
Kemudian dengan segera, Ibu Savira pun langsung buru-buru melangkah untuk menghampirinya.
"Hiks,, hiks,, sayang, hiks,, hiks,, kamu nggak papa kan sayang? Hiks,, hiks,, kamu nggak papa kan? Hiks,, hiks,, keadaan kamu sekarang ini, baik-baik aja kan sayang? Hiks,, hiks,, keadaan kamu sekarang ini, baik-baik aja kan?" Ucapnya tergesa-gesa, sambil menangis karena saking paniknya, dan tak henti-hentinya memeriksa keadaannya sekarang ini.
"Mamaaah, mamah kenapa nangiiis? Tania nggak papa kok mah, Tania nggak papa! Keadaan Tania sekarang ini, baik-baik aja kok mah!" Ucap Tania yang malah justru tersenyum, sambil buru-buru menenangkannya.
"Lagian, tadi juga kan ada mas Bara yang nolongin Tania!"
"Iya kan mas?" Ucapnya lagi sambil tersenyum menatap ke arah Bara suaminya, yang sekarang ini sedang berdiri tepat di sampingnya.
"Iya mah, jadi mamah tenang aja! Keadaan Tania sekarang ini, baik-baik aja kok mah!" Ucap Bara yang juga ikut menenangkannya seperti itu, sambil tersenyum.
"Hiks,, hiks,, iya Bara, makasih yah? Hiks,, hiks,, makasiiiih banget! Untung tadi kamu itu datang tepat waktu untuk menolong Tania! Hiks,, hiks,, karena kalau sampai tadi kamu itu nggak datang tepat waktu untuk menolong Tania, hiks,, hiks,, mamah bener-bener udah nggak tau lagi deh, hiks,, hiks,, apa yang akan terjadi sama Tania, hiks,, hiks,, putri mamah ini!" Ucap Ibu Savira lagi sambil terus menangis, dan menggenggam tangan Tania Putri tersayangnya itu, dengan sangat erat. Kemudian, ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya Tuhaaan, kasihan kamu sayang! Kenapa sih sayang, nasib kamu ini selalu saja malang? Bahkan sejak dari kamu ini masih kecil, nasib kamu ini benar-benar sudah selalu malang!" Ucapnya lagi serius, dengan raut wajah yang sangat sedih. Dengan secara tiba-tiba, ia berbicara dengan kata-kata seperti itu, tentang masa lalunya. Sehingga Bara yang memang benar-benar tidak tau, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan masa lalunya itu pun, bingung.
"S_sejak dari Tania ini masih kecil? Maksudnya?" Ucapnya.
"Oh! N_nggak kok Bara, nggak ada maksud apa-apa!" Ucap Pak Ilham yang justru langsung menjawabnya seperti itu. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru menyuruh Tania, putri tersayangnya itu untuk istirahat, di dalam kamarnya.
"Oh iya sayang, lebih baik sekarang kamu istirahat yah, ke kamar! Sekarang ini, kamu bener-bener kelihatan lelah dan capek banget!" Ucapnya lagi.
"I_iya pah," ucap Tania.
"Oh iya mas Bara, Tania sekarang mau istirahat dulu yah, ke kamar! Kalau sekarang mas Bara mau langsung berangkat ke kantor atau meeting, ya udah mas Bara berangkat aja!" Ucapnya lagi menyuruhnya seperti itu. Yang kemudian langsung dijawab olehnya, hanya dengan menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
"T_tapi mas Bara, kalau mas Bara udah selesai meetingnya, mas Bara langsung pulang kesini lagiiii!" Rengek Tania dengan sangat manjanya, memintanya seperti itu. Sehingga membuat Pak Ilham dan Ibu Savira yang tadinya sedang sedih dan panik pun, seketika langsung tersenyum dibuatnya.
"Iyaaaa," ucap Bara yang juga ikutan tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, sekarang Tania istirahat dulu yah?" Ucap Tania lagi penuh dengan semangat.
"Ya udah!" Ucap Bara lagi.
