
DI RUANG KELUARGA.
Waktu menunjukkan pukul 12:00 Siang.
Terlihat ibu Savira yang dari tadi sudah duduk kembali di ruangan tersebut, bersama dengan pak Ilham, suaminya. Namun selama ia duduk di ruangan tersebut, gelagatnya itu terlihat sangatlah aneh.
"Mah, mamah ini kenapa sih? Perasaan dari sejak mamah keluar dari kamar Tania, mamah jadi aneh banget kayak gitu?" Ucap Pak Ilham, bingung.
"Oh n_nggak kok pah, mamah nggak kenapa-kenapa!" Ucap Ibu Savira, berbohong. Karena sebenarnya dari tadi itu, ia masih mengingat betul kejadian yang baru saja ia alami, di dalam kamar Tania, Putri tersayangnya.
"Nggak papa gimana? Orang dari tadi, mamah kelihatan aneh banget kayak gitu, kok!" Ucap Pak Ilham, tak percaya.
"Ya ampun paaaah, mamah ini beneran kok! Mamah ini nggak pap,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, ia melihat Bara dan Tania, yang baru saja turun dari dalam kamarnya, dan sedang berjalan menghampirinya.
"Iiiiiihhhh mas Baraaaa, Tania malu maaaas! Tania malu, sama mamaaah!" Rengek Tania pelan, sambil memeluk lengan Bara suaminya itu, dengan sangat erat. Karena ia pun sama seperti ibu Savira mamahnya, sekarang ini, ia benar-benar merasa sangat malu, dan benar-benar masih mengingat betul kejadian tadi.
"Sssstttt! Udah sayaaaang, ngapain harus malu sih? Kita ini kan nggak lagi ngelakuin perbuatan dosa! Sekarang ini kan, kita udah menikah!" Ucap Bara, mencoba untuk menasehatinya seperti itu, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, ia pun terlihat terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya itu, di hadapan Pak Ilham dan juga Ibu Savira, mertuanya.
"Y_ya iya sih mas, Tania juga tauuuuu! Tapi Tania tetep aja, maluuuuu!" Rengek Tania lagi.
"Udah sayang, udaaaah! Kamu nggak usah malu-mal,,,,," seketika ucapan Bara pun, langsung terpotong.
"Eeeeh! Bara, Tania, kalian berdua udah pada turun?" Ucap Pak Ilham.
"I_iya pah, udah!" Ucap Bara sambil tersenyum, dengan sangat ramah. Kemudian, ia pun langsung melanjutkan langkahnya kembali, untuk menghampiri mereka berdua, sambil terus menggandeng tangan Tania, istrinya.
"Ya udah kalau gitu! Ayo sekarang juga, kita makan siang bersama!" Ucap Pak Ilham lagi, yang langsung saja mengajak mereka berdua, untuk makan siang bersama-sama.
"Iya Bara, Tania, ayo sekarang juga, kita semua makan siang bersama!" Sambung Ibu Savira, yang mencoba untuk biasa saja, dan mencoba untuk melupakan kejadian yang baru saja terjadi itu.
"Kebetulan, mamah juga tadi udah nyuruh bi Iroh, untuk masakin makanan kesukaan kalian berdua!" Ucapnya lagi serius, sambil tersenyum.
"I_iya mah, makasih!" Ucap Bara dan Tania secara bersamaan. Kemudian, mereka berdua pun langsung melangkah bersama dengan kedua orangtuanya itu, menuju ruang makan tersebut. Namun baru juga mereka semua melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Selamat siang, tante Saviraaaa!" Sapa Nita, Tari, dan juga Sinta secara bersamaan, yang baru saja masuk, ke dalam rumah tersebut.
"Selamat siang, om Ilhaaaam,,"
"Taniaaaaa," Sapa mereka bertiga lagi secara bersamaan, sambil tersenyum.
"S_sinta, Tari, Nita?" Ucap Tania kaget dan tak percaya, melihat semua teman-teman segeng nya itu, berkunjung ke rumahnya. Kemudian, ia pun langsung buru-buru berlari menghampirinya, dan langsung memeluknya.
"Eeeemmm! Sinta, Nita, Tari, aku udah kangen banget, sama kaliaaaaan!" Rengeknya, yang mencoba untuk melepaskan rasa rindu nya itu, kepada semua teman-temannya.
