Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 8.


__ADS_3

Sorry yah Tan?" Ucapnya lagi cuek dan dingin tanpa menatap kearahnya sedikit pun, mungkin ia seperti itu karena ia masih mengingat betul kelakuannya itu tadi seperti apa saat numpang didalam mobilnya, dan mungkin juga ia seperti itu karena sekarang ini ia benar-benar tidak suka dengan pakaian seksi yang sedang dikenakan olehnya. Karena tanpa sepengetahuan dari kita, Rika yang tak lain adalah mantan istrinya itu ternyata adalah sosok perempuan yang kesehariannya selalu berhijab, yang sudah pasti pakaiannya itu pun tertutup dan sangat jauh berbeda dengan gaya pakaiannya.


"I_iya Om, eh! M_mas maksudnya!" Ucap Tania gugup, karena ia benar-benar canggung dengan semuanya.


"Waaah, kita udah pada kumpul nih kayak gini! Gimana kalau nanti setelah Bara menikah sama Tania, kita semua berkunjung ke Surabaya? Itung-itung sekalian Bara sama Tania bulan madu disana!" Ucap Ibu Risma sambil tersenyum, dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Tania yang sedang minum pun seketika langsung keselek dibuatnya.


"Uhuk!" Suara Tania batuk karena saking kagetnya mendengar ucapannya itu.


"Mah, mamah ini apa-apaan sih?" Bisik Bara kesel, karena ia benar-benar tidak suka dengan ucapannya itu.


"Loh emang kenapa? Namanya juga kan pernikahan, kalau udah nikah ya tinggal bulan madu! Kalau kamu pengin bulan madu yang jauh ke Australi atau ke New York, sabar aja dulu! Sekarang kan Tania masih sekolah, dan belum ada libur sekolah juga kan?" Ucap Ibu Risma yang malah justru sengaja menggodanya seperti itu, sehingga membuatnya pun semakin kesel.


"Mamah!" Bisiknya lagi.


Melihat Bara semarah itu, Pak Ilham dan Ibu Savira pun malah justru tersenyum.


"Udah, udah! Jangan godaain Bara kayak gitu terus! Kasihan loh dia." Ucap Pak Ilham sambil terus tersenyum.


"Oh iya Tante, ngomongin masalah berkunjung ke Surabaya, ngomong-ngomong Tania jadi inget nih! Oleh-oleh khas Surabaya yang tadi pagi Tante kasih ke Tania! Makasih banyak yah Tan? Tania sukaaa banget sama oleh-olehnya!" Ucap Tania sambil tersenyum dengan sangat sopan dan ramah, sehingga membuat Ibu Risma pun semakin kagum kepadanya.


"Kamu ini bener-bener yah Tania! Bukan cuma cantik wajah aja, tapi hati kamu juga cantik! Udah gitu sopan, ramah lagi." Ucapnya lagi tak henti-henti memuji-mujinya.

__ADS_1


"Iiiiihhhh, Tante ini ngomong apa sih? Nanti Tania terbang nih!" Ucap Tania sambil tersenyum malu.


"Apaan sih ini gadis brutal! Caper banget!"



Ucap Bara dalam hati kesel, dengan raut wajah yang masih sangat dingin.


"Oh iya ngomong-ngomong, pak Ilham, Ibu Savira, ayo kita ke ruang makan! Makanannya udah siap tuh!" Ucap Ibu Risma.


"Bara, Tania, kalian disini aja dulu yah! Ngobrol-ngobrol ke atau apa, nanti kalau makan malamnya bener-bener udah siap, kalian berdua biar mamah panggil." Ucapnya lagi, sepertinya ia sengaja meninggalkan mereka berdua, agar mereka berdua bisa berduaan, ngobrol, supaya lebih akrab lagi.


"Ya udah yah nak Bara, Tania juga, mamah tinggal dulu!" Ucap Ibu Savira sambil buru-buru melangkah bersama pak Ilham, dan Ibu Risma menuju ruang makan tersebut.


"Aduuuuh! Mamah, Papah, sama Tante Risma udah pada ke ruang makan lagi, tinggal ada gue doang disini sama Om-om gila dan nggak jelas ini! Gw harus ngobrol apa nih sama Om-om gila dan nggak jelas ini?"



