
Alih-alih menjawab ucapan dari Tania, Bara pun seketika justru langsung menelan salivanya. Kemudian ia pun langsung terdiam sambil terbengong.
Melihat betapa cantik dan betapa seksinya penampilan Tania istrinya itu, mengenakan kemeja putih miliknya. Karena kemeja putih miliknya itu terlihat benar-benar sangat cocok di tubuhnya. Meskipun kemeja putih miliknya itu terlihat seperti kebesaran untuknya, namun semua itu malah justru membuatnya terlihat semakin menarik dan semakin menggoda lagi. Karena kemeja putih tersebut terlihat seperti dress pendek diatas lutut, yang sangatlah seksi. Apalagi kemeja putih tersebut pun tidak ia padukan dengan celana, atau rok semacamnya. Ia hanya memakai kemeja putih tersebut, hanya dengan CD. Sehingga memperlihatkan dengan sangat jelas kedua pahanya yang sangat-sangat seksi, putih, dan mulus itu, disetiap orang memandang.
"P_perempuan itu,,,,," ucap Alex dalam hati gugup dan kaget, sambil terus terdiam menatap kearahnya.
"T_ternyata, perempuan yang sedang gue cari-cari sekarang ini, ada di ruangan Bara?" Ucapnya lagi dalam hati tak percaya. Kemudian ia pun langsung terdiam sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia, memandangi betapa cantik dan betapa seksi penampilannya.
"Gilaaaaa! Ternyata, gue ini emang bener-bener nggak salah! Perempuan itu, ternyata memang benar-benar cantik dan seksi bangeeet!" Ucapnya lagi dalam hati yang benar-benar sangat kagum kepadanya, sambil tersenyum mesum memandangi tubuhnya yang sangat seksi itu, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Sehingga Bara yang melihatnya pun entah mengapa, ia pun seperti tidak terima.
"Apaan sih ini Alex! Kenapa dia ngeliatin Tania, dengan tatapan kayak gitu?" Ucapnya dalam hati kesal, sambil menatap sinis kearahnya. Kemudian ia pun langsung buru-buru membuka Jas yang sedang ia kenakan, dan langsung buru-buru menutupi kedua paha Tania istrinya yang sangat-sangat seksi, putih, dan mulus itu, menggunakan jas tersebut.
"Eeeeh! M_mas Bara, mas Bara mau ngapain? Kok kaki Tania ini, ditutupin sih?" Ucap Tania kaget dan bingung, melihatnya yang tiba-tiba seperti itu kepadanya.
"Udaaah, kamu diem! Kamu nurut aja sama mas!" Bisik Bara, tepat di telinganya.
"Sekarang juga, tolong kamu masuk lagi ke ruang ganti mas! Terus kamu pakai celana kamu!" Bisiknya lagi dengan sangat tegas dan jelas menyuruhnya seperti itu. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mendorong-dorong tubuhnya itu, untuk masuk kembali ke dalam ruangan ganti tersebut.
"Eeeehh, i_iya mas! Tunggu dulu! Tapi kan sekarang ini, Tania juga udah pakai celanaaa!" Jawab Tania.
"Bukan CD Taniaaaa! Tapi celana luar!" Bisik Bara lagi, gereget. Dengan terang-terangan, ia menyebut 'CD' kepadanya.
"Kamu ini udah gila kali yah? Keluar nggak pake celana kayak gini, didepan laki-laki lain selain mas, yang sama sekali bukan muhrim kamu!" Bisiknya lagi mencoba untuk menasehati nya seperti itu.
"Kamu ini hanya boleh berpakaian seksi seperti ini, cuma di depan mas, suami kamu! Karena apa? Karena semua yang ada didalam tubuh kamu sekarang ini, semuanya itu cuma punya mas! Dan hanya mas yang boleh melihat dan boleh memiliki semua yang ada di dalam tubuh kamu ini! Ngerti!" Bisiknya lagi, yang tanpa sadar mengatur-ngatur nya seperti itu.
"T_tapi mas, masalahnya! Tania ini kan nggak bawa celana luar maaas! " Jawab Tania lagi.
"Y_ya udah terserah kamu aja! Kamu mau pake rok kamu lagi kek, kamu mau pake celana mas yang ada di dalam lemari kak, kamu mau pake apa kek, terserah! Yang jelas sekarang juga, cepetan kamu tutupin paha kamu ini!" Bisik Bara lagi.
"CD kamu ini, hampir keliatan tau nggak?" Bisiknya lebih tegas dan lebih jelas lagi berbicara seperti itu.
"N_nggak kok mas, kata siapa? CD Tania ini, nggak kelihat,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong. Karena tiba-tiba, Bara suaminya itu pun langsung buru-buru mendorong-dorong tubuhnya kembali, untuk masuk ke dalam ruangan ganti tersebut.
