Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 39.


__ADS_3

DI PERJALANAN.


Waktu menunjukkan pukul 01:00 Siang.


Terlihat Bara yang dari tadi sedang mengendarai mobilnya menuju rumah Pak Ilham, untuk mengantarkan Tania istrinya itu pulang. Namun selama disepanjang perjalanan, ia hanya terdiam dan terus terdiam memikirkan ancaman-ancaman dari Alex sahabatnya itu tadi, yang tetap kekeuh ingin pedekate dengan Tania istrinya.


"Aduuuuh! Kenapa aku jadi inget terus ancaman-ancaman dari Alex itu, sih?" Ucapnya dalam hati, kesal.


"Mana aku juga nggak mungkin kasih tau dia lagi! Kalau Tania ini, ternyata istri aku!"


"Karena kalau sampai aku kasih tau Alex tentang semua itu, bisa-bisa mamah marah besar nanti sama aku! Karena aku membocorkan rahasia pernikahan aku, dengan Tania!" Ucapnya lagi yang serba salah dengan keadaannya sekarang ini. Kemudian, ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya Tuhaaan! Gimana nih? Gimana kalau ternyata, Alex itu sampai beneran membuktikan ucapannya itu tadi! Itu anak beneran berhasil dapatin no handphone Tania, terus udah gitu, itu anak juga berhasil lagi dapatin hati Tania?" Ucapnya lagi dalam hati panik.


"N_nggak, nggak bisa! Kayaknya mulai dari hari ini, aku ini memang harus hati-hati menjaga Tania! Jangan sampai aku ini kecolongan sama Alex!" Ucapnya lagi dalam hati yang sepertinya benar-benar sangat takut akan kehilangan Tania, istri seksi dan istri manjanya itu.


"Karena sampai kapanpun, aku ini benar-benar nggak ikhlas! Kalau Tania ini, sampai beneran jadi milik Alex!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus terdiam menatap kearahnya, yang dari tadi sedang duduk disampingnya, sambil asyik memainkan ponselnya.


"M_mas Bara, mas Bara kenapa? Kok mas Bara dari tadi, diem aja ngelihatin Tania?" Ucapnya bingung.


"Oh, n_nggak kok! Mas nggak papa!" Ucap Bara berbohong. Kemudian, ia pun langsung terdiam, sambil menatap kearah ponsel tersebut, yang sekarang ini masih Tania istrinya itu pegang.


"Oh iya Tan, mas pinjem handphone kamu dulu dong, sebentar!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba langsung meminta izin seperti itu. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, semakin bingung dibuatnya.


"P_pinjem handphone Tania dulu sebentar? Emang buat ap,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, tanpa mendengar jawaban darinya terlebih dahulu boleh atau tidak, Bara suaminya itu pun langsung mengambil ponsel tersebut dari tangannya.


"Eeeehh! M_mas Bara, tapi mau buat apa mas?" Ucap Tania lagi.


"Udaaah, kamu diem aja! Mas cuma pengin pinjem handphone kamu doang kok, sebentar! Nanti juga mas balikin lagi!" Ucap Bara yang terlihat sedang sibuk mengetik sebuah no telepon di ponsel tersebut, dan langsung buru-buru menelponnya.


"Eeeehh, m_mas Bara! Mas Bara mau telepon siapa pake handphone Tania?" Ucap Tania lagi sedikit ketakutan. Kemudian ia pun langsung buru-buru merebut ponsel tersebut dari tangannya.


"Mas Bara, balikiiiin!" Rengeknya sambil terus mencoba untuk merebut kembali ponsel tersebut.


"Aduh Taniaaa! Kamu ini berisik banget sih dari tadi! Nih, handphone kamu, mas balikin!" Ucap Bara yang tiba-tiba langsung mengembalikan ponsel tersebut kembali kepadanya, dan ia pun terlihat tidak jadi menelepon no yang ia ketik itu di ponsel tersebut. Sehingga Tania yang melihatnya pun, semakin bingung lagi dibuatnya.


"K_kok langsung mas Bara balikin aja? Emang mas Bara, nggak jadi telepon pakai handphone Tania?" Ucapnya yang justru bertanya seperti itu.


"Nggak!" Ucap Bara yang terlihat sudah fokus kembali menyetir mobilnya, tanpa menatap kearahnya sedikit pun.


"Iiiiihhhhh! Aneh banget sih mas Bara ini!" Gerutu Tania. Kemudian ia pun langsung buru-buru memainkan ponselnya itu kembali.


"Eeeehh, t_tunggu dulu!" Ucapnya lagi.


