
"Hiks,, hiks,, mas Bara, hiks,, hiks,, mas Bara nggak papa kan?" Ucapan Tania yang sekarang ini sudah berdiri tepat dihadapannya, dengan keadaan yang sudah tidak karuan, sambil terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih. Namun sayang, mendengar pertanyaan darinya dengan raut wajah yang sesedih itu, Bara tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun malah justru langsung menarik tangannya dengan sangat kasar, dan menyuruhnya untuk cepat-cepat masuk kembali kedalam mobilnya.
"Masuk!" Ucapnya marah, sambil membukakan pintu mobil tersebut untuknya. Kemudian ia pun langsung menutup pintu mobilnya itu kembali dengan sangat kencang JEBRET! Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung kaget dibuatnya.
"Sudah mas peringatin sama kamu! Tunggu mas disiniiii, tetap diam di dalam mobil, dan jangan kemana-mana!" Ucap Bara lagi, yang juga baru saja masuk kembali kedalam mobil tersebut, bersama dengannya.
"Tapi kenapa dengan beraninya, kamu malah justru keluar dari dalam mobil mas?" Ucapnya lagi dengan raut wajah yang semakin marah. Namun ia bisa sampai semarah itu, bukan karena tanpa alasan, ia bisa sampai semarah itu, karena sekarang ini perasaannya itu benar-benar sudah tidak karuan lagi rasanya. Disatu sisi, sekarang ini ia benar-benar sangat kesal kepadanya yang tidak mau menuruti apa itu perintah darinya. Namun disatu sisi lainnya lagi, sekarang ini ia pun benar-benar sangat panik, melihat Tania istrinya itu, yang tadi hampir saja nyaris diperkosa oleh para pereman-pereman tersebut.
"Hiks,, hiks,, hiks,,," suara Tania yang hanya bisa menangis dan menangis, dan tidak bisa menjawab apa-apa dari pertanyaannya itu. Karena sekarang ini, ia itu benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya. Karena tadi itu, ia tidak mau menuruti apa itu perintah darinya. Ditambah lagi, sekarang ini ia pun benar-benar masih sangat syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya itu.
Melihatnya menangis seperti itu, alih-alih menghibur, lagi-lagi Bara pun tidak perduli. Ia pun malah justru langsung mengendarai mobilnya itu kembali menuju kantornya, dengan kecepatan yang sangatlah tinggi. Bahkan selama disepanjang perjalanan, mereka berdua hanya terdiam, tidak ada satupun diantara mereka yang mengeluarkan kata-kata sepatah kata pun. Bara masih terus konsisten dengan raut wajahnya yang masih sangat marah. Sedangkan Tania yang sedang duduk disampingnya pun, sama. Ia pun masih konsisten dengan tangisannya.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," suara Tania yang masih terus menangis, dengan raut wajah yang terlihat sangatlah sedih. Karena sekarang ini, ia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tragis yang baru saja menimpanya itu tadi. Sehingga membuat Bara pun tersenyum dingin melihatnya.
"Kenapa kamu nangis? Bukanya memang ini kan yang kamu mau? Bukannya memang kamu juga kan, yang sengaja mau menggoda preman-preman itu?" Ucapnya.
"Dasar perempuan penggoda!" Ucapnya lagi dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu. Sehingga Tania yang sekarang ini masih terus menangis pun, bingung mendengarnya.
__ADS_1
"A_apa tadi mas Bara bilang? Perempuan penggoda?" Ucapnya.
"Maksud mas Bara itu apa, ngatain Tania ini perempuan penggoda?" Ucapnya lagi dengan suara tinggi, karena sekarang ini ia benar-benar tidak terima dengan sebutan darinya itu.
"Iya, perempuan penggoda! Emang kamu enggak lihat, penampilan kamu sekarang? Penampilan kamu sekarang ini, itu benar-benar terlihat seperti perempuan penggoda tau nggak?" Ucap Bara dengan suara yang lebih tinggi lagi darinya, menilai-nilai seperti itu terhadap penampilannya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum sinis dibuatnya.
"Penampilan Tania? Ada apa dengan penampilan Tania? Emang ada yang salah dari penampilan Tania?" Ucapnya lagi emosi, sambil sengaja memperlihatkan penampilannya itu dan juga melenggak-lenggokkan tubuh seksinya itu tepat dihadapannya.
"Iya, salah! Kamu ini nggak seharusnya tau nggak? Keluar dengan penampilan seperti ini, dan memakai pakaian terbuka kayak gini! Lagian sudah berapa kali sih, mas kasih tau kamu! Jangan pakai pakaian terbuka, dan sekecil ini! Pakaian terbuka dan kecil kamu ini, terlihat seperti orang telanjang tau nggak?" Ucap Bara mencoba untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu.
"A_apa tadi mas Bara bilang? Telanjang?" Ucap Tania semakin tak terima lagi mendengar ucapannya itu.
"Ooooh, jadi ternyata mas tergoda dengan penampilan tania? Pantes aja, dari tadi mas ini marah-marah! Kasel? Karena tubuh seksi Tania yang sangat menggoda ini, hampir saja disentuh-sentuh sama preman?" Ucapnya yang lagi-lagi malah justru sengaja berbicara seperti itu, meskipun sebenarnya ia pun sangat tau, kalau Bara suaminya itu benar-benar tidak suka dengan penampilan seksinya itu.
"Maksudnya?" Ucap Bara bingung.
"Iya! Mas Bara tergoda kan, dengan penampilan Tania ini? Bukanya tadi mas Bara sendiri yang bilang, kalau penampilan Tania ini, akan membuat para pria tergoda untuk ngelihatnya! Mas Bara sendiri juga kan seorang pri,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong.
