
Melihat keadaan Tania lemas dan tak berdaya seperti itu karena ulahnya, Bara pun tersenyum.
"Kasian kamu sayang, lemes yah?" Ucapnya dengan penuh perhatiannya, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"I_iya mas, Tania lemeees!" Rengek nya.
"Eeemmm! Maafin mas, yaaaah?" Ucap Bara lagi, sambil buru-buru memeluknya dengan sangat erat.
"I_iya mas," ucap Tania.
"Oh iya sayang, Tapi ngomong-ngomong, gimana tadi rasanya? Enak kan, kamu suka?" Ucap Bara lagi, sambil terus tersenyum dan memandangi wajah cantiknya.
"Iya, enak! Tania sukaaaa!" Rengek Tania lagi.
"T_tapinya, sakit maaaas! Periiih!" Rengekannya lagi, sambil menunjuk kearah bagian bawahnya itu, yang memang benar-benar terasa masih sangat sakit, dan juga sangatlah perih.
"Eeeeemmm, kasihaaaaan! Ininya sakiiit? Periiiih?" Ucap Bara lagi, yang benar-benar merasa sangat kasihan kepadanya. Kemudian, ia pun langsung mengusap-usap bagian bawah Tania istrinya itu, dengan sangat pelan dan juga lembut.
"Sekarang, mas tiupin yaaah? Biar sakit sama perihnya, ilang?" Ucapnya lagi.
"Iya, tiupiiiiin! Sakit, maaaas! Periiiih!" Rengek Tania lagi, dengan sangat manjanya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, tersenyum.
"Iyaaaa, mas tiupin!" Ucapnya lagi, dengan penuh sabarnya. Kemudian, ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya, untuk duduk. Perlahan, ia pun mencoba untuk membuka kedua paha Tania istrinya itu, dengan sangat pelan.
"Aw, sssstttt! Pelan-pelan mas, bukannyaaa! Sakiiiiit!" Rengek Tania lagi, kesakitan.
"Iya, sayaaaang! Ini juga, mas udah pelan kok!" Ucap Bara lagi, sambil terus berusaha untuk membukakan kedua pahanya itu, dengan lebiiiiih pelan lagi. Kemudian, setelah kedua pahanya itu berhasil ia buka, dan Tania istrinya itu pun, sudah terlihat ngangkang di hadapannya, ia pun langsung mencoba untuk mendekatkan wajahnya, tepat di bagian bawahnya itu, dan langsung meniupinya, dengan sangaaaaaat pelan.
"Aw, ssssttttt! Maaas, tiupin nya, pelan-pelaaan! Periiiih!" Ucap Tania, yang langsung merengek-rengek seperti itu, kepadanya.
"Iya, sayaaaang," ucap Bara lagi, dengan penuh perhatiannya. Kemudian, ia pun langsung meniupi bagian bawah Tania istrinya itu kembali, dengan lebiiiiiiih pelan lagi.
"Kasihan kamu, sayang! Ini nya, sampe lecet-lecet kayak gini, karena ulah mas!" Ucap Bara lagi dalam hati, yang sebenarnya, ia pun benar-benar merasa tidak tega, melihat keadaan bagian bawah Tania istrinya itu, sampai lecet-lecet separah itu, karena ulahnya.
"Mas yakin, deh! Ini rasanya, pasti perih banget!" Ucapnya lagi dalam hati, yang benar-benar merasa sangat ngilu, melihat keadaan bagian bawahnya, seperti itu. Kemudian, ia pun langsung buru-buru meniupinya kembali, dengan sangat pelan, dan tak ada henti-hentinya. Hingga tanpa ia sadari, akhirnya, Tania istrinya itu pun, tertidur.
"Hemmm! Bobo juga kamu akhirnya, sayang!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil tersenyum memandangi wajah cantiknya. Perlahan, ia pun menutup kembali kedua pahanya, yang sekarang ini pun, terlihat masih ngangkang dihadapannya, dengan sangat pelan. Kemudian setelah itu, ia pun langsung menutupi tubuh seksinya yang tanpa busana itu, menggunakan selimut yang ada diatas ranjang tersebut, dan ia pun langsung buru-buru berbaring di sampingnya dalam satu selimut tersebut, hingga akhirnya beberapa menit kemudian, ia pun ikut tertidur.
