
"Tania, ayo sekarang juga kamu ikut saya ke ruang utama saya!"
Ucap Bara yang baru saja masuk kembali ke dalam ruangan tersebut, dengan raut wajah yang sangat dingin, dan juga terlihat sangatlah tegas
"Karena mulai dari hari ini, selama kamu magang di perusahaan ini! Saya akan tempatkan kamu sebagai sekertaris saya, untuk sementara!" Ucapnya lagi yang terpaksa menuruti apa itu perintah dari ibu Risma mamahnya, sehingga membuat semua orang yang ada di dalam raungan tersebut pun kaget, begitu pun juga dengan Tania.
"A_apa! T_tadi mas ngomong apa? Mulai dari hari ini, Tania akan ditempatkan sebagai sekertaris mas, untuk sementara?"
Ucapnya tak percaya sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"M_mas serius? B_berarti kalau kayak gitu, T_Tania ini nggak jadi ditempatkan sebagai OB dong mas?" Ucapnya lagi dengan sangat gugup, karena saking senangnya mendengar kabar tersebut. Kemudian ia pun langsung buru-buru menatap kearah semua teman-temannya.
"Yesss!" Ucapnya lagi dengan sangat bahagianya.
"Syukurlah Tan, akhirnya loh nggak jadi ditempatkan sebagai OB!" Ucap Sinta yang juga ikut tersenyum, karena ia pun ikut merasakan betapa bahagianya perasaan sahabatnya itu sekarang ini.
"Iya Sin, akhirnyaaaa gue nggak jadi ditempatkan sebagai OB!" ucap Tania lagi sambil terus tersenyum.
Melihat Tania tersenyum sebahagia itu, Bara tidak perduli sama sekali, ia pun malah justru langsung melangkah keluar dari dalam ruang tersebut, meninggalkan mereka semua, dengan raut wajah yang masih sangatlah dingin.
"Y_ya udah yah Sin, Tar, Nit! Sekarang gue ke ruangan mas,,,Eh! P_Pak Bara dulu!" Ucapnya lagi berpamitan kepada semua temannya, kemudian ia pun langsung buru-buru lari untuk mengejarnya yang sudah lebih dulu keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Sial! Jadi anak magang itu, beneran ditempatkan sebagai sekertaris Pak Bara?" Ucap Dina yang dari tadi masih berada di dalam ruangan tersebut, kesal.
"Mas Bara, tungguuu!" Teriak Tania sambil terus berlari untuk mengejarnya, hingga akhirnya dengan sangat terengah-engah, ia pun berhasil juga mengejarnya.
"Iiiihhh! Mas Bara ini kenapa sih? Kok mas Bara jalannya cepet banget? Tania kan capek ngejarnyaaaa?" Rengeknya yang sekarang ini sudah berjalan berjejeran dengannya, namun sepertinya ia tidak tau, kalau ternyata Bara suaminya menempatkannya sebagai sekertaris di perusahaannya itu karena terpaksa, dan sepertinya juga, ia pun tidak tau dengan Tata Krama semua karyawan di perusahaan tersebut, kalau semua karyawan di perusahaan tersebut, satu pun tidak ada yang berani berjalan berjejeran dengannya, apalagi sampai mendahului langkah kakinya.
Mendengar rengekan darinya, lagi-lagi Bara tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun terus berjalan menuju ruangannya, dengan raut wajah yang masih sangatlah dingin, dan juga terlihat sangatlah berwibawa.
__ADS_1
"Pagi Pak!" Sapa salah satu karyawan di perusahaan tersebut kepadanya, dengan sangat sopan dan hormat, sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi!" Jawabnya dengan tegas dan dingin, sambil terus berjalan menuju ruangannya, tanpa mempedulikan langkah kaki Tania istrinya sedikit pun, sehingga langkah kakinya yang panjang itu pun, lagi-lagi membuat langkah kaki Tania, yang memang selalu berjalan bak model pun tertinggal olehnya.
"Iiiihhh, mas Bara itu kenapa sih? Nggak pernaaah, mau dengerin kalau Tania ini ngomong!" Gerutu nya kesal, namun dengan kepolosannya itu, ia pun tetap tersenyum dan terus semangat mengejar-ngejarnya untuk menyamai langkah kakinya itu, hingga lagi-lagi akhirnya ia pun berhasil juga mengejarnya.
