di masukin kok!" Ucap Bara lagi, yang sekarang ini pun, terlihat masih terus sabar meluluri Lotion tersebut, tepat ke bagian bawah Tania, istrinya.
"Nah kan, sayang! Mas udah selesai ngelulurinnya! Sekarang, punya kamu udah jadi tambah licin banget, nih!" Ucap Bara lagi, sambil terus tersenyum.
"Mas coba masukin lagi yah, punya mas?" Ucapnya lagi, yang lagi-lagi langsung saja meminta izin seperti itu, lagi kepadanya.
"I_iya mas," ucap Tania lagi.
"T_tapi, pelan-pelaaan!" Rengeknya, yang lagi-lagi mengingatkannya seperti itu.
"Iyaaaa," ucap Bara lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memasukkan juniornya itu kembali, kebagian bawahnya itu.
"Ah maaas, aaaaah! Sakit, maaas! Aaaaah, sakiiiiit!" Desah Tania, yang lagi-lagi langsung merintih-rintih kesakitan. Namun sayang, mendengarnya mendesahan sampai merintih-rintih kesakitan seperti itu karena ulahnya. Untuk kali ini, Bara suaminya itu, tidak menghiraukannya. Ia pun malah justru memasukkan juniornya itu, dengan sangat kencang dan tak ada henti-hentinya, dengan sekuat tenaga.
"Ah maaas, aaaaaaah! Sakit, maaas! Aaaaah, sakiiiiit! Aaaaah, pelan-pelan maaas! Aaaaah, pelan-pelan masuk,,," seketika ******* Tania pun, langsung terhenti.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaah!"
Dengan secara tiba-tiba, Tania pun langsung teriak dengan begitu kencangnya. Karena dengan sangat susah payah, akhirnya, Bara suaminya itu pun berhasil juga, merenggut keperawanannya.
"Ah, ssssttttt! Aaaaaaaah! Enak sayang! Aaaaaah, enaaaak!" Desah Bara, dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan, dan raut wajah yang terlihat sangatlah kenikmatan.
"Udah masuk, sayang! Udah masuk! Punya kamu, udah berhasil mas masukin!" Ucapnya lagi tergesa-gesa, dan terdengar masih sangat ngos-ngosan, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Hiks,, hiks,, sakit, maaas! Hiks,, hiks,, sakiiiit! Hiks,, hiks,, periiiih!" Rengek Tania, yang lagi-lagi langsung menangis kesakitan.
"Iya sayaaaang, iya!" Ucap Bara.
"Maafin mas yah, sayaaang! Maafin, mas!" Ucapnya lagi, yang sebenarnya ia pun benar-benar tidak tega, jika harus melakukan hubungan seperti itu, dengannya. Karena sebenarnya, ia pun benar-benar sadar, kalau Tania istrinya itu, adalah seorang gadis yang masih sangat kecil, dan juga masih sangatlah polos. Akan tetapi, ia melakukan semua itu, karena sekarang ini, ia benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi nafsunya.
"Kamu percaya sama mas yah, sayang! Kamu percaya, sama mas! Rasa sakit itu, perlahan akan berubah menjadi nikmat!" Ucapnya lagi, sambil menatap dalam wajah cantiknya. Kemudian, ia pun langsung menggoyangkan pinggulnya, dan langsung mencoba untuk menarik ukur juniornya itu, dengan sangaaaaaat, perlahan.
"Ah maaas, aaaaaaah!" Desah Tania, dengan raut wajah yang terlihat sangatlah kenikmatan. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tersenyum.
"Enak kan, sayang? Enak, kan?" Bisiknya.
"I_iya mas, enak! Goyangin lagiiiii!" Rengek Tania, yang perlahan sudah mulai ketagihan, dengan permainan darinya.
"Iya," ucap Bara, dengan penuh perhatiannya. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menggoyangkan pinggulnya, dan menarik ukur juniornya itu lagi, dengan sedikit lebih kencang.