"Sama Tania, kita semua juga udah pada, kangen banget sama kamuuuuuu!" Jawab mereka semua secara bersamaan, yang terdengar sangat lah heboh dan juga sangatlah rempong. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung tersenyum dingin dibuatnya.
"Dasar anak-anak!" Ucapnya dalam hati.
"Eh, t_tapi tunggu dulu! K_kalau nggak salah, anak_anak itu! Anak-anak itu kan, bukannya anak-anak, yang juga magang di Kantor aku?"
Ucapnya lagi dalam hati, yang baru menyadari, siapa sebenarnya mereka semua. Kemudian, ia pun langsung menghela nafas pelan, dan membuangnya kasar. Karena ia tau betul, seperti apa berisik dan bawelnya mereka semua, jika sudah berkumpul.
"Y_ya ampun Taniaaa! Keadaan kamu baik-baik aja kan, sekarang? Kamu nggak papa kan?" Ucap Sinta, panik.
"Iya Tania, keadaan kamu sekarang ini, baik-baik aja kan? Preman-preman yang kemarin, nggak berhasil ngapa-ngapain kamu kan?" Sambung Tari, yang juga panik.
"Iya Tania, keadaan kamu sekarang ini, baik-baik aja kan?" Sambung Nita. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeriksa keadaannya sekarang ini.
"Gila yah, itu preman-preman! Sebenarnya preman-preman itu, siapa sih? Beraninya sama perempuan!"
"Coba aja, kalau gue kemaren ada disitu! Udah habis itu preman-preman, gue hajar!" Ucapnya lagi, yang terdengar sangat lah sok berani. Sehingga Tari yang mendengarnya pun, seketika langsung nyinyir.
"Yeeee! Sok berani banget sih, ini anak!" Ucapnya.
"Dihajar beneran sama itu preman, baru tau rasa loh!" Ucapnya lagi.
"Ya mau gimana lagi, habisnya gue itu gedeg banget tau nggak? Sama itu preman-preman! Beraninya sama perempuan!" Ucap Nita lagi, yang terdengar sangat lah kesal.
"Ya gedeg sih gedeg, tapi kalau loh sampai beneran hajar itu preman, yang ada juga nanti, loh tuh! Yang dihajar balik sama itu preman, nyampe Is dead!" Ucap Tari, yang lagi-lagi berbicara tidak mengenakan ditelinga nya.
"Yaelah, loh Tar! Tega banget sih ngomongnya, sama temen sendiri juga!" Ucap Nita, ngambek.
"Ya lagian, loh sih! Sok berani, jadi anak!" Ucap Tari lagi.
"Ya meskipun gue ini sok berani, seharusnya kan tetep aja, loh nggak boleh ngomong kayak gitu, sama temen loh sendiri!" Ucap Nita.
"Ya emang kenapa, kalau gue ngomong kayak gitu? Mulut-mulut gue!" Ucap Tari.
"Terserah loh aja deh, mau ngomong apa! Emang loh mah gitu orangnya, selalu ngerasa, paling bener sendiri!" Ucap Nita serius, kalau Tari sahabatnya itu ,memang selalu seperti itu, dan bahkan mereka berdua juga cukup sering ribut.
"Sssssstttt, udah udah! Kok kalian malah jadi pada ribut kayak gini, sih?" Ucap Sinta, mencoba untuk melerainya.
"Iya bener banget, kok kalian malah jadi pada ribut kayak gini, sih?" Sambung Tania, yang dari tadi masih berdiri tepat dihadapan mereka semua. Kemudian, ia pun langsung melangkah lebih dekat lagi, ke arah mereka bertiga.
"Udah! Tari, Nita, kalian berdua nggak boleh pada ribut terus! Lagian emang kalian berdua,lupa? Kita semua ini kan, bestieee!" Ucapnya lagi sambil tersenyum, mengingatkan hal seperti itu, kepadanya. Sehingga mereka bertiga yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum.
"Eeeemmm, Taniaaaaa!" Rengek mereka bertiga secara bersamaan, sambil buru-buru memeluknya bersama-sama dengan begitu eratnya, dan terlihat seperti anak-anak kecil yang baru saja berantem, lalu baikkan. Sehingga Bara yang dari tadi masih memperhatikan mereka pun, lagi-lagi langsung menghela nafas pelan, dan membuangnya kasar.