"T_tapi ngomong-ngomong, ini no siapa mas? Kok no ini, mas save di handphone Tania?'" Ucapanya lagi bingung, sambil menatap ke arah no tersebut, yang memang baru saja Bara suaminya itu save di dalam ponsel miliknya itu.


"Itu no mas! Udah kamu simpan aja, buat jaga-jaga takut terjadi sesuatu lagi sama kamu!" Ucap Bara yang terlihat sok dingin, sambil terus sok fokus menyetir mobilnya, dan terus pura-pura tidak memperhatikannya sedikit pun. Ia berbicara seperti itu karena memang benar, kalau semua itu ia lakukan untuk jaga-jaga takut suatu saat nanti terjadi sesuatu lagi kepadanya. Namun sepertinya bukan itulah tujuan utamanya, ia melakukan semua itu, karena ternyata ia pun tidak mau kalah dari Alex sahabatnya, karena ternyata diam-diam ia pun ingin menyimpan no telepon Tania istrinya itu, di dalam ponsel miliknya. Karena ternyata no yang tadi ia telepon menggunakan ponsel tersebut, ternyata adalah no nya sendiri. Tujuannya yaitu, agar no telepon Tania istrinya itu, bisa masuk secara otomatis kedalam ponsel miliknya, tanpa ia harus gengsi meminta no teleponnya itu terlebih dahulu kepadanya.


"M_mas Bara serius? Ini no handphone mas? J_jadi, Tania boleh simpan no handphone mas, di handphone Tania?" Ucap Tania gugup karena saking senangnya. Bahkan karena saking senangnya, ia pun sampai-sampai refleks. Dengan secara tiba-tiba, ia pun langsung memeluknya.


"Eeemmmm mas Baraaaa, maksiiiihh?" Rengeknya dengan sangat manja, sambil terus memeluknya dengan sangat erat. Sehingga Bara yang melihatnya pun, entah mengapa, ia pun malah justru tersenyum.


"Udaaaah, jangan peluk-peluk mas terus!" Ucapnya yang pura-pura sok dingin kembali, sambil menyingkirkan kepalanya yang ia senderkan di pundaknya itu, menggunakan satu jarinya.

__ADS_1


"Iiiiiihhhh! Mas Bara ini, pelit banget sih!" Ucap Tania sambil cemberut manja. Namun karena saking senangnya, ia pun langsung tersenyum dan tersenyum lagi, sambil terus memandangi no telepon tersebut di dalam ponselnya itu, tanpa henti-henti. Sehingga membuat Bara pun, lagi-lagi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udaaaah, no mas jangan dilihatin terus kayak gitu! No mas itu, nggak bakalan ilang kok di handphone kamu!" Ucapnya yang sengaja menggodanya seperti itu.


"Iiiiiihhhh, mas Bara ini apaan sih?" Ucap Tania sambil tersenyum malu.


"Oh iya mas, berarti mulai sekarang, kalau ada apa-apa sama Tania, atau tiba-tiba Tania ini lagi butuh sesuatu sama mas, berarti Tania ini boleh dooong telepon,,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, ponselnya itu pun berdering karena ada yang meneleponnya via Video call.


"Eeemmmm? Sapa yang telepon Tania yah?" Ucap Tania lagi penasaran. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mengecek telepon tersebut, sebenarnya dari siapa.


"Eeehhh! J_jangan diangkat!" Ucap Bara yang tiba-tiba langsung melarangnya seperti itu. Karena sekarang ini, ia benar-benar sangat yakin, kalau yang menelponnya itu adalah, Alex sahabatnya.


"J_jangan diangkat? Emang kenapa mas?" Ucap Tania bingung.


"Udaaaah, kamu nurut aja sama mas! Pokoknya, kamu nggak boleh angkat telepon itu! Udah sekarang juga, kamu matiin aja itu telepon!" Ucap Bara lagi, yang langsung menyuruhnya seperti itu.


"T_tapi mas, emang kenapa? Kok Tania nggak boleh sih, angkat telepon dari,,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, Bara suaminya itu pun langsung buru-buru merebut ponsel tersebut kembali, dari tangannya.


"Udaaaah, kamu ini nggak usah banyak protes! Pokoknya mulai dari sekarang, kamu ini nggak boleh angkat telepon dari,,,,,,," seketika ucapanya itu pun, langsung terpotong.


"R_Raya!" Ucapnya lagi gugup, karena ia baru menyadari kalau yang menelepon Tania istrinya itu, ternyata adalah Raya Putri semata wayangnya.


"K_kok kamu nggak kasih tau mas sih? Kalau yang nelpon kamu ini, Raya?" Ucapnya lagi. Kemudian ia pun langsung buru-buru mengangkat telepon tersebut.


