Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 48.


__ADS_3

DI PERJALANAN.


Terlihat Bara dan Tania, yang sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya kembali. Namun selama disepanjang perjalanan, Bara terlihat terus terdiam, dengan raut wajah yang sangatlah BT.


"M_mas Bara, mas Bara kenapa sih? Perasaan dari tadi, dari sejak teman-teman Tania main ke rumah Tania, mas Bara jadi kelihatan, BT banget kayak gitu?" Ucap Tania, yang ternyata dari tadi memperhatikan terus tingkah lakunya itu.


"N_nggak, mas nggak papa kok!" Ucap Bara yang terlihat sangatlah cuek, sambil terus fokus menyetir mobilnya, tanpa menatapnya sedikit pun.


"Mas Bara bohong yah? Mas Bara, cemburu yah sama kak Rio?" Ucap Tania yang langsung saja peka berbicara seperti itu. Karena ia sangat yakin, kalau Bara suaminya itu, sekarang ini pasti sedang cemburu kepadanya.


"N_nggak, siapa juga yang cemburu?" Ucap Bara lagi berbohong, dan lagi-lagi tanpa menatapnya sedikit pun.


"Iiiiiihhhh! Mas Bara bohooooong! Mas Bara, cemburu kan?" Ucap Tania lagi, masih tak percaya.


"Lagian, kalau emang mas Bara nggak cemburu, kok dari tadi mas Bara nggak berani sih, natap wajah Tania?" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Iya sayang, iya! Mas cemburu! Puas kamu!" Ucapnya, yang akhirnya jujur juga kepadanya. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum.


"Kamu kenapa sayang? Kok malah senyum-senyum, sih?" Ucap Bara, semakin BT.


"Orang suaminya lagi cemburu, lagi kesel! Kok malah senyum-senyum." Ucapnya, yang lagi-lagi mengakui perasaannya seperti itu. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung memeluknya.


"Eeeemmm! Mas Baraaaa, Tania seneng kalau mas Bara, cemburuuuuu!" Rengeknya.


"Itu tandanya, mas Bara beneran sayang sama Taniaaaa!" Rengeknya lagi, dengan sangat manjanya. Sehingga Bara yang sedang BT pun, akhirnya tersenyum juga melihat tingkah lakunya.


"Iyaaaa," ucapnya.



"Mas sayang banget, sama kamu!" Ucapnya lagi, sambil menggenggam erat tangannya.


"Sama, Tania juga sayaaang banget, sama mas Bara!" Ucap Tania, yang langsung saja menciumi manja, tangannya itu.


Setengah jam kemudian,,,,,


DI RUMAH IBU RISMA.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Malam.


Terlihat Ayu yang dari tadi sedang berdiri di depan teras rumah tersebut, sambil sibuk menelepon seseorang.


"Apa! Kalian semua, gagal?" Ucapnya kaget, sambil marah-marah. Namun entah siapa, yang sebenarnya sedang ia telpon.


"Kalian itu bener-bener nggak becus, yah? Ngerjain tugas gampang kayak gitu aja, kalian nggak sanggup?"


"Kerja kalian itu, apa sih sebenarnya?


"Cuma menghadapi satu perempuan kayak Tania aja, tapi kalian nggak mampu?" Ucapnya lagi tak percaya, sambil terus marah-marah. Ia menyebutkan nama Tania didalam percakapannya itu, karena ternyata sekarang ini, ia sedang menelpon para preman-preman yang kemaren hendak memperkosanya. Karena ternyata, ia lah yang sudah menyuruh para pereman-pereman tersebut, untuk memperkosanya.


"Pokoknya, saya nggak mau tau! Lain kali, bisa nggak bisa, kalian semua harus berhasil mengerjakan tugas dari saya! Mengerti!" Ucapnya lagi, dengan sangat tegas menyuruhnya seperti itu.


"H_harus berhasil, mengerjakan tugas dari Mba? Emang, tugas apa mba?" Ucap Bara, yang baru saja sampai di dalam rumah tersebut, bersama dengan Tania.


"Eh! K_kamu Bara, s_sejak kapan kamu ada disini?" Ucap Ayu dengan sangat gugupnya, sambil buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut.


"M_malam Mba Ayu?" Ucap Tania, yang langsung saja menyapanya.


"Malam," ucap Ayu, yang terdengar sangatlah sewot.


"Ya udah yah mba, kita berdua masuk dulu!" Ucap Bara lagi, sambil tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru masuk ke dalam rumah tersebut, bersama dengan Tania.


"Papaaaah, mamah cantiiiiiiiik!" Teriak Raya, dari dalam rumah tersebut, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia. Kemudian, ia pun langsung buru-buru berlari menghampiri mereka berdua, dan langsung buru-buru memeluknya.


