
"Eeeemmmm! Istri kecil, kesayangan mas ini! Yang tadi, keenakan nih! Pas dimainin ini nya, sama mas!" Goda Bara, yang baru saja sampai menggendongnya menuju ranjang tersebut, sambil tersenyum gemas mencubit bagian bawahnya.
"Iiiiiihhhh, mas Baraaaa!" Rengek Tania, malu.
"Emang kenapaaa? Emang kenyataannya, tadi kamu keenakan kan? Dimainin ini nya, sama mas?" Ucap Bara lagi, sambil tersenyum.
"N_nggak kok! Kata siapa? T_tadi, Tania nggak keenakan!" Ucap Tania gugup, karena ia sedang berbohong.
"Eeeemmmm, bohong niiiiih!" Ucap Bara tak percaya. Kemudian, ia pun langsung berbisik tepat di telinganya.
"Kalau emang, tadi kamu nggak keenakkan, kok bisa sih, sayang? Tadi ini kamu, sampai basah, licin banget kayak gitu! Pas lagi diobok-obok sama mas, hah?" Bisiknya, yang malah justru langsung menggodanya lebih parah lagi dari sebelumnya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, semakin malu lagi dibuatnya.
"Iiiiiiihhh, mas Baraaaa!" Rengeknya lagi.
"Terus tadi, kamu kayak gini nih sayang, sama mas!" Ucap Bara.
"Ah maaaas, aaaah! Punya mas nya, kegedeaaan! Aaaaah, sakit maaaas! Nggak bakalan bisa, dimasukiiiiin!" Goda nya lagi, yang langsung saja menirukan suara rintihan manja darinya itu, tadi.
"Eeehhh tau-taunya, tadi kamu malah keenakan, sayang! Ininya, nih! Sampai basah, licin banget, becek lag,,,,,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, Tania istrinya itu pun, langsung membekap mulutnya.
"Iiiiihhh mas Baraaa, udaaaah! Jangan dilanjutin lagi ngomongnya, udah stoooop!" Ucapannya lagi kesal, sambil terus membekap mulutnya yang sangat bawel itu, menggunakan tangannya. Namun sayang, Bara suaminya itu pun, tidak menghiraukannya, ia pun lagi-lagi terus menggodanya.
"Terus tadi, kamu kayak gini nih sayang, nih! Ah ah ah ah ah! Aaaaaah, mas Baraaa, aaaah! Enak maaaas, lebih kenceng lagi masukinnyaaaaa! Aaaaaah, enak maaaas! Ah ah ah ah ah, enak bangeeeet!" Goda nya lagi, yang terus menirukan suara rintihan, dan ******* manja darinya itu, tadi.
"Iiiiiihhhh, mas Baraaaa!" Rengek Tania lagi semakin kesal, sambil memukul-mukul dada Bara suaminya itu, cukup kencang.
"Enak yah, sayang?" Ucap Bara lagi, yang malah justru langsung tersenyum menanyakan hal tersebut kepadanya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, semakin kesal dibuatnya.
"Tau ah!" Ucapnya ketus, sambil cemberut.
"Kenapaaaa? Kok kamu cemberut sih, sayang?" Ucap Bara pura-pura bodoh.
"Tau!" Ucap Tania lagi masih ketus, sambil terus cemberut. Kemudian, ia pun langsung buru-buru berbaring membelakanginya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, langsung tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeluknya dari belakang.
"Eeeemmmm, jangan marah-marah dong sayaaaang! Mas ini kan, tadi cuma bercanda!" Ucapnya, mencoba untuk merayunya.
"Tapi Tania nggak mauuu!" Rengek Tania.
"Tania nggak mau, mas Bara bercanda kayak gituuu!" Rengekannya lagi, sambil terus cemberut manja.
"Iya sayang, nggaaak!" Ucap Bara lagi, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"Mas janji deh! Mas nggak akan bercanda, kayak gitu lagi, yaaah?" Ucapnya lagi sambil tersenyum.
"I_iya mas!" Ucap Tania, sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian, dengan secara tiba-tiba, ia pun langsung terdiam lagi, dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang, kamu kenapa?"
Ucap Bara, bingung.
"Kok istri cantik mas, malah diem, kayak ada banyak pikiran kayak gini, sih?" Ucapannya lagi, dengan penuh perhatiannya.
"N_nggak kok mas, Tania nggak papa!"
Ucap Tania. Kemudian, ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Tania cuma kepikiran aja, mas! Tania takut!" Ucapnya lagi, yang terlihat sangatlah panik.
"Tania takut, kalau Tania ini sampai hamil, gimana?"