"Ya Tuhaaaan!" Ucapnya dalam hati, yang terlihat sangat pusing dan heran melihat tingkah lakunya itu. Sehingga Ibu Savira yang melihatnya pun, seketika langsung tersenyum.
__ADS_1
"Sabar yah, Bara! Kelakuan mereka itu, memang selalu kayak gitu! Kayak anak kecil!" Ucapnya yang tau betul, apa yang sedang Bara menantunya itu, rasakan sekarang ini.
"Maklum lah, namanya juga anak-anak masih sekolah! Jadi kelakuannya, masih pada labil!" Ucapnya lagi.
"Oh, i_iya mah!" Ucap Bara.
"Iya Bara, sabar yah!" Sambung pak Ilham, yang dari tadi masih berdiri, tepat di sampingnya.
"Mereka itu memang suka kayak gitu, kalau udah pada ngumpul disini! Pada berisik! Udah pada nganggap kalau rumah ini tuh, rumah mereka sendiri! Papah aja kadang-kadang, suka ke berisikan sama mereka!" Ucapnya lagi serius, sambil tersenyum. Ia berbicara seperti itu, karena memang benar, mereka semua memang selalu seperti itu, disetiap mereka semua sedang bermain ke rumahnya, dan bahkan mereka semua pun mengaggap kalau rumahnya itu, adalah rumah mereka sendiri. Karena memang ia dan Ibu Savira istrinya lah, yang meminta mereka semua untuk seperti itu. Karena yang terpenting baginya, Tania, Putri tersayangnya itu bisa bahagia, dan bisa mempunyai teman-teman yang tulus menyayanginya.
"Oh, i_iya pah!" Ucap Bara lagi. Kemudian, ia pun langsung terdiam, sambil menatap kearah Tania istri tersayangnya, yang sekarang ini pun, masih berpelukan dengan ketiga temannya.
"Tapi kenyataannya, kamu memang terlihat bahagia banget, bareng sama mereka!" Ucapnya dalam hati, sambil tersenyum memperhatikan betapa bahagianya, raut wajah Tania, istri tersayangnya itu, sekarang ini.
"Kamu tenang aja, sayang! Mas nggak akan pernah ngelarang kamu, untuk berteman dengan siapa pun! Asal kan kamu bahagia, dan kamu juga bisa mempunyai teman-teman yang baik, yang selalu sayang sama kamu, mas nggak akan pernah, ngelarang kamu!"
"Karena sebisa mungkin, mas akan menebus semua kesalahan-kesalahan mas yang dulu! Karena mas udah mengingkari janji kita dulu, dan sudah membiarkan kamu tersiksa sendiri, melawan masa lalu kamu!" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya, sambil terus menatap dalam wajah cantiknya.
"Oh iya! Tapi ngomong-ngomong, kok kalian bisa tau sih? Kejadian kemarin, antara aku sama preman-preman itu?" Ucap Tania, yang tiba-tiba bertanya seperti itu, kepada ketiga temannya. Sehingga ketiga temannya itu pun, seketika langsung tersenyum, sambil menatap ke arah ibu Savira. Karena ternyata, Ibu Savira lah yang memberitahu mereka bertiga, tentang kejadian tersebut, dan bahkan ternyata, Ibu Savira juga yang sudah menyuruh mereka bertiga untuk datang ke rumahnya, untuk menghibur Tania Putri tersayangnya itu, karena ia benar-benar takut, kalau sampai terjadi sesuatu lagi kepadanya, seperti dulu.
"Mamaaah! Pasti mamah yah, yang udah kasih tau, mereka?" Ucap Tania, sambil tersenyum.
"Iya sayang, mamah yang udah kasih tau, mereka!" Ucap Ibu Savira, yang juga ikut tersenyum.
"Iya Tania, kita semua bisa tau, karena kemarin, tante Savir,,,,," seketika ucap Sinta itu pun, langsung terpotong.
"P_pak Bara!" Ucapnya kaget dan tak percaya, karena ia benar-benar baru menyadari keberadaan Bara, yang tak lain adalah bos nya di kantor tempat ia dan teman-temannya itu magang, ada di dalam rumah tersebut.
"P_pak Bara?" Sambung Nita dan Tari secara bersamaan, bingung.
"M_mana pak Bar,,,,," seketika ucapan mereka berdua pun, langsung terpotong.
