Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 51.


__ADS_3

DI TEMPAT BERBEDA, DI DEPAN RUANGAN AYU.


Terlihat Ayu dan Dina, yang tak lain adalah manager di perusahaan tersebut, yang dari tadi sedang ngobrol dengan sangat serius.


"Dina, kamu udah tau kan? Apa yang harus kamu kerjakan, sekarang?" Ucap Ayu dengan sangat tegas, mengingatkannya seperti itu. Namun entah pekerjaan apa, yang sebenarnya sedang ia tugaskan kepadanya.


"I_iya Bu Ayu, saya udah tau!" Ucap Dina, dengan sangat sopan dan juga sigap.


"Sekarang juga, saya akan kerjakan semua pekerjaan dari ibu, dengan baik!" Ucapnya lagi.


"Bagus!" Ucap Ayu.


"Pokoknya, saya nggak mau tau! Semuanya, harus gol! Harus berhasil!" Ucapnya, lebih tegas lagi.


"B_baik Bu Ayu! Saya akan mengerjakan pekerjaan dari Ibu Ayu ini, sesuai dengan apa yang ibu Ayu perintah,,,,,,,," seketika ucapan Dina pun, langsung terpotong.


"Tania! Tunggu Tania!" Teriak Bara, yang ternyata dari tadi masih terus mengejar-ngejarnya, menuju ruangannya.


"Tania! Kamu masih marah, sama mas?" Teriaknya lagi, dengan keadaan yang sudah tidak karuan, karena saking capeknya. Apalagi seperti yang kita tau, dari tadi ia membawa tas kerja miliknya itu sendiri.


"Apaan sih itu, Bara?" Ucap Ayu dalam hati, kesal.


"Ngapain juga pakai kejar-kejaran, sama itu perempuan?"


"Kurang kerjaan banget sih!"


"Bener-bener nggak berwibawa banget sih, Bara itu sebagai Presdir!" Ucapnya lagi.


"Ya ampun, Bu Ayu! Itu Pak Bara, kasihan banget! Masa Pak Bara, bawa tas kerja miliknya sendiri sih?" Ucap Dina kaget, melihat pemandangan langka seperti itu, tepat dihadapannya. Karena biasanya, Bara yang tak lain adalah Presdir di perusahaannya itu, tidak pernah sekalipun membawa tas kerja miliknya sendiri. Karena biasanya, sekertaris nya lah yang selalu membawakan tas kerja miliknya itu.


"Mana penampilannya juga, berantakan banget kayak gitu lagi!" Ucapnya lagi yang benar-benar kaget dan heran, melihat penampilannya yang ternyata juga sangat-sangatlah berantakan, tidak seperti biasanya. Karena biasanya, ia selalu saja berpenampilan rapi. Bahkan karena saking rapinya, dari cara berpakaian dan juga gaya rambutnya disetiap kali ia hendak berangkat ke kantor, terlihat sama persis seperti anak SD kelas satu, yang hendak berangkat ke sekolah 😂 ✌️Mungkin penampilannya sekarang ini bisa seberantakkan itu, karena dari tadi ia sibuk mengejar-ngejar Tania, sehingga ia tidak memperhatikan keadaan penampilannya lagi.


"Anak magang itu, bener-bener nggak punya sopan santun banget, yah! Mana jalannya juga, mendahului Pak Bara lagi!" Ucapnya lagi, kesal.


"Ya udah yah, Bu Ayu! Saya mau tegur, anak magang itu dulu!" Ucapnya lagi, sambil buru-buru melangkah untuk mencegatnya.


"Taniaaaa, stoooop!" Teriaknya, yang sudah berdiri ditengah-tengah jalan, tepat dihadapannya.


"Tania, kamu ini gimana sih, jadi sekertaris? Nggak punya sopan santun banget, sih!" Ucapnya lagi, yang sok-sokan menasehatinya seperti itu.


"Lihat tuh!" Ucapnya lagi, sambil menatap kearah Bara Presdir di perusahaannya, yang sekarang ini sedang berjalan melangkah mendekat kearahnya.



