Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 17.


__ADS_3

MASIH DI KAMAR BARA.


Waktu menunjukkan pukul 02:00 pagi.


Terlihat Tania yang dari tadi terus-terusan terusik dari tidurnya, karena malam ini ia memang benar-benar tidak bisa tidur sama sekali.


"Iiiiiihhhh! Kalau kayak gini kapan gue tidurnya? Mana besok gue udah mulai magang lagi, bisa-bisa besok gue kesiangan kalau kayak gini ceritanya!" Ucapnya kesal.


"Mas Bara itu bener-bener tega banget yah! Masa istrinya sendiri disuruh tidur di sofa sekecil ini! Sedangkan dia,,,," seketika ia pun langsung terdiam sambil menatap sinis kearahnya yang sekarang ini justru sudah tertidur dengan sangat pulas di tempat tidurnya yang sangat besar, mewah, nan nyaman itu, yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan tempat tidurnya sekarang ini, sehingga membuatnya pun seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Sabar Tania, sabaaaar! Nanti juga kamu pasti akan terbiasa kok tidur disini! Sekarang kamu nggak bisa tidur, mungkin karena kamu belum terbiasa aja, nanti juga lama-lama kamu terbiasa kok!" Ucapnya lagi mencoba untuk sabar dan menerima keadaan, kemudian ia pun langsung mencoba untuk tidur, namun belum juga sempat ia tertidur, tiba-tiba saja ia ingat akan teman-teman segank nya.


"Oh iya! Tapi ngomongin masalah magang, gue jadi inget sama anak-anak nih! Gimana kabar mereka yah sekarang?" Ucapnya lagi.


"Gue coba chat mereka di grup ah! Udah hampir dua hari gue nggak ngasih kabar sama mereka!" Ucapnya lagi. Ia berbicara seperti itu karena memang benar, sudah hampir dua hari ia tidak memberikan kabar kepada teman-teman segank nya itu, karena ibu Savira mamahnya memang sengaja menyuruhnya untuk menonaktifkan handphone nya, tujuannya yaitu agar tidak ada satu orang pun yang tau atau menggangu acara pernikahannya dengan Bara yang diselenggarakan satu hari lalu.


"Iya bener, mendingan sekarang gue chat mereka aja!" Ucapnya lagi sambil buru-buru mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tasnya.


"Eh, tapi di mana yah? Kok handphone gue enggak ada? Di mana yah?" Ucapnya lagi bingung, sambil terus mencari-cari ponselnya itu didalam tas miliknya, hingga beberapa menit kemudian ia pun akhirnya meningkat dimana terakhir ia menaruh ponselnya itu.


"Oh iya! Kalau nggak salah tadi itu kan pas gue pakai krim perawatan, gue naruh handphone gue itu di atas meja rias mas Bara yah?" Ucapnya lagi, ia berbicara seperti itu karena memang benar, tadi itu ia sempat menaruh ponselnya itu di meja rias tersebut disaat ia sedang memakai krim perawatan kecantikannya, namun sepertinya ia lupa membawanya kembali, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru melangkah menuju meja rias tersebut untuk memastikan benar atau tidak ia menaruhnya di tempat tersebut.


"Tuuuuh kan, bener ada disini!" Ucapnya lagi sambil tersenyum menatap kearah ponselnya itu yang masih tergeletak di atas meja rias tersebut, kemudian dengan cerobohnya tanpa melihat-melihat terlebih dahulu ia pun langsung buru-buru mengambilnya, sehingga ia pun tidak menyadari jika ponselnya itu menyenggol sebuah foto, yaitu foto pernikahan Bara dan mantan istrinya yang tak lain adalah Rika yang masih terpajang dengan sangat rapi di atas meja rias tersebut, tepatnya disamping ponselnya itu, sehingga foto pernikahan tersebut pun seketika langsung terjatuh dan akhirnya pecah PRAAAKKKKKKK!


"Ya ampun, ya ampun! Ini foto apaan nih? Mana pecah kayak gini lagi, bisa-bisa mas Bara marah nih kalau kayak gini!" Ucapnya dengan sangat tergesa-gesa karena saking paniknya, karena ia tau betul seperti apa watak Bara suaminya itu.


"Gue harus gimana nih sekarang? Aduuuuuh, gue harus giman,,,,,,," seketika ucapnya itu pun terpotong.


"Tania! Suara apaan itu? Apaan yang pecah?" Teriak Bara yang tak sengaja terbangun karena mendengar suara pecahan tersebut, sehingga membuat Tania pun semakin panik dibuatnya.


"Aduuuuh, mati gue! Mas Bara bangun lagi, gue harus gimana nih sekarang? Apa yang harus gue lakukan?" Ucapnya lagi bingung, sambil modar-mandir karena saking paniknya. Hingga akhirnya Bara yang tidak mendengar adanya jawaban darinya pun tiba-tiba datang menghampirinya.