"Mas Bara, sebenarnya sekarang ini kita mau ke mana sih mas? Bukannya ruangan mas itu, ada di lantai dua yah? Di samping ruangan anak magang yang tadi?" Ucapnya yang sekarang ini sudah berjalan berjejeran lagi dengannya, sambil terus berusaha untuk menyamai langkah kakinya, meskipun sesekali ia pun tertinggal lagi, dan tertinggal lagi olehnya.
"Iiiiiihhhh!" Ucapnya lagi kesal, sambil terus berusaha untuk menyamai lagi langkah kakinya.
"Pagi Pak!" Sapa salah satu karyawan di perusahaan tersebut lagi kepadanya, dengan sangat sopan dan hormat, sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi!" Jawabanya tegas, sambil memencet tombol lift di perusahaan tersebut, kemudian ia pun langsung masuk ke dalam lift tersebut dan naik menuju lantai 20, sehingga Tania yang mengikutinya pun semakin bingung lagi dibuatnya.
"M_mas Bara, sebenarnya sekarang ini kita mau kemana sih? Bukannya raungan mas itu, ada di lantai dua yah? Di samping raungan anak-anak magang tadi?" Ucapnya lagi-lagi bertanya seperti itu. Namun sayang, lagi-lagi Bara suaminya itu pun tidak menghiraukan ucapannya itu sedikit pun, ia pun terus terdiam di dalam lift tersebut, dengan raut wajah yang masih sangatlah dingin, sehingga membuat Tania pun kesal dibuatnya.
"Iiiihhh! Mas Bara itu dari tadi dengerin Tania ngomong nggak sih?" Ucapnya.
"Tania ngomong kayak gini, nggak dijawab! Tania ngomong kayak gitu, juga nggak dijawab!" Ucapnya lagi dengan bawelnya, sambil terus marah-marah, sehingga Bara suaminya, yang memang sangat-sangat angkuh dan dingin itu pun akhirnya angkat suara.
"Tadi itu kan saya udah kasih tau kamu! 'Ke raung utama saya!' Emang kamu nggak denger?" Ucapnya lagi dengan jalas menyebutnya lagi seperti itu.
"Ya lagian mas sih! Tinggal jawab kayak gitu doang, apa susahnya sih?" Ucap Tania lagi ngambek, sambil cemberut manja selayaknya istri-istri lain pada umumnya.
"Ya udah makannya diem! Ikuti aja mas!" Ucap Bara lagi dengan tegas menyuruhnya seperti itu.
"Ya ini juga dari tadi Tania udah ngikutin mas!" Ucap Tania lagi masih terus cemberut. Namun disaat ia sedang cemberut seperti itu, tiba-tiba ia dibuat kaget dan panik, karena tiba-tiba lift yang sedang ia dan Bara suaminya itu naiki terhenti.
"M_mas Bara, i_ini kenapa? Kok berhen,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong, karena dengan secara tiba-tiba lagi, lampu didalam lift tersebut pun ikut mati, sehingga keadaan didalam lift tersebut pun terlihat sangatlah gelap, bahkan karena saking gelapnya, sampai-sampai membuat Tania pun ketakutan dibuatnya.
"M_mas Bara, m_mas Bara dimana mas? M_mas Bara dimana?" Ucapnya gugup dan tergesa-gesa.
"T_Tania takut mas! T_Tania takuuut!" Rengeknya yang terdengar sangatlah panik, dan ketakutan, sehingga Bara yang memang berdiri sedikit jauh darinya pun, seketika langsung mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Tania, kamu kenapa Tania? Kamu kenapa?" Ucapnya dengan sangat tergesa-gesa, karena ia pun panik mendengarnya ketakutan seperti itu. Karena meskipun dari tadi ia itu sangat kesal kepadanya, akan tetapi ia tidaklah sejahat itu, apalagi melihatnya ketakutan sampai sepanik itu.
"Hiks,,, hiks,,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut! Hiks,, hiks,, gelap mas! Hiks,, hiks,, gelaaap!" Ucap Tania lagi ketakutan sampai menangis. Kemudian dengan secara tiba-tiba sebuah kejadian tragis beberapa tahun yang lalu pun langsung terlintas dipikirannya.