"Masa kamu biarkan, Pak Bara bawa tas kerja miliknya, sendiri sih?"


"P_pagi, Pak Bara!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba langsung saja tersenyum caper kepadanya, yang sekarang ini sudah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.


"Aduuuuuh! Ngapain sih ini, Dina?" Ucap Bara dalam hati, semakin kesal.


"Bisa-bisa, Tania tambah ngambek nih, sama gue! Kalau kayak gini caranya!" Ucapnya lagi dalam hati yang benar-benar sangat yakin, kalau Dina manager di perusahaannya itu, sekarang ini pasti sedang menasehati Tania, istri labilnya itu.


"Udah sekarang juga, kamu bawa tas kerja, milik Pak Bara!" Ucap Dina lagi, dengan sok tegasnya.


"Dan jangan pernah sekalipun! Kamu berjalan, mendahului dari langkah Pak Bara!"


"Mengerti!" Ucapnya lagi.


"I_iya Bu!" Ucap Tania yang sebenarnya sangatlah kesal. Namun sebagai karyawan magang di perusahaan tersebut, ia pun mencoba untuk profesional.


"P_pak Bara, sini tasnya! Biar Tania yang bawa!" Ucap Tania lagi, yang terlihat masih terus cemberut.


"Udah nggak papa, biar saya aja yang bawa!" Ucap Bara, yang memang benar-benar tidak tega, jika ia harus melihat Tania istri manjanya, membawa tas kerja miliknya yang cukup berat itu.


"Pak Bara, cepetan! Tas nya, kasih ke Tania!" Ucap Dina lagi, yang lagi-lagi menyuruhnya seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Nih!" Ucapnya yang terpaksa menuruti apa itu perintah darinya, dan mencoba untuk ikut profesional.


"Nah gitu dong, pak Bara!" Ucap Dina lagi, yang langsung saja tersenyum dengan sangat bahagia. Kemudian, ia pun langsung menatap sinis, kearah Tania.


"Hemm, rasain loh!" Ucapnya dalam hati.


"Apaan sih, ini nenek lampir!" Ucap Tania dalam hati, semakin kesal.


"Kalau bukan karena reputasi mas Bara, udah gue jambak-jambak, ini rambut nenek lampir!" Ucapnya lagi dalam hati, yang ternyata dari tadi masih terus mengkhawatirkan reputasi Bara suaminya, sebagai Presdir di perusahaan tersebut, jika sampai semua karyawan-karyawnnya tau, kalau ternyata ia adalah istrinya.


"Y_ya ampun, pak Bara! Muka pak Bara, keringatan!" Ucap Dina lagi tergesa-gesa, sambil buru-buru mengambil sapu tangan miliknya, dan langsung buru-buru menyeka keringatnya itu. Sehingga Tania yang melihatnya pun, semakin ngambek lagi dibuatnya.

__ADS_1


"Iiiiiiihhhh!" Ucapnya dalam hati, sambil menatap sinis kearah mereka berdua.


"U_udah yah Din! Saya bisa, lap keringat saya sendiri!" Ucap Bara yang langsung saja peka, dengan apa yang sedang Tania istrinya itu, rasakan sekarang ini.


"Tania, ayo sekarang juga, kita lanjut menuju ruangan!" Ucapnya lagi, yang langsung saja mengajaknya untuk melanjutkan langkahnya kembali, menuju ruangannya. Hingga akhirnya, sambil terus menjinjing tas kerja miliknya, Tania pun langsung mengikuti langkahnya itu dari belakang.


"Sayang, tas nya berat nggak?" Ucap Bara, yang sesekali menengok ke arahnya, untuk mengecek keadaannya.


"Nggak!"



Ucap Tania sewot, sambil terus cemberut. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung tersenyum.



Kemudian, ia pun langsung melangkah lagi menuju ruangannya.


"Iiiiiihhhh! Mas Bara ngapain sih, deket-deket terus sama Tania?" Ucap Tania, yang baru saja sampai dan masuk, ke dalam ruangan kerjanya.


