
"Pokoknya saya nggak mau tau, kejadian seperti ini, jangan sampai terulang lagi!" Ucap Bara yang baru saja keluar dari dalam Lift tersebut, sambil berjalan memapah Tania istrinya. Dengan sangat tegas ia mengingatkan seperti itu kepada karyawannya.
"B_baik pak!" Jawab mereka semua secara bersamaan, dengan sangat hormat.
"Dan kamu, sekarang juga tolong kamu bikinin teh anget untuk Tania!" Ucapnya lagi kepada salah satu OB di perusahaannya itu.
"I_iya Pak, baik!" Jawabnya, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju dapur yang ada di dalam perusahaan tersebut, meninggalkan Bara dan Tania hanya berdua.
"Sekarang kamu udah sedikit tenang kan?" Ucap Bara dengan penuh perhatiannya, karena sepertinya sekarang ini ia terbawa oleh suasana, sehingga ia pun lupa kalau selama ini ia itu sangat membencinya.
"I_iya mas," ucap Tania yang terlihat masih gugup dan sedikit ketakutan, sehingga Bara yang melihatnya pun berusaha terus untuk menenangkannya.
"Ya udah! Sekarang kamu duduk disini, kamu tenang, yah?" Ucapnya.
"Sebentar lagi juga teh anget nya datang!" Ucapnya lagi sambil tersenyum, dan ini adalah kali pertama ia tersenyum seperti itu kepadanya, sehingga membuatnya yang dari tadi masih ketakutan pun, seketika langsung terdiam dibuatnya.
"I_ini serius? M_mas Bara tadi senyum ke gue?" Ucapnya dalam hati gugup dan tak percaya, sambil terus menatap dalam wajah tampannya, yang terlihat semakin tampan lagi disaat tersenyum seperti itu.
"Maaf Pak, ini teh angetnya!" Ucap OB tersebut yang baru saja selesai membuat teh anget tersebut.
"Nah, bener kan? Ini teh angetnya udah datang!" Ucap Bara lagi sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru mengambil teh anget tersebut, dan langsung memberikan teh anget tersebut kepadanya.
"Nih, sekarang kamu minum! Biar kamu lebih enakan," ucapnya lagi dengan penuh perhatiannya, sehingga membuat Tania pun lagi-lagi terdiam dibuatnya.
"I_ini beneran kan? G_gue nggak lagi mimpi? Perasaan dari tadi, mas Bara ini perhatian banget ke gue?" Ucapnya lagi dalam hati masih tak percaya. Kemudian ia pun langsung tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Ternyata, selama ini gue salah yah menilai mas Bara! Ternyata mas Bara ini nggak seburuk yang gue kira, ternyata mas Bara ini bener-bener suami yang baik, dan bahkan sangat perhatian!" Ucapnya lagi dalam hati yang benar-benar simpati akannya.
"Buktinya aja, sekarang ini mas Bara sebaik dan seperhatian ini ke gue!"
__ADS_1
Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah tampannya.
"Iya bener, mas Bara itu nggak seburuk yang gue kira!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus tersenyum.
"Kamu kenapa ngelihatin saya senyum-senyum kayak gitu?" Ucap Bara yang tiba-tiba berubah kembali menjadi sangat dingin.
"Oh, n_nggak kok mas! N_nggak papa," ucap Tania gugup. Kemudian ia pun langsung tersenyum dengan sangat manjanya.
"Oh iya mas, makasih yah mas? Tadi mas udah mau nolongin Tani,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Kamu jangan salah paham dulu! Saya ngelakuin ini semua sama kamu, itu bukan karena kamu ini adalah istri saya! Tapi saya ngelakuin semua ini sama kamu, itu karena sekarang ini kamu adalah karyawan di perusahaan saya! Jadi saya nggak mau, kalau sampai sesuatu terjadi kepada karyawan saya, mengerti!" Ucapnya lagi dengan sangat sombongnya mengingatkannya seperti itu, sehingga Tania yang tadinya sangat simpati kepadanya pun, seketika langsung kesal dibuatnya.
"Iiiihhh! Mas ini geselin banget sih?" Ucapnya sambil cemberut, namun sayang Bara suaminya itu tidak perduli sama sekali.
"Jadi lebih baik, sekarang kita lanjutkan ke ruangan utama saya!" Ucapnya lagi. Kemudian tanpa mendengar dulu jawaban darinya mau atau tidak, dan bisa atau tidak, ia pun langsung melangkah lagi menuju lift tersebut.