__ADS_1


"Ya ampun Tania! Apa-apaan ini?" Teriak Bara dengan raut wajah yang sangat marah, sambil menatap kearah foto tersebut yang sudah dalam keadaan pecah dan hancur.


"M_ mas Bara?" Ucap Tania gugup karena saking kagetnya.


"S_ sorry mas! T_ Tania bener-bener nggak sengaja mecahin foto ini! T_ Tania bener-bener enggak sengaja mas!" Ucapnya lagi gugup karena saking takutnya, sambil buru-buru membereskan satu-persatu pecahan foto tersebut.


"Jangan sentuh foto itu!" Bentaknya dengan sangat kencang, sehingga membuat Tania pun seketika langsung kaget, bahkan saking kagetnya sampai-sampai pecahan kaca foto yang sedang ia pegang itu pun tak sengaja menusuk jari-jari cantiknya hingga terluka dan akhirnya berdarah.


"Aw, Sssttttt! Aduh, aduuuh!" Ucapnya kesakitan sambil menatap kearah lukanya itu. Namun sayang, melihatnya terluka kesakitan sampai berdarah seperti itu, Bara tidak perduli dan tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun malah justru melangkah dan jongkok tepat di hadapan foto tersebut sambil memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga Tania yang sedang kesakitan pun lupa akan rasa sakitnya itu, karena saking merasa bersalahnya kepadanya.


"S_ sorry yah mas! T_tadi itu Tania bener-bener nggak sengaja mecahin foto ini! T_ Tania ini bener-bener nggak sengaja mas!" Ucapnya lagi-lagi meminta maaf karena ia benar-benar merasa sangat bersalah kepadapnya. Namun sayang, bukannya memaafkan, Bara suaminya itu malah justru langsung membentaknya.


"Kamu tau, hah? Kamu tau nggak betapa berartinya foto ini buat mas! Kamu tau nggak, hah?" Bentaknya dengan suara yang sangat kencang sambil menunjukkan foto pernikahannya yang sudah pecah dan hancur itu kepadanya.


"Foto ini itu sangat berarti buat mas! Bahkan di dunia ini tidak ada satu hal pun yang lebih penting lagi dari pada foto ini!" Teriaknya lagi sambil melangkah mendekat kearahnya.


"Dan kamu! Sampai kapanpun juga, kamu ini nggak akan pernah bisa menggantikan seseorang yang ada di dalam foto ini! Karena apa? Karena sampai kapanpun, istri mas itu hanya satu! Ya itu perempuan yang ada didalam foto ini!" Bentaknya lagi dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu, sambil menunjukkan lagi wajah matan istri tercintanya itu yang ada didalam foto tersebut kepadanya.


"Keluar sekarang juga!" Ucap Bara pelan tapi tegas, ia menyuruhnya untuk keluar dari dalam kamarnya.


"T_ tapi mas, mas nggak bisa dong nyuruh Tania keluar begitu aja mas! T_ tadi itu Tania bener-bener nggak sengaja mecahin foto ini mas! T_ Tania enggak bohong, t_ tadi itu Tania bener-bener enggak sengaj,,,,," Lagi- lagi ucapan Tania pun terpotong


"Saya bilang keluar sekarang juga!" Bentak Bara lebih kencang lagi menyuruhnya untuk keluar dari dalam kamarnya, sehingga membuat Tania pun akhirnya terpancing juga emosinya.


"Iiiiiihhhh!" Ucapnya kesal, kemudian ia pun langsung buru-buru keluar dari dalam kamar tersebut dan membanting pintunya dengan sangat kencang JEBREEET! Kemudian pergi entah kemana meninggalkan Bara yang sedang meratapi foto tersebut hanya sendiri di dalam kamarnya.


"Maafin mas Rika! Gara-gara mas, foto pernikahan kita jadi pecah kayak gini! Mas benar-benar minta maaf!" Ucapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca, sambil membereskan satu persatu pecahan foto tersebut.


"Tapi satu yang harus selalu kamu ingat Rika! Sampai kapanpun nggak akan pernah ada perempuan yang bisa menggantikan posisi kamu di hati mas!" Ucapnya lagi.


"Karena apa? Karena hanya perempuan Solehah seperti kamu yang bisa dan paling cocok untuk mendampingi hidup mas!" Ucapnya lagi dengan sangat yakin.

__ADS_1


"Dan mas juga janji sama kamu Rika! Mas akan selalu menunggu kamu sampai kapan pun untuk bisa balik lagi sama mas!" Ucapnya sambil terus memandangi foto tersebut. Kemudian setelah puas memandangi foto tersebut, ia pun langsung menyimpannya kembali di tempat semula, dan langsung buru-buru melangkah kembali menuju tempat tidurnya untuk tidur, namun belum juga sempat ia tertidur, tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan yang sedang teriak-teriak dilantai teratas dari gedung rumahnya.