"P_pak Bara!" Ucap mereka berdua, yang juga baru menyadari keberadaannya, di dalam rumah tersebut. Kemudian dengan segera, mereka bertiga pun langsung buru-buru menyapanya.
"S_selamat siang, pak Bara!" Sapanya secara bersamaan, sambil menundukkan kepalanya dengan sangat sopan dan hormat. Sehingga Tania yang melihatnya pun, seketika langsung tersenyum lucu, dibuatnya. Karena menurutnya, semua itu sudah tidak berlaku lagi untuknya.
"Siang!" Ucap Bara, yang terlihat sangatlah dingin.
"Gilaaaaa! K_kenapa sih, setiap kali ngeliat pak Bara yang lagi dingin banget kayak gitu! Malah justru kelihatan, semakin tampan?" Ucap Nita, yang benar-benar sangat terpesona dengan ketampanannya.
"Iya, bener banget kata loh! Pak Bara itu, kelihatan semakin tampan banget, kalau lagi dingin banget kayak gitu!" Sambung Tari, yang juga sangat terpana dan terpesona, dengan ketampanannya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung ikut memandangi wajah tampannya.
"Iya, bener banget kata kalian! Mas Bara itu, emang bener-bener tampan banget!"
Ucapnya sambil terus tersenyum, memandangi wajah tampannya.
"A_apa Tan, tadi kamu ngomong apa?" Ucap Sinta gugup, karena saking kaget dan tak percayanya, mendengar ucapannya itu.
"I_iya Tan, tadi loh ngomong apa!" Sambung Tari yang juga benar-benar kaget dan tak percaya.
"Tau nih, Tania! Gue nggak salah denger kan?" Sambung Nita.
"T_tadi kata loh! P_pak Bara, ganteng?"
"S_sejak kapan loh mengakui ketampanan, pak Bara?"
"Bukanya, loh itu sering banget ngomong ke kita-kita yah? Kalau pak Bara itu, jelek!"
"Terus kenapa tiba-tiba, loh ngomong, pak Bara itu ganteng?" Ucapnya lagi, bingung.
"Oh, n_nggak kok! T_tadi aku nggak ngomong, kayak gitu!" Ucap Tania berbohong.
"M_mungkin tadi, kalian salah denger aja kali!" Ucapnya lagi dengan sangat gugupnya. Sehingga Bara, yang memang juga mendengar ucapannya itu tadi pun, seketika langsung tersenyum.
"Gengsi banget sih kamu, sayang! Ngakuin kalau mas ini ganteng, depan teman-teman kamu!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum.
"Oh iya Tania, satu lagi! K_kok Pak Bara, bisa ada disini sih? Emang pak Bara, lagi ngapain? P_pak Bara, lagi nengokin loh?" Ucap Nita lagi, penasaran.
"Oh iya, bener banget Tan! Pak Bara lagi ngapain? Siang-siang bolong, ada disini?" Sambung Sinta, yang juga baru menyadarinya.
"Iya Tan, lagi ngapain Tan?" Sambung Tari.
"P_pak Bara, lagi nengokin loh?" Ucapnya lagi, yang lagi-lagi bertanya seperti itu. Sehingga membuat Tania pun, semakin gugup lagi dibuatnya.
"Oh, eeeemmm? I_itu! P_pak Bara kesini, eeeemmm? I_itu!" Ucapnya.
"I_iya, pak Bara kesini, lagi nengokin, eeeemmmm? L_lagi nengokin,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong.
"Selamat siang, Om Ilham, Tante Saviraaaa!" Sapa Rio, yang ternyata juga ikut berkunjung untuk menjenguk Tania, yang tak lain adalah pujaan hatinya.
"K_kak Rio?" Ucap Tania kaget dan tak percaya, karena ia baru tau, kalau ternyata Rio yang tak lain adalah kakak kelasnya itu pun, ikut juga berkunjung ke rumahnya, untuk menjenguknya.
"R_Rio? S_siapa Rio? Kenapa Tania, kelihatan seneng banget kayak gitu, pas ngeliat bocah ini, datang?"
Ucap Bara dalam hati, yang tiba-tiba seperti terbakar hatinya.
__ADS_1
"Ternyata, kak Rio juga ikut jengukin, Tania?" Ucap Tania lagi, sambil tersenyum.
"Ya iya lah, Tan! Masa kak Rio, nggak ikut jengukin loh?" Ucap Sinta, sambil tersenyum menggodanya.
