
"Iya kakak cantik, Om-om ini papah Raya! Papah Raya yang kemarin kakak cantik gambar!" Ucap Raya mencoba untuk menjelaskannya dengan penuh semangat.
"Horeeee! Papah sama kakak cantik mau menikah, hore! Hore! Sebentar lagi kakak cantik beneran mau jadi mamah Raya! Horeeee!" Teriaknya lagi sambil tersenyum kegirangan, sehingga membuat pak Ilham, Ibu Savira dan Ibu Risma pun ikut tersenyum melihatnya.
"Jadi ternyata kalian ini udah pada saling kenal?" Ucap Ibu Savira yang juga ikut bahagia dengan semuanya.
"Ya udah deh bagus kalau gitu! Lebih baik sekarang kita langsung mulai aja acara ijab qobul nya!" Ucap Ibu Risma yang sudah tak sabar ingin cepat-cepat menikahkan putra dan putrinya itu.
"Iya Pak bener, langsung di mulai saja acara ijab qobul nya sekarang yah Pak!" Udah Ibu Savira.
"Baik kalau gitu! Apakah semuanya sudah siap?" Ucap Pak penghulu tersebut yang dari tadi sedang duduk tepat di hadapan mereka semua.
"Sudah Pak, semuanya sudah siap!" Ucap Pak Ilham menjawabnya dengan tegas, hingga akhirnya Pak penghulu tersebut pun langsung buru-buru memulai acara ijab qobul tersebut.
"Maafin mas yah Rika! Bukanya mas bermaksud mau menghiyanati cinta kita! Tapi semua ini mas lakukan demi mamah dan juga Almarhum Papah! Mas bener-bener nggak mau kalau sampai mas ngeliat orang tua mas sendiri sedih karena mas menolak keinginan mereka!" Ucap Bara dalam hati dengan raut wajah yang sangat sedih, karena sebenarnya sekarang ini ia benar-benar tidak tega jika harus menikah dengan perempuan lain selain Rika mantan istrinya itu.
"Aduuuuh! Kenapa gue jadi deg-degan banget kayak gini sih? Padahal kan pernikahan ini cuma pernikahan main-main." Ucap Tania dalam hati semakin tegang.
"Baik semuanya! Sekarang juga kita mulai acara ijab qobul nya!" Ucap Pak penghulu tersebut lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru menikahkan mereka berdua, hingga akhirnya mereka berdua pun sekarang ini sudah syah dan resmi menjadi sepasang suami istri secara agama.
"Alhamdulillaaaah! Akhirnya sekarang ini kalian berdua sudah syah menjadi sepasang suami istri!" Ucap Pak Ilham, Ibu Savira, dan Ibu Risma secara bersamaan sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Horeeee! Papah sama kakak cantik udah menikah, hore! Horeeee!" Teriak Raya yang juga tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia, kemudian ia pun langsung buru-buru memeluk mereka berdua dengan sangat erat.
"Mmmmmm papah, kakak cantik, Raya sayaaaang banget sama papah juga sama kakak cantik?" Ucapnya sambil terus memeluknya dengan sangat erat.
"Iya sayang, papah juga sayaaaang banget sama anak papah yang cantik ini!" Ucap Bara mencoba untuk tersenyum, sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Sama Raya, kakak juga sayaaaang banget sama Raya!" Ucap Tania yang juga tersenyum sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang, karena ia benar-benar tulus menyayanginya. Akan tetapi Bara tidak percaya, melihat perlakuan Tania kepada Raya putri semata wayangnya seperti itu, ia pun langsung terdiam sambil tersenyum dingin.
"Bisa banget sih ini gadis brutal!" Ucapnya dalam hati, ia berbicara seperti itu karena ia sangat yakin kalau semua itu pasti hanyalah sebuah akting.
"Oh iya pah, Papah bisa enggak cium kakak cantik? Soalnya sekarang Raya pengin lihat papah cium kakak cantiiiiiik!" Rengek Raya, dengan secara tiba-tiba ia memenita hal seperti itu, sehingga membuat seisi ruangan tersebut pun kaget mendengarnya, kemudian Ibu Savira, dan Ibu Risma pun langsung buru-buru menggodanya.
__ADS_1
"Ehem! Ehem!" Suara mereka berdua pura-pura batuk sambil tersenyum ke arah Bara dan juga Tania.
"Mamah!" Ucap Bara marah.
"I_ iya, m_mamah apa-apaan sih?" Ucap Tania semakin gugup dan tegang.
"Ya enggak papa dong! Kalian berdua kan sekarang udah menikah." Ucap Ibu Risma.
"Pokoknya sekarang juga kalian harus, Cium! Cium! Cium! Cium!" Ucapnya lagi sambil mengajak yang lain untuk menyuruhnya seperti itu, sehingga mereka semua pun serentak langsung mengikuti ucapannya itu.
"Iya bener banget, Cium! Cium! Cium! Cium!" Ucap mereka semua secara bersamaan menyuruhnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun tak tahan mendengarnya.
"Y_ ya udah iya, iya, cukup! Sekarang juga Bara cium Tania nih!" Ucapnya gugup, kemudian ia pun langsung buru-buru menarik tangan Tania untuk mengajaknya berdiri dan langsung merangkul pinggangnya.
"T_ tapi Om,,,,,," Ucap Tania gugup dan semakin tegang, jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang. Bagaimana tidak, karena kalau sampai sekarang ini Bara suaminya itu benar jadi menciumnya, ini adalah kali pertama ia ciuman.
