
DI RUMAH BARA.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.
Terlihat Bara dan Ibu Risma yang tak lain adalah mamahnya yang dari tadi sedang berdebat.
"Apa! Jadi itu juga adalah salah satu permintaan terakhir dari almarhum papah sebelum almarhum papah meninggal?" Ucap Bara kaget dan tak percaya dengan semuanya, namun entah apa yang sebenarnya sedang mereka debatkan itu.
"Iya sayang, itu juga adalah salah satu permintaan terakhir dari almarhum papah sebelum almarhum papah kamu itu meninggal! Jadi mau enggak mau, kamu ini harus menuruti apa permintaan terakhir dari almarhum papah papah kamu itu!" Ucap Ibu Risma mencoba untuk meyakinkannya lagi sambil memaksanya.
"Lagian kamu ini juga udah cukup lama kan hidup menduda? Dan udah enggak mungkin ada lagi juga kan yang bisa kamu harapkan dan pertahankan lagi dari Rika mantan istri tercinta kamu itu! Jadi lebih baik sekarang kamu turuti aja apa permintaan terakhir dari almarhum papah kamu itu! Lagian emang kamu enggak inget? Kejadian beberapa tahun yang lalu saat perusahaan keluarga kita sedang bangkrut! Siapa coba yang sudah membantu dan mendonorkan dananya untuk perusahaan kita sampai akhirnya perusahaan kita sekarang ini menjadi sebesar dan sesukses ini? Dan lagian mamah juga sangat yakin! Pasti kamu juga enggak bakalan mau kan, kalau sampai kamu ini jadi anak yang durhaka gara-gara kamu enggak mau menuruti apa permintaan dari almarhum papah kamu itu yang terakhir?" Ucap Ibu Risma mencoba untuk mengingatkan dan menggertaknya.
"Enggak mah, enggak! Mamah ini udah gila kali yah mah? Masa iya sih mah, Bara ini harus nikah sama bocah SMA kayak Tania yang usianya sangat jauh berbeda dengan Bara?" Ucap Bara lagi mencoba untuk menolak permintaan terakhir dari Almarhum Ayahnya itu. Iya, itu adalah permintaan terakhir dari Almarhum Ayahnya, dan akar dari permasalahan yang sedang mereka debatkan sekarang ini. Karena ternyata sebelum pak Arga meninggal, setelah Bara putranya itu resmi menduda, ia dan pak Ilham yang tak lain adalah ayah dari Tania, sudah sama-sama saling berjanji kalau mereka berdua akan menjodohkan dan menikahan putra dan putrinya itu.
"Lagian asal mamah tau yah mah! Sekarang ini Bara itu mencari calon istri itu bukan cuma untuk mentingin diri Bara sendiri! Tapi Bara juga harus mikirin dan mentingin masa depan Raya itu nantinya akan kayak gimana? Jadi sekarang ini, Bara itu mencari calon istri itu yang bisa menjadi contoh yang baik buat Raya! Yang bisa membimbing Raya!" Ucapnya lagi dengan tegas dan jelas. Ia menyebutkan nama Raya, karena ternyata Raya yang tak lain adalah anak kecil yang tadi pagi sempat Tania tolong itu adalah putri semata wayangnya. Iya, Raya yang tadi pagi sempat Tania tolong itu ternyata adalah putri semata wayangnya.
"Bagaimana jadinya masa depan Raya itu nanti mah? Kalau Raya itu harus mempunyai mamah tiri kayak Tania! Yang kelakuannya brutal, ceroboh, centil, manja, kayak anak kecil, pakainya terbuka, attitude nya juga kurang baik. Bagaimana mah, bagaimana.?" Ucapnya lagi mencoba untuk memberi tahu alasannya mengapa ia menolak perjodohan itu mentah-mentah.
"Ya gampang lah sayang, tinggal kamu ajari aja nanti Tania! Agar Tania itu bisa menjadi istri yang baik buat kamu dan juga mamah yang baik buat Raya seperti apa yang kamu mau!" Ucap Ibu Risma yang tetap kekeuh dengan perjodohan tersebut.
"Dan lagian kalau menurut mamah, Tania itu anak yang baik! Udah gitu dia juga cantik lagi!" Ucapnya lagi memuji-mujinya seperti itu.
"Dia itu sekarang bisa kayak gitu, itu karena pergaulan dari temen-temennya aja sayang! Jadi nanti kalau dia udah jadi istri kamu, tinggal kamu bimbing aja dia, kamu ajari dia! Nanti dia juga berubah kok, nurut sama kamu!" Ucapnya lagi mencoba untuk menasehatinya seperti itu.