"Udah sanaaaa! Mas Bara masuk ke ruangan kerja, mas Baraaa!" Ucapnya lagi, sambil mendorong-dorong tubuhnya.


"Nggak mau, sayang! Mas nggak mau masuk ke ruangan kerja mas, sebelum kamu berhenti ngambek sama mas!" Ucap Bara yang langsung saja menolaknya.


"Nggak! Tania nggak bakalan berhenti ngambek, sama mas!" Ucap Tania yang tetap kekeuh.


"Tania kesel, sama mas!" Ucapnya lagi, sambil terus cemberut manja. Sehingga Bara yang melihatnya pun, lagi-lagi tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeluknya dari belakang.


"Eeeemmmm! Kenapa sih, sayaaaang? Istri manjanya mas ini, ngambek terus sama mas nya, hah?" Ucapnya gemas.


"Iiiiiihhhh, mas Baraaaa! Mas Bara apaan, sih? Lepasin! Jangan peluk-peluk Tania disiniiii! Nanti ada orang yang lihat loh mas!" Ucap Tania panik, sambil buru-buru mencoba untuk melepaskan pelukannya.


"Eeeemmmm, nggak mau sayaaaang! Mas nggak akan pernah ngelepasin pelukan ini! Sebelum kamu berhenti ngambek, sama mas!" Ucap Bara, yang malah justru memeluknya semakin erat lagi.


"Iiiiiihhhh! Mas Bara, udah deh! Mas Bara, jangan kayak anak kecil! Nanti kalau ada orang yang lihat, gimana?" Ucap Tania lagi, semakin panik.


"Udah mas, lepasiiiiiin!" Ucapnya lagi yang benar-benar panik dan takut, kalau sampai ada orang yang melihat, keadaannya sekarang ini.


"Nggak mau, sayaaang! Kan tadi mas udah ngomong sama kamu! Mas nggak akan pernah ngelepasin pelukan ini, sebelum kamu berhenti ngambek, sama mas!" Ucap Bara lagi, yang semakin kekeuh. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, semakin ngambek lagi dibuatnya.


"Kalau mas Bara, dikata-katain sama orang yang mas Bara sayangi, kalau mas Bara itu! Susah di atur lah, keras kepala lah!" Ucapnya lagi, yang ternyata benar-benar sangat sakit hati, dengan ucapannya itu tadi.


"Apalagi, ngeliat orang yang mas Bara sayangi, dilapin keringatnya sama laki-laki lain?"


"Mas Bara, ngambek nggak?" Ucapnya lagi, yang dengan secara tiba-tiba berbicara seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, bingung.


"D_di lapnin keringatnya, sama laki-laki lain?"


"M_maksud,,,,,," seketika ia pun langsung terdiam, sambil mengingat kejadian tadi, saat ia hendak dilap keringatnya oleh Dina. Sehingga membuatnya pun, seketika langsung tersenyum.


"Ya ampun, sayaaaang!" Ucapnya, sambil terus tersenyum lucu. Kemudian, ia pun langsung mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.


"Jadi ceritanya, istri manja nya mas ini! Lagi cemburu nih, sama mas nyaaaaa?" Ucapnya lagi.


"Ya lagian mas, sih! Diusap-usapin keringatnya sama perempuan lain juga, diem aja!" Ucap Tania lagi, sambil terus cemberut manja. Sehingga Bara yang melihatnya pun, lagi dan lagi tersenyum.


"Eeeemmmm! Manja banget sih, istri mas ini, hah!" Ucapnya yang benar-benar sangat gemas kepadanya. Kemudian, ia pun langsusng buru-buru memeluknya kembali, dengan begitu eratnya.


"Eeeeemmm! Kamu tenang aja yah, sayaaaang! Cinta dan sayang mas ini, cuma buat kamu doang kok!" Ucapnya lagi, sambil tersenyum gombal.


"Nggak! Tania nggak percaya sama mas!" Ucap Tania, masih ngambek.


"Mas bohong!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung mendorong-dorong tubuhnya kembali, untuk masuk kedalam raungan kerjanya.


