Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 18.


__ADS_3

Pagi pun tiba,,,,,,,


MASIH DI RUMAH IBU RISMA.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.


Terlihat Ibu Risma, Bara, Tania, dan juga Raya yang dari tadi sedang sarapan bersama di ruang makan.


"Tania, mata kamu kenapa sayang? Kok kelihatan sembab gitu!" Ucap Ibu Risma yang baru sadar kalau ternyata mata Tania menantu tersayangnya itu dari tadi terlihat sangatlah sembab.


"Aduuuuh! Kenapa mamah harus nanya kayak gitu sih?" Ucap Bara dalam hati panik.


"Oh e_ nggak kok mah, m_ mata Tania nggak papa!" Ucap Tania gugup, kemudian ia pun langsung terdiam sambil melirik ke arah Bara suaminya yang sedang duduk tepat dihadapannya, dengan tatapan mata yang sangat sinis, karena sepertinya sekarang ini ia benar-benar sangat benci kepadanya.


"Tau nih mamah cantik, sebenarnya mamah cantik ini kenapa sih? Dari semalaman juga mamah cantik ini nangis terus!" Ucap Raya, dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga membuat Ibu Risma pun bingung mendengarnya.


"Nangis terus? Maksudnya?" Ucapnya.


"Iya Oma, dari semalaman itu mamah cantik ini nangis terus!" Ucap Raya lagi.


"Kok Raya bisa tau kalau dari semalaman mamah cantik ini nangis terus?" Ucap Ibu Risma semakin penasaran sambil menatap kearah Tania yang terlihat sangatlah gugup.


"Oh i_ Itu mah, s_ semalam itu Tania, emmmm? S_semalam itu,,,,," seketika ucapannya itu pun terpotong.


"Semalam itu, itu Om! Semalam itu mamah cantik bobonya pindah ke kamar Raya sambil nangis-nangis!" Ucap Raya serius, karena ternyata semalam itu setelah Tania itu puas teriak-teriak diatas gedung rumah Bara suaminya itu, ia langsung turun kembali ke bawah dan ikut numpang tidur di kamar Raya putrinya, ia tidak mau kembali tidur di kamar Bara suaminya, karena ia benar-benar masih sangat sakit hati dengan perlakuannya itu semalam, apa lagi saat mendengar ucapannya yang mengatakan 'kalau sampai kapanpun dirinya itu tidak akan pernah bisa menggantikan Rika mantan istrinya di hatinya!' perasaannya pun semakin tak karuan dan bercampur aduk rasanya.


"Aduuuuh! Kenapa Raya harus ngomong kayak gitu sih sama mamah, bisa-bisa mamah marah nih kalau kayak gini caranya!" Ucap Bara dalam hati semakin panik.


"Tania, apa bener kata Raya tadi! Semalam itu kamu pindah tidur dikamar Raya sambil menangis-nangis semalaman?" Ucap Ibu Risma lagi dengan sangat tegas, sehingga membuat Tania pun semakin gugup dibuatnya.


"Oh i_ itu mah, s_ semalam Tania, i_ itu,,,,,," Seketika ia pun langsung terdiam, karena ia bingung harus menjawab apa kepadanya, ia tidak mungkin membohongi ibu Risma mertuanya yang sudah sangat menyayanginya, namun ia juga tidak bisa jujur kepadanya, karena ia tidak mau kalau sampai ibu Risma mertuanya itu tau tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi antara ia dan Bara semalam, karena ia takut kalau sampai ibu Risma mertuanya itu mengadu kepada kedua orangtuanya yang nantinya akan membuat kedua orangtuanya itu banyak pikiran.


"Tania, kamu kenapa diem? Jawab mamah sayang! Apa bener kata Raya tadi, semalam kamu itu pindah tidur di kamar Raya sambil menangis-nangis semalaman?" Ucap Ibu Risma mencoba untuk menanyakannya lebih tegas lagi, sehingga membuat Tania pun tak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya ia pun menjawabnya dengan jujur.


"I_ iya mah!" Ucapnya.


"Kok bisa sih sayang, kamu sampai pindah tidur di kamar Raya sambil menangis-nangis semalaman?" Ucap Ibu Risma kaget dan sedikit kesal.


"Apa semua itu karena ulah mas Bara?" Ucapnya lagi yang justru langsung curiga kepadanya, karena ia tau betul kalau Bara putranya itu sangat tidak suka dengannya.


"M_ mamah, mamah ini apa-apa sih?" Ucap Bara gugup.