"Ah ah ah ah ah ah ah! Mas Bara, ah ah ah ah ah! Pelan-pelan, maaaas! Ah ah ah ah ah ah,,,,"
Desah Tania lagi, dengan sangat manjanya, dan raut wajah yang lebih kenikmatan lagi.
"Enak banget yah, sayang? Enak, bangeeet?" Bisik Bara lagi, dengan suara yang terdengar masih sangatlah ngos-ngosan, sambil terus menggoyangkan pinggulnya, dan terus menarik ukur juniornya itu, lebih kencang lagi.
"Ah ah ah ah ah! I_iya mas, ah ah ah ah! Enak mas, ah ah ah ah ah, enaaaak! Ah ah ah ah ah, lebih kencang lagi mas, goyanginnya! Lebih kencang lagiiii!" Desah Tania lagi dengan sangat manjanya, sambil merengek-rengek meminta hal seperti itu, kepadanya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung mempercepat goyangannya. Bahkan karena saking cepatnya, sampai-sampai kedua gunung kembar Tania istrinya, yang sangat besar, padat, berisi, dan juga sangatlah kenyal itu pun, seketika langsung ikut bergoyang-goyang, sesuai dengan irama goyangan tubuhnya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tak tahan. Perlahan, ia pun langsung *******-***** kedua gunung kembarnya itu, dan langsung menyesapnya satu-persatu, secara bergantian.
"Ah maaas, aaaaaaah! Mas Bara, aaaaaah enak, maaaaas!" Desah Tania, yang lagi-lagi merintih kenikmatan, sambil menjambak-jambak rambut Bara suaminya itu, cukup kencang. Sehingga Bara yang merasakan semua itu pun, seketika nafsu nya langsung menggila. Dengan segera, ia pun langsung menggoyangkan pinggulnya itu kembali, dengan begitu cepat, dan juga sangatlah kencang, dengan sekuat tenaga dan tak ada henti-hentinya.
"Ah maaaass, ah ah ah ah ah ah! Mas Baraaa, ah ah ah ah ah, sakit maaas! Ah ah ah ah ah, pelan-pelaaaaaan!" Desah Tania kenikmatan, sekaligus merintih kesakitan, dengan tak ada henti-hentinya. Karena Bara suaminya itu, menggoyangkan pinggulnya, semakin kencang lagi, dan semakin kencang lagi.
"Aaaaaaah, sssssttt! Enak, sayang! Aaaaaaah, sssssttt, enaaaaak!" Teriaknya, sambil terus menggoyangkan pinggulnya itu, semakin kencang lagi, dan semakin kencang lagi. Hingga akhirnya, ia pun berhasil juga mengeluarkan sesuatu cairan dari juniornya itu, masuk ke dalam bagian bawah Tania, istrinya.
"Ah maaaass, aaaaaaah,,,," desah Tania, dengan keadaan tubuh yang sangat lemas dan tak berdaya, terbaring dan terkapar di bawah tubuhnya. Karena Bara suaminya itu, bukan hanya berhasil mengeluarkan cairan dari juniornya saja. Akan tetapi, bagian bawah Tania itu pun, lagi-lagi mengeluarkan sesuatu cairan yang cukup banyak, sehingga menjadi sangatlah becek dan juga sangatlah licin.
"Punya kamu, keluar lagi sayang! Punya kamu, keluar lagi!" Ucap Bara tergesa-gesa, sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"I_iya mas," ucap Tania, dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan, dengan keadaan tubuh yang masih sangatlah lemas, dan tak berdaya.
"Makasih yah, sayang? Makasih! Karena hari ini, kamu udah kasih mas, kepuasan!" Ucap Bara lagi, sambil menatap dalam wajah cantiknya. Kemudian, ia pun langsung memeluknya dengan sangat erat, dan langsung menciumi habis wajah cantiknya itu, tak ada henti-hentinya.
"Mas sayang banget, sama kamu sayang! Mas bener-bener, sayang banget sama kamu!" Ucapnya lagi.
__ADS_1
"I_iya, mas!" Ucap Tania lagi singkat, karena sekarang ini, ia benar-benar masih sangat lemas.