"Iiiihhh, mas Bara itu kenapa sih? Selaluuuu aja, berkehendak sesuai dengan keinginannya! Nggak pernah sekalipun, mas Bara itu dengerin dulu jawaban dari gue!" Gerutu Tania kesal. Kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampirinya, yang sekarang ini sudah berdiri tepat di depan lift tersebut.
"M_mas Bara, i_ini serius? Sekarang kita mau naik lift ini lagi?" Ucapnya sedikit ketakutan, karena ia benar-benar masih mengingat betul kejadian tadi.
Mendengarnya ketakutan seperti itu, seperti biasa, Bara tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun malah justru langsung masuk kembali kedalam lift tersebut.
"M_mas Bara, t_tapi Tania takuuuut! Tania takut kalau nanti lift ini sampai rusak lagi gimana?" Rengek Tania sambil menarik-narik lengan bajunya, berharap Bara suaminya itu akan mengurungkan niatnya untuk masuk kembali ke dalam lift tersebut.
"Kalau kamu nggak mau masuk, lepasin tangan saya!" Ucap Bara dengan sangat tegas dan dingin, sehingga Tania pun akhirnya terpaksa mengikutinya masuk kedalam lift tersebut.
__ADS_1
"M_mas Bara, kira-kira Lift ini masih bisa rusak lagi nggak?" Ucapnya panik.
"Tania takut maaas, Tania takut kalau nanti Lift ini sampai rusak lagiiii!" Rengeknya lagi dengan bawelnya, sambil terus menarik-narik lengan bajunya, sehingg Bara yang dari tadi sedang bersamanya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Aduh Taniaaaa, kamu ini bisa nggak sih, hah? Kalau lagi dekat sama mas, kamu ini nggak usah bawel banget kayak gini! Tenang gitu, bisa nggak sih?" Ucapnya kesal.
"Ya tapi kan Tania ini takut maaas, Tania takuuut! Kira-kira, lift ini masih bisa rusak lagi nggak sih mas?" Ucap Tania yang justru lagi-lagi bertanya seperti itu.
"Gimana kalau ternyata nanti lift ini sampai rusak lagi? Terus kita berdua sampai terjebak lagi di dalam lift ini! Udah gitu, terus nanti kita berdua nggak bisa keluar dari sini! Udah gitu lagi, terus nanti kita,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Ssssttttt! Cukup Tania, udah cukup!" Ucap Bara yang benar-benar sudah habis kesabarannya.
"Udah yah, cukup! Cukup nggak usah diterusin lagi!" Ucapnya lagi.
"Sekarang biar mas jawab! Dengerin!" Ucapnya dengan sangat tegas.
"Yang pertama, mas nggak tau lift ini masih bisa rusak lagi apa nggak! Karena apa? Karena mas ini bukan tukang servis Lift di perusahaan ini!" Ucapnya.
"Terus yang ke dua, selama mas berada di perusahaan ini! Yang mas tau, Lift ini memang sering rusak, dan berhenti secara tiba-tiba seperti kejadian tadi! Bahkan bisa lebih parah, dan lebih lama lagi dari kejadian yang tadi kita alami!" Ucapnya dengan jelas menjawabnya seperti itu, sehingga Tania yang memang sedang ketakutan pun semakin ketakutan lagi dibuatnya.
"Iiiihhh! Mas ini apa-apaan sih? Orang lagi ketakutan juga, bukannya ditenangin! Ini mah malah sengaja ditakut-takutin!" Ucapnya kesal, dan semakin was-was.
"Siapa yang lagi nakut-nakutin? Emang kenyataannya kayak gitu!" Ucap Bara serius.
"Ya meskipun kenyataannya kayak gitu, tapi mas bisa kan? Enggak usah jawab kayak gitu juga!" Ucap Tania menyuruhnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun langsung tersenyum dingin mendengarnya.
"Terus kamu mau, mas ini bohong gitu sama kamu?" Ucapnya.
"Y_ya nggak kayak gitu juga maksud Tania! M_maksud Tania,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong.
__ADS_1
"Aaahhhh, udah deh terserah kamu aja! Mas capek yah dari tadi ngomong terus sama kamu!" Ucap Bara yang benar-benar sudah sangat capek dan lelah menanggapi istrinya yang sangat manja dan bawel itu. Kemudian ia pun langsung buru-buru memencet tombol keluar yang ada di dalam lift tersebut, karena sekarang ini ia sudah sampai di lantai 20.