"Tau nih, Tania! Kan kak Rio nya, udah kangen banget, pengin ketemu sama kamu!" Sambung Tari, yang tiba-tiba juga ikut menggodanya, dengan kata-kata seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, semakin terbakar lagi hatinya.
"A_apa? K_kangen?" Ucapnya dalam hati, kaget.
"S_sebenarnya, itu bocah ingusan, siapa sih? Berani-beraninya, main kangen-kangen aja sama istri gue!" Ucapnya lagi dalam hati, yang terlihat benar-benar sangatlah kesal. Sehingga Tania yang melihatnya pun, seketika langsung merasa tak enak. Karena ia benar-benar takut, kalau sampai Bara suaminya itu, salah paham lagi kepadanya.
"M_mas Bara,,,," ucapnya dalam hati, sambil menatap dalam wajah tampannya. Yang kemudian langsung dijawab olehnya, hanya dengan menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Gimana nih, Tania? Katanya kak Rio nya, kangen nih sama kamu?" Ucap Nita, yang juga ikut-ikutan menggodanya seperti itu.
"Apaan sih, kalian!" Ucap Rio, sambil tersenyum malu.
"I_iya, a_apaan sih, kalian!" Ucap Tania, yang benar-benar merasa sangat risih dengan semuanya. Sehingga Ibu Savira yang melihatnya pun, seketika langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, anak-anak semuanya! Kita ini kan, udah pada kumpul nih, sekarang!" Ucapnya.
"Gimana kalau sekarang, kita semua makan siang bersama?" Ucapnya lagi, yang langsung saja mengajak mereka semua untuk makan siang bersama.
"Nah, bener banget nih, kata mamah! Lebih baik, sekarang kita makan siang bersama!" Sambung, pak Ilham.
"Oh, baik Om! Kebetulan, ini Rio juga bawa makanan kesukaan Tania!" Ucap Rio, yang dengan secara tiba-tiba berbicara seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, benar-benar semakin terbakar lagi hatinya.
"A_apa? Makanan kesukaan?" Ucapnya lagi dalam hati, bingung.
"S_sebenarnya, itu bocah ingusan, punya hubungan apa sih, sama Tania? Gue aja yang suaminya, nggak tau makanan kesukaan Tania itu, apa? Masa bocah ingusan itu, bisa tau sih!" Ucapnya lagi, dalam hati tak terima.
"Nih, Tania! Aku bawain, makanan kesukaan kamu!" Ucap Rio lagi sambil tersenyum, dan langsung memberikan makanan tersebut kepadanya.
"Oh, i_iya kak Rio, m_makasih yah?" Ucap Tania dengan sangat gugupnya. Kemudian lagi-lagi, ia pun langsung menatap kearah Bara suaminya, dengan raut wajah yang semakin tak enak lagi. Namun sayang, lagi-lagi Bara suaminya itu pun, hanya menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya udah ayo, ayo! Lebih baik sekarang, kita ke ruang makan! Kita makan siang, bersama-sama!" Ucap Pak Ilham, sambil berjalan menuju ruang makan tersebut, dan di ikuti oleh semuanya dari belakang.
"T_Tania, ini tempat duduk kam,,,,,," ucap Bara dan Rio secara bersamaan, yang juga sama-sama menawarkan tempat duduk untuknya. Sehingga membuat Tania pun, semakin gugup, dan gugup lagi dibuatnya. Karena ia benar-benar bingung, harus pilih yang mana. Tidak mungkin ia memilih tempat duduk yang Bara suaminya itu tawarkan untuknya, karena ia benar-benar takut, kalau sampai semua teman-temannya itu curiga, dan ia pun tidak mungkin menolak bangku yang Rio tawarkan untuknya, karena semua itu, akan menyakiti hatinya.
"Oh, u_udah nggak usah! Tania, duduk disini aja!" Ucap Tania, yang lebih memilih, untuk memilih tempat duduknya sendiri. Dan ia memilihnya, tepat di samping tempat duduk Bara, suaminya. Sehingga Bara yang dari tadi sedang cemburu pun, seketika langsung tersenyum.
"Ya udah ayo, semuanya makan!" Ucap pak Ilham lagi.
"Iya Om," Jawab mereka semua, secara bersamaan. Hingga akhirnya, mereka semua pun langsung makan bersama. Namun selama mereka semua sedang makan bersama, tiba-tiba Bara pun terlihat mencuri-curi kesempatan.
