
Setengah jam kemudian,,,,,,
DI PERJALANAN.
Terlihat Tania dan teman-teman segank nya yang sedang ada di dalam perjalanan menuju sebuah perusahaan tempat di mana ia hari ini akan magang, namun selama di sepanjang perjalanan, Tania terus terbengong tiada henti.
"Kasihan juga yah Mas Bara, harus dituduh-tuduh kayak gitu sama Mba Ayu! Padahal kalau menurut aku, Mas Bara kelihatannya nggak se egois itu! Bahkan Mas Bara itu kelihatannya sangat sayang dan sangat perduli dengan keluarga!" Ucapnya dalam hati, sepertinya meskipun ia itu tidak suka dengan kelakuan kasar dari Bara suaminya, akan tetapi ia tau kalau Bara suaminya itu bukanlah sosok orang seperti apa yang dituduhkan oleh Ayu kakak iparnya itu.
"Tan, loh itu sebenarnya kenapa sih dari tadi bengong terus?" Ucap Sinta bingung melihat Tania sahabatnya itu yang dari tadi terbengong seperti itu.
"Tau nih Tania, ada apa sih? Terus loh juga kenapa sih, koh akhir-akhir ini kayaknya loh itu jadi aneh banget?" Sambung Nita yang juga bingung dengan kelakuannya akhir-akhir ini yang menurutnya sangatlah aneh.
"Iya nih Tania, loh kenapa sih? Udah kemaren loh ngilang hampir 2 hari nggak kasih kabar ke kita-kita! Mana handphone loh juga nggak bisa dihubungi lagi! Bikin kita panik aja tau nggak?" Sambung Tari.
"Sebenarnya loh itu dari mana aja sih kemaren?" Ucapnya lagi, dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga membuat Tania yang sedang terbengong pun seketika langsung terbangun dari bengongnya.
"Oh, i_itu! G_gue kemaren, eeemmm? I_itu,,,,," seketika ia pun langsung terdiam.
"Aduuuuuh! Gue harus kasih alasan apa nih sama mereka? Gue yakin deh, mau gue kasih alasan apapun juga sama mereka, pasti mereka semua nggak akan pernah percaya dengan apapun alasan dari gue itu!" Ucapnya dalam hati bingung.
"Tan, kok loh ditanya malah diem lagi sih? Loh kemaren-kemaren dari mana aja nggak kasih kabar ke kita-kita?" Ucap Tari lagi semakin penasaran.
"Oh k_kemaren yah? I_itu, g_gue kemarin lagi ada acara keluarga! I_iya bener, g_gue kemarin lagi ada acara keluar,,,,," seketika ucapannya itu pun terpotong.
"Eh semuanya, lihat deh! Itu bukannya perusahaan PT. PUTRA WIJAYA tempat dimana kita semua hari ini akan magang yah?" Ucap Nita heboh, sambil menunjuk kearah sebuah gedung perusahaan tersebut yang terlihat sangatlah besar, megah, luas, dan juga sangatlah tinggi, atau bisa dibilang gedung tersebut adalah gedung raksasa karena saking besar dan tingginya, sehingga membuat Tania dan semua teman-temannya itu pun seketika langsung kaget dibuatnya.
"What! I_ini serius? K_kita semua akan magang di perusahaan segede itu!" Ucap Tania tak percaya sambil terbengong dan terus menatap kearah gedung raksasa tersebut.
"Waaah, Gila! Gedungnya gede bangeeeet!" Sambung Nita sambil tersenyum dan terbengong kerena saking takjub dan herannya melihat betapa besarnya gedung raksasa tersebut.
"Gue jadi nggak sabar nih pengin cepet-cepet turun! Gue pengin lihat langsung dari dekat perusahaan besar tempat kita magang itu!" Ucapnya lagi yang benar-benar sudah tidak sabar ingin cepat-cepat turun dari dalam mobilnya itu, dan melihat langsung gedung raksasa tempat ia magang tersebut.
__ADS_1
"Iya bener, gue juga pengin lihat langsung perusahaan itu dari dekat! Ya udah, ayo cepetan kita turun!" Sambung Sinta.