"Udaaaah, kamu ini nggak usah banyak protes! Sekarang juga, cepatan kamu masuk!" Ucapnya lagi sambil terus mendorong-dorong tubuhnya. Hingga akhirnya, Tania pun menuruti apa itu perintah darinya, dan langsung buru-buru masuk kembali ke dalam ruangan ganti tersebut. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan, dan membuangnya kasar.
"Aduuuuh! Udah gila kali yah itu gadis brutal! Masa ia sih, itu gadis brutal membiarkan tubuh seksinya, dilihat laki-laki buaya kayak,,,," seketika Bara pun langsung terdiam, sambil melirik kearah,,,,
"Alex, " ucapnya lagi dalam hati, sambil terus melirik ke arahnya dengan tatapan sinis. Entah mengapa, sepertinya sekarang ini, ia benar-benar tidak rela dan benar-benar tidak terima, jika tubuh seksi Tania istrinya yang sangat menggoda, dan sangat menggairahkan itu, sampai dilihat laki-laki lain selain dirinya, apalagi laki-laki tersebut adalah Alex sahabat buayanya.
"Kenapa? Kok loh senyum-senyum gitu ngelihatin Tania?" Ucap Bara lagi kesal. Karena ia melihat Alex sahabatnya itu, yang ternyata dari tadi masih tersenyum-senyum mesum sendiri, membayangkan betapa seksi dan menggodanya tubuh Tania.
"N_nggaaak, emang kenapa?" Ucap Alex, yang masih terus tersenyum mesum.
"Oh iya bro, tadi loh ngomong apa? Tania?" Ucapnya lagi.
"J_jadi, karyawan loh yang sedang gue cari-cari sekarang ini, itu ternyata namanya, Tania?" Ucapnya lagi. Kemudian ia pun langsung tersenyum dengan taut wajah yang sangat bahagia.
__ADS_1
"Gilaaaaa! Kok loh nggak kasih tau gue, sih! Kalau loh itu, ternyata punya sepupu secantik dan seseksi itu!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba langsung saja berasumsi seperti itu. Karena menurutnya, tidak mungkin untuknya, kalau perempuan tersebut yang tak lain adalah Tania, adalah istrinya. karena sebagai sahabat terdekat darinya, ia itu tau betul, kalau selama ini Bara sahabatnya itu, sangat menutup rapat-tapat pintu hatinya untuk perempuan mana pun, selain Rika mantan istrinya. Dan menurutnya juga, tidak mungkin juga untuknya, kalau perempuan tersebut yang tak lain adalah Tania, adalah sekertaris nya. Karena sebagai sahabat terdekatnya, ia pun benar-benar tau betul, kalau selama ini Bara sahabatnya itu, tidak pernah sedekat itu dengan sekertaris nya.
"Aduuuuh! Gila yah loh bro, coba aja kalau loh kasih tau gue dari awal, kalau karyawan cantik loh yang lagi gue cari-cari sekarang ini, ternyata adalah sepupu loh! Kan gue bisa langsung kenalan lewat loh, atau minta no HP nya sama loh!"
"Gue nggak perlu repot-repot kayak gini datang ke kantor loh, untuk cari-cari itu perempuan!" Ucapnya yang lagi-lagi nyerocos berbicara seperti itu. Sehingga Bara yang dari tadi sedang mendengarkan ocehannya pun, seketika langsung kaget dibuatnya.
"A_apa! J_jadi, karyawan cantik dan seksi di kantor gue, yang sekarang ini sedang Alex cari-cari itu, Tania?" Ucapnya dalam hati gugup, karena saking tak percayanya.
"Dan yang lebih parahnya lagi, Alex mengira, kalau Tania itu, s_sepupu gue?" Ucapnya lagi dalam hati, semakin tak percaya.
"N_nggak, nggak! Ini semua nggak bisa dibiarin! Gue bener-bener nggak bisa kalau Alex ini terus-terusan jatuh cinta sama Tania! Alex ini kan pinter banget ngerayu perempuan? Gimana kalau ternyata, nanti Tania itu sampai luluh, dan sampai berhasil dirayu olehnya? Terus udah gitu, nanti mereka berdua jadian deh!" Ucapnya lagi dalam hati, yang tiba-tiba saja merasa panik.
"N_nggak, nggak! Nggak bisa! Tania itu kan istri gue, dan sampai kapanpun, Tania itu cuma istri gue!" Ucapnya lagi yang akhirnya ketakutan juga akan kehilangan Tania, istri seksinya itu.