"Eeeemmmm! Papah, mamah cantik, Raya kangeeeeen!" Rengeknya dengan sangat manjanya, sambil terus memeluk mereka berdua, dengan begitu eratnya.


"Iya, sayaaaang," ucap Tania sambil tersenyum, dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Sehingga Ayu yang melihatnya pun, langsung tersenyum sinis.


"Apaan sih itu, perempuan! Sok-sokan baik sama Raya! Caper banget sih, di depan Bara!" Ucapnya dalam hati, kesal. Kemudian, ia pun langsung tersenyum, dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Untungnya, Bara nggak tertarik sama sekali sama itu perempuan!" Ucapnya lagi dalam hati, yang tidak tau sama sekali, kalau ternyata Bara dan Tania, sekarang ini sudah saling mencintai.


"Kalau Bara sampai tertarik, dan jatuh cinta sama itu perempuan, bisa gawat!"


"Apalagi kalau Bara sampai punya anak laki-laki, dari itu perempuan!"


"Bisa-bisa, semua perusahaan milik papah, jatuh ditangan anak laki-laki mereka!" Ucapnya lagi dalam hati, serius. Kalau siapapun diantara anak-anak almarhum Pak Arga, dan juga Ibu Risma, yang mempunyai keturunan laki-laki, maka akan mewarisi semua perusahaan dan juga kekayaan miliknya


"Nggak, nggak bisa! Semua itu nggak bisa dibiarin!"


"Pokoknya, bisa nggak bisa, gue harus pisahin mereka berdua! Jangan sampai, Bara tertarik apalagi jatuh cinta, sama itu perempuan!"


"Lagian, aku juga sangat yakin! Itu perempuan, Om Ilham, juga Tante Savira, pasti sedang mengincar-incar harta kekayaan keluarga ini" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar tidak ingat sama sekali, siapa sebenarnya orang yang sudah membuat keluarganya bisa se kaya, dan se sukses sekarang ini.


"Ayu! Kamu lagi ngapain di luar?" Teriak Ibu Risma, dari dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Ayo, cepetan masuk! Kita semua udah siap nih, makan malam!" Teriaknya lagi.


"Oh, i_iya mah!" Jawab Ayu. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melangkah masuk kedalam rumah tersebut, dan langsung buru-buru menghampiri mereka semua, di dalam ruang makan.


"Loh, mas Aldo nya mana Mba?" Ucap Bara, bingung.


"Mas Aldo, nggak ikutan makan malam bareng kita?" Ucapnya lagi.


"Oh, n_nggak!" Ucap Ayu, yang entah mengapa terlihat sangatlah gugup.


"Mas Aldo, masih meeting!"


"Katanya, kita disuruh makan malam aja duluan!" Ucapnya lagi, sambil buru-buru duduk di meja makan tersebut, bersama dengan semuanya.


"Oh, gitu!" Ucap Bara, lagi.


"Ya udah kalau gitu, ayo semuanya makan!" Ucap Ibu Risma.


"Oke, Oma!" Ucap Raya, dengan penuh semangat.


"Kamu pengin makan, pakai apa sayang?" Ucap Bara yang tiba-tiba, langsung saja menawarkan makanan kepada Tania istrinya, dengan panggilan seperti itu. Sehingga Ayu yang mendengarnya pun, seketika langsung kaget.


"A_apa! S_sayang?" Ucapnya, dalam hati.


"A_aku, nggak salah denger kan ini?"


"Bara, panggil Tania, sayang?" Ucapanya lagi, tak percaya.


"T_terus, ngapain juga Bara jadi perhatian kaya gitu, sama Tania? Pakai nawar-nawarin Tania, makanan segala?" Ucapnya lagi dalam hati, yang memang benar-benar sangat bingung dengan semuanya. Akan tetapi, tidak dengan Ibu Risma, ia pun malah justru langsung tersenyum, dan langsung menggodanya.


"Ehem, ehem!" Ibu Risma yang langsung pura-pura batuk, karena ia sudah tau semuanya apa yang sudah Bara dan Tania lakukan, selama mereka menginap di rumah Pak Ilham, kemaren.


"Kayaknya sebentar lagi, ada yang mau punya Adik Bayi nih!" Ucapnya, yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu, sambil memeluk Raya cucu tersayangnya.


"A_adik Bayi? S_siapa Oma?" Ucap Raya, bibgung. Kemudian, ia pun langsung terdiam, sambil tersenyum.


"M_maksud Oma, Raya sebentar lagi, punya Adik Bayi?" Ucapnya lagi.


"Hore, hore, horeeeee! Sebentar lagi, Raya punya Adik Bayi! Horeeeee!" Teriaknya, dengan sangat kegirangan.