"Ya udah, ayo, ayo!" Sambung Tari sambil buru-buru melangkah keluar dari dalam mobil tersebut, diikuti oleh Tania, Sinta, dan Nita dari belakang.
"Waaaaah, Gila! Serius deh, ini perusahaan emang bener-bener gede banget! Apalagi kalau dilihat dari dekat kayak gini! Gue jadi penasaran deh, sebenarnya Sulthan dari mana sih? Yang bisa memiliki perusahaan raksasa segede ini!" Ucapnya lagi yang baru saja turun dari dalam mobil tersebut, sambil terus terbengong melihat betapa besar dan luasnya gedung raksasa tersebut.
"Iya bener! Gue juga penasaran, sebenarnya laki-laki atau perempuan sih pemilik perusahaan ini! Secantik dan seganteng apa sih rupanya! Gue jadi tambah nggak sabar deh pengin cepat-cepat masuk ke dalam perusahaan ini, pengin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan tempat kita magang ini!" Sambung Sinta yang benar-benar sudah semakin tak sabar ingin cepat-cepat melihat langsung siapa pemilik perusahaan tersebut.
"Ya udah, ayo, ayo! Gue juga udah nggak sabar nih pengin cepet-cepet masuk!" Sambung Tania sambil buru-buru melangkah masuk menuju perusahaan tersebut, dan ikuti oleh teman-temannya itu dari belakang, namun baru saja Tania dan teman-temannya itu melangkah, tiba-tiba salah satu dari temennya itu, yaitu Sinta, tak sengaja tertabrak oleh seorang perempuan.
"Aw! Aduh, aduh!" Ucapnya kesakitan.
Melihat Sinta tertabrak sampai kesakitan seperti itu, alih-alih meminta maaf, seorang perempuan tersebut malah justru langsung memaki-maki nya.
"Eh, kalau jalan tuh pakai mata! Nggak tau orang lagi lewat kali yah? Asal main tabrak-tabrak aja loh!" Ucapnya marah, sehingga membuat Tania yang memang masih sangat labil itu pun terpancing emosinya.
"Eh Mba, kalau ngomong tuh yang bener yah! Yang seharusnya jalan pakai mata itu Mba! Karena Mba yang udah nabrak temen gue duluan!" Ucapnya.
"Tau nih Mba! Udah salah, bukannya minta maaf! Malah marah-marah!" Sambung Tari yang juga ikut terpancing emosinya.
"Apa Mba bilang, temen gue yang udah nabrak Mba duluan?" Ucap Tania yang juga tak terima dengan tuduhannya itu.
"Eh Mba, tadi itu udah jelas-jelas yah! Mba yang tadi udah nabrak temen gue duluan! Jadi Mba yang harus minta maaf sama temen gue!" Ucapnya lagi.
"Enak aja! Temen loh yang seharusnya minta maaf duluan sama gue!" Ucap seorang perempuan tersebut yang tetap kakeuh dengan kemauannya itu, sehingga membuat Tania pun semakin emosi dibuatnya.
"Eh Mba, Mba itu bener-bener nggak bisa dikasih tau baik-baik yah! Tadi itu Mba yang udah jelas-jelas nabrak temen gue duluan! Jadi Mba yang seharusnya minta maaf duluan sama temen gu,,,,,," seketika ucapannya itu pun terpotong.
"Sssttttt! Udah Tania, udah, udah! Udah nggak usah pada ribut! Udah nggak papa biar gue aja yang minta maaf duluan sama Mba ini!" Ucap Sinta mencoba untuk mengalah, karena seperti yang kita tau, dari semua teman-teman segank nya itu, ia lah yang memang paling pengertian dan dewasa dalam berfikir.
"Loh kok gitu sih Sin, nggak bisa kayak gitu dong! Yang seharusnya minta maaf duluan itu Mba-mba ini, karena Mba-mba ini yang tadi udah nabrak loh dulu,,,,," Lagi-lagi ucapan Tania itu pun terpotong.
__ADS_1
"Udah Tania, udah, udah! Udah nggak papa!" Ucap Sinta lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah mendekat kearah seorang perempuan tersebut.