"Euuuummmm," suara Tania, yang tiba-tiba terusik dari tidurnya. Parlahan, ia pun mencoba untuk membuka matanya.
"Aw, sssstttt! Aduh aduh aduuuh!" Ucapnya, sambil meringis kesakitan.
"Aw, sssstttt! Aduuuuuh! K_kok ini Tania, masih sakit banget, sih?" Ucapnya lagi, bingung, sambil memegang pelan bagian bawahnya itu, yang sampai sekarang pun, memang benar-benar terasa masih sakit.
"Padahal kan, tadi itu udah mas Bara, tiupin?" Ucapnya lagi, semakin bingung. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mengecek bagian bawahnya itu.
"Loh! Kok ini Tania, pada lecet-lecet sih?" Ucapnya lagi, kaget.
"T_terus, ini juga kok ada banyak darah?" Ucapnya lagi semakin kaget, sambil menatap kearah selimut dan seprei kasurnya itu, yang memang terlihat cukup banyak bercak darah. Kemudian dengan segera, ia pun langsung buru-buru membangunkan Bara, suaminya.
"Mas Bara, banguuuuun! Bangun mas, cepetaaaaan!" Ucapnya lagi, ketakutan, sambil menggoyang-goyangkankan tubuhnya, agar cepat-cepat bangun.
__ADS_1
"Euuuummmm, ada apa sih, sayaaaang? Mas masih ngantuuuk?" Ucap Bara, dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur. Kemudian, ia pun malah justru memejamkan matanya kembali, untuk tidur.
"Iiiiihhhh! Kok mas Bara, malah bobo lagi siiih? Ayo bangun, maaaaas!" Ucapnya lagi, sambil menarik-narik tangannya.
"Lihat dulu deh, mas! Ini kenapa banyak daraaaah? Tania, takuuut!" Ucapnya lagi, semakin ketakutan, sambil terus merengek-rengek seperti itu, kepadanya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung terbangun dari tidurnya.
"A_ada apa, sayang? Apanya yang berdarah? Kamu kenapa?" Ucapnya, dengan sangat gugup dan tergesa-gesa. Karena ia benar-benar takut, kalau Tania, istri manjanya itu, sampai kenapa-napa. Kerena sepertinya sekarang ini, ia benar-benar sangat menyayanginya.
"I_itu maaaas! Ada banyak darah, di kasuuur! Tania takuuut!" Rengek Tania lagi, sambil buru-buru menunjukkan darah tersebut, kepadanya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya ampun, sayaaaang! Kirain mas, kamu ini kenapa-napa tau nggak?" Ucapnya, yang sekarang ini sudah sedikit tenang.
"Itu, tuh! Darah kamu bekas tadi, sayang!" Ucapnya lagi, mencoba untuk menjelaskan.
"Udah yaaah, sekarang kamu tenang! Kamu enggak papa kok!" Ucapnya lagi, mencoba untuk menenangkannya.
"Jadi mendingan, sekarang kita bobo lagi aja! Soalnya, mas masih ngantuk banget, nih!" Ucapnya lagi, yang langsung mengajaknya untuk tidur kembali, karena sekarang ini, ia memang benar-benar masih sangat ngantuk.
"Oh, g_gitu?" Ucap Tania, yang sebenarnya ia pun masih bingung, sebenarnya, darah tersebut keluar dari mana.
"Y_ya udah! Kalau gitu, sekarang kita bobo lagi aja!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru berbaring kembali disampingnya, dan langsung memejamkan matanya, untuk tidur. Namun belum juga sempat ia tertidur, tiba-tiba saja, ia sudah kebelet pengin buang air kecil.
"Aw, sssstttt! P_pengin pipis lagi!" Ucapnya. Kemudian, ia pun langsung buru-buru beranjak dari tempat tidurnya, dan langsung buru-buru melangkah menuju kamar mandi tersebut, yang masih berada di dalam kamarnya.