"Apaan sih, ini? Kenapa semuanya, jadi kayak gini?" Ucap Ayu dalam hati, semakin bingung.


"A_apa jangan-jangan, aku ketinggalan info tentang mereka lagi?"


"Apaan sih mamah! Udah deh, mamah jangan goda-godaain kita terus!" Ucap Bara. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menawarkan makanan lagi, kepada Tania istrinya.


"N_nggak, nggak mungkin!" Ucap Ayu dalam hati, masih tak percaya.


"Jadi, aku ini bener-bener ketinggalan info tentang mereka?"


"Sial!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil menatap sinis kearah Bara, dan juga Tania.


"Tania pengin, eeeemmm?" Ucap Tania bingung, sambil sibuk memilih-milih makanan apa yang ia sukai.


"Tania pengin yang ituuuu, sama yang itu!" Ucapnya lagi sambil menunjuk makan-makanan kesukaannya itu.


"Ya udah, biar mas yang ambilin!" Ucap Bara, sambil tersenyum. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mengambilkan makanan-makanan tersebut, untuknya.


"Kalau mas, pengin yang mana? Biar Tania yang ambilin!"



Ucap Tania, yang juga ikut-ikutan bertanya seperti itu kepadanya.


"Apaan sih, ini anak! Caper!" Ucap Ayu dalam hati, semakin kesal.


"Udah, nggak usah sayang! Kamu makan aja, yang banyak!"



Ucap Bara, yang terlihat sangatlah senang melihatnya makan makanan sebanyak itu.


"Mas bisa ambil sendiri kok, yaaaah?" Ucapnya lagi, sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang. Sehingga Ibu Risma yang melihatnya pun, seketika langsung tersenyum.


"Aku bener-bener nggak nyangka! Ternyata perjodohan ini, berhasil menyatukan kalian berdua, dan berhasil juga membuat kalian berdua jatuh cinta!" Ucapnya dalam hati, sambil terus tersenyum. Kemudian, ia pun langsung terdiam menatap kearah foto Almarhum pak Arga suaminya, yang terpajang di dinding ruangan tersebut.


"Lihat pah! Mamah udah berhasil menjalankan amanat papah, untuk menjodohkan Bara, dengan Tania!"


"Sekarang ini, papah pasti sedang tersenyum! Ngeliat mereka berdua, bisa saling sayang, dan bisa saling perhatian, satu sama lain!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus tersenyum menatap kearah foto tersebut. Kemudian, ia pun langsung kembali menatap kearah Bara, dan juga Tania, yang sekarang ini masih makan bersama dengannya


"Iiiiiihhhh, mas Baraaaa! Pedes mas, pedeeees!" Rengek Tania kepedasan, karena tak sengaja ia memakan cabe yang ada di dalam makanan tersebut.


"Y_ya ampun, sayang! Pedes yah sayang, pedeeees?" Ucap Bara tergesa-gesa, sambil tersenyum lucu melihat tingkah lakunya. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mengambilkan satu gelas air putih, untuknya.


"M_mamah cantik, m_mamah cantik nggak papa kan?" Ucap Raya yang juga tergesa-gesa, dan juga ikut tersenyum lucu, melihat tingkah lakunya itu.

__ADS_1


"Y_ya ampun sayaaaang, sayurnya pedes bangeeeet!" Ucap Tania, yang masih sedikit kepedasan. Sehingga Ibu Risma yang melihatnya pun, ikut tersenyum lucu dibuatnya.


"Kerjaannya bi Ijah, nih!" Ucapnya.


"Biarin aja, nanti biar bi Ijah yang ngehabisin semua, itu sayur! Biar sama-sama kepedesan, dia!" Ucapnya lagi, sambil terus tersenyum bercanda.


"Masih pedes nggak, sayang?" Ucap Bara lagi, dengan penuh perhatiannya.


"Masiiiiiih!" Rengek Tania, dengan sangat manjanya.


"Uuuuuh! Kasihan, istri mas!" Ucapnya lagi, sambil terus mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Sehingga Ayu yang dari tadi sedang memperhatikannya pun, kesal.


"Ayu ke kamar dulu yah, mah?" Ucapnya, sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya.


"Loh! M_mba Ayu, udah selesai makannya?" Ucap Tania yang berusaha untuk bisa lebih kenal dekat, dengannya.


"Udah!" Jawab Ayu yang lagi-lagi sewot. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melangkah masuk menuju kamarnya.


"Sabar yah, sayang! Mba Ayu, emang kayak gitu orangnya!" Ucap Bara, sambil mengusap-usap punggungnya.


"I_iya mas," ucap Tania, yang terlihat sedikit sedih.