"Bi, bi Iroh! Tolong anterin non Tania istirahat ke kamar, bi!" Teriak Ibu Savira yang langsung buru-buru menyuruh asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya!" Ucap bi Iroh yang langsung sigap dengan apa itu perintah darinya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung memapahnya untuk naik ke atas menuju kamarnya, meninggalkan Bara, Pak Ilham, dan juga Ibu Savira hanya bertiga di ruang keluarga.
"Bara, sebenarnya papah sama mamah Savira, pengin ngomong sesuatu sama kamu!" Ucap Pak Ilham yang tiba-tiba berbicara dengan raut wajah yang terlihat sangatlah serius. Sehingga Bara yang melihatnya pun, bingung dibuatnya.
"P_pengin ngomong sesuatu, sama Bara? Emang papah Ilham sama mamah Savira, pengin ngomong sesuatu apa sama Bara?" Ucapnya penasaran.
"Biar mamah aja yah pah, yang ngomong?" Ucap Ibu Savira meminta izin, kepada Pak Ilham suaminya.
"Iya mah," ucap Pak Ilham.
"Bara, sebelumnya mamah sama papah ini bener-bener berterimakasiiiiiih banget sama kamu! Karena tadi itu, kamu udah rela nolongin Tania, dari perbuatan jahat para preman-preman itu!" Ucap Ibu Savira yang benar-benar merasa sangat berterima kasih kepadanya.
__ADS_1
"Iya mah, nggak papa! Lagian semua itu, kan memang sudah tugas Bara mah, selaku suami dari Tania!" Ucap Bara yang dengan sangat bijaknya menjawabnya seperti itu. Sehingga membuat Ibu Savira pun, tersenyum karena saking leganya.
"Makasih yah, Bara? Makasiiiih banget!" Ucapnya yang benar-benar sangat bangga kepadanya.
"Iya mah," ucap Bara lagi.
"Oh ia Bara, jujur saja yah! Saat tadi kamu telepon mamah sama papah, mengabarkan tentang kejadian yang baru saja menimpa Tania, dengan para pereman-pereman itu! Mamah ini tadi bener-bener lemas banget, mamah ini tadi bener-bener udah nggak bisa berfikir lagi, tiba-tiba saja pikiran mamah ini ngebleng! Dan bahkan mamah ini, tadi juga udah nggak bisa berbuat apa-apa lagi, karena saking paniknya!" Ucap Ibu Savira serius, kalau keadaannya itu tadi, memang separah itu.
"Yang ada di dalam pikiran mamah itu tadi, hanya keselamatan Tania! Keselamatan Tania, keselamatan Tania, dan keselamatan Tania!"
"Mamah itu tadi benar-benar takut, kalau sampai jiwa Tania itu terguncang lagi, gara-gara kejadian itu! Dan mamah juga tadi benar-benar takut, kalau tiba-tiba saja rasa ketakutan Tania, rasa kepanikan Tania, dan bahkan phobia Tania itu muncul lagi secara tiba-tiba, disaat kamu itu tadi belum ada, atau bahkan tidak akan pernah ada di tempat kejadian! Yang mengakibatkan rasa trauma Tania dimasa lalunya itu muncul lagi, gara-gara kejadian itu tadi, mengingatkannya kembali dengan kejadian tragis yang pernah menimpanya, pada saat 12 tahun yang lalu!" Ucapnya lagi yang secara tiba-tiba berbicara seperti itu, dengan raut wajah yang sangatlah sedih. Sehingga Bara yang memang benar-benar tidak tau apa-apa dengan masa lalu Tania istrinya itu pun, semakin bingung lagi dibuatnya.
"K_kejadian tragis, pada saat 12 tahun yang lalu? Maksudnya?" Ucapnya.
"Iya Bara, kejadian tragis, pada saat 12 tahun yang lalu!" Ucap Ibu Savira lebih jelas lagi menyebutnya seperti itu. Kemudian lagi-lagi, ia pun langsung menangis, karena sebenarnya ia pun tidak mau mengingat-ingat lagi kejadian tersebut.
"Hiks,, hiks,, jujur saja yah Bara, dulu waktu Tania masih kecil, dia itu bukanlah anak yang kuat, seperti sekarang!"
