Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 13.


__ADS_3

MASIH DI VILLA.


Waktu menunjukkan pukul 01:00 Siang.


Terlihat semua keluarga pak Ilham dan keluarga Ibu Risma yang sedang merayu Raya yang dari tadi sedang ngambek.


"Raya sayaaaang, Raya enggak boleh kayak gitu! Sekarang ini kan kita semua harus pulang, jadi kalau anak papah yang cantik ini mau jalan-jalan lihat pantai dibelakang Villa, kapan-kapan aja yah kita kesini lagi!" Ucap Bara mencoba untuk merayunya seperti itu.


"Enggak mau! Pokoknya Raya pengin ke pantainya sekarang aja! Sama papah juga sama mamah cantik! Raya pengin berenang!" Ucap Raya masih terus ngambek.


"Ya enggak bisa gitu dong sayang! Kan sekarang ini papah enggak ada waktu, soalnya kan nanti malam papah ini ada meeting sama klien bisnis papah!" Ucap Bara lagi. Ia berbicara seperti itu karena memang benar, kalau nanti malam itu ia mendadak ada meeting dengan klien bisnisnya yang mengharuskan mereka semua untuk pulang sekarang juga.


"Iiiiiihhhh, Papah jahat! Papah udah enggak sayang lagi sama Raya!" Ucap Raya semakin ngambek.


"Stttttt, Raya, Raya, Raya! Raya enggak boleh kayak gitu! Raya ini harus nurut sama Papah Raya, yaah?" Ucap Tania yang juga ikutan merayunya.


"Tapi kan Raya pengin berenang sama mamah cantik juga sama papaaah!" Ucap Raya merengek-rengek sampai hampir menangis, sehingga Ibu Risma yang melihatnya pun merasa kasihan dan tak tega.


"Ya udah lah Bara, lebih baik sekarang kamu sama Tania antar Raya aja dulu ke pantai! Palingan enggak ada sejam juga dia udah bosan!" Ucapnya mencoba untuk memberinya saran seperti itu.


"Iya Bara, bener apa kata mamah kamu! Udah lebih baik sekarang kamu sama Tania antar Raya aja dulu ke pantai! Nanti habis dari pantai, baru kita semua pulang," ucap Ibu Savira yang juga memberinya saran seperti itu kepadanya. Hingga akhirnya Bara pun menuruti apa kemauan dari Raya putrinya itu.


"Ya udah kalau gitu! Mah, pah, Bara anter Raya ke pantai dulu yah?" Ucapnya, kemudian ia pun langsung melangkah bersama Raya dan Tania menuju pantai tersebut yang berada tepat di belakang Villa miliknya itu.


"Waaah! Tempatnya indah banget sayaaang? Sepi lagi, serasa pantai ini cuma milik kita!" Ucap Tania yang terkejut melihat betapa indahnya pantai yang berada disekitar Villa mewah nan elite milik Bara suaminya itu yang memang terlihat sangat sepi dan nyaman untuk berenang, karena ternyata untuk wilayah itu pantai tersebut memang masuk kedalam wilayah Villa nya, yang artinya Villa mewah nan elite sekaligus pantai tersebut adalah miliknya pribadi, dan hanya orang-orang kalangan atas saja lah yang bisa dan mampu membeli tempat mewah nan elite tersebut.


"Tuh kan bener mamah cantik, apa kata Raya tadi! Kalau pemandangan disini tuh indah banget! Pokoknya rugi deh mamah cantik kalau kita ini enggak berenang dulu disini!" Ucap Raya sambil tersenyum dengan penuh semangat. Ia berbicara seperti itu, karena ternyata tadi itu ia sempat menceritakan kepada Tania mamah barunya itu tentang betapa indahnya pemandangan yang ada disekeliling pantai tersebut.


"Iya sayang, bener apa kata kamu tadi! Ternyata pemandangannya indah bangeeeet! Mamah jadi tambah betah deh disini!" Ucap Tania sambil tersenyum dan terus terpesona melihat pemandangan-pemandangan disekeliling pantai tersebut yang memang terlihat sangatlah indah, sehingga Bara yang dari tadi sedang berdiri di sampingnya pun tersenyum dingin melihatnya.


