Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 29.


__ADS_3

Kemudian ia pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar tersebut, bersama dengan Raya putri semata wayangnya.


"Papah Papah, lihat deh! Sekarang ini Raya sama mamah cantik lagi ngecat kuku! Kuku Raya sama kuku-kuku mamah cantik, bagus nggak?" Ucap Raya mencoba untuk meminta pendapat kepadanya.


"Eeemmm, maaana coba papah lihat!" Ucap Bara sambil tersenyum, dan langsung buru-buru melihat kuku-kuku cantik tersebut, bahkan ia pun terlihat tidak marah sama sekali melihat Raya putri semata wayangnya itu, yang seperti sudah sangat tertular oleh gaya dan fashion dari Tania istri brutalnya itu.


"Eeemmm baguuuus! Kuku-kuku Raya bagus, kuku-kuku mamah cantik juga baguuus!" Ucapnya lagi yang seperti tidak mempunyai masalah dengannya, dan seperti tidak punya salah apa-apa kepadanya, sehingga Tania yang melihatnya pun semakin kesal dibuatnya.


"Apaan sih mas Bara! Sok perhatian, sok lembut, sok baik! Tadi aja di kantor kasar banget sama Tania." Ucapnya dalam hati sambil terus cemberut. Kemudian ia pun langsung mencoba untuk melanjutkan mengecet kuku-kuku cantiknya itu lagi, namun karena ia sedang kesal, ia pun mengecat kuku-kuku cantiknya itu dengan sangat kasar, sehingga tak sengaja terkena luka di jari-jari cantiknya, yang semalam terkena pecahan beling kaca foto pernikahan Bara dan mantan istrinya, sehingga jari-jari cantiknya itu pun kembali mengeluarkan darah cukup banyak.


"Aw, Sssttttt! Aduh aduuuuh!" Ucapnya kesakitan.


"Mamah cantik, mamah cantik kenapa?" Ucap Raya panik.


"Loh, kok luka dijari mamah cantik berdarah lagi?" Ucapnya lagi semakin panik, sehingga Bara pun ikut panik melihatnya.


"Mana coba mas lihat!" Ucapnya sambil buru-buru menggenggam tangannya untuk mengecek lukanya itu.


"Aw, Sssttt! Awas, lepasin!" Ucap Tania masih marah, sambil buru-buru menghempaskan tangannya itu dengan kasar, sehingga Bara yang melihatnya pun seketika langsung marah.


"Kamu ini bisa nggak sih, hah? Sekali aja, nurut sama mas! Nggak usah bandel!" Ucapnya mencoba untuk menasehatinya seperti itu. Kemudian ia pun langsung buru-buru menggenggam kembali tangannya, dan langsung buru-buru mengecek lagi lukanya itu.


"Rayaaa, sayang, tolongin Papah sayang! Tolong kamu ambilin kotak obat di laci!" Ucapnya lagi menyuruh Raya putri semata wayangnya seperti itu.


"Iya Pah!" Ucap Raya. Kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah untuk mengambil kotak obat tersebut, meninggalkan Bara Ayahnya yang dari tadi masih terus mengecek luka Tania, mamah cantiknya.


"Aw, Ssssttttt! Pelan-pelan megangnyaaa! Sakit tau!" Ucap Tania marah, karena Bara suaminya itu memegang tangannya itu sedikit kencang.


"Maaf!" Ucap Bara singkat.


"Nggak perlu minta maaf! Lagian luka ini terjadi juga bukan karena salah mas kok! Luka ini terjadi karena salah Tania! Tania yang semalam nggak sengaja udah mecahin foto pernikahan mas sampai pecah!" Ucap Tania sewot, sambil terus cemberut.


"Bukan minta maaf untuk itu!" Ucap Bara yang terlihat masih sangat kaku dan dingin. Dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Tania yang mendengarnya pun bingung dibuatnya.

__ADS_1


"B_bukan minta maaf untuk itu? Maksudnya?" Ucapnya yang langsung menatapnya dengan tatapan mata yang sangat sinis, karena sepertinya ia sudah tau apa maksud dari permintaan maafnya itu. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar, karena ia sudah tau apa yang akan terjadi kepada Tania istrinya yang sangat manja dan bawel itu, jika sekarang ini ia sampai meminta maaf kepadanya, dengan kesalahan yang tidak pernah ia buat, dan ternyata justru malah dirinya lah yang salah.