"Aw, ssssttt! Aduh aduh! Kok sekarang, aku jalannya susah banget, sih? Aw, sssssstttt! Sakiiiiit!" Ucapnya lagi, sambil terus meringis kesakitan. Namun, karena ia benar-benar sudah kebelet pengin buang air kecil, ia pun terus memaksakan untuk melangkah, menuju kamar mandi tersebut. Sesampainya ia di dalam kamar mandi tersebut, ia pun langsung buru-buru membuang, semua air kecilnya. Namun, baru juga sedikit ia membuang air kecilnya itu, tiba-tiba saja, ia sudah teraik dengan begitu kencangnya.
"Aaaaaaaaaaaah!" Teriaknya.
"S_sayang, ada apa sayang? Kamu kenapa?" Ucapnya gugup dan tergesa-gesa, karena saking paniknya.
"Hiks,, hiks,, mas Baraaaa, Hiks,, hiks,, pipis Tania, hiks,, hiks,, sakit, maaas! Hiks,, hiks,, periiiiiiiih!" Rengek Tania, yang langsung saja menangis-nangis kesakitan seperti itu, dihadapannya. Karena sekarang ini, ia memang benar-benar merasakan sakit dan perih yang luar biasa di bagian bawahnya itu, disaat ia hendak membuang air kecilnya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tak tega dan benar-benar merasa sangat kasihan, kepadanya.
"Ya ampun, sayaaaang! Pipis kamu, sakiiiit? Periiiiiiiih?" Ucapnya pelan, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"Hiks,, hiks,, iya maaas! Hiks,, hiks,, pipis Tania, hiks,, hiks,, sakiiiiit! Hiks,, hiks,, periiih! Hiks,,, hiks,,, tapinya, hiks,, hiks,, Tania pengin, hiks,, hiks,, pipiiiis!" Rengek Tania lagi, sambil terus menangis.
"Eeemmm kasihaaaan, istri kecil mas ini!" Ucap Bara lagi, sambil terus mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"Ya udah! Sekaraaang, kamu peluk pinggang mas, yaaah!" Ucapnya lagi, yang langsung saja menyuruhnya seperti itu. Karena posisinya sekarang ini, memang sedang berdiri tepat di hadapannya, yang sekarang ini masih duduk diatas kloset.
"Terus habis itu, kamu keluarin gih! Air pipisnya, pelan-pelan!" Ucapnya lagi, dengan penuh perhatiannya.
"Hiks,, hiks,, i_iya mas!" Ucap Tania, yang langsung saja memeluk pinggangnya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tersenyum.
"Ya udah! Sekarang kamu keluarin gih, sayang! Air pipisnya, pelan-pelan!" Ucapnya lagi, dengan penuh perhatiannya.
"Hiks,, hiks,, t_tapi mas Bara, hiks,, hiks,,, sakit maaas!" Rengek Tania lagi, ketakutan.
"Iyaaaaa, mas juga tau, sakit! Tapi kamu harus keluarin air pipisnya! Nggak boleh loh sayang, ditahan-tahan kayak gitu! Nanti tambah sakit, yaaaah?" Ucap Bara lagi, mencoba untuk menasehatinya, dengan sangat pelan.
"Sekaraaang, kamu keluarin air pipisnya, yaaaaah!" Ucapnya lagi, dengan penuh sabarnya.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, i_iya mas," ucap Tania, yang langsung mencoba untuk mengikuti apa itu perintah darinya. Perlahan, ia pun mencoba untuk membuang air kecilnya.
"Aw, sssstttttt! S_sakit maaas! Hiks,, hiks,, periiiiiiiih!" Rengek Tania, yang langsung saja teriak kesakitan, sambil mengeratkan pelukannya itu, ke pinggang Bara suaminya.
"Ssssssttttt! Iya iyaaa, mas juga tau, sakiiiit!" Ucap Bara lagi, mencoba untuk menenangkannya, sambil mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang
"Ayo, sayang! Sekarang, keluarin lagi air pipisnya, pelan-pelan!" Ucapnya lagi, yang masih terus berusaha untuk membujuknya.
"Hiks,, hiks,, i_iya mas!" Ucap Tania, lagi. Perlahan, ia pun mencoba untuk melanjutkan kembali, membuang air kecilnya itu.