"Udah kamu diem aja! Kita ikuti aja permintaan dari mereka, biar semuanya cepet selesai!" Bisik Bara dengan raut wajah yang sangat dingin sambil merangkulkan tangan Tania istrinya itu ke pundaknya, kemudian ia pun langsung merangkul kembali pinggangnya itu.
"T_ tapi Om! T_ Tapi masalahnya, T_ Tania ini enggak bisa, T_ Tania ini belum pernah,,,,,,," seketika ucapan Tania pun terpotong, DEG.! Jantungnya pun seketika berdetak semakin kencang, karena tiba-tiba Bara pun langsung mencium bibirnya.
"Dari sekian banyak perempuan yang pernah aku cium, kenapa ciuman ini rasanya paling beda yah? Kenapa rasanya, aku ini enggak mau berhenti dan ingin terus mencium bibir gadis brutal ini!" Ucap Bara dalam hati bingung, sambil terus memejamkan matanya dan terus asyik menciumi bibirnya itu. Sehingga Tania yang melihatnya pun hanya bisa pasrah, dengan perlahan ia pun ikut memejamkan matanya dan ikut menikmati disetiap sentuhan-sentuhan dari bibir dan lidah Bara yang sangat lihai memainkan bibir dan lidahnya itu.
"J_ jadi ternyata, ciuman itu rasanya senikmat ini?" Ucapnya dalam hati yang terhanyut oleh suasana, sambil terus memejamkan matanya dan terus pasrah menikmati disetiap sentuhan-sentuhan dari bibir dan lidah Bara yang dari tadi masih terus asyik menciumi dan memainkan bibir dan lidahnya. Sehingga Bara yang baru saja membukakan matanya pun tersenyum melihatnya, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya dan langsung memejamkan matanya kembali sambil terus asyik menciumi bibir seksinya itu seakan-akan tak mau berhenti. Sehingga membuat Tania pun semakin terhanyut dan terhanyut lagi dalam suasana.
"Buka mata nya! Udah selesai ciumannya!" Bisik Bara yang tiba-tiba berubah kembali menjadi dingin, dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Tania yang sedang merasakan betapa nikmatnya ciuman itu pun seketika langsung membukakan matanya.
"Oh, u_ udah yah?" Ucapnya gugup sambil menatap dalam wajah tampannya, kemudian ia pun langsung mengigit-gigit bibirnya seakan-akan mengisyaratkan kalau ciuman itu sangat berarti untuknya, sehingga membuat Bara pun tersenyum dingin melihatnya.
"Kenapa emang? Ketagihan?" Bisiknya.
"Tadi aja sok-sokan nolak, sekarang aja ketagihan! Dasar murahan!" Bisiknya lagi, dengan munafiknya ia berbicara seperti itu, ia tidak mau mengakui kalau sebenarnya tadi itu justru ialah yang sangat-sangat menikmati ciumannya itu.
__ADS_1
"A_ apa tadi Om bilang? Ketagihan? Murahan?" Bisik Tania marah dan kesal, ia benar- benar tidak terima dengan ucapannya itu, kemudian ia pun langsung mencubit pinggangnya dengan sangat kencang.
"Iiiiiihhhh!" Ucapnya greget sambil terus mencubitnya semakin kencang lagi, sehingga membuat Bara pun teraik kesakitan.
"Aw! Aduh, aduh!" Teriaknya dengan sangat kencang, sehingga membuat seisi ruangan yang tadinya sedang hening karena sedang menyaksikan mereka ciuman pun kaget mendengarnya.
"Sayang! Kamu kenapa? Kok teriak-teriak?" Ucap Ibu Risma.
"Iya Bara, ada apa? Kok kamu teriak-teriak kayak gitu! Kamu enggak papa kan?" Ucap Ibu Savira panik.
"Iya papah, papah enggak papa kan? Kok papah teriak-teriak?" Ucap Raya yang juga panik.
"Oh e_ enggak, p_papah enggak papa kok! T_adi perut papah cuma mules! I_ iya bener, tadi perut papah cuma mules." Ucap Bara gugup karena ia sedang berbohong.
"Ya ampuuun, perut Om mules? Kok Om enggak kasih tau Tania sih! Om tadi salah makan kali yah?" Ucap Tania pura-pura perduli sambil mengusap-usap perutnya sok romantis, sehingga Bara pun seketika langsung melotot.
"Kenapa?" Ucap Tania yang justru meledeknya sambil tersenyum menantangnya, ia tidak takut sama sekali kepadanya.
"Awas aja yah kamu! Aku akan balas perbuatan kamu ini!" Bisik Bara tepat ditelinganya.
"Kalau Om mau balas, balas aja! Gue enggak takut!" Bisik Tania sambil terus tersenyum menantangnya.
"Eh sayang, sayang! Tadi kamu panggil Bara apa? Om?" Ucap Ibu Risma kaget.
"I_ iya Tan." Ucap Tania.
"Tania sayaaaang, Raya juga! Mulai sekarang, kalian itu harus ganti panggilan kalian masing-masing!" Ucap Ibu Risma.
"Taniaaa, mulai sekarang! Kamu panggil Bara itu, mas Bara! Yaaah.?" Ucapnya lagi mencoba untuk menasehatinya seperti itu.
"Terus kamu Rayaaa, mulai sekarang kamu panggil kak Tania ini, mamah! Yaaah?" Ucapnya lagi.
"Dan kamu Bara! Mulai sekarang kamu itu kan udah syah menjadi suami Tania, jadi mulai sekarang, kamu ini harus bisa sayang dan perhatian sama istri kamu ini!" Ucapnya lagi mencoba menasehatinya dengan tegas.
__ADS_1
"I_ iya mah." Ucap Bara.