__ADS_1
Ucapnya lagi, yang ternyata dari tadi sedang panik memikirkan hal tersebut. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum lucu, dibuatnya.
"Ya ampun, sayaaaang! Jadi dari tadi, kamu diem kayak ada banyak pikiran, sampai kamu ini panik banget kayak gini! Karena ternyata, dari tadi kamu ini takut, kalau kamu ini sampai hamil?" Ucapnya, yang benar-benar tak habis pikir, dengan pemikirannya itu.
"I_iya mas," ucap Tania lagi, yang terlihat masih terus banyak pikiran.
"Sayaaaang, kamu ini ngapain sih? Mikirin hal kayak gitu! Sampai kamu ini, panik banget kayak gini?" Ucap Bara lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeluknya.
"Kamu nggak usah takut yah, sayang!" Ucapnya.
"Kalaupun nanti, kamu ini sampai hamil, kan ada mas! Suami kamu sendiri!"
"Yang pastinya nanti akan tanggung jawab, dan juga akan selalu menyayangi anak kita nanti, sama seperti mas menyayangi Raya, dan juga menyayangi kamu, mamah cantik nya!" Ucapnya lagi, sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya maaas, Tania juga tauuuu!" Ucap Tania.
"Tapi bukan itu, maksud Taniaaa!"
"Tania kepikiran, mas! Sama posisi mas, di Kantor!"
"Apa lagi, dengan jabatan yang sedang mas pegang sekarang ini!"
"Tania takuuut!"
"Seharusnya, tadi itu Tania nolak aja! Pas mas ngajakin Tania, bikin dedek bayi!" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba berbicara seperti itu, dengan raut wajah bersalah, dan penuh dengan penyesalan. Sehingga Bara yang melihatnya pun, semakin bingung lagi dibuatnya.
"Sayang sayang, kamu ini sebenarnya lagi ngomong apa sih? Mas nggak ngerti deh!" Ucapnya.
"Tadi kan kamu ngomong, katanya kamu takut, kalau kamu ini sampai hamil!"
"Terus, tadi kan udah mas jawab!"
"Tapi kenapa sekarang, kamu malah mengkhawatirkan posisi, dan jabatan mas di kantor?"
"Terus ngapain juga, kamu ngomong! Seharusnya tadi itu kamu nolak aja, pas mas ajakin kamu, bikin dedek bayi?"
"Maksudnya apa sayang? Kamu nyesel, karena udah bikin dedek bayi sama mas? Dan udah ngasih keperawanan kamu, ke mas?" Ucapnya lagi, yang sedikit terpancing emosinya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, benar-benar merasa tidak enak.
"Y_ya ampun mas, bukan itu maksud Tania, mas!" Ucapnya.
"B_beneran, bukan itu mas!" Ucapnya lagi, ketakutan.
"Kalau emang bukan itu maksud kamu, terus apa?" Ucap Bara yang masih sedikit terpancing emosinya.
"Apa karena kamu nggak mau, kalau kamu ini sampai hamil, anak mas?" Ucapnya lagi.
"Y_ya ampun mas, b_bukan itu juga maskud Tania, mas! Bukan itu!" Ucap Tania gugup dan tergesa-gesa, karena saking tak enaknya.
"K_kok jadi kayak gini sih, mas?" Ucapnya lagi yang benar-benar takut, kalau Bara suaminya itu akan salah paham kepadanya, dan juga akan marah kepadanya. Bahkan karena saking takutnya, ia pun sampai-sampai hampir menangis.
"N_nih yah mas, Tania kasih tau alasannya, ke mas!" Ucapnya lagi gemetaran.
"T_Tania ini, bukannya nyesel, karena Tania ini udah ngasih keperawanan Tania ini, ke mas!"
"Bukan mas!"
"A_apalagi, sampai Tania ini nggak mau hamil, anak mas!"
"I_itu semua, nggak bener mas!" Ucapnya lagi, dengan jelas.
__ADS_1
"T_tadi itu, Tania ngomong kayak gitu!"
"Karena Tania ini benar-benar takut mas! Kalau Tania ini sampai hamil anak mas, terus semua teman-teman mas pada tau, karyawan-karyawan mas, dan juga semua klien-klien bisnis mas, kalau Tania ini, ternyata istri mas! Apalagi, dengan posisi dan jabatan mas di Kantor sekarang ini, yang sedang bagus-bagusnya!"
"T_Tania benar-benar nggak mau mas!" Ucapnya lagi, mencoba untuk menjelaskannya seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum heran, kesel, dan tak habis pikir lagi dengan alasannya itu.