"Udah deh Bara! Kamu nggak usah bohongin mamah! Karena mamah ini tau, pasti kamu yang semalam udah bikin Tania pindah tidur ke kamar Raya sambil menangis-nangis semalaman!" Ucap Ibu Risma dengan sangat yakin.


"Pokoknya yah Bara, mamah ingetin sama kamu! Jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi! Awas aja yah kalau sampai kejadian seperti itu terulang lagi, apalagi kalau mamah sampai mendengar atau melihat dengan mata kepala mamah sendiri, kamu sampai bertengkar dengan Tania, apalagi sampai tidur pisah ranjang lagi dengan dia kayak semalam, mamah nggak akan segan-segan untuk laporin perbuatan kamu ini sama papah Ilham dan juga sama mamah Savira!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengancamnya seperti itu.


"Eh j_jangan mah, jangan! I_ia mah, Bara janji! Bara nggak akan pernah bertengkar lagi sama Tania! Apalagi sampai tidur pisah ranjang lagi kayak semalam, Bara janji mah!" Ucapnya serius, ia menjawabnya seperti itu bukan karena ia takut, akan tetapi karena ia benar-benar merasa tidak enak kepada Pak Ilham dan juga Ibu Savira, jika sampai benar Ibu Risma mamahnya itu mengadukan masalah tersebut kepadanya.


"Mamah pegang janji kamu itu!" Ucap Ibu Risma dengan sangat tegas.


"Ya udah, lebih baik sekarang kamu antar Raya ke sekolah gih! Sekalian juga Tania ini ikut berangkat bareng sama kamu! Soalnya mulai dari hari ini, Tania ini udah mulai magang!" Ucapnya lagi langsung menyuruhnya seperti itu, sehingga Tania yang dari tadi sedang duduk disampingnya pun bingung mendengarnya.


"K_kok mamah Risma bisa tau, kalau mulai hari ini, Tania ini udah mulai magang?" Ucapnya.


"Oh, i_itu sayang! T_tadi itu, eemmm? Mamah kamu yang kasih tau mamah! Kalau mulai dari hari ini, katanya kamu ini udah mulai magang! I_iya bener! T_tadi itu mamah kamu yang kasih tau mamah kayak gitu!" Ucap Ibu Risma dengan sangat gugup, namun entah apa yang sebenarnya sudah membuatnya bisa sampai segugup itu.

__ADS_1


"Oooh gitu," ucap Tania sambil tersenyum.


"I_iya sayang," ucap Ibu Risma.


"Udah Bara! Lebih baik sekarang juga cepetan kamu antar Raya ke sekolah! Sekalian juga kamu anter Tania ini magang!" Ucap Ibu Risma lagi-lagi menyuruhnya seperti itu.


"Aduh maaaah, nggak bisa mah! Kan mamah juga tau sendiri! Kalau pagi ini Bara itu ada meeting penting di luar dengan klien Bara! Jadi Bara ini nggak bisa mampir kesana mampir kesini mah! Soalnya waktunya udah mepet!" Ucap Bara serius kalau pagi ini ia memang ada meeting penting di luar dengan klien bisnisnya.


"Ya udah nggak papa kok mah, Tania bisa kok berangkat sendiri! Lagian kan sekarang ini Tania juga belum tau, perusahaan tempat Tania magang itu dimana?" Ucapnya serius, kalau sampai sekarang pun ia belum tau di perusahaan mana ia itu akan magang.


"Loh kok bisa gitu sih sayang? Nanti kalau kamu nyasar gimana?" Ucap Ibu Risma sedikit panik.


"Udah mah, mamah enggak usah panik! Sebentar lagi juga temen-temen Tania serlok Alamat perusahaannya kok ke Tania!" Ucap Tania.


TING! Dengan secara tiba-tiba ponselnya itu pun berdering karena ada pesan masuk.


"Nah, ini temen-temen Tania udah serlok alamat perusahaannya mah!" Ucapnya sambil membaca pesan masuk tersebut.


"Ya udah yah mah, Tania berangkat magang sekarang!" Ucap Tania sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah mendekat ke arah Raya.


"Raya sayaaang, mamah cantik berangkat magang dulu yah?" Ucapnya lagi.


"Baik-baik yah disekolah! Ingat! Jagan suka ribut sama temen-temen!" Ucapnya lagi mencoba untuk memberinya pesan seperti itu sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Oke mamah cantik!" Ucap Raya sambil tersenyum dengan penuh semangat.


