Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 42. (Area 21+ Bocil harap skip Bab ini)


__ADS_3

"M_mas Bara, emang sekarang, kita mau ngapain? K_kok mas Bara, gendong Tania, ke ranjang sih?" Ucap Tania yang pura-pura tidak tau, apa maksud dari Bara suaminya itu, menggendongnya menuju ranjang tersebut.


"Emang kenapaaaa?" Ucap Bara, yang sekarang ini sudah berbaring di atas ranjang tersebut, bersama dengannya.


"Mas ini sengaja sayang, gendong kamu kesini!"


"Karena sekarang iniii, mas lagi pengin berduaan, sama kamu! Kamu mau kan sayang, temenin mas?" Ucapnya lagi, sambil tersenyum memandangi wajah cantiknya.


"I_iya mas, Tania mau kok!" Ucap Tania, yang terlihat masih sangat malu-malu. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeluknya.


"Eeemmmm, istri manja kesayangan mas, ini!" Ucapnya sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang, dan terlihat sangat memanjakan nya.


"S_sama. Tania juga sayaaaang banget, sama mas!" Ucap Tania, yang langsung menjawabnya seperti itu.


"Iyaaaa," ucap Bara lagi, dengan penuh perhatiannya.


"Oh iya mas! T_terus sekarang, kita berdua mau ngapain? Emang sekarang, kita berdua cuma mau bobo-boboan doang?" Ucap Tania lagi, yang sepertinya ingin mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu. Akan tetapi, ia malu untuk mengungkapkannya.


"Emang kenapaaa? Emang kamu, mau apaaa?" Ucap Bara yang langsung tersenyum lucu, mendengar pertanyaan itu. Karena sebagai seorang duda beranak satu, yang sudah sangat berpengalaman sepertinya, sebenarnya ia itu tau betul, apa yang sedang Tania, istri manjanya itu inginkan sekarang ini, darinya.


"Oh, n_nggak kok! Tania nggak pengin apa-apa!" Ucap Tania berbohong. Kemudian, ia pun langsung pura-pura bergegas, mengajaknya untuk tidur.


"Y_ya udah, sekarang kita bobo aja!" Ucapnya lagi, yang terlihat sangatlah gugup, sambil buru-buru memakai selimut yang ada diatas ranjang tersebut, dan langsung buru-buru memejamkan matanya. Sehingga Bara yang melihat tingkah lakunya itu pun, lagi-lagi tersenyum dibuatnya.


"Polos banget sih, kamu ini!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah cantiknya itu, yang justru terlihat semakin cantik lagi, disaat ia sedang gugup dan malu-malu seperti itu. Kemudian, ia pun langsung berbisik di telinganya.


"Emang, istri cantik mas ini, pengin apa dari maaas?" Bisiknya dengan suara yang sangat menggoda. Dan bahkan bisikannya itu pun, bukanlah bisikan biasa. Karena ia berbisik ditelinga nya, sambil menjilatinya dengan sangat pelan dan lembut. Sehingga Tania yang sekarang ini masih memejamkan matanya pun, seketika langsung mengeratkan pelukannya.


"Aaaaah maaaaas, geliiii,,," rengekannya dengan sangat manjanya, karena merasakan nikmat dari sentuhannya itu.


"Kenapaaa?" Ucap Bara lagi dengan penuh perhatiannya, sambil tersenyum dan membelai-belai lembut, wajah cantiknya.


"Kamu mau ini kan, dari mas?"


"Kamu mau ini kan, sayang?" Ucapnya lagi, yang benar-benar sangat peka, dengan apa yang Tania, istrinya itu inginkan darinya.


"I_iya mas," ucap Tania, yang langsung mengangguk kan kepalanya.


"T_Tania mau, mas Bara, cium Tania lagiiiii!" Rengek nya, sambil menatap dalam wajah tampannya.