"Dia itu dulu anak yang pendiam, lemah, dan bahkan tidak bisa melawan!" Ucapnya lagi serius, kalau keadaan fisik Tania, putri tersayangnya itu, dulu memang seperti itu.
"Dan semua itu, membuat jiwa Tania pada saat itu terguncang! Karena dengan kelemahan yang ada pada dirinya, semua itu menimbulkan bumerang untuknya! Karena pada saat itu, dia itu sering sekali dihujat, dibully, dan bahkan hampir setiap hari, dia itu disakiti oleh teman-teman sekelasnya!" Ucap Ibu Savira lagi, serius.
"A_apa mah? Tadi mamah ngomong apa?" Ucap Bara kaget dan semakin tak percaya lagi, mendengar ucapannya itu.
"D_dulu Tania sering sekali dihujat, dibully, dan bahkan hampir setiap hari, dia itu disakiti oleh teman-teman sekelasnya?" Ucapnya lagi, yang entah mengapa seperti tidak terima mendengar kenyataan tersebut.
"Iya." Ucap Ibu Savira lebih jelas lagi.
"Sampai-sampai setelah kejadian itu, mamah sama papah memutuskan! Untuk membawa Tania, pindah dari sekolahan tersebut, ke sekolahannya yang baru!" Ucapnya lagi, dengan raut wajah yang lebih serius lagi. Sehingga Bara yang dari tadi sedang mendengarkan ucapannya itu pun, semakin tak percaya dan semakin tak terima lagi, dengan nasib malang yang sempat menimpa Tania istrinya itu.
"N_nggak, nggak mungkin! Untuk anak seusia Tania, yang pada saat itu masih sangat kecil, harus mengalami dan menerima bullying fisik seperti itu, dari teman-temannya? Dan bahkan sampai-sampai, papah Ilham juga mamah Savira, harus membawanya untuk pindah dari sekolahannya itu, ke sekolahnya yang baru?" Ucapnya dalam hati. Kemudian, ia pun langsung terdiam sambil mengingat-ingat kelakuan Tania istrinya itu sekarang ini, yang menurutnya sangat-sangat berbanding terbalik dengan kelakuannya itu dulu, seperti apa yang Ibu Savira sedang ceritakan kepadanya sekarang ini.
"A_apa mungkin, itu semua adalah alasan dari Tania? Mengapa sekarang ini, dia itu berubah menjadi anak yang sangat ceroboh, brutal, sok berani, dan bahkan sangat susah diatur!"
"Itu semua, adalah salah satu caranya untuk menutupi kelemahannya itu, dan juga untuk melindungi dirinya, dari bullying teman-temannya itu?" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar baru menyadari semua nya. Kemudian, ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya Tuhaaaan! Kalau sampai semua itu benar, berarti aku ini benar-benar suami yang nggak punya perasaan! Karena selama ini, aku malah justru selalu menilai buruk kelakuannya itu!" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar sangat menyesali perbuatannya selama ini kepadanya.
"Hiks,, hiks,, dan yang lebih parahnya lagi, Bara! Kamu tau nggak? Rasa kepanikan Tania, dan rasa ketakutan Tania itu, sekarang ini berubah menjadi phobia untuknya! Yang bisa muncul secara tiba-tiba, disaat dia sedang dalam situasi yang sama seperti itu! Disaat dia sedang dalam situasi gelap, dan juga dalam situasi sunyi!" Ucap Ibu Savira lagi, sambil terus menangis. Lagi-lagi, dengan secara tiba-tiba ia berbicara yang sangat menyedihkan seperti itu, tentang Tania Putri tersayangnya. Sehingga membuat Bara pun, seketika langsung terdiam dibuatnya.
"T_tunggu dulu! Tadi mamah Savira ngomong apa?" Ucapnya dalam hati gugup karena saking kagetnya.
"Rasa kepanikan Tania, dan rasa ketakutan Tania itu, sekarang ini berubah menjadi phobia untuknya, yang bisa muncul secara tiba-tiba, disaat dia sedang dalam situasi yang sama seperti itu? Disaat dia sedang dalam situasi gelap, dan juga dalam situasi sunyi?" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba langsung mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia dan dirinya sedang terjebak di dalam lift.