"Pinteeer!" Ucap Tania yang juga ikutan tersenyum, namun dengan secara tiba-tiba ia pun langsung terdiam sambil menatap sinis kearah Bara suaminya.


"Mas Bara, Tania berangkat dulu!" Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Ya udah yah semuanya, Tania berangkat dulu!" Ucap Tania lagi, kemudian ia pun langsung melangkah menuju pintu keluar rumah tersebut, namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba ia melihat dan mendengar seorang lelaki dan perempuan yang sedang ribut di dalam rumah tersebut sambil melangkah masuk menghampirinya.


"Udah sayang, udah! Kamu nggak perlu mempermasalahkan masalah ini terus sama mamah!" Ucap seorang lelaki tersebut mencoba untuk menasehatinya.


"Nggak mas, nggak! Pokoknya masalah ini akan tetap aku permasalahkan! Sebelum mamah itu bisa bersikap adil sama aku!" Ucap seorang perempuan tersebut dengan nada yang terdengar sangat marah, sehingga Ibu Risma, Bara, dan Raya pun kaget dan bingung mendengarnya.


"Tania, ada apa? Kok kayak ada orang yang lagi pada rib,,,,,," seketika ucapannya itu pun terpotong.


"Jangan sayang, jangan! Mas bilang jangan mempermasalahkan masalah ini terus sama mamah!" Teriak seorang lelaki tersebut yang sekarang ini sudah berada tepat di hadapan mereka semua.


"Awas mas, lepasin! Pokoknya sampai kapanpun, sebelum mamah itu bisa berlaku adil sama aku, aku akan tetap mempermasalahkan masalah ini!" Teriak seorang perempuan tersebut yang tetap kekeuh dengan pendirinya itu.


"Mas bilang jangan sayang, jang,,,,,,," seketika teriakan seorang lelaki tersebut pun terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Ibu Risma, Bara, Tania, dan Raya yang sedang menyaksikan pertengkaran mereka itu.


"M_mamah, B_Bara,,,," ucapnya gugup dan panik.


"Ada apa ini Aldo, ada apa?" Ucap Ibu Risma dengan sangat tegas, ia menyebutkan nama Aldo, karena seorang lelaki tersebut memang bernama Aldo. Iya Aldo, Aldo yang tak lain adalah menantunya, suami dari Ayu kakak kandung dari Bara, dan anak pertama dari pasangan Pak Arga dan juga Ibu Risma.


"Oh n_nggak mah, n_nggak ada papa kok! A_Aldo sama Ayu cuma lagi ribut masalah kecil!" Ucap Aldo gugup dan berbohong, sehingga membuat Ayu istrinya itu pun semakin emosi dibuatnya.


"Mas, mas ini apa-apaan sih mas!" Ucapnya marah.


"Aku itu sengaja loh mas pulang cepat-cepat dari Jepang, karena aku ini mau meminta keadilan ini sama mamah!" Ucapnya lagi.


"Iya mas juga tau sayang, tapi sekarang ini keadaan kamu ini tuh lagi capek, kamu ini lagi emosi! Jadi lebih baik kita omongin masalah ini sama mamah nanti aja, yah?" Ucap Aldo mencoba untuk menasehatinya lagi.

__ADS_1


"Nggak mas, nggak! Pokoknya aku mau ngomongin masalah ini sekarang! Mumpung semuanya sekarang udah pada kumpul disini!" Ucap Ayu lagi sambil menatap kearah Bara dan Ibu Risma, dengan tatapan mata yang penuh dengan dendam.


"Mah, mamah ini apa-apaan sih mah, hah? Mamah ini apa-apaan! Kenapa mamah mengalihkan semua perusahaan papah menjadi atas nama Bara disaat aku nggak ada di Indonesia mah? Disaat aku sedang mengurus bisnis keluarga kita di Jepang! Bahkan sedikit pun mamah itu nggak pernah minta persetujuan terlebih dahulu dari aku! Kenapa mah, kenapa?" Teriaknya dengan penuh emosi. Ia berbicara seperti itu karena memang benar, kalau Ibu Risma mamahnya itu sudah mengalihkan semua perusahaan milik Pak Arga Almarhum suaminya itu menjadi atas nama Bara, tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu, bahkan disaat ia sedang mengurus-ngurus bisnis keluarganya itu di Jepang, karena ternyata itu juga adalah salah satu permintaan terakhir dari Almarhum Pak Arga suaminya.