"Iya, sayang!" Ucap Bara sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"T_terus, Tania juga mau, mas Bara cium Tania nya! Yang kayak, pas waktu malam-malam ituuuu! Waktu malam-malam, kita berdua, ketahuan sama Rayaaa!" Rengek Tania lagi dengan sangat manjanya, meminta hal seperti itu. Sesuatu hal yang sama sekali, tidak Bara suaminya itu ketahui. Sehingga membuatnya pun, bingung.


"P_pengin ciumnya, yang kayak pas waktu malam-malam itu? Waktu malam-malam, kita berdua, ketahuan sama Raya? Maksudnya?" Ucapnya.


"I_iya maaas! Yang kayak, pas waktu malam-malam ituuuu! Waktu malam-malam, kita berdua, ketahuan sama Rayaaa!" Rengek Tania lebih jelas lagi, menyebutnya seperti itu.


"T_Tania mau, mas Bara cium Tania nya! Sambil masukin, jari mas Bara, ke ini Taniaaa!" Rengeknya lagi, yang dengan sangat polos nya, meminta hal seperti itu lagi, darinya. Karena sepertinya, ia benar-benar sangat ketagihan, dengan permainan nakalnya pada waktu malam itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum, dibuatnya.


"Ya ampun, Taniaaa! Kamu ini bener-bener gadis kecil, yang masih polos banget, yah?" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum, karena lucu.


"Hal kayak gini aja, yang udah pasti nanti mas bakalan lakuin sama kamu! Kamu sampai minta kayak gini, sama mas?" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar tidak mengerti lagi, dengan tingkah laku polos istrinya itu.


"Kamu tenang aja, Tania! Tanpa kamu minta sama mas pun, mas pasti akan ngelakuin semua itu, sama kamu!" Ucapnya lagi dalam hati.


"Karena mulai dari hari ini, mas janji! Mas akan selalu memanjakan kamu, dengan sentuhan-sentuhan lembut, dari mas! Dan mas juga janji, mulai dari hari ini, mas akan ajari kamu! Agar kamu bisa merasakan, betapa nikmatnya surga dunia itu, yang sebenarnya!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus tersenyum memandangi wajah cantiknya.


"M_mas Bara kenapa? Kok mas Bara, dari tadi diem aja?" Ucap Tania, bingung.


"K_kalau mas Bara, nggak bisa ngelakuin kayak gitu lagi sama Tania, nggak papa kok!" Ucapnya lagi, sedikit kecewa.

__ADS_1


"L_lagian, sekarang juga, Tania udah ngantuk banget! Tania mau bobo aj,,,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, Bara suaminya itu pun, langsung mencium bibirnya.


"M_mas Bara?" Ucap Tania dalam hati, kaget dan tak percaya, sambil menatap dalam wajah tampannya, yang sekarang ini masih terus menciumi bibirnya.


"Istri kecil, kesayangan mas, ini!" Ucap Bara yang baru saja selesai menciumi bibirnya, sambil tersenyum, dan mencubit gemas hidungnya.


"M_mas Bara?" Ucap Tania lagi, yang masih tak percaya dengan semuanya, sambil terus menatap dalam wajah tampannya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menciumi bibirnya itu kembali, dengan sangat rakusnya. Bahkan bukan hanya bibir, ia pun terlihat menciumi leher, pundak, telinga, dan seluruh wajah cantiknya itu pun, semuanya habis ia ciumi, dan ia jilati.


"Aaaah, maaaas,,,," desah Tania, dengan sangat manjanya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum. Kemudian dengan segera, ia pun langsung menciumi dan menjilati lagi, bibir, leher, pundak, telinga, dan seluruh wajah cantiknya itu, dengan sangat rakusnya.


"Ah maaaas, aaaaah! Enak, maaaas!" Desah Tania lagi, yang benar-benar sudah tak tertahan lagi, karena ia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, dari sentuhannya itu.


"Enak? Kamu suka?" Ucap Bara pelan, sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.


"I_iya mas, Tania suka!" Ucap Tania, sambil menganggukkan kepalanya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, lagi-lagi langsung menciumi dan menjilati lagi, bibir, wajah, leher, pundak, dan yang terakhir telinganya, dengan sangat rakusnya, dan tanpa henti-henti.