"Aw, sssssstttt! S_sakit mas! Aw, periiiiiiiih! T_Tania nggak mau, pipis maaaas! Sakiiiiit!" Teriak Tania kesakitan lebih kencang lagi, sambil memeluk pinggang Bara suaminya itu, lebih erat lagi.
"Sssssttt! Sayang sayang, kamu nggak boleh kayak gitu, sayaaaang! Nanti tambah sakit!" Ucap Bara, yang lagi-lagi menasehatinya seperti itu.
"Hiks,, hiks,, tapi sakit, maaaas! Hiks,, hiks,, Tania nggak kuat, hiks,, hiks,, sakit bangeeeet! Hiks,, hiks,, periiiiiiiih!" Teriak Tania, sambil menangis-nangis sesenggukan. Sehingga Bara yang melihatnya pun, tak tega.
"Ssssttttt! Sayaaaang, kamu nggak boleh kayak gitu, yaaaah!" Ucapnya lagi, dengan penuh sabarnya.
"Percaya, sama mas! Kalau air pipisnya udah dikeluarin semua, pasti nanti, ini kamu nggak bakalan sakit lagi!"
"Jadi sekaraaang, kamu keluarin yah! Air pipisnya, pelan-pelan!" Ucapnya, yang lagi dan lagi membujuknya seperti itu. Hingga akhirnya, Tania istrinya itu pun, menuruti apa itu perintah darinya,
"Aw maaaas, sssttttt, sakiiiiit!" Ucapnya menahan kesakitan, sambil mengeratkan pelukannya, ke pinggang Bara suaminya, dan terus berusaha membuang semua air kecilnya itu, pelan-pelan.
"Iyaaaa, mas juga tau, sakiiiiit!" Ucap Bara lagi, dengan penuh perhatiannya.
"Pelan-pelan yah, sayaaaang! Keluarin pipisnya!" Ucapnya lagi, sambil terus mengusap-usap rambutnya, dengan penuh kasih sayang.
"Hiks,, hiks,, i_iya mas," ucap Tania lagi, sambil terus berusaha membuang, semua air kecilnya. Hingga akhirnya, ia pun berhasil juga, membuang semuanya.
"Hiks,, hiks,, mas Bara, udah selesai pipisnyaaa!" Ucapnya lagi, dengan sangat manjanya, sambil menatap wajah tampan Bara suaminya itu, yang sampai sekarang ini pun, masih terus mengusap-usap rambutnya.
"Nah, itu kamu udah selesai sayang, pipisnya!" Ucap Bara, yang langsung tersenyum, mendengar ucapannya itu.
"I_iya mas, Tania udah selesai, pipisnyaaa!" Ucap Tania, lebih jelas lagi. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kamu cuci dulu gih, ini kamu! Biar tambah wangi!" Ucapnya, yang langsung saja menyuruhnya seperti itu.
"Iya mas," ucap Tania lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru mencuci bagian bawahnya itu, menggunakan sabun, sampai dengan bersih, dan juga tercium sangatlah wangi.
"Udah selesai, sayang?" Ucap Bara, yang dari tadi masih berdiri menunggunya, di dalam kamar mandi tersebut.
"Udah, mas!" Ucap Tania.
"Ya udah kalau gitu, kita bobo lagi, yuk!" Ucap Bara, yang lagi-lagi mengajaknya untuk tidur kembali. Kemudian, ia pun langsung merangkul pundak Tania istrinya itu, dan mengajaknya melangkah menuju tempat tidurnya.
"T_tapi mas Baraaa, Tania jalannya susaaah! Sakiiiiit!! Tania, nggak bisa jalaaaan! Tania pengin, digendooong!" Rengek Tania dengan sangat manjanya, sambil mengulurkan kedua tangannya itu, kepadanya. Sehingga Bara yang melihat tingkah laku manjanya itu pun, langsung tersenyum.
"Eeemmm, manja banget sih, istri kecil mas ini, hah?" Ucapnya, sambil mencubit gemas hidungnya.
"Biariiiiin!" Rengek Tania lagi.
__ADS_1
"Iyaaaa, biarin!" Ucap Bara, yang selalu mencoba untuk memberikan yang terbaik untuknya. kemudian, ia pun langsung buru-buru menggendongnya, menuju tempat tidurnya.