"Nih!" Ucapnya dengan penuh perhatiannya, sambil memberikan makanan-makanan kesukaan Tania, istrinya.
"Makasiiiih!" Ucap Tania, sambil tersenyum dengan sangat manjanya. Yang kemudian, langsung di jawab oleh Bara, hanya dengan menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Nih!" Ucap Tania, yang juga ikut-ikutan mencuri-curi kesempatan, memberikan makanan-makanan kesukaan untuk Bara, suaminya.
"Iya," ucap Bara, sambil tersenyum.
"Apaan sih mereka berdua, kenapa mereka berdua, jadi romantis banget kayak gitu?" Bisik Nita, iri. Karena ia pun, ingin di perlakukan sama seperti itu, oleh Bara.
"Tau! Gue kan juga mau, di perhatiin kayak gitu, sama pak Bara!" Jawab Tari, sambil cemberut.
"Sssssstttt, udah! Kalian makan, makan aja!" Bisik, Sinta.
"Mungkin Pak Bara perhatian kayak gitu sama Tania, karena sekarang ini kan, Tania lagi sakit!" Bisiknya lagi yang benar-benar mengira, kalau hubungan Tania dan Bara hanya sebatas itu.
"Oh iya Tania, makan yang banyak, nih! Biar kamu, agak gemukan sedikit! Lihat tuh, badan kamu sekarang, sedikit kurus dari biasanya!" Ucap Rio, dengan penuh perhatiannya, sambil mengambilkan makanan-makanan yang ada di meja, untuknya.
"Apaan sih, ini bocah ingusan! Sok perhatian banget sama Tania!" Ucap Bara dalam hati, yang tiba-tiba terbakar lagi hatinya.
"I_iya kak Rio," ucap Tania.
"Oh iya Tania, gimana kalau mulai besok, aku aja yang anterin kamu, berangkat ke kantor?Supaya kamu ini, aman dari gangguan para preman-preman!" Ucap Rio, yang tiba-tiba lagi menawarkan hal seperti itu, kepadanya.
"Bener-bener ini bocah ingusan! Mau ngajak ribut kayaknya, sama gue!" Ucap Bara lagi dalam hati, yang semakin terbakar lagi hatinya.
"Iya bener banget, Tania! Udah mulai besok, lebih baik kamu berangkat ke kantor nya, diantar aja sama kak Rio! Supaya kamu ini, aman dari gangguan para preman!" Sambung Sinta, yang benar-benar khawatir akannya.
"Cieeeee, kak Rioooo!" Ucap Nita, yang langsung saja menggodanya, seperti itu.
"Udah deh Tania, mendingan loh sama kak Rio, pacaran aja!" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba langsung saja menyuruhnya seperti itu. Sehingga Tania yang sedang makan pun, seketika langsung keselek.
"Uhuk!"
"Y_ya ampun Tania, kamu nggak pap,,,," seketika Bara pun langsung terdiam, sambil menaruh kembali satu gelas air putih, yang hendak ia berikan kepadanya. Karena dengan secara tiba-tiba, ia melihat Rio yang sudah tetlebih dahulu memberinya air putih.
"Minum!" Ucapnya, sambil tersenyum.
"M_makasih kak," ucap Tania. Kemudian, ia pun langsung buru-buru meminumnya.
"Udah deh Tania, percaya sama kata-kata gue tadi!" Ucap Nita, lagi.
"Udah, mendingan loh sama kak Rio, pacaran aja! Biar ada seseorang, yang jagain loh! Loh lupain deh, kakak-kakak baik loh itu, yang selalu loh sebut, sebagai pacar di masa lalu loh! Lagian, nggak mungkin juga, pacar di masa lalu loh itu, nemuin loh! Malah bisa jadi, itu pacar di masa lalu loh, udah lupa lagi sama loh!" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba berbicara seperti itu. Sehingga Bara yang merasa, bahwa ia sedang diejek-ejek olehnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Bener-bener yah, ini bocah! Mau dikasih peringatan kali, ngata-ngatain gue kayak gitu!" Ucapnya dalam hati.
"Untung ini bocah, temen baik Tania! Kalau bukan,,,,," seketika ia pun langsung terdiam, dan tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi kepadanya, kalau sampai Nita itu bukanlah teman baik dari Tania, istri tercintanya.
__ADS_1