"Ah maaaas, aaaaah! Aaaah, mas Baraaaa,," desah Tania lagi, dengan keadaan lemas dan tak berdaya, di pelukannya. Sehingga Bara yang melihat keadaannya sudah se lemas itu pun, perlahan, ia pun mencoba untuk membuka kancing baju yang sedang Tania istrinya itu kenakan, satu-persatu.


"M_mas Bara, mas Bara mau ngapain?" Ucap Tania yang tiba-tiba langsung mencegahnya, sambil buru-buru menutupi bagian dadanya, yang sudah sedikit terbuka olehnya.


"Katanya tadi, kamu pengin dimainin ini nya, sayang? Sama mas, pakai jari?" Bisik Bara, yang langsung saja merayunya seperti itu. Agar Tania istrinya itu, bersedia dibuka bajunya, olehnya.


"T_tapi mas Bara, Tania nggak mau dibuka bajunyaaaa! Tania maluuuu!" Rengek Tania, yang dengan sangat polosnya melarangnya seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum, dibuatnya.


"Ya harus di buka dong, sayaaaang! Nanti mas susah loh, mainin ini nya!" Ucapnya lagi, yang masih terus berusaha untuk merayunya. Kemudian, ia pun langsung melanjutkan lagi, untuk membuka baju yang sedang Tania, istrinya itu kenakan.


"T_tapi mas Bara, Tania maluuuu!" Rengek Tania lagi, yang sekarang ini masih dibuka bajunya, olehnya.


Melihat Tania istrinya, merengek-rengek seperti itu, Bara pun hanya tersenyum, sambil terus membuka pakaiannya itu satu-persatu, dari tubuh seksinya. Hingga akhirnya, ia pun berhasil juga membuka dan melucuti semua pakaiannya itu, dari tubuh seksinya. Dan bahkan, tubuh seksinya yang tanpa busana itu pun, terpampang sangat jelas dihadapannya.


"Iiiiiiiih, mas Baraaaa! Tania maluuuu!" Rengek Tania lagi, sambil buru-buru menutupi kedua matanya, menggunakan kedua tangannya. Karena sekarang ini, ia benar-benar merasa sangat malu, dan ia pun benar-benar tidak berani sama sekali, jika harus menatap mata Bara suaminya itu, dengan keadaannya sekarang ini, yang sedang berbaring di hadapannya, dengan keadaan tubuh tanpa busana sehelai pun.


"Kenapa harus malu, sayaaaang?" Ucap Bara yang malah justru tersenyum, melihat keadaannya seperti itu. Kemudian, ia pun langsung terdiam, sambil memandangi tubuh seksinya yang tanpa busana itu, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, dengan tatapan penuh dengan nafsu.


"Mas bener-bener masih belum percaya, kalau tubuh kamu yang seksi, putih, mulus, wangi, dan bahkan sangat menggairahkan ini, akan segera mas nikmati detik ini juga!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus terdiam memandangi betapa seksi tubuh Tania, istri kecilnya itu. Kemudian, ia pun langsung buru-buru ikut membuka semua pakaiannya, yang sedang ia kenakan.


"M_mas Bara, mas Bara lagi ngapain? Kok dari tadi, mas Bara nggak ada suaranya?" Ucap Tania, yang sekarang ini masih terus berbaring di atas tempat tidur tersebut, sambil terus menutupi kedua matanya, menggunakan kedua tangannya.


"Udah sayang, kamu nggak usah malu-malu! Buka matanya!" Ucap Bara, yang sekarang ini sudah berbaring di atas tempat tidur tersebut, tepat disampingnya, dengan keadaan yang sama-sama tidak mengenakkan pakaian sehelai pun.


"Lihat nih! Mas aja nggak malu, boboan disamping kamu, nggak pakai baju sama nggak pakai celana!" Ucapnya lagi, yang langsung saja berbicara seperti itu. Sehingga Tania yang sekarang ini masih menutupi kedua matanya itu pun, seketika langsung membukan matanya.