"Enggak mah, enggak! Tetep aja, Bara enggak setuju dengan perjodohan ini! Lagian Bara ini enggak punya perasaan apa-apa sama Tania mah." Ucap Bara lagi menolak perjodohan tersebut mentah-mentah, sehingga membuat Ibu Risma pun semakin kesal.
"Terserah kamu aja deh Bara! Mau kamu setuju atau enggak dengan perjodohan ini! Tapi yang jelas perjodohan ini akan tetap berjalan dengan sesuai rencana, dan minggu besok itu adalah hari pernikahan kamu dengan Tania!" Ucapnya lagi dengan tegas dan jelas mejawabnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun kesal dibuatnya.
"Mah, mamah ini apa-apaan sih mah? Tania itu kan masih sekolah mah! Masa ia sih Bara nikah sama perempuan yang statusnya masih pelajar? Apa kata rekan-rekan bisnis Bara nanti mah? Dan lagian emang sekolahan Tania itu menerima murid yang statusnya sudah menikah apa?" Ucap Bara tak habis pikir dengan pemikirannya itu.
__ADS_1
"Udah Bara, kamu tenang aja! Karena mamah sama Om Ilham juga Tante Savira, sudah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini dari siapapun sampai nanti Tania itu lulus dari sekolah! Dan untuk sementara sebelum Tania itu lulus dari sekolah, kamu dan Tania itu nikah siri aja terlebih dahulu!" Ucap Ibu Savira serius, kalau ternyata mereka semua sudah sepakat untuk merencanakan semuanya itu.
"Jadi lebih baik sekarang kamu siap-siap! Karena sebentar lagi Om Ilham, Tante Savira, dan juga Tania akan makan malam bersama di rumah kita ini!" Ucapnya lagi.
"Dan satu lagi! Mamah enggak mau yah, kalau nanti kamu itu bikin malu mamah, apalagi sampai menolak perjodohan ini di depan Om Ilham sama Tante Savira!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengingatkannya seperti itu, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah masuk ke dalam kamarnya, meninggalkannya hanya sendiri di dalam ruangan tersebut.
"Aduuuuh! Mamah itu apa-apaan sih!" Ucapnya kesal, karena ia benar-benar tidak mau jika harus menikah dengan Tania, seorang gadis brutal dan ceroboh yang menurutnya attitude nya juga kurang baik. Namun disaat ia sedang kesel seperti itu, tiba-tiba Raya putri semata wayangnya itu keluar dari dalam kamarnya dan langsung menghampirinya sambil membawa buku gambar miliknya.
"Papah, papah kenapa? Kok muka papah kusut!" Ucapnya penasaran.
"Eh, kamu sayang!" Ucap Bara kaget sambil tersenyum.
"Enggaaak, papah enggak papa kok!" Ucapnya lagi mencoba untuk terus tersenyum.
"Oh iya sayang, gimana tadi di sekolah barunya? Temen-temen baru Raya pada baik kan sama Raya?" Ucapnya lagi, dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga membuat Raya pun seketika langsung terdiam sambil cemberut.
"Loh, Anak cantik papah ini kenapa? Kok anak cantik papah ini cemberut sih!" Ucapnya lagi sambil mengusap-usap rambutnya, kemudian ia pun langsung menarik tangannya dan langsung mengangkatnya ke atas pangkuannya.
"Raya kesel pah, soalnya tadi temen-temen baru Raya pada jahat sama Raya!" Ucap Raya masih terus cemberut.
"Loh, emang tadi Raya diapain sama temen-temen baru Raya? Sampai-sampai anak cantik papah ini bisa jadi cemberut kayak gini!" Ucap Bara lagi masih penasaran.
Melihat Bara Ayahnya sepenasaran itu, Raya pun langsung menceritakan semua perlakuan jahat teman-teman barunya itu tadi kepadanya, sehingga membuat Bara pun seketika langsung terdiam.
"Kasihan juga kamu Raya! Sampai diledekin kayak gitu sama temen-temen baru kamu! Coba aja kalau sekarang ini mamah kamu masih ada disini, pasti semua ini enggak akan pernah terjadi sama kamu!" Ucapnya dalam hati sedih, ia sangat menyayangkan tindakan Rika, mantan istrinya 4 tahun yang lalu, yang asal pergi begitu saja meninggalkannya dan juga Raya entah kemana.
"Pah, papah kenapa? Kok papah diem? Papah sedih yah?" Ucap Raya dengan polosnya bertanya seperti itu, sehingga membuat Bara pun seketika langsung terbangun dari bengongnya.