"Berhenti menatap kayak gitu! Kamu ini terlihat seperti kayak orang kampung tau enggak?"



Ucapnya dingin, dengan secara tiba-tiba ia menyebutnya seperti itu, sehingga membuat Tania pun kesal dibuatnya.

__ADS_1


"A_ apa tadi mas bilang? Terlihat seperti kayak orang kampung?"



Ucapnya marah dan tak terima dengan sebutannya itu, karena menurutnya ia tidaklah sekampungan itu, apalagi semua orang juga tau kalau ia itu adalah sosok perempuan yang sangat kekinian yang gaya dan penampilannya pun sangatlah mewah dan glamor.


"Ya emang kenyataannya kayak gitu kan? Kamu ini emang terlihat seperti kayak orang KAMPUNGAN!" Ucap Bara dengan sangat jelas tepat ditelinganya, kemudian ia pun langsung melangkah pergi untuk jalan-jalan kecil dipinggiran pantai tersebut, meninggalkannya hanya sendiri.


"Iiiihhh! Ngeselin banget sih Om-om gila dan enggak jelas itu! Emang gue ini terlihat sekampungan tu apa?" Teriak Tania dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Mamah cantik, mamah cantik! Ayo sekarang juga kita ganti baju! Katanya sekarang mamah cantik mau berenang?" Teriak Raya yang sudah berada tepat di depan ruang ganti baju tersebut.


"Oh i_ iya sayang!" Teriak Tania.


"Sayang! Papah enggak ikut berenang yah? Soalnya kan Papah udah mandi, Papah lihat Raya berenang aja yah dari sini!" Teriak Bara yang sedang berjalan-jalan kecil dipinggiran pantai tersebut, ia berbicara seperti itu karena memang ia tidak mau jika harus mandi lagi, karena menurutnya itu semua akan membuang-buang waktu. Kemudian ia pun langsung melanjutkan jalan-jalan kecil lagi, hingga akhirnya 15 menit kemudian ia pun melihat Tania dan juga Raya yang sudah selesai ganti baju dan sedang berjalan dengan asyik menuju pantai tersebut untuk berenang.


"Waaah! Tempatnya bener-bener indah banget yah sayang? Mamah jadi enggak sabar deh pengin cepat-cepat berenang!" Ucap Tania yang masih terus terpesona melihat keindahan pemandangan pantai tersebut.


"Iya mamah cantik, Raya juga udah enggak sabar pengin cepat-cepat berenang!" Ucap Raya sambil tersenyum dan terus berjalan bersama dengan Tania menuju pantai tersebut, namun belum juga mereka sampai, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Tania! Tunggu!" Teriak Bara sambil berjalan menghampiri mereka berdua.



Karena ia memakai baju renang yang sangat terbuka, ketat menyerupai kulit, dan juga sangat transparan, sehingga memperlihatkan dengan sangat jelas bagian-bagian tubuhnya yang sangat putih, dan mulus itu, dan juga lekuk tubuhnya yang sangat seksi bak gitar spanyol itu kepadanya.


"Ya udah yah mamah cantik, mamah cantik ngobrol aja dulu sama papah! Raya mau lihat-lihat pemandangan dulu disana!" Ucap Raya, kemudian ia pun langsung berjalan menuju tempat tersebut meninggalkan Tania yang sedang dihampiri oleh Bara ayahnya itu hanya sendiri.


"Ada apa mas? Kok mas panggil Tani,,,,,,,," seketika ucapannya itu pun terpotong.


"Aw, Sssttttt! Aduh, aduh! Sakit mas?" Ucapnya lagi kesakitan sambil memegangi lengannya, karena dengan secara tiba-tiba Bara suaminya itu langsung menggenggam lengannya yang sangat putih dan mulus itu dengan sangat kasar.


"Kamu ngapain berenang pakai baju kurang bahan dan transparan banget kayak gini, hah? Kamu sengaja mau ngajarin Raya dengan hal-hal yang enggak bener?" Ucap Bara marah sambil terus menggenggam lengannya itu dengan sangat kasar, karena ia benar-benar tidak suka melihatnya berenang dengan pakaian terbuka dan seseksi itu, apalagi didepan Raya putri semata wayangnya.