"Iiiihhh! Mamah cantik sama papah, jahat! Mamah cantik sama papah nggak ajakin Raya nginep di rumah eyang Savira!" Ucap Raya yang tiba-tiba langsung marah-marah seperti itu.


"Eeeehh! Sayang sayang, anak cantik mamah ini kenapa? Kok anak cantik mamah ini, marah-marah sih?" Ucap Tania.


"Iya sayaaang, emang anak cantik papah ini, kenapaaa? Kok anak cantik papah ini, marah-marah kayak gitu?" Ucap Bara.


"Raya sayaaang, Raya nggak boleh ngambek terus kayak gitu, yaaah!" Ucap Bara.


"Papah janji deh, sama Raya! Besok sore, habis papah sama mamah cantik pulang dari kantor, papah sama mamah cantik, langsung ajakin Raya jalan-jalan, ke taman! Ke taman tempat biasa papah suka ajakin Raya jalan-jalan itu!" Ucapnya lagi mencoba untuk merayunya seperti itu. Karena ia sangat tau, kalau rayuannya itu memang paling bisa meluluhkan hatinya. Karena ternyata Raya itu memang paling senang, jika ia ajak jalan-jalan ke taman tersebut, ke taman tempat dimana ia dan gadis kecil 12 tahun yang lalu, saling bertemu. Karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata ia itu memang cukup sering mengajak Raya putri semata wayangnya itu untuk jalan-jalan ke taman tersebut. Tujuannya, karena ia pun berharap bisa bertemu lagi dengan gadis kecil 12 tahun yang lalu tersebut, di taman tersebut.


"Iya sayaaang, bener kata papah! Besok sore habis mamah cantik sama papah pulang dari kantor, mamah cantik sama papah janji deh! Mamah cantik sama papah, langsung ajakin Raya jalan-jalan, ke taman!" Ucap Tania yang juga ikut-ikutan merayunya seperti itu. Meskipun sebenarnya, ia pun sangat yakin, kalau semua itu tidak lah serius. Karena menurutnya, mana mungkin sih, Bara suaminya itu mau jalan-jalan bertiga dengannya. Apalagi ia juga tidak tau, sebenarnya dimana tempat taman tersebut berada.


"B_beneran mamah cantik? Mamah cantik juga besok, mau ikut Raya sama papah jalan-jalan ke taman? Ke taman tempat biasa, papah suka ajakin Raya jalan-jalan itu?" Ucap Raya sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Iya sayaaang, beneran!" ucap Tania lagi sambil tersenyum.


"Horeeee! Besok mamah cantik juga ikut Raya sama papah, jalan-jalan ke taman! Horeeee! Horeeee!" Ucap Raya lagi penuh dengan semangat, sambil tersenyum dengan raut wajah yang lebih bahagia lagi. Sehingga Bara yang melihatnya pun, ikutan tersenyum.


"Aku benar-benar nggak nyangka, ternyata Tania ini memang benar-benar paling bisa, buat Raya ini bahagia!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah cantiknya.


"Oh iya sayang, tapi ngomong-ngomong, gimana teman-teman Raya di sekolahan? Masih pada galak nggak sama Raya?" Ucap Tania.


"Kalau temen-temen Raya masih pada galak sama Raya, Raya nggak boleh diem aja! Untuk jaga-jaga, Raya harus ngelawan!"


"Kalau temen-temen Raya dorong Raya, Raya dorong balik! Terus kalau temen-temen Raya pukul Raya, Raya juga pukul balik!" Ucapnya lagi yang tiba-tiba menasehatinya dengan kata-kata seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung terdiam dibuatnya.


"K_kata-kata itu! Kata-kata itu, bukannya kata-kata yang pernah aku sampaikan, sama gadis kecil 12 tahun yang lalu itu yah?" Ucapnya dalam hati, yang benar-benar sangat ingat, kalau kata-kata tersebut adalah kata-kata yang pernah ia sampaikan kepada gadis kecil 12 tahun yang lalu, yang selama ini selalu muncul di kepalanya, dan sedang ia cari-cari keberadaannya sampai sekarang.


"T_tapi, kenapa kata-kata Tania itu, sama persis dengan kata-kata aku dulu?" Ucapnya lagi dalam hati semakin bingung, sambil terus terdiam menatap kearahnya.

__ADS_1



Yang sekarang ini masih terus menasehati Raya, putri semata wayangnya itu.


"Inget yah sayang, apa pesan dari mamah cantik tadi! Kamu ini harus bisa ngelawan!"



Ucapnya lagi.


"T_tapi mamah cantik, Raya takuuuut! Raya, nggak beraniiii!" Rengek Raya.