"Udah sekarang juga, sanaaaa! Mas masuk ke ruangan kerja, maaaaas! Mas jangan dekat-dekat, sama Taniaaaaa!" Ucapnya.


"Nggak mau, sayaaaaang! Mas nggak akan pernah masuk ke ruangan mas, sebelum kamu maafin mas, dan berhenti ngambek sama mas!" Ucap Bara, yang lagi-lagi tetap kekeuh. Sehingga membuat Tania pun, semakin kesal dibuatnya.


"Iiiiiihhhh! Kan tadi Tania udah ngomong sama mas! Tania ini nggak bakalan berhenti ngambek, sama maaas!" Ucapnya.


"Jadi udah sana, cepetan masuuuuk!" Ucapnya lagi, yang terlihat terus mendorong-dorongnya untuk masuk kedalam raungan kerjanya. Namun disaat ia sedang mendorong-dorongnya, tiba-tiba saja listrik di perusahaan tersebut mati, sehingga keadaan di dalam perusahaan tersebut pun terlihat sangatlah gelap, begitu juga di dalam ruangan tersebut.


"M_mas Bara, i_ini kenapa listriknya mati mas? M_mas Bara dimana mas? M_mas Bara dimana?" Ucap Tania dengan sangat gugup dan tergesa-gesa.


"T_Tania takut mas! T_Tania takuuut!" Ucapnya lagi, yang benar-benar terdengar sangatlah panik dan ketakutan.


"S_sayang, kamu tenang yah sayang! Kamu tenang!" Ucap Bara yang juga gugup dan tergesa-gesa, sambil buru-buru memeluknya.

__ADS_1


"M_mas Bara, Tania takut mas! Tania, takuuuut!" Ucap Tania lagi.


"Ssssttt! Iya sayang, iyaaaa! Kamu tenang yah sayaaaang! Kamu tenang! Disini ada mas, sayang! Disini ada mas!" Ucap Bara lagi, yang langsung saja menenangkannya, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Karena ia benar-benar ingat betul ucapan dari Ibu Savira, tentang phobia yang Tania istrinya itu miliki.


"Hiks,,, hiks,,, n_nggak mas! Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut! Hiks,, hiks,, gelap mas! Hiks,, hiks,, gelaaap!" Ucap Tania lagi, yang langsung saja menangis ketakutan, dengan keadaan tubuh yang sangatlah gemetaran. Karena dengan secara tiba-tiba, sebuah kejadian tragis beberapa tahun yang lalu, saat ia sedang di kurung oleh beberapa teman-teman sekolah SD nya di dalam sebuah gudang pun, langsung terlintas lagi dipikirannya.


"Hahahaha! Cupu, cupuuu! Anak cupuuu!" Teriak mereka semua secara bersamaan, sambil terus mentertawakannya.


"Hiks,, hiks,, n_nggak mas! Hiks,, hiks,, n_nggak! T_Tania takut mas? Hiks,, hiks,, Tania takuuut!" Ucapnya lagi semakin ketakutan, sambil terus menangis dan menjambak-jambak rambutnya, dengan keadaan tubuh yang semakin gemetar lagi.


"Sssssstt! Sayang sayang, iya sayang, iyaaaa!" Ucap Bara dengan penuh sabarnya, sambil memeluknya semakin erat lagi.


"Kamu takut, sayang? Kamu takuuut?" Ucapnya lagi sambil mengusap-usap punggungnya, dan tak henti-hentinya menciumi rambutnya.


"Hiks,, hiks,, iya mas, hiks,, hiks,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuuut!" Ucap Tania lagi, sambil terus menangis.


"Ssssttttt! Iya sayang, iyaaaaa!" Ucap Bara lagi, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu jangan takut lagi yah, sayang! Kamu jangan takut lagi! Kamu tenang, sayang!"


"Disini, ada mas!"


"Sekarang, kamu lihat mas sayang!" Ucapnya lagi, yang perlahan mencoba untuk melepaskan pelukannya.