"Aw, Sssttttt! Sakit mas lepasin!" Ucap Tania marah sambil buru-buru melepaskan genggaman kasar tersebut dari lengannya.

__ADS_1


"Mas ini apa-apaan sih? Sakit tau!" Ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru meniupi lengannya itu dengan sangat pelan, karena lengannya itu benar-benar sangat sakit bahkan sampai ada bekasnya dan terlihat sangat merah.


"Mas, Tania kasih tau yah sama mas! Tania itu disini mau berenang! Bukan mau ke pengajian! Jadi Tania ini enggak salah sama sekali memakai pakaian kayak gini! Mau didepan Raya kek, mau didepan semua orang kek! Karena apa? Karena pakaian berenang itu emang kayak gini!" Ucap Tania masih marah, ia mencoba untuk menjelaskannya seperti itu.


"Lagian Tania ini heran deh sama mas! Kenapa sih mas itu benci banget sama Tania! Emang Tania ini punya salah apa sih sama mas?" Ucapnya lagi bingung. Dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum dingin mendengarnya.


"Apa tadi kamu bilang? Kamu punya salah apa sama mas?" Ucapnya.


"Salah kamu itu, kenapa kamu mau dijodohin sama mas! Kenapa kamu enggak nolak aja, hah.?" Ucapnya lagi mencoba untuk memberi tahu apa kesalahannya itu, sehingga membuat Tania pun tersenyum lucu mendengarnya.


"Apa mas bilang? Kenapa Tania mau dijodohin sama mas? Kenapa Tania enggak nolak aja?" Ucapnya.


"Kalau emang mas enggak mau dijodohin sama Tania, kenapa enggak mas aja yang nolak?" Ucapnya lagi mencoba untuk membalikkan ucapnya itu.


"Lagian mas itu seharusnya bersyukur tau enggak sih! Menikah sama perempuan muda secantik dan seseksi Tania! Karena apa? Karena diluaran sana itu banyak banget tau enggak sih laki-laki yang mau sama Tania!" Ucapnya lagi menyombongkan dirinya seperti itu, sehingga membuat Bara pun tersenyum lucu mendengarnya.


"Apa kamu bilang? Diluaran sana banyak banget laki-laki yang mau sama kamu!" Ucapnya.


"Kamu pikir, diluaran sana juga enggak banyak perempuan yang ngantri pengin jadi istrinya mas!" Ucapnya lagi yang juga ikut-ikutan menyombongkan dirinya seperti itu.


"Lagian mas menikah sama kamu itu udah kayak musibah tau enggak sih? Musibah yang sangat besar!" Ucapnya lagi.


"Terserah mas aja deh mau ngomong apa! Yang jelas Tania ini udah males banget ngomong sama om-om tua yang kuno kayak mas!" Ucap Tania.


"Apa tadi kamu bilang? Om-om tua yang kuno kayak mas?" Ucap Bara tidak terima dengan sebutannya itu, karena menurutnya usainya sekarang ini tidaklah setua itu.


"Ia, emang kenyataannya mas ini udah tua kok, kuno lagi! Enggak tau pergaulan! Jadinya Tania terus yang disalah-salahin!" Ucapnya lagi-lagi menyebutnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun lagi-lagi tersenyum dingin mendengarnya.


"Dengerin yah! Mas ini belum tua, mas ini masih mud,,,,," Seketika ucapnya itu pun terpotong.


"Terserah mas aja deh! Tania capek ngomong terus sama mas! Karena kita ini beda generasi! Jadi mau sampai kapanpun kita ini enggak akan pernah nyambung!" Ucap Tania lagi.


"Jadi mendingan sekarang Tania berenang aja sama Raya!" Ucapnya.


"Dadaaaaaaaah!" Ucapnya lagi sambil berjalan menghampiri Raya dan mengajaknya untuk berenang.

__ADS_1


#######


Maaf jika Visualnya kurang pas 🙏


__ADS_2