"Iya, bukan minta maaf untuk itu! Tapi minta maaf, karena tadi pagi mas udah nuduh-nuduh kamu ngilangin berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting mas, yang ternyata bukan hilang karena kamu, tapi ternyata berkas-berkas dan dokumen-dokumen mas itu diambil oleh Dina, karyawan mas sendiri!" Ucapnya mencoba untuk menjelaskannya seperti itu, sehingga Tania yang mendengarnya pun seketika langsung kaget dibuatnya.


"A_apa tadi mas bilang? Minta maaf karena tadi pagi mas udah nuduh-nuduh Tania ngilangin berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting mas, yang ternyata bukan hilang karena Tania, tapi ternyata malah justru diambil oleh Dina, karyawan mas sendiri?" Ucapnya marah, dan tak percaya.


"Iya," ucap Bara yang terlihat tetap tenang.


"Ya ampun mas Baraaa! Berarti tadi pagi itu, mas Bara udah nuduh-nuduh Tania, sampai mas Bara itu marah-marahin Tania sampai segitunya, yang ternyata bukan karena kesalahan Tania, tapi ternyata malah justru mas sendirilah yang salah?" Ucap Tania tak habis pikir, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Mas Bara!" Ucapnya lagi yang langsung menatapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam, dan terlihat sok galak, sambil melipatkan kedua tangannya tepat diatas perutnya.


"Mas Bara ini seharusnya jangan ceroboh kayak gitu dong! Kalau emang berkas-berkas dan dokumen-dokumen itu sangat penting buat mas, harusnya mas nyimpen berkas-berkas dan dokumen-dokumen itu ditempat yang aman! Jangan sampai berkas-berkas dan dokumen-dokumen itu hilang, apalagi sampai bisa diambil orang dengan mudah! Mengerti!" Ucap Tania yang sok-sokan menasehatinya seperti itu, dengan gaya yang terlihat masih sok galak, sehingga Bara yang dari tadi sedang mendengarkan ocehannya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar, karena seperti dugaannya tadi, ia sudah sangat tau apa yang akan terjadi kepada Tania istrinya yang sangat manja dan bawel itu, jika seandainya sekarang ini ia sampai meminta maaf kepadanya, tentang kesalahan yang ternyata tidak pernah ia buat, dan ternyata justru malah dirinya lah yang salah.


"I_iya," ucap Bara yang mencoba untuk menuruti apa nasehatnya, agar Tania istrinya itu tidak bawel dan berisik lagi.


"Nah, gitu dong!" Ucap Tania lagi yang terlihat masih terus sok galak.


"Eits, tapi tunggu dulu!" Ucap Bara.


"Jadi mas ingetin yah sama kamu, disini bukan hanya mas yang salah! Tapi tetep aja, kamu juga salah! Mengerti?" Ucapnya lagi dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu. Kemudian dengan segera, ia pun langsung melangkah untuk menyusul Raya putri semata wayangnya, yang sampai sekarang belum juga kembali mengambil kotak obat.


"Iiiihhh! Mas Bara itu sebenarnya ikhlas nggak sih minta maaf? Katanya minta maaf, tapi kok masih aja, tetep nyalah-nyalahin Tania!" Gerutu Tania kesal sambil cemberut.


"Mamah cantik, ini obatnya!" Ucap Raya yang sudah kembali lagi bersama dengan Bara Ayahnya, membawa kotak obat tersebut.


"Eh, kamu sayang!" Ucap Tania yang tersenyum.


"Ya udah sayang, mana obatnya? Biar papah aja yang obatin luka mamah cantik!" Ucap Bara. Dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung ketakutan dibuatnya.


"M_mas Bara, mas Bara mau ngapain? N_nggak mau! T_Tania nggak mau diobatin sama mas Bara!" Ucapnya gugup.


"Udah kamu tenang aja! Mas nggak bakalan ngapain-ngapain luka kamu kok!" Ucap Bara.