"Hiks,, hiks,, j_jangan mas! Hiks,, hiks,, jangan lepasin pelukan ini, mas! Hiks,, hiks,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut!" Ucap Tania lagi, semakin ketakutan.


"Sssssstttt! Sayang sayang, kamu nggak boleh kayak gini terus, sayang! Kamu nggak boleh kayak gini terus!" Ucap Bara sambil menggenggam erat kedua pundaknya, dan langsung menyuruhnya untuk menghadap ke arahnya.


"Sekarang, kamu buka mata kamu, sayang! Kamu buka mata kamu!"


"Kamu lihat mas!" Ucapnya lagi.


"Kamu harus bisa melawan, rasa takut di hati kamu!"


"Kamu nggak boleh sayang, ketakutan terus seperti ini! Kamu harus bisa melawannya, sayang! Kamu harus bisa melawannya!" Ucapnya lagi, yang mencoba untuk menguatkannya.


"Sekarang, kamu buka mata kamu yah, sayang!"


"Kamu buka mata kamu!" Ucapnya lagi, sambil menatap dalam wajah cantiknya.


"Hiks,, hiks,, n_nggak mas! Hiks,, hiks,, nggak! Hiks,, hiks,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut!" Ucap Tania lagi.


"Sayang, kamu nggak boleh kayak gini sayang! Percaya sama mas!" Ucap Bara lagi, sambil menggenggam erat tangannya.


"Setelah kamu buka mata kamu, kamu pasti akan melihat, sayang! Kalau gelap itu, tidak semenakutkan, seperti apa yang ada didalam pikiran kamu, selama ini!"


"Dan disaat kamu sedang buka mata kamu, jangan pernah sedikitpun, kamu mengingat-ingat kejadian di masa lalu kamu, yang menyakitkan itu!"


"Kamu ingat-ingat aja, sayang! Sesuatu hal yang paling indah, yang pernah kamu alami dalam hidup kamu, selama ini!" Ucapnya lagi, yang sepertinya memang benar-benar ingin memusnahkan rasa trauma dan juga rasa ketakutan, dihatinya.


"Mas yakin sayang, setelah kamu buka mata kamu! Kamu pasti akan lupa dengan rasa takut di hati kamu, itu!"


"Jadi sekarang, kamu buka mata kamu yaaaah!" Ucapnya lagi dengan penuh sabarnya, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Hiks,, hiks,, t_tapi mas,,,,," ucap Tania, yang terlihat masih benar-benar sangat ketakutan.


"Sssssstttt! Sayang sayang, percaya sama mas!" Ucap Bara lagi.


"Sekarang, kamu buka mata kamu, yaaaah!"


"Kamu bayangin aja sayang! Sesuatu hal yang paling indah dalam hidup kamu, selama ini!" Ucapnya lagi, yang terus berusaha untuk merayunya.


"Hiks,, hiks,, i_iya mas!" Ucap Tania, yang perlahan mencoba untuk memberanikan diri membukakan matanya, sambil membayangkan hal terindah, yang pernah ia alami dalam hidupnya. Yaitu, hal terindah saat pertama kali ia bertemu dengannya, dan saat untuk kedua kalinya, ia juga bisa bertemu lagi dengannya, hingga akhirnya mereka berdua pun saling bermadu kasih. Karena menurutnya, itulah hal yang paling terindah di dalam hidupnya, selama ini.


"M_mas Bara,,,,," ucap Tania, yang sekarang ini sedikit demi sedikit, sudah berani membukakan matanya.


"I_iya sayang, ini mas!" Ucap Bara, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"M_mas?" Ucap Tania lagi, yang benar-benar masih tak percaya dengan semuanya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung mencium bibirnya.



Untuk menyadarkan nya, bahwa semua itu adalah kenyataan.


"Sekarang, kamu udah nggak takut lagi kan sayang?" Ucap Bara lagi, yang baru saja selesai menciumnya.


"N_nggak mas! S_sekarang, Tania udah nggak takut lagi!" Ucap Tania dengan sangat gugupnya, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2