"A_apa mungkin, semua itu juga adalah alasan dari Tania? Kenapa dia itu bisa sampai ketakutan seperti itu, saat dia itu sedang terjebak di dalam lift bersama aku, dengan keadaan gelap seperti itu?" Ucapnya lagi dalam hati, yang juga benar-benar baru menyadari semuanya. Kemudian, lagi-lagi ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya Tuhaaan! Bego bego bego! Kamu ini benar-benar suami yang bego dan nggak punya perasaan, Bara! Dengan teganya, kamu malah menyuruh Tania, untuk naik lagi ke dalam lift yang sama?" Ucapnya lagi dalam hati, yang lagi-lagi sangat menyesali perbuatannya itu.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, dan itu sebabnya, sekarang ini mamah nggak pernah melarang Tania! Dia mau berteman, dan bahkan dia mau bergaul dengan siapapun! Asalkan mereka semua baik dan sayang kepadanya, dan pergaulan mereka juga tidak melebihi batas normal untuk anak seusianya, mamah tidak akan pernah melarangnya! Karena yang terpenting buat mamah, Tania itu bisa bahagia bersama dengan teman-teman yang tulus menyayanginya, dan Tania juga bisa sepenuhnya melupakan kejadian di masa lalunya, yang sangat menyedihkan itu!" Ucap Ibu Savira lagi. Kemudian, ia pun langsung mengambil sebuah foto masa kecil Tania putri tersayangnya itu, yang masih sangat-sangat lucu dan menggemaskan, pada saat 12 tahun yang lalu tersebut, dan langsung menunjukkan kepadanya.
"Coba kamu bayangin, Bara! Anak sekecil Tania, yang masih sangat lucu dan menggemaskan seperti ini, yang masih sangat polos, dan sama sekali tidak berdosa, harus mendapatkan bullying fisik seperti itu dari teman-temannya!" Ucapnya lagi, sambil terus menunjukkan foto tersebut kepadanya.
Sehingga membuat Bara pun, entah mengapa, seketika jantungnya pun langsung berdetak dengan sangat kencang.
"A_anak kecil itu?" Ucapnya dalam hati gugup, karena saking kaget dan tak percayanya, melihat seperti apa wajah Tania istrinya itu, pada saat 12 tahun yang lalu, di dalam foto tersebut.
"Aw, Sssttttt! Aduh aduuuuh!" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba merasakan sakit dan pusing di kepalanya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru menatap foto tersebut lagi.
"N_nggak, nggak mungkin! Kenapa wajah Tania waktu masih kecil ini, bener-bener mirip banget sama,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Aw, sssttttt! Aduuuuh!" Ucapnya yang terus merasakan pusing dan sakit di kepalanya semakin luar biasa. Karena dengan secara tiba-tiba, wajah gadis kecil 12 tahun yang lalu, yang dulu sempat ia tolong di sebuah taman, dan yang sedang ia cari-cari keberadaannya sekarang ini, tiba-tiba muncul kembali di kepalanya.
Dan bahkan wajah gadis kecil tersebut benar-benar terlihat sangat mirip, dan sama persis dengan wajah Tania pada saat 12 tahun yang lalu, di dalam foto tersebut.
"N_nggak, nggak mungkin! J_jadi, anak kecil yang sekarang ini sedang aku cari-cari itu, T_Tania?" Ucapnya lagi dalam hati gugup, karena saking syok dan tak percayanya, sambil terus terdiam menatap kearah Ibu Savira mamah mertuanya, yang sekarang ini masih terus menunjukkan foto tersebut kepadanya, dan terus menceritakan bagaimana kisah masa kecil Tania, istrinya itu.