Ucapnya lagi dalam hati bingung, sambil terus terdiam dan tak berani menatap matanya sedikit pun.


"Heh gadis brutal! Kamu kenapa diam aja? Biasanya juga kamu cerewet, ngomong terus enggak mau berhenti!" Ucap Bara dengan raut wajah dingin, lagi-lagi ia menyebutnya seperti itu, sehingga Tania yang dari tadi terdiam karena canggung pun seketika langsung angkat suara.

__ADS_1


"Apa tadi Om bilang? Gadis brutal? Jadi Om masih ngatain gue gadis brutal?" Ucapnya marah dan tak terima dengan sebutannya itu.


"Eh, asal Om tau yah! Gue ini bukan gadis brutal! Gue ini punya nama, dan nama gue ini TANIA! Jadi gue ingetin yah sama Om! Jangan pernah Om ngatain gue gadis brutal lagi! Ngerti!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengingatkannya seperti itu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum dingin mendengarnya.


"Emang itu ko sebutan yang paling cocok buat kamu! GADIS BRUTAL!" Ucapnya lagi dengan sangat jelas.


"Dan satu lagi! Kamu ngapain kesini pakai baju daleman kayak orang telanjang kayak gitu!" Ucap Bara lagi sambil menunjuk kearah baju yang sedang ia kenakan itu, yang memang terlihat sangatlah seksi seperti baju dalaman. Dengan seenaknya ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Tania pun semakin kesal dibuatnya.


"A_apa tadi Om bilang? B_baju dalaman, seperti orang telanjang? Jadi Om ngatain baju gue yang mahal ini! Baju daleman, seperti orang telanjang?" Ucap Tania tak terima dan tak habis pikir dengan pemikiran Bara suaminya yang kuno itu, kemudian ia pun langsung melangkah mendekat kearahnya.


"Om, Om itu sebenarnya punya rasa suka nggak sih sama perempuan?" Ucapnya lagi penasaran, mengapa ada seorang lelaki seperti dirinya, yang berani berbicara seperti itu dengan penampilannya yang seseksi itu.


"Maksudnya?" Ucap Bara bingung.


"Iya, Om itu sebenarnya punya rasa suka nggak sih sama perempuan? Atau jangan-jangan, Om itu punya kelainan lagi!" Ucap Tania lagi dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum dingin mendengarnya. Kemudian ia pun langsung melangkah lebih dekat lagi kearahnya.


"Kamu salah, aku ini suka sama perempuan! Bahkan aku ini sangat-sangat suka sama perempuan!" Ucapnya dengan sangat jelas, sambil menatapnya dengan tatapan penuh dengan nafsu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, dan terus berjalan mendekat kearah nya.


"O_Om! Om mau ngapain Om?" Ucap Tania gugup karena saking takutnya, kalau Bara calon suaminya itu akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum dingin melihatnya, kemudian ia pun langsung berbicara dengan sangat jelas tepat ditelinganya.


"Tapi maaf! Semuanya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan! Karena apa? Karena gadis brutal kayak kamu, sama sekali bukan kriterianya aku!" Ucapnya dengan sombongnya, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menyusul Ibu Risma dan Ibu Savira menuju ruang makan, meninggalkan Tania hanya sendiri di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Iiiiiihhhh! Bener-bener yah itu Om-om gila dan nggak jelas! Awas aja yah! Gue janji sama diri gue sendiri! Gue akan buat itu Om-om gila dan nggak jelas jatuh cinta dan tergila-gila sama gue! Gue akan buat Om-om gila dan nggak jelas itu bertekuk lutut di kaki gue! Sampai-sampai enggak ada waktu sedetik pun buat dia untuk bisa hidup bahagia tanpa ada gue disisinya! Dan gue juga janji sama diri gue sendiri! Kalau gue akan tunjukkin ke dia, kalau gue ini bukan gadis brutal seperti apa yang dia katakan!" Ucapnya dengan raut wajah yang sangat kesal, sepertinya ia benar-benar serius dengan ucapannya itu.


__ADS_2