"Meskipun mba Ayu sikapnya kayak gituuu! Tapi kamu harus percaya, sama mas! Mba Ayu itu, aslinya baik kok orangnya!" Ucapnya lagi.


"I_iya mas," ucap Tania lagi, singkat. Kemudian, ia pun langsung terdiam.


"Entahlah, siapa yang benar!" Ucapnya, dalam hati.


"Meskipun mas Bara udah kasih tau aku, kalau Mba Ayu itu baik, tapi kenapa yah? Perasaan aku, mengatakan lain?" Ucapnya lagi dalam hati, yang sedikit ragu dengan pendapat darinya.


*******


"Aaaah, sial!" Teriak Ayu yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, marah.


"Kenapa aku bisa sampai ketinggalan info, tentang mereka sih?"


"N_nggak, nggak bisa! Ini semua nggak bisa dibiarin!"


"Pokoknya, aku harus bisa cari cara untuk memisahkan Bara, dari Tania!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menelpon seseorang. Namun entah siapa sebenarnya seseorang tersebut.


"Iya, hallo!" Ucapnya, via telepon.


"Saya mau kasih kamu, pekerjaan lagi!


"Dan kalau sampai kamu berhasil mengerjakan pekerjaan dari saya ini, saya jamin! Saya akan kasih kamu bayaran yang lebih gede lagi!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru menceritakan pekerjaan apa saja, yang harus seseorang tersebut kerjakan.


"Ok, baik Mba! Saya jamin, semuanya pasti akan berhasil! Secepatnya, mas Bara pasti akan berpisah dengan istrinya!" Ucap seseorang tersebut, yang langsung saja setuju dengan apa itu, perintah darinya.


"Bagus!" Ucap Ayu, lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut. Setelah ia memutuskan sambungan telepon tersebut, ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Aaaah, sial!" Ucapnya.


"Mas Aldo kemana lagi, jam segini belum pulang?"


"Kenapa sih, kalau lagi ada masalah kayak gini! Selaluuuu aja, mas Aldo itu nggak pernah ada di rumah?"


"Dan kenapa juga, mas Aldo itu selalu menghilang tiba-tiba, nggak ada kabar?"


"Mana dari tadi, handphonenya juga nggak bisa dihubungi lagi!" Ucapnya lagi serius, kalau ternyata dari tadi, handphone Aldo suaminya itu tidaklah aktif, dan bahkan ia pun sebenarnya tidak tau, sekarang ini Aldo suaminya itu ada di mana.


"Awas aja yah! Kalau sampai mas Aldo berani macam-macam dibelakang,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong.


"Sayang, kamu belum tidur?" Ucap Aldo yang baru saja pulang, dan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Dari mana aja kamu, mas? Jam segini baru pulang?" Ucap Ayu, marah.


"Oh! I_ini sayang, tadi mobil aku mogok! Jadi aku harus mampir dulu, ke bengkel!" Ucap Aldo, gugup.


"Ooooh, ke bengkel?" Ucap Ayu, sambil berjalan melangkah mendekat ke arahnya. Kemudian, ia pun langsung mencium aroma shampo, yang melekat di rambutnya.


"Wangi shampo siapa, ini mas?" Ucapnya lagi, yang terlihat seperti sedang mengintrogasinya.


"Oh! I_ini sayang, t_tadi pas aku lagi nungguin mobil di bengkel, aku mampir dulu ke sal,,,,," seketika ucapan Aldo itu pun, langsung terpotong.


"Aku peringatin yah, sama mas! Kalau mas mau hidup tenang, keluarga mas semuanya tetap mau hidup terjamin, jangan pernah sekalipun, mas berani coba macam-macam di belakang aku! Ngerti!" Gretak Ayu, dengan sangat tegas dan jelas.


"K_kamu ngomong apa sih, sayang? Y_ya nggak bakalan lah, sayang! Mas berani macam-macam, di belakang kamu!" Ucap Aldo. Kemudian, ia pun langsung buru-buru memeluknya.


"Karena sampai kapanpun, mas ini akan selalu sayang dan setia, sama kamu!"


"Hanya kamu, sayang! Hanya kamu yang ada di hati mas!"


"Jadi kamu nggak boleh yah, sayang! Berfikiran macam-macam, tentang mas!" Ucapnya lagi, mencoba untuk meyakinkannya, yang seyakin-yakinnya.


"Ya udah kalau gitu, sekarang mas mandi! Aku nggak suka, aku nggak suka sama aroma shampo, yang mas pakai sekarang ini!" Ucap Ayu, yang langsung saja menyuruhnya seperti itu. Karena entah mengapa, ia memang benar-benar tidak suka dengan aroma shampo, yang sekarang ini sedang Aldo, suaminya itu pakai.

__ADS_1


######


Maaf jika Visualnya kurang pas 🙏


__ADS_2