"Bara, kok loh malah diem aja sih dari tadi?" Ucap Alex bingung, melihatnya yang justru malah terdiam seperti itu.
"Loh dengerin gue ngomong nggak tadi?" Ucapnya lagi.
"Eh! I_iya Lex, gue denger kok!" Ucap Bara yang langsung terbangun dari bengongnya.
"Terus gimana? Loh jadi kan, bantuin gue pedekate sama sepupu loh itu!" Ucap Alex lagi.
"Gue janji deh! Untuk kali ini, gue pasti setia! Gue nggak akan pernah mempermainkan sepupu loh itu!"
"Jadi boleh yah, gue minta no handphone sepupu loh itu, sama loh!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba langsung saja meminta no handphonenya, kepadanya Sehingga membuat Bara pun, semakin gugup lagi dibuatnya.
"S_sorry banget Lex! Tapi kayaknya, gue nggak bisa!" Ucapnya yang tanpa basa-basi, langsung saja menolak permintaan darinya.
"Lah! Emang kenapa? Apa yang salah dalam diri gue? Kenapa loh sampai nggak kasih gue izin, untuk pedekate sama sepupu loh itu?" Ucapnya.
"Gue ganteng, gue mapan, dan gue juga, kaya!" Ucapnya lagi dengan sombongnya.
"Jadi loh tenang aja! Gue pasti bisa kok, mencukupi dan memanjakan sepupu loh itu, dengan kekayaannya yang gue miliki!" Ucapnya lagi.
"Gue janji deh! Gue akan buat sepupu loh itu hidup bahagia bersama gue, gue akan buat sepupu loh itu hidup mewah dengan kekayaan dari gue, gue akan buat sepupu loh itu hidup,,,,,, " seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Udah yang Lex! Udah udah stop!" Ucap Bara dengan sangat tegas dan jelas.
"Kalau gue bilang nggak bisa, ya berarti nggak bisa!" Ucapannya lagi.
"Jadi lebih baik, sekarang loh pulaaaang! Karena sebentar lagi, gue juga mau cabut dari kantor!" Ucapnya lagi sambil buru-buru mendorong_dorong tubuhnya, untuk keluar dari dalam ruanganya itu.
"Loh loh! Kok loh malah jadi usir gue kayak gini sih bro? " Ucap Alex bingung.
"Udaaaah, loh nggak usah banyak protes! Loh nurut aja sama gue! Lebih baik sekarang loh pulang!" Ucap Bara lagi yang sudah berhasil mendorongnya keluar dari dalam rruangannya. Kemudian ia pun langsung buru-buru menutup pintunya, dan masuk kembali ke dalam ruangannya itu, meninggalkan Alex sahabatnya itu, hanya sendiri.
"Woy, Bara! Nggak papa, meskipun loh nggak kasih gue izin untuk pedekate sama sepupu loh! Gue bisa kok, pedekate sendiri sama sepupu loh itu, tanpa adanya bantuan dari loh! Dan secepatnya, gue akan pastikan sama loh! Gue pasti akan dapatin no handphone sepupu loh itu, dan secepatnya juga, sepupu loh itu, pasti akan jadi milik gue! Dan loh sama gue, secepatnya, pasti akan jadi sepupu!" Teriaknya dengan sangat kencang mengancam-ngancamnya seperti itu. Sehingga Bara yang sekarang ini sudah duduk kembali di raungannya itu pun, seketika langsung menghela nafas pelan, dan membuangnya kasar.
"M_mas Bara, itu suara siapa? Itu, bukannya suara laki-laki yang tadi ada di dalam ruangan mas yah?" Ucap Tania yang baru saja keluar lagi, dari dalam ruang ganti.
"Ya udah yah mas, Tania coba cek dulu!" Ucapnya lagi sambil biru-buru melangkah keluar untuk mengecek suara tersebut.
__ADS_1
"Eeeehh, T_Tania! Tunggu!" Teriak Bara yang tiba-tiba langsung menghentikan langkah kakinya. Karena sepertinya, ia benar-benar tidak mau kalau sampai Tania istrinya itu keluar, dan bertemu dengan Alex sahabatnya, apalagi sampai berhasil dirayu-rayu olehnya.
"K_kenapa mas? Tania mau coba cek keluar dulu! Itu laki-laki, sebenarnya kenapa? Kok itu laki-laki, bisa sampai teriak-teriak kayak gitu!" Ucap Tania lagi, semakin penasaran. Kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya lagi, untuk keluar dan mengeck suara tersebut. Namun baru saja ia melangkah, lagi-lagi langkahnya itu sudah terhenti. Karena dengan secara tiba-tiba, Bara suaminya itu pun langsung teriak-teriak kesakitan.