"Eh, iya kenapa sayang? Enggaaaak, papah enggak sedih kok!" Ucapnya gugup karena ia sedang berbohong.
__ADS_1
"Udah, papah enggak usah sedih! Lagian sekarang temen-temen baru Raya udah enggak pada ngeledekin Raya lagi kok!" Ucap Raya serius sambil tersenyum.
"Loh, kok bisa sih sayang? Emang kenapa sayang, kok temen-temen baru Raya bisa enggak ngeledekin Raya lagi?" Ucap Bara penasaran.
"Iya pah, soalnya tadi itu ada kakak-kakak cantik yang nolongin Raya!" Ucap Raya.
"Ada kakak-kakak cantik yang nolongin Raya? Emang siapa sayang?" Ucap Bara bingung dan semakin penasaran.
"Raya juga enggak tau pah, tapi yang jelas kakak-kakak cantik itu baiiiiik banget!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum memuji-mujinya.
"Raya mau deh pah, punya mamah kayak kakak-kakak cantik yang tadi nolongin Raya!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum, dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Bara pun seketika langsung tertawa karena lucu mendengarnya.
"Iiiiiihhhh! Kok papah malah ketawa sih?" Ucap Raya kesel.
"Raya beneran paaah, Raya pengin punya mamah kayak kakak-kakak cantik yang tadi nolongin Rayaaa! Papah mau kan pah, nikah sama kakak-kakak cantik yang tadi nolongin Raya?" Ucapnya lagi sambil merengek-rengek, sehingga Bara pun langsung menjawabnya dengan asal agar Raya putri kecilnya itu berhenti merengek-rengek seperti itu.
"Iyaaaa, papah mau!" Ucapnya sambil tersenyum, ia tidak serius sama sekali dengan jawabannya itu, dan ia pun tidak tau sama sekali kalau ternyata kakak-kakak cantik itu adalah Tania, gadis brutal dan ceroboh yang tadi pagi sempat ia usir dari dalam mobilnya.
"Oh iya sayang, emang tadi kakak-kakak cantik itu baik banget? Sampai-sampai kamu pengin punya mamah kayak kakak-kakak cantik itu!" Ucap Bara semakin penasaran sebenarnya sebaik apa sih kakak-kakak cantik tersebut kepadanya.
"Iya pah, kakak-kakak cantik itu tadi baiiiiik banget sama Raya!" Ucap Raya lagi dengan penuh semangat.
"Lihat nih pah! Tadi itu kakak-kakak cantik gambarin wajah papah, wajah Raya, sama wajah kakak-kakak cantik! Banguuuuus banget." Ucapnya lagi memuji-mujinya seperti itu, sehingga membuat Bara pun semakin penasaran ingin cepat-cepat melihat sebagus apa sih sebenarnya hasil gambarnya itu.
"Mana coba papah lihat! Sebagus apa sih gambarnya? Papah jadi penasaran!" Ucapnya sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru mengambil buku gambar tersebut dari tangannya dan langsung melihat hasil gambarnya itu, setelah melihat hasil gambarnya itu, bukannya takjub atau terpukau seperti Raya putri kecilnya, Bara malah justru langsung tersenyum kerena lucu melihatnya.
"Hemmmm, dasar anak kecil! Masa gambar kayak gini dibilang bagus." Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum karena lucu melihat hasil gambar tersebut.
"Gimana pah? Gambarnya bagus kan pah? Kakak-kakak cantik itu pinter ngegambar kan?" Ucap Raya tersenyum bangga sambil memandangi hasil gambar-gambar tersebut.
__ADS_1
"Kata kakak cantiiiiik, ini yang imut dan lucu iniiii, Rayaaaa! Kalau yang cantik iniiiiii, kakak cantik! Terus kalau yang iniiii, papah deh!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum menunjukkan siapa orang-orang yang ada didalam gambar tersebut satu persatu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum karena saking lucunya mendengar penjelasan darinya itu.
"Hemmm! Apaan sih, sebenarnya siapa sih kakak-kakak yang kata Raya cantik itu! Masa dia gambar wajah aku jadi jelak kayak gini! Harusnya kan wajah aku itu ganteng." Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum karena lucu melihat wajahnya dalam gambar tersebut yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Namun sepertinya hasil gambar tersebut sudah cukup menghiburnya untuk hari ini, sehingga ia yang tadinya sangat kasal karena mendengar perjodohannya dengan Tania pun bisa tersenyum bahagia seperti sekarang ini. Namun apa jadinya jika ia tau kalau ternyata yang membuatnya tersenyum bahagia seperti sekarang ini adalah Tania sendiri.