__ADS_1
"Oooohhhh, Tania tauuu! Apa jangan-jangan, mas Bara emang udah tergoda lagi, dengan penampilan seksi Tania ini dari dulu, iya kan?" Ucap Tania lagi dengan percaya dirinya berbicara seperti itu. Sehingga membuat Bara pun seketika langsung tersenyum dingin mendengarnya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru menghentikan mobilnya.
"Kalau pun mas ini harus tergoda, mas rasa, bukan dengan perempuan penggoda, apalagi dengan perempuan murahan seperti kamu!" Ucapnya pelan tapi menyakitkan, tepat dihadapannya. Dengan munafiknya ia berbicara yang sangat menyakitkan seperti itu. Sehingga membuat Tania pun semakin emosi lagi dibuatnya, bahkan untuk kali ini, ia benar-benar sangat emosi, ia benar-benar sangat tak terima dengan ucapannya itu, bahkan karena saking emosi, dan saking tak terimanya, sampai-sampai ia pun menampar pipi Bara suaminya itu dengan begitu kencangnya PLAAAAKKKK! Dan tamparannya itu pun, membuat Bara seketika langsung terdiam karena kaget. Ia tidak menyangka sama sekali, kalau ucapnya yang memang sudah biasa ia lontarkan kepadanya, bisa membuatnya sampai semarah itu, bahkan sampai-sampai ia pun berani berbuat kasar seperti itu kepadanya.
"Hikss,, hikss,, Turunin Tania disini! Hiks,, hiks,, cepetan turunin Tania disini! Hiks,, hiks,, Tania nggak mau satu mobil sama orang yang nggak punya perasaan kayak mas! Hiks,, hiks,, Tania benci sama mas! Hiks,, hiks,, Tania benci sama maaaas!" Teriak Tania sambil terus menangis, dan memukul-mukul dada Bara suaminya itu dengan sangat kuat. Sehingga Bara yang melihat keadaannya seperti itu pun, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun hanya bisa terdiam dan menerima setiap pukul-pukulan darinya. Kemudian dengan segera, ia pun malah justru langsung meninggikan kecepatan mobilnya itu, dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Sehingga membuat Tania pun semakin emosi lagi dibuatnya.
"Hiks,, hiks,, Tania bilang turunin Tania disini mas! Hiks,, hiks,, turunin Tania disini! Hiks,, hiks,, Tania nggak mau satu mobil sama orang yang nggak punya perasaan kayak mas! Hiks,, hiks,, Tania nggak mau! Hiks,, Tania nggak mauuu!" Teriaknya lagi sambil terus menangis dan terus memukul-mukul dadanya dengan sangat kuat. Lagi-lagi ia teriak-teriak meminta seperti itu kepadanya. Namun sayang, Bara suaminya itu tidak mau mengikuti apa itu perintah darinya, karena ia benar-benar tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu lagi kepadanya.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," suara Tania yang masih terus menangis dengan raut wajah yang sangat marah. Karena sekarang ini, ia itu benar-benar tidak mau satu mobil dengannya, bahkan sekarang ini ia pun terlihat benar-benar sangat benci kepadanya. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa duduk diam di dalam mobil, dan ikut ke kantor bersama dengannya.
Selama disepanjang perjalanan, Tania menangis tiada henti, ia menangis dan terus menangis. Karena ia benar-benar masih sangat sakit hati, mengingat ucapan darinya yang benar-benar sangat menyakitkan itu. Sedangkan Bara yang mendengarnya terus-terusan menangis seperti itu pun, sesekali ia pun menatap kearahnya. Namun disaat ia mencoba untuk menatapnya lagi, tiba-tiba ia melihatnya yang justru sudah tertidur dengan pulas.
Melihatnya tertidur sepulas itu, perlahan ia pun mencoba untuk menghentikan mobilnya. Kemudian ia pun langsung menatapnya, ia terlihat sangatlah lelah dan capek, bahkan sesekali terdengar jelas suara isak tangisannya, meskipun ia sedang tertidur.
"Hiks,, hiks,, hiks,," suara isak tangisnya dengan keadaan yang sudah tidak karuan. Karena pakaian dan penampilannya sekarang ini terlihat sangatlah berantakan, rambutnya terlihat sangat acak-acakan, karena sejak kejadiannya tadi dengan preman-preman tersebut, ia belum sempat merapikan rambutnya itu sama sekali, bahkan kemejanya pun terlihat sobek cukup parah tepat di bagian depan, belum lagi dengan bagian tangan dan kakinya yang terlihat memar-memar. Semua itu pun membuat Bara, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Kasihan kamu! Nggak sepantasnya mas menambah beban kamu, dengan kata-kata kasar mas tadi!" Ucapnya dalam hati, sambil terus menatap dalam wajah cantiknya. Sepertinya sekarang ini, ia benar-benar sangat menyesal dan benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung membuka jas yang sedang ia kenakan, perlahan ia pun menutupi tubuh seksinya itu menggunakan jaznya. Ia melakukan semua itu, karena ia benar-benar merasa sangat kasihan melihat tubuh seksinya itu, yang dengan mudah bisa dilihat banyak orang karena pakainya yang sangat terbuka dan seksi itu.
__ADS_1
"Kalau kayak gini, kan kamu terlihat lebih cantik!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil tersenyum tipis memandangi wajah cantiknya. Akhirnya tanpa ia sadari, ia mengakui juga kecantikan Tania istrinya itu.