"Mah, mamah ini tau nggak sih, hah? Mamah ini tau nggak? Yang seharusnya jadi pemilik dan Presdir di perusahaan keluarga kita ini, aku mah! Aku!" Teriaknya lagi tak terima dengan keputusannya itu, karena menurutnya ia lah yang lebih pantas untuk menerima jabatan tersebut.


"Karena apa? Karena aku dan mas Aldo yang dari dulu udah capek menjalankan bisnis keluarga kita ini setelah papah meninggal mah!" Ucapnya lagi.


"Tapi sekarang dengan seenaknya mamah malah mengalihkan semua perusahaan milik papah ini menjadi atas nama Bara?" Ucapnya lagi tak percaya dengan keputusan dari Ibu Risma mamahnya itu.


"Mah, mamah itu sebenarnya sadar nggak sih, hah? Mamah itu sadar nggak? Bara itu dari dulu, bahkan dari dia sejak masih kecil itu nggak pernah ada waktu sedikitpun buat keluarga kita dan juga perusahaan kita ini mah! Nggak ada! Dia itu hanya bisa mentingin dirinya sendiri dan perusahaannya di Surabaya! Dia itu hanyalah seorang adik yang egois mah! Dia itu hanyalah seorang adik saya eg,,,,,,,,," seketika teriakannya itu pun terpotong, PLAKKKKK! Karena dengan secara tiba-tiba Ibu Risma pun langsung menamparnya.


"Cukup Ayu! Cukup!" Teriaknya yang benar-benar sudah sangat terpancing emosinya.


"Kamu ini bener-bener nggak punya hati yah? Berbicara sekasar itu tentang adik kamu sendiri!" Ucapnya lagi.


"Emang kenapa mah kalau Ayu berbicara sekasar itu! Emang kenyataannya Bara itu kayak gitu kan mah! Bara itu egois, Bara itu dari dulu hanya bisa mentingin dirinya sendiri!" Ucap Ayu lebih jelas lagi menyebutnya seperti itu, sehingga membuat Ibu Risma pun semakin terpancing lagi emosinya.


"Kamu ini bener yah Ayu! Kamu ini bener-bener!" Teriaknya sambil mencoba untuk menamparnya lagi.


"Tampar mah! Tampar! Tampar lagi sampai mamah puas!" Teriak Ayu dengan penuh emosi.


"Udah mah, udah! Bara nggak papa kok mah, Bara nggak papa!" Ucap Bara mencoba untuk menenangkan emosi Ibu Risma mamahnya itu.


"Nggak Bara, nggak! Kakak kamu ini bener-bener keterlaluan menilai kamu dengan kata-kata kasarnya itu!" Teriak Ibu Risma lagi, kemudian ia pun langsung melangkah lebih dekat lagi kearahnya.


"Ayu, kamu pikir dari tadi kamu ngributin masalah kayak gini itu pantas, hah? Kamu pikir pantas?" Ucapnya.


"Kamu itu mikir nggak sih? Disini itu ada Tania! Dia itu masih anggota baru di keluarga kita! Pasti sekarang ini dia itu trauma banget mendengar pertengkaran keluarga kita ini!" Ucapnya lagi mencoba untuk menasehatinya seperti itu, karena ia benar-benar merasa sangat tidak enak kepada Tania menantu barunya itu, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah untuk menghampirinya.


"Tania sayang, maafin mamah yah? Kalau kejadian ini membuat kamu jadi nggak nyaman untuk tinggal disini!" Ucapnya.


"I_iya mah, n_nggak papa kok!" Ucap Tania gugup, karena ia lah yang justru benar-benar merasa sangat tidak enak kepada semuanya.


"Ya udah, lebih baik sekarang kamu berangkat yah! Ini kan hari pertama kamu magang, nanti kamu telat lagi!" Ucap Ibu Risma mencoba untuk menyuruhnya seperti itu.


"I_iya mah," ucap Tania, kemudian ia pun langsung melangkah kembali menuju pintu keluar rumah tersebut, meninggalkan mereka semua yang masih terus berdebat didalam rumah tersebut.


"Oh iya mah, satu lagi! Ayu nggak setuju yah mah dengan pernikahan Bara dan Tania!" Ucap Ayu, dengan secara tiba-tiba ia memberikan pendapat seperti itu kepada Ibu Risma mamahnya, sehingga membuatnya pun semakin emosi dibuatnya.


"Apa kamu bilang? Kamu nggak setuju dengan pernikahan Bara dan Tania?" Ucapnya.