"M_masud mas Bara, mas Bara juga sekarang, nggak pake baj,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.


"Iiiiiihhhh mas Baraaa, geliiiii!" Teriaknya, yang langsung saja merengek seperti itu. Karena dengan secara tiba-tiba, ia langsung saja melihat junior Bara suaminya itu, yang sudah sangat menegang dan juga sangatlah mengeras, tepat dihadapannya.


"Coba kamu pegang, sayang!" Ucap Bara yang malah justru langsung menyuruhnya seperti itu.


"Iiiiiihhhh! N_nggak mau, nggak mau, nggak mau!" Ucap Tania, yang langsung saja menolaknya.


"Geli, maaas! Banyak bulunya, geliiiii!" Ucapnya lagi, yang dengan sangat polosnya merengek-rengek seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum.


"Ya udah nggak papa! Kalau emang kamu nggak mau, biar mas aja duluan, yang mainin punya kamu, yaaaah?" Ucapnya lagi, sambil terus tersenyum. Karena sepertinya, sekarang ini ia memang sengaja, ingin mengajarkan Tania, istri kecil dan polosnya itu, tentang bagaimana caranya melayani seorang suami dengan baik, di atas ranjang. Kemudian, ia pun langsung memandangi kedua gunung kembarnya itu, yang sangat terbuka lebar, dan terlihat sangatlah besar, padat, berisi dan juga sangatlah kenyal tepat dihadapannya, dengan tatapan penuh dengan nafsu.


"M_mas Bara mau ngapain?" Ucap Tania panik dan sedikit ketakutan, sambil buru-buru menutupi kedua gunung kembarnya itu, menggunakan kedua tangannya.


"Nen!" Ucap Bara, yang langsung saja memintanya seperti itu.


"N_nen?" Ucap Tania lagi, bingung.


"T_Tapi kan, mas Bara ini udah gedeeee! M_mas Bara ini kan, bukan dede bayi lag,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong. Karena Bara suaminya itu pun, langsung mencuri-curi kesempatan, dengan secara tiba-tiba, ia pun langsung menjilat salah satu pucuk gunung kembarnya itu, dengan sangaaaat, perlahan.

__ADS_1


"Ah maaaas, aaaaah,,," suara Tania, yang tiba-tiba saja langsung mendesah kenikmatan, sambil memeluk erat tubuhnya.


"Kenapa, sayaaaang? Enak kan sayang? Enak, kaaan?" Bisik Bara, sambil terus tersenyum.


"I_iya mas, e_enak!" Ucap Tania gugup, sambil menganggukkan kepalanya.


"Sekarang, mas coba nen, yah?" Ucap Bara lagi.


"T_tapi jangan digigiiiit! Sakiiiiit!" Rengek Tania, sedikit ketakutan.


"Nggak lah sayaaaang, nggak bakalan! Masa nen istri mas sendiri, mas gigit sih?" Ucap Bara lagi, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menyesap kedua gunung kembarnya itu, satu-persatu, secara bergantian, dengan tak ada henti-hentinya.


"Aaaah maaaas, pelan-pelan nen nya maaas! Aaaah, jagan digigit maaas! Aaaah sakiiiiit!"



Desah Tania kenikmatan, sekaligus kesakitan. Karena Bara suaminya itu, menyesap kedua gunung kembarnya itu, sedikit kasar.


"Iya sayang, iyaaaa," ucap Bara, dengan raut wajah yang sudah dipenuhi dengan nafsu. Kemudian, ia pun langsung menyesap kedua gunung kembarnya itu lagi, satu-persatu secara bergantian, dengan sangat rakusnya, dan tak ada henti-hentinya. Bahkan bukan hanya itu, bahkan tangan nakalnya itu pun, terlihat sudah meraba-raba bagian bawah Tania, istrinya itu. Perlahan, ia pun mencoba untuk memasukkan jari tengahnya, kebagian tersebut, dan langsung memainkannya.