"Ya emang kenapa, sayang? Emang apa hubungannya? Dengan kamu hamil, dan posisi jabatan mas sekarang ini, di Kantor?" Ucapnya.
"Lagian, kalau sampai semua teman-teman mas, karyawan-karyawan mas, dan juga semua klien-klien bisnis mas tau, kalau kamu ini istri mas, emang kenapa?" Ucapnya lagi.
"K_kok, emang kenapa sih, mas?" Ucap Tania, bingung.
"Ya jelas lah mas, Tania nggak mau!"
"Kalau nanti, reputasi mas itu sampai hancur gimana?"
"Gara-gara mereka semua tau, kalau mas ini punya istri yang statusnya masih pelajar, kayak Tania!"
"Yang kelakuannya,,,," seketika ia pun langsung terdiam, sambil menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Brutal, ceroboh, centil, bawel, manja, dan nggak bisa diatur!"
"Seperti apa yang pernah mas peringatin sama Tania, pas waktu pertama, Tania ini magang di perusahaan mas!" Ucapnya lagi, yang ternyata benar-benar masih mengingat betul semua ucapan Bara suaminya, pada waktu itu.
"T_Tania bener-bener nggak mau mas! Tania bener-bener nggak mau, kalau cuma gara-gara Tania, sampai menghancurkan semua reputasi mas!"
"Tania bener-bener nggak mau, mas!" Ucapnya lagi serius, yang ternyata dari tadi sedang panik memikirkan hal tersebut. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung terdiam, sambil menatap dalam wajah cantiknya.
"Kasihan kamu Tania, ternyata kata-kata kasar mas pada waktu itu, yang sebenarnya tidak serius sama sekali, untuk mas ucapkan ke kamu, benar-benar masih teringat dengan baik diingatan kamu, dan bahkan menjadi beban untuk kamu, sampai sekarang!" Ucapnya dalam hati, yang benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya. Karena ternyata, ia mengucapkan semua itu tidak lah serius. Karena tidak mungkin untuknya, semua itu akan menghancurkan reputasi nya, sebagai Presdir di perusahaannya.
"M_mas udah tau kan sekarang, apa alasan Tania?" Ucap Tania.
"J_jadi sekarang, mas udah nggak marah lagi kan, sama Tania?"
"Tania ini bukannya nggak mau mas, hamil anak mas, apalagi sampai nyesel karena udah ngasih keperawanan Tania ini, ke mas!"
"Nggak mas!"
"Tania tadi ngomong kayak gitu ke mas, karena Tania ini nggak mau mas, kalau nanti reputasi mas sebagai Presdir sampai hancur, gara-gara mas punya istri kayak Tania!"
"Yang kelakuannya brutal, ceroboh, centil, bawel, manja, dan nggak bisa diat,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, Bara suaminya itu pun langsung memeluknya.
"Sssssstttt! Udah sayang, udaaaah! Kamu ngomong apa, siiiiih?" Ucapnya sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian, ia pun langsung menatap dalam wajah cantiknya.
"Nggak sayang, nggak! Kamu nggak brutal, nggak ceroboh, nggak cerewet, nggak manja, nggak centil, dan kamu juga, bisa diatur kok!" Ucapnya lagi, sambil tersenyum.
"Karena kamu ini, istri kecil kesayangan mas!"
"Istri kecil kesayangan mas, yang sekarang udah gede, niiiiih!" Ucapnya lagi, sambil tersenyum dan mencubit gemas hidungnya.
"Iiiiiihhhh! Mas Baraaaa, sakiiiiit! Jangan cubit-cubit, hidung Tania teruuuuus!" Rengek Tania, dengan sangat manjanya.
"Uuuuuh, kasihaaaan! Sakit yah, sayang? Maaf, yaaaah!" Ucap Bara, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang. Yang kemudian, langsung dijawab oleh Tania, hanya dengan menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Oh iya mas Bara, kata mas Bara tadi, Tania ini sekarang, 'istri kecil kesayangan mas, yang sekarang udah gede?'"
"Berarti sekarang, Tania ini udah gede dong mas? Udah nggak kecil lagi?" Ucapnya lagi.
"Ya udah dong sayaaaang, kamu ini sekarang udah gede, udah dewasa!" Ucap Bara lagi, sambil tersenyum. Kemudian, ia pun langsung berbisik, tepat ditelinganya.
"Soalnya, istri kecil kesayangan mas ini kan sekarang, udah bisa bikin Dede Bayi, sama udah tau yang enak-enak nih!" Bisiknya, sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiiiihhhh, mas Baraaaa!" Rengek Tania lagi, malu.
__ADS_1
#######
Maaf jika Visualnya kurang pas 🙏