__ADS_1


"Iya mamah cantik, Papah nggak bakalan ngapain-ngapain luka mamah cantik kok!" Ucap Raya.


"Ya udah nih pah, obatnya!" Ucap Raya lagi sambil memberikan kotak obat tersebut kepada Bara Ayahnya.


"Ya udah yah pah, mamah cantik, Raya mau pipis dulu ke kamar mandi!" Ucapnya lagi sambil buru-buru melangkah menuju kamar mandi yang ada didalam kamar tersebut, meninggalkan Bara dan Tania hanya berdua.


"Kamu tahan yah! Soalnya ini obatnya sedikit perih!" Ucap Bara yang tiba-tiba meningkatkannya seperti itu, sehingga Tania yang memang sedang ketakutan pun, semakin ketakutan lagi dibuatnya.


"M_mas Bara, T_Tania nggak mau mas! T_Tania nggak mau! T_Tania takuuuut, sakiiiiit!" Rengeknya dengan sangat manjanya.


"Udah siniiii, kamu nggak usah takut! Luka kamu ini harus segera diobatin, nanti infeksi loh!" Ucap Bara yang malah justru langsung menggenggam kembali tangannya, dan langsung buru-buru mengobati lukanya.


"Aw, Sssttttt! Pelan-pelan maaas, sakiiiiit!" Ucap Tania sambil terus merengek-rengek seperti anak kecil.


"Iyaaa, ini mas juga udah pelan kok!" Ucap Bara dengan sangat sabarnya, sambil terus mengobati lukanya.


"Aw, Sssttttt! Nggak mau, nggak mau, nggak mau! Tania nggak mau diobatin sama mas! Sambil tiupin maaaas! Sakiiiit, periiiiih!" Teriaknya sambil terus merengek-rengek kesakitan. Sehingga Bara yang dari tadi sedang mendengarnya pun, entah mengapa, seketika ia pun langsung terdiam.


"K_kenapa denger suara gadis brutal ini merengek-rengek kesakitan kayak gini, aku kayak pernah dengar suara rengekan ini sebelumnya yah?" Ucapnya dalam hati bingung, karena ia seperti pernah mendengar suara rengekan tersebut, akan tetapi ia lupa, suara rengekan dari siapa, dan dimana ia mendengarnya.


"Aw, Sssttttt! Aduh aduuuuh!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba merasakan sakit dan pusing lagi di kepalanya, karena dengan secara tiba-tiba, lagi-lagi kejadian 12 Tahun yang lalu antara ia dan anak kecil yang pernah ia tolong pun muncul lagi di kepalanya.


"Aw, Sssttttt! Pelan-pelan kakak! Hiks,, hiks,, sakiiiiit!" Rengek anak kecil tersebut, pada saat 12 tahun yang lalu.


"Iyaaa, ini kakak juga udah pelan kok!" Ucap Bara yang pada saat itu sedang mengobati luka dilututnya, dengan sangat sabarnya.


"Lagian ini juga kakak udah mau selesai kok ngobatinnya." Ucapnya lagi.


"Tuuuh kan bener, udah selesai!" Ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Oh iya bener, udah selesai," ucap anak kecil tersebut yang juga ikutan tersenyum. Dan bahkan senyuman anak kecil pada saat 12 tahun yang lalu tersebut pun, terlihat sangat jelas di kepala Bara, yang sekarang ini sedang memikirkannya.


"I_iya bener! Suara rengekan itu, suara rengekan dari gadis kecil itu!" Ucapnya lagi dalam hati, yang sudah mengingat dengan jelas, suara rengekan tersebut dari siapa dan dimana ia mendengarnya.

__ADS_1


"T_tapi,,, kenapa suara rengekan dari gadis kecil itu, sama persis dengan suara rengekan dari gadis brutal ini yah?" Ucapnya lagi dalam hati semakin bingung.


"A_apa mungkin,,, gadis kecil itu, ternyata adalah gadis brutal ini?" Ucapnya lagi dalam hati sambil terus terdiam menatap kearah Tania istrinya, yang sekarang ini masih duduk tepat dihadapannya.


__ADS_2