"Mba, saya minta maaf yah! Karena tadi itu saya nggak sengaja udah nabrak Mba!" Ucapnya mencoba untuk meminta maaf dengan sangat sopan, sehingga membuat seorang perempuan tersebut pun langsung tersenyum dan besar kepala.
"Nah gitu dong! Tinggal minta maaf doang, apa susahnya sih?" Ucapnya, kemudian ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan mereka semua, sambil buru-buru mengangkat sebuah telepon genggam miliknya.
"Ia hallo, ada apa Pak?" Ucapnya via telepon.
"Oh, Oke, Oke, baik Pak! Sekarang juga saya akan menyiapkan semua berkas-berkas untuk meeting Bapak nanti siang!" Ucapnya lagi sambil terus berjalan masuk ke dalam perusahaan tersebut meninggalkan Tania dan teman-temannya itu yang masih berdiri tepat di depan perusahaan tersebut.
"Sinta, loh itu tadi apa-apaan sih asal main minta maaf kayak gitu aja sama Mba-mba itu! Tadi itu kan bukan salah loh! Yang nabrak loh duluan kan Mba-mba itu! Jadi seharusnya kan Mba-mba itu yang tadi minata maaf sama loh duluan!" Ucap Tania yang bener-bener kesal dengan sikap Sinta Sahabatnya itu yang selalu mengalah seperti itu kepada semua orang.
"Tau nih Sinta, gimana sih loh! Kan yang seharusnya minta maaf duluan itu Mba-mba itu!" Sambung Nita yang juga kesal dengan sikap Sinta Sahabatnya itu.
"Iya nih Sinta, jadi orang sih ngalah terus kayak gitu! Kalau loh ngalah terus kayak gitu, nanti lama-lama loh bisa diinjak-injak loh sama orang-orang yang nggak punya etika kayak Mba-mba tadi!" Sambung Tari mencoba untuk menasehatinya.
"Udah, udah! Kalian nggak usah pada marah-marah kayak gini sama gue! Gue ngelakuin ini semua, karena gue nggak mau kalau nanti kita semua sampai kena masalah!" Ucap Sinta, dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Tania, Tari, dan Nita pun bingung mendengarnya.
"Kena masalah, maksudnya?" Ucap mereka bertiga secara bersamaan.
"Iya kena masalah, emang kalian nggak pada lihat itu Mba-mba tadi masuk ke dalam perusahaan tempat kita magang! Gue cuma takut aja kalau itu Mba-mba salah satu dari karyawan, atau senior kita di perusahaan tempat kita magang ini!" Ucap Sinta mencoba untuk menjelaskan mengapa tadi itu ia bisa mengalah seperti itu kepadanya.
"Karena kalau sampai semua itu benar, kan keadaan kita semua nanti bisa terancam di perusahaan ini!" Ucapnya lagi.
"Aduuuuh, bener juga yah kata loh itu Sin! Gimana kalau ternyata bener dugaan loh itu! Kalau Mba-mba tadi itu ternyata salah satu karyawan, atau salah satu senior dari perusahaan tempat kita magang ini?" Ucap Tari sedikit panik.
"Kan bisa gawat kalau kayak gini ceritanya!" Ucapnya lagi.
"Iya bener-bener! Bisa-bisa keadaan kita semua nanti bisa terancam di perusahaan ini! Masa anak magang kayak kita punya musuh senior kayak Mba-mba tadi!" Sambung Nita yang juga panik dengan keadaan tersebut.
"Udah, udah, kalian tentang aja! Kalian semua nggak usah pada panik kayak gitu! Lagian kan tadi itu kita semua nggak salah, yang salah itu kan Mba-mba itu! Jadi ngapain kita semua harus takut!" Ucap Tania mencoba untuk menenangkan semua teman-temannya itu.
__ADS_1
######
Maaf kalau ceritanya nggak nyambung! Karena novel ini baru saja selesai Author edit beberapa bab, jadi untuk para Reader's yang sudah terlanjur baca novel ini, jika berkenan dimohon untuk baca ulang 🙏