"Ah maaaas, aaaaah,," desah Tania lagi, yang langsung menggeliat-geliatkan tubuhnya, dengan raut wajah yang terlihat sangatlah kenikmatan.


"Kamu mau ini kan, sayang? Kamu mau ini, kan?" Bisik Bara dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil terus memandangi raut wajah cantik Tania istrinya itu, yang terlihat masih sangat kenikmatan merasakan permainan dari jari nakalnya itu, yang sekarang ini masih terus memainkan bagian sensitifnya itu, tak ada henti-hentinya.


"Aaaah maaas,,, aaahhh, mas Baraaa? Aaaah, ah ah ah ah, maaaas?" Desah Tania lagi, dengan suara yang terdengar sangatlah seksi. Dan bahkan suara desahannya itu pun, terdengar tak ada henti-hentinya. Sampai-sampai bagian sensitifnya pun, perlahan mengeluarkan sesuatu, menjadi sangatlah basah dan juga sangatlah licin.


"Punya kamu, udah keluar sayang!" Ucap Bara sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.


"T_Tania, sayang sama mas?" Ucap Tania dengan sangat manjanya, sambil menatap dalam wajah tampannya.


"Iya, sayang," ucap Bara, sambil terus tersenyum, dan terus mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Lihat nih, sayang! Jari mas, jadi basah dan licin banget kayak gini!" Ucapnya yang langsung saja menunjukkan jari nakalnya itu, yang memang sangatlah basah dan juga sangatlah licin, terkena oleh sesuatu yang ada di dalam bagian sensitifnya itu.


"Ambil tisuuuuuu!" Rengek Tania, yang langsung saja menyuruhnya seperti itu.


"Ambil tisu?" Ucap Bara, bingung.


"Buat apa, sayang?" Ucapnya lagi.


"Buat lap tangan mas! Takut mas jijik, bauuuu!" Ucap Tania lagi, yang dengan secara tiba-tiba, menjawabnya seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum dibuatnya.


"Ya ampun, sayaaaang! Ngapain mas harus jijik?" Ucapnya.


"Ini kan punya istri, mas!"


"Lagian, nggak bau kok! Wangi! Mas suka!" Ucapnya lagi, yang malah justru langsung menciumi aromanya.


"Iiiiiihhhh, mas Bara jijik! Cepetan ambil tisu, laaaap!" Ucap Tania lagi.


"Nggak! Nggak mau!" Ucap Bara, yang tetap kekeuh.


"Sekarang, mas malah pengin ngerasain, punya kamu ini, yang lebih banyak!" Ucapnya lagi, yang dengan secara tiba-tiba berbicara seperti itu. Sehingga Tania, yang memang benar-benar masih sangat polos itu pun, bingung.


"P_pengin ngerasain, punya Tania, yang lebih banyak?" Ucapnya.


"M_maksud,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba, Bara suaminya itu pun, langsung membukakan kedua pahanya.


"Eeeehh! M_mas Bara, mas Bara mau ngapa,,,,," lagi-lagi ucapannya itu pun, langsung terpotong. Karena dengan secara tiba-tiba lagi, tanpa meminta izin terlebih dahulu dari nya, Bara suaminya itu pun, langsung menciumi dan menjilati bagian bawahnya itu, dengan sangat rakusnya.


"Ah maaaas, aaaaah! M_mas Bara, aaaaah,,," desah Tania, yang lagi-lagi menggeliat-geliatkan tubuhnya, sambil menjambak-jambak rambut Bara suaminya itu, cukup kencang. Karena sekarang ini, ia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, dari sentuhan-sentuhan manjanya itu.

__ADS_1


"Punya kamu, udah licin banget sayang!" Ucap Bara, yang baru saja selesai menjilati bagian bawahnya itu.


"Sekarang, mas masukin punya mas yah, sayang?" Ucapnya lagi, yang sebenarnya dari tadi sudah benar-benar tidak tahan, ingin cepat-cepat merenggut keperawanan Tania, istri kecilnya itu.


__ADS_2