"Kamu itu nggak ada hak! Kamu itu nggak ada hak untuk memberikan pendapat seperti itu kepada pernikahan Bara dan Tania!" Ucap Ibu Risma.


"Emang kenapa mah? Emang kenapa Ayu ini nggak ada hak dengan pernikahan Bara dan Tania? Ayu ini kakak Bara loh mah! Ayu ini kakak Bara! Jadi Ayu ini berhak memilih siapa pasangan yang cocok buat Bara, dan siapa pasangan yang nggak cocok buat Bara!" Ucap Ayu dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu.


"Dan Ayu nggak setuju, Bara itu menikah dengan Tania, putri dari Om Ilham!" Ucapnya lagi.


"Karena apa? Karena Ayu nggak mau kalau sampai keluarga kita, apalagi sampai perusahaan kita itu terkena masalah, dan ikut terkena dampaknya, hancur reputasinya, gara-gara mamah menerima menantu dari anak koruptor kaya Tania!" Ucapnya.


"Dan lagian kalau menurut Ayu, sejak Om Ilham itu tersandung kasus korupsi, Om Ilham juga sekarang udah nggak sekaya dulu lagi kan mah! Jadi apa yang bisa Bara harapkan dari seorang istri, dari anak seorang koruptor kayak Tania!" Ucapnya lagi.


"Cukup Ayu! Cukup! Om Ilham itu bukan koruptor! Om Ilham itu hanya lah korban! Karena Om Ilham itu dulu dijebak sama rekan-rekan bisnisnya! Dan kenyataannya kamu juga lihat sendiri kan? Om Ilham itu dinyatakan tidak bersalah!" Ucap Ibu Risma dengan sangat jelas menyebutnya seperti itu. Ia berbicara seperti itu karena ternyata beberapa tahun yang lalu, Pak Ilham itu memang pernah tersandung kasus korupsi, karena dijebak oleh rekan-rekan bisnisnya, bahkan dengan adanya kasus korupsi tersebut, membuat bisnis Pak Ilham yang pada saat itu sedang sukses-suksesnya menurun drastis hingga sampai sekarang, dan bahkan dengan adanya kasus korupsi tersebut, membuat seluruh keluarganya itu menjadi sangat down! Terutama Tania yang pada saat itu masih duduk di bangku SMP, yang pada saat itu banyak sekali teman-teman disekolahannya yang membuli dan menghujatnya, bahkan sampai sekarang pun terkadang ia masih sering mendengar bulian dan hujatan tersebut ditelinganya.


"Lagian mamah ini bener-bener heran deh sama kamu! Kamu ini ingat nggak sih, hah? Kamu ini ingat nggak? Dulu keluarga kita ini juga seperti apa disaat perusahaan kita sedang bangkrut? Dulu kita ini hampir nggak punya tempat tinggal! Bahkan untuk makan dan mebayar sekolah kamu saja, mamah sama papah itu sampai ngutang kesana-kesini! Bahkan diantara teman-teman bisnis papah, nggak ada satu pun yang membantu keluarga kita ini dengan tulus, kecuali keluarga Om Ilham! Dia yang sudah mendonorkan dananya untuk perusahaan kita, sampai perusahaan kita akhirnya bisa sesukses seperti sekarang ini, dia yang sudah membantu untuk menebus rumah kita dari pihak Bank, hingga akhirnya kita ini bisa mempunyai tempat tinggal sampai sekarang ini, bahkan dia juga yang sudah membantu keuangan keluarga kita, untuk keseharian kita, dan bahkan untuk biaya sekolah kamu sampai akhirnya kamu ini bisa menjadi perempuan sukses seperti sekarang ini! Tapi setelah kamu sesukses ini, dengan teganya kamu menghujat kelurga Om Ilham dengan kata-kata kasar kamu itu?" Ucap Ibu Risma panjang lebar, ia mencoba untuk memberi tahu kepada anak-anaknya, betapa berjasanya keluarga pak Ilham itu dulu untuk keluarganya, sehingga membuat Bara yang dari tadi sedang mendengarkan ucapannya itu pun seketika langsung terdiam.

__ADS_1


"Ternyata, keluarga Om Ilham itu dulu segitu berjasanya untuk mamah dan juga papah! Pantas aja sekarang ini mamah sesayang itu sama Tania!" Ucap Bara dalam hati sambil mencoba untuk terus merenungi ucapan Ibu Risma mamahnya itu.


__ADS_2