****
"Hahahaha! Cupu, cupuuu! Anak cupuuu!" Teriak beberapa anak kecil, yang masih memakai seragam sekolah SD secara bersamaan, sambil terus mentertawakan salah satu dari temannya, yang seperti sedang mereka kurung di dalam sebuah gudang yang terlihat sangat gelap, dan juga sunyi, dan kemungkinan anak kecil yang sedang mereka kurang tersebut adalah Tania.
"Hiks,, hiks,, keluarin aku dari dalam gudang ini! Hiks,, hiks,, gelap! Hiks,, hiks,, aku takut! Hiks,, hiks,, aku takut! Hiks,, hiks,, keluarin!" Teriaknya ketakutan sambil terus menangis, bahkan saking takutnya, ia pun terlihat sampai gemetaran dan hampir pingsan.
Mendengar temannya ketakutan sampai menangis seperti itu, alih-alih kasihan, mereka semua malah justru terus menertawakannya.
"Hahahaha! Kita semua nggak akan pernah mau ngeluarin anak cupu kayak kamu, dari dalam gudang ini!" Teriak salah satu dari mereka, kemudian mereka semua pun langsung menertawakannya lagi.
"Hahahaha! Cupu, cupuuu! Anak cupuuu!" Teriak mereka semua secara bersamaan, lagi-lagi menyebutkan seperti itu sambil bertepuk tangan, sehingga Tania yang sekarang ini masih terjebak di dalam lift tersebut pun semakin ketakutan lagi dibuatnya.
"N_nggak, Hiks,, hiks,, n_nggak! T_Tania takut mas? Hiks,, hiks,, Tania takuuut!" Ucapnya.
"Tania, kamu kenapa Tania? Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan Tania? Kamu nggak papa kan?" Ucap Bara lagi semakin panik, sambil menggoyang-goyangkan pundaknya.
"Hiks,, hiks,, nggak mas Bara! Hiks,, hiks,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut!" Ucap Tania lagi sambil terus menangis, dan menjambak-jambak rambutnya, karena sepertinya otaknya itu sebenarnya tidak mau menerima ingatan tersebut muncul di pikirannya, akan tetapi memory dan ingatan tersebut pun justru selalu muncul, dan selalu muncul di pikirannya, disaat sedang dalam keadaan gelap.
"Hiks,, hiks,, nggak! Hiks,, hiks,, Tania mau keluar dari sini mas! Hiks,, hiks,, Tania takut, hiks,, hiks,, Tania takuuuut!" Ucapnya lagi ketakutan sambil terus menangis dan menjambak-jambak rambutnya tiada henti, sehingga Bara yang mendengarnya pun seketika langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Sssttttt! Iya, iya, iyaaaa," Ucapnya dengan sangat pelan.
"Kamu takut? Kamu takuuut?" Ucapnya lagi sambil mengusap-usap rambutnya.
"Hiks,, hiks,, iya mas, hiks,, hiks,, Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuuut!" Ucap Tania lagi yang sekarang ini sudah berada di pelukannya.
"Ya udah iya iya, Ssssttttt! Kamu nggak usah takut lagi yah! Kamu nggak usah takut lagi! Kamu tenang! Kan disini ada mas?" Ucap Bara lagi dengan penuh perhatiannya, sambil terus mengusap-usap rambutnya.
"Hiks,, hiks,, tapi Tania takut mas! Hiks,, hiks,, Tania takuuut! Hiks,, hiks,, Tania nggak mau disini mas! Hiks,, hiks,, Tania nggak mau disini!" Ucap Tania yang justru semakin ketakutan lagi.
__ADS_1
"Iya iya, mas juga tau kamu takut! Udah lebih baik sekarang kamu tenang, yaaaah?" Ucap Bara lagi dengan sabarnya, sambil terus mengusap-usap rambutnya.
"Sekarang biar mas cari bantuan!" Ucapnya lagi. Kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru memencet tombol darurat yang ada di dalam lift tersebut untuk meminta bantuan, hingga setengah jam kemudian ia dan Tania pun mendapat bantuan tersebut dan akhirnya berhasil keluar dari dalam lift tersebut.