"Untuuuung saja, dulu itu Tania bertemu dengan seorang kakak-kakak cowok yang sangat baik, di taman! Seorang kakak-kakak cowok yang sangat baik, yang dulu sudah mau menolongnya, dan juga yang dulu sudah berhasil menyemangatinya sampai sekarang! Sehingga sekarang ini, dia itu bisa menjadi anak yang kuat dan bisa melawan, di setiap kali dia itu sedang di bully oleh teman-temannya!" Ucap Ibu Savira lagi yang secara tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Dan Tania biasa menyebutnya dengan sebutan, KAKA BAIK." Ucapnya lagi sambil tersenyum menceritakan hal tersebut kepadanya. Sehingga membuat Bara pun, seketika langsung kaget dan syok lagi dibuatnya.
"A_apa? Tania bertemu dengan seorang kakak-kakak cowok yang sangat baik, di taman? Seorang kakak-kakak cowok yang sangat baik, yang dulu sudah mau menolongnya, dan juga yang dulu sudah berhasil menyemangatinya, sampai sekarang? Dan kakak-kakak baik itu, biasa Tania panggil dengan sebutan, KAKA BAIK?" Ucapnya dalam hati tak percaya.
"K_kakak-kakak baik itu! I_itu bukannya, aku?" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar sangat yakin, kalau kakak-kakak baik itu, pasti adalah dirinya.
"Kamu tau nggak, Bara? Meskipun sudah berulang kali, Tania itu mencoba untuk mencari-cari kakak-kakak baik itu di taman, berharap dia itu akan bertemu lagi dengannya, namun kenyataannya semua itu tidak pernah terjadi, dan bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Namun,,, Tania itu seriiiiing banget! Membangga-banggakan kakak-kakak baik itu, kepada mamah, kepada papah, dan bahkan kepada semua teman-temannya!" Ucap Ibu Savira lagi serius, sambil meneteskan air matanya. Karena ia benar-benar merasa sangat kasihan kepadanya, dan benar-benar merasa sangat terharu dengan perjuangan Tania, Putri tersayangnya itu selama ini, dalam mencari-cari kakak-kakak baik tersebut.
"Dia itu selalu ngomong ke mamah, ke papah, dan ke semua teman-temannya! Kalau kakak-kakak baik itu, katanya adalah pacarnya!" Ucapnya lagi sambil tersenyum mengingat hal lucu tersebut.
"Dan ini juga mungkin lucu! Karena gara-gara dia menganggap, kalau kakak-kakak baik itu adalah pacarnya! Sampai-sampai, dia itu nggak pernah mau pacaran dengan siapa pun, dan dengan cowok manapun! Dia itu selalu ngomong ke mamah, kalau dia itu akan menunggunya sampai kapanpun! Karena dia juga sangat yakin, suatu saat nanti, dia pasti akan dipertemukan kembali dengannya!"
"Bahkan saat mamah dan papah menjodohkan Tania dengan kamu, dia itu sebenarnya menolak perjodohan itu sampai nangis-nangis! Karena dia itu benar-benar nggak mau, kalau dia itu sampai mengingkari janjinya, kepada kakak-kakak baik itu!" Ucapnya lagi serius berbicara seperti itu. Sehingga membuat Bara pun, seketika langsung meneteskan air matanya.
"N_nggak, nggak mungkin! Jadi gadis kecil itu, yang tak lain adalah Tania, bener-bener sesetia itu selama ini, sama aku?" Ucapnya lagi dalam hati, tak percaya.
"T_tapi dengan teganya, aku malah membohonginya, dan bahkan aku ini malah justru mengingkari janji aku sendiri, sampai-sampai aku ini menikah dengan perempuan lain, yang tak lain adalah Rika?"
Ucapnya lagi sambil terus meneteskan air matanya, karena sekarang ini ia benar-benar sangat menyesali perbuatannya itu.
__ADS_1
"N_nggak! Pokoknya sekarang juga, aku harus temui Tania! Aku harus buru-buru minta maaf, sama dia! Karena aku sudah mengingkari janji aku itu dulu, kepadanya!" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar serius ingin meminta maaf kepadanya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru beranjak dari tempat duduknya, dan langsung buru-buru melangkah untuk naik menuju kamarnya.
"B_Bara, kamu mau kemana?" Teriak Ibu Savira bingung, melihatnya yang tiba-tiba langsung pergi meninggalkannya dan juga meninggalkan Pak Ilham suaminya, begitu saja.