"Tuhaaaan! Kenapa sih Tuhan nggak adil sama Tania? Kenapa sih Tania harus menikah sama Om-om gila dan nggak jelas kayak mas Bara!" Teriak perempuan tersebut yang tak lain adalah Tania. Iya, perempuan tersebut adalah Tania, karena ternyata tadi itu saat ia diusir oleh Bara suaminya, ia langsung buru-buru melangkah naik menuju tempat tersebut untuk mencari ketenangan sambil memandangi bintang-bintang di langit dan juga merasakan dinginnya angin malam.


"Tania enggak mau Tuhaaan! Tania enggak mau punya suami Om-om gila dan nggak jelas kayak mas Bara! Tania enggak mau!" Teriaknya lebih kencang lagi, sehingga Bara yang sedang mendengarkan suara teriakkan tersebut pun kesal, karena suara teriakkan tersebut terdengar cukup jelas dari dalam kamarnya.


"Apa-apaan sih itu gadis brutal! Ngapain coba pakai teriak-teriak diatas kayak gitu?" Ucapnya, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru melangkah naik untuk menghampirinya.


"Kalau mamah sampai denger, apalagi sampai tau kejadian ini! Bisa bahaya nih!" Ucapnya lagi panik, sambil terus buru-buru melangkah naik menghampirinya, karena ia berniat untuk menghentikan teriaknya itu. Namun baru juga ia sampai di depan pintu keluar tempat tersebut, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena tiba-tiba ia melihat Tania istrinya itu yang sedang duduk sambil menangis.


"Hiks,, hiks,,, Aw Sssttttt! Sakiiiit?" Rengekannya kesakitan sambil menatapi luka di jari-jari cantiknya itu yang terlihat masih mengeluarkan cukup banyak darah.


"Hiks,, hiks,, mas Bara itu bener-bener tega banget sama Tania! Hiks,, hiks,, padahal kan tadi itu Tania udah jelas-jelas kasih tau mas Bara, kalau Tania ini nggak sengaja mecahin foto itu! Hiks,, hiks,, tapi kenapa mas Bara malah justru ngusir Tania?" Ucapnya lagi sambil terus menangis dan kesakitan, sehingga Bara yang sedang memperhatikannya pun tak tega dan merasa kasihan.


"Apa tadi itu, aku terlalu kasar yah sama dia?" Ucapnya dalam hati sambil terus menatap kearahnya.


"Hiks,, hiks,, waktu aku masih kecil, hiks,, hiks,, Tante aku selalu ngomong sama aku! Hiks,, hiks,, katanya kalau orang punya pacar, atau punya suami itu seneng! Hiks,, hiks,, karena nantinya  akan ada seseorang yang akan nolongin kita, atau ngelindungi kita! Hiks,, hiks,, tapi kenyataannya nggak, hiks,, hiks,, kenyataannya mas Bara nggak kayak gitu sama Tania! Hiks,, hiks,, boro-boro mas Bara nolongin atau ngelindungin Tania! Hiks,, hiks,, yang ada juga mas Bara itu nyiksa terus setiap hari sama Tania!" Ucapnya lagi sambil terus menangis dan meniupi luka dijari-jari cantiknya itu, dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Bara yang masih memperhatikannya pun DEG! Seketika jantungnya pun langsung bergetar.


"K_ kata-kata itu! A_ aku kayak pernah dengar kata-kata itu! Tapi dimana yah?" Ucapnya dalam hati yang tiba-tiba seperti pernah mendengar kata-kata tersebut, akan tetapi lupa kapan dan dimana ia mendengarnya.


"Aw, Sssttttt! Aduh, aduuuuh!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya, karena tiba-tiba bayang-bayang wajah gadis kecil 12 tahun yang lalu hadir dan muncul lagi di kepalanya.


"Oh iya De, emang Ade tau pacaran itu artinya apa?" Pada saat itu ia mencoba untuk menanyakan hal tersebut kepada gadis kecil tersebut sambil tersenyum.


"Emmmm? Nggak tau!" Jawabannya.


"Kalau Ade nggak tau, kenapa Ade mau jadi pacar kakak?" Ucapnya lagi sambil tersenyum lucu mendengarnya.


"Soalnya kalau kata Tante aku! Pacaran itu katanya, kita ini jadi punya seseorang yang bisa nolongin kita kalau lagi ada orang yang jahat sama kita! Tadi kan kakak udah nolongin aku, berarti sekarang kakak udah jadi pacar aku dong?" Ucap gadis kecil tersebut lagi dengan polosnya menjawabnya seperti itu.


"Aw, Sssttttt! Iya, iya, bener! Kata-kata itu dari gadis kecil itu!" Ucap Bara yang sudah mengingat dengan jelas siapa dan dimana ia mendengar kata-kata tersebut, namun lagi-lagi ia pun langsung terdiam.

__ADS_1


"T_ tapi, kenapa kata-kata Tania tadi, sama persis kayak kata-kata gadis kecil itu yah?" Ucapnya lagi dalam hati bingung.


__ADS_2