"Aw, ssssttt! Aduh aduh aduh, aduuuuh!" Teriaknya sambil memegangi erat perutnya, dengan raut wajah yang sangat kesakitan. Namun sbenarnya semua itu hanyalah pura-pura. Agar Tania istrinya itu, mengurungkan niatnya untuk keluar mengecek suara tersebut.
"M_mas Bara, mas Bara kenapa?" Ucap Tania, yang benar saja langsung panik melihatnya tiba-tiba kesakitan seperti itu. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru melangkah kembali menghampirinya.
"M_mas Bara, mas Bara nggak papa kan?" Ucap Tania lagi, yang sekarang ini sudah berdiri tepat dihadapannya, dengan raut waja yang semakin panik lagi.
"Aw, ssssttttt! Aduh aduh aduh Aduuuuh! P_perut mas ini, sakit bangeeeet!" Ucap Bara lagi, sambil terus memegang erat perutnya itu.
"S_soalnya tadi itu, perut mas ini kena pukulan salah satu preman, pas mas ini lagi nolongin kamu!" Ucapannya lagi yang sengaja berbohong dengan alasan seperti itu. Karena tadi itu, saat ia menolong nya, perutnya itu memang benaran terkena pukulan salah satu preman tersebut. Namun sebenarnya pukulan tersebut tidak lah sakit untuknya, semua itu hanyalah pura-pura.
"Y_ya ampun mas! P_perut mas sakit, gara-gara kena pukulan preman, pas tadi lagi nolongin Tania?" Ucap Tania gugup, karena saking kagetnya.
"Yang sebelah mana mas, yang sakit?" Ucapnya lagi, yang terlihat semakin panik. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mengecek perutnya itu.
"Aw, ssssttt! Iya Tan, yang sbelah sini, nih! Aw, ssssttt! Aduh aduh aduuuuh! Aw, sssttt! Sakit bangeeet!" Ucap Bara teriak kesakitan lebih kencang lagi, saat perutnya itu sedang dicek dan diraba-raba olehnya. Sehingga membuat Tania pun, semkin panik lagi dibuatnya.
"Y_ya ampun mas! Sakit banget yah?" Ucapnya lagi, semakin gugup.
"Y_ya udah yah, mas! Sekarang, biar perut mas ini, Tania usapin!" Ucapnya lagi yang langsung buru-buru mengusap-usap perutnya.
"Aw, sssssttt! Aduuuuuh! S_sakit banget, Tan!" Ucap Bara lagi yang terus pura-pura kesakitan.
"I_iya mas," ucap Tania, yang terlihat masih terus sibuk mengusap-usap perutnya.
"Tania, minta maaf yah mas! Gara-gara tadi mas nolongin Tania, perut mas ini jadi kena pukulan preman, sampai kesakitan kayak gini!" Ucapnya lagi, meminta maaf. Karena sekarang ini, ia benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya. Kemudian, ia pun langsung mengusap-usap perutnya itu kembali, dengan sangat pelan, lembut, dan terlihat penuh dengan kasih sayang. Sehingga Bara yang dari tadi memang cuma pura-pura kesakitan pun, tersenyum melihatnya.
"Kasihan kamu! Mas bohongin kamu kayak gini!" Ucapannya dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah cantiknya.
"Tapi mas benar-benar nggak nyangka! Ternyata perempuan manja kayak kamu, bisa juga menjadi istri yang dewasa, lembut, dan bahkan seperhatian ini, sama suaminya!" Ucapnya lagi dalam hati, yang baru melihat dan baru menyadari sisi baik darinya.
"T_Tania ini benar-benar minta maaf banget yah, mas?" Ucap Tania, yang lagi-lagi minta maaf kepadanya, sambil terus sibuk mengusap-usap perutnya.
"Iyaaa, mas maafin kok!" Ucap Bara sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang. Sehingga Tania yang tiba-tiba merasakan kasih sayang darinya itu pun, seketika langsung terdiam, dan langsung menatap kearahnya.
"M_mas Bara?"
Ucapannya gugup dan tak percaya, sambil menatap dalam wajah tampannya.
"Iya, kenapaaa?" Ucap Bara lagi pelan, sambil terus mengusap-usap rambutnya, semakin penuh dengan kasih sayang lagi. Sehingga Tania yang lagi-lagi merasakan kasih sayang darinya itu pun, semakin gugup dan semakin tak percaya lagi dibuatnya.
"I_ini serius? S_sekarang ini, mas Bara lagi usap-usapin, rambut Tania?" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus terdiam menatap dalam wajah tampannya.
#######
Masyaallah, sepi banget ini Novel ðŸ˜
__ADS_1
Yang like dan coment cuma berapa biji ðŸ˜