"Ngapain Raya harus takut, kan mereka juga udah kasar sama Raya!" Ucap Tania.


"I_iya sih mamah cantik," ucap Raya lagi.


"T_tapi emang, mamah cantik juga suka kayak gitu sama temen-temen sekolah mamah cantik? Kalau temen-temen sekolah mamah cantik pada kasar sama mamah cantik, mamah cantik lawan mereka! Terus kalau temen-temen mamah cantik pukul mamah cantik, mamah cantik juga pukul mereka!" Ucap Raya.


"Iya dong sayaaaang, mamah cantik lawan mereka, mamah cantik kalahin mereka semua!" Ucap Tania lagi, sambil tersenyum.


"Makannya deh! Sampai sekarang, udah nggak ada lagi temen-temen mamah cantik, yang berani ngebully, apalagi sampai galakin mamah cantik!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum. Dengan sangat jelas ia menasehati nya dengan kata-kata seperti itu.


"N_nggak, nggak mungkin! Kenapa kata-kata dari Tania ini, bener-bener sama persis dengan kata-kata yang pernah aku sampaikan sama gadis kecil 12 tahun yang lalu itu?" Ucap Bara dalam hati yang benar-benar semakin bingung lagi dengan semuanya.


Setengah jam kemudian,,,,,


DI RUMAH PAK ILHAM.


Terlihat Pak Ilham dan Ibu Savira, yang dari tadi sedang menunggu-nunggu kedatangan dari Tania, putri tersayangnya itu pulang ke rumahnya.


"Ya Tuhaaan, semoga aja nggak terjadi sesuatu kepada Tania!" Ucap Ibu Savira yang dari tadi terlihat sedang mondar-mandir, dengan raut wajah yang sangat panik.


"Mamaaah, udah deh! Mamah ini tenang! Lagian tadi Bara juga udah telepon ke mamah kan? Kalau keadaan Tania itu, sekarang ini baik-baik aja!" Ucap Pak Ilham mencoba untuk menasehatinya seperti itu. Karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi Bara itu memang sempat menelpon mereka berdua, untuk menceritakan semua tentang kejadian yang tadi sempat menimpa Tania, putri tersayangnya itu. Dan ia pun memberi tahu mereka berdua, kalau keadaan Tania Putri tersayangnya itu, sekarang ini baik-baik saja.


"Aduh papaaaah, papah ini gimana sih? Tania, Tania Putri kita loh pah! Tadi itu hampir saja diperkosa para preman!" Ucap Ibu Savira.


"Masa iya sih pah, mamah ini bisa tenang begitu aja!" Ucapnya lagi kesal.


"Bagaimana kalau ternyata, kejadian itu mengingatkan kejadian waktu dia masih kecil dulu? Dan bagaimana juga kalau ternyata, kejadian itu membuat rasa panik, rasa ketakutan, dan phobia nya itu muncul secara tiba-tiba?" Ucapnya lagi mencoba untuk mengingatkannya seperti itu.


"Apa yang nantinya akan terjadi sama putri kita itu pah?" Ucapnya lagi.


"Pokoknya, mamah udah nggak bisa sabar lagi! Begitu Tania sama Bara sampai di rumah, mamah akan ceritain semuanya sama Bara! Mamah akan ceritain semua tentang kejadian masa lalu Tania, waktu Tania itu masih kecil! Dan mamah juga akan ceritain dan kasih tau sama Bara, kalau Tania itu punya rasa ketakutan, kepanikan, dan juga phobia yang bisa muncul secara tiba-tiba, disaat ia itu inget kejadian masa lalu nya! Supaya Bara itu bisa menjaga Tania, dan mamah ini juga bisa tenang pah!" Ucapnya lagi yang benar-benar sudah sangat berniat untuk menceritakan semuanya itu.


"Iya mah, iya! Mamah boleh kok, ceritain semua masalah itu sama Bara! Tapi sekarang ini, mamah harus tenang! Lagian keadaan Tania sekarang ini kan juga baik-baik aja! Dan papah juga yakin, sebentar lagi juga mereka berdua pasti dat,,,,,,," seketika ucapan Pak Ilham pun, langsung terpotong.


"Mamaaah, papaaaah, Tania dataaaang!" Teriak Tania yang baru saja sampai dan masuk kedalam rumah tersebut, bersama dengan Bara, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"T_Taniaaaaa,," ucap Ibu Savira gugup sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, karena saking senang dan terharunya, bisa bertemu dengan Tania putri tersayangnya itu lagi.


#######


Maaf jika Visualnya kurang pas!

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, kasih hadiah, vote, dan kasih ulasan yah!


Supaya Author ini tambah semangat, lanjutin ceritanya! 😍🙏


__ADS_2