
"Ya ampun Taniaaa! Kamu ini,,,,,," seketika Bara pun langsung terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap kearah semua berkas-berkas dan dokumen tersebut yang sudah jatuh dan berserakan di lantai.
"Y_ya ampun mas, m_maaf mas! Tania nggak sengaja, Tania bener-bener nggak sengaja!" Ucap Tania gugup dan ketakutan. Namun karena sudah terbiasa, lagi-lagi ia pun lupa menyebutnya dengan panggilan seperti itu.
"Apa kamu bilang? Kamu nggak sengaja?" Ucap Bara marah.
"Lihat tuh! Itu semua berkas-berkas dan dokumennya jatuh, dan jadi berantakan kayak gitu!" Ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah berkas-berkas dan dokumen tersebut yang memang terlihat sangatlah berantakan.
"I_iya mas, T_Tania tau! Tania minta maaf!" Ucap Tania.
"T_tapi, berkas-berkas dan dokumennya! T_tadi itu berat banget maaaas! Tania nggak kuaaaat, beraaaat!" Ucap Tania yang malah justru langsung merengek-rengek seperti itu kepadanya, sehingga membuat Bara pun semakin kesal dibuatnya.
"Apa kamu bilang, berat? Kamu nggak kuat?" Ucapnya.
"Kamu ini manja banget sih! Masa bawa berkas-berkas dan dokumen segitu aja kamu nggak kuat sih?" Ucapnya lagi yang terdengar seperti sangat meremehkan kekuatannya, sehingga Tania yang mendengarnya pun, akhirnya terpancing juga emosinya.
"Tapi kan emang kenyataannya kayak gitu mas! Berkas-berkas dan dokumennya itu kan emang kenyataannya berat bangeeeet! Tania nggak kuat mas, beraaat! Lagian kan Tania ini juga belum pernah, bawa barang-barang seberat itu! Jadi Tania ini belum terbiasa maaaas!" Rengeknya yang lagi-lagi mengeluh seperti itu. Namun seperti biasa, lagi-lagi Bara suaminya itu pun tidak perduli sama sekali. Ia pun malah justru langsung tersenyum dingin, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia benar-benar heran mengapa ada seorang perempuan semanja itu, yang hanya membawa barang-barang seberat itu saja tidak sanggup, karena yang ia tau, selama ia menjadi Presdir, semua karyawan dan juga sekertarisnya, semuanya sanggup jika hanya membawa barang-barang seberat itu.
"Y_ya udah kalau gitu mas, T_Tania minta maaf! Semua berkas-berkas dan dokumen ini, semuanya biar Tania aja yang beresin!" Ucap Tania lagi yang benar-benar merasa sangat bersalah. Kemudian ia pun langsung buru-buru jongkok tepat dihadapannya, untuk membereskan semua berkas-berkas tersebut, namun baru saja ia jongkok, tiba-tiba ia sudah mengeluh lagi.
"T_tapi mas,,,,,,," ucapnya yang terlihat seperti sangat kesulitan untuk jongkok.
"Ada apalagi?" Ucap Bara marah, sambil memperhatikan cara jongkoknya itu.
"M_mas Bara bisa nggak, menghadap kebelakang dulu! S_soalnya ini Tania, mau jongkoknya susaaah! Rok Tania kependekaaaan! Jadi Tania mau ngambil berkas-berkas sama dokumennya nggak bisaaa!" Ucap Tania yang benar-benar sangat menguji kesabaran Bara suaminya. Namun ia mengeluh seperti itu, karena memang benar, kalau sekarang ini ia memang benar-benar sangat kesulitan untuk jongkok, dikarenakan Rok yang sedang ia kenakan sekarang ini memang sangatlah pendek dan juga sangatlah ketat, sehingga jika sekarang ini ia terus memaksakan untuk jongkok, sudah pasti akan kelihatan oleh Bara suaminya yang sekarang ini memang masih berdiri tepat dihadapannya, dengan apa warna CD yang sekarang ini sedang ia kenakan.
__ADS_1
"M_mas bisa kan, menghadap kebelakang dul,,,,,,,," seketika ucapan Tania pun langsung terpotong.
"Aaaah udah deh! Biar saya yang beresin!" Ucap Bara marah. Kemudian ia pun langsung buru-buru membereskan satu-persatu berkas-berkas dan dokumen tersebut yang masih terjatuh berserakan di lantai.
"Lain kali, kamu ini jangan pakai Rok sekecil ini!" Ucapnya yang baru saja selesai membereskan semua berkas-berkas dan dokumen tersebut.
"Rok seukuran Raya, masih aja kamu pakai!" Ucapnya lagi sewot. Dengan secara tiba-tiba ia menyamakan Rok seksinya itu, dengan Rok seukuran Raya Putri semata wayangnya, sehingga Tania yang mendengarnya pun tak terima, seketika ia pun langsung mencoba untuk protes.
"T_tapi mas, Rok ini kan bukan Rok seukuran Raya! Rok ini kan emang fashion nya kayak gin,,,,,,,," lagi-lagi ucapan Tania itu pun langsung terpotong.
"Sssttttt! Udah cukup! Cukup jangan dilanjutin lagi!" Ucap Bara yang seperti sudah habis kesabarannya.
"Saya capek yah, dari tadi berdebat terus sama kamu nggak ada selesai-selesainya!" Ucapnya lagi. Kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari dalam ruangannya itu, sambil membawa sendiri semua tumpukan berkas-berkas dan dokumen tersebut.
"M_mas Bara, tunggu!" Teriak Tania mencoba untuk menghentikan langkahnya, sambil buru-buru berlari menghampirinya.
"I_itu kok berkas-berkas sama dokumennya dibawa sama mas? Emang mas yang mau nganterin sendiri berkas-berkas sama dokumen itu, ke raungan Ibu Ayu?" Ucap Tania bingung.
"Ya iya lah! Kan tadi kata kamu, kamu nggak kuat, berat!" Ucap Bara yang tiba-tiba menjawabnya seperti itu, sehingga Tania yang mendengarnya pun seketika langsung terdiam, sambil tersenyum ke GR an.
"Meskipun mas Bara ini dingin dan galak banget, tapi ternyata mas Bara ini masih ada manis-manisnya kalau lagi perhatian kayak gini sama gue!" Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum memandangi wajah tampannya.
"Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu?" Ucap Bara.
"Oh, n_nggak! T_Tania nggak papa!" Ucap Tania gugup.
__ADS_1
"Oh iya mas, tapi,,,,, kalau berkas-berkas sama dokumen itu mas yang anter, terus tugas Tania sekarang ini apa dong?" Ucapnya lagi.
"Ya udah, sekarang kamu bikinin kopi aja buat saya!" Ucap Bara, dengan secara tiba-tiba memintanya seperti itu, sehingga membuat Tania pun seketika langsung terdiam dibuatnya.
"A_apa! B_bikinin kopi?" Ucapnya dalam hati gugup dan panik.
"T_tapi kan gue,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Tania, kamu dengar nggak tadi saya nyuruh apa?" Ucap Bara.
"Oh i_iya mas, denger! K_kopi yah?" Ucap Tania yang lagi-lagi terlihat gugup, dan sangat panik.
"Iya, kopi!" Ucap Bara lagi dengan sangat tegas dan jelas.
"I_iya mas, s_sekarang juga Tania bikinin kopi buat mas!" Ucap Tania.
"T_tapi masalahnya! T_Tania ini belum pernah bikin kopiiii, jadi Tania nggak bisaaaa!" Rengek Tania lagi, serius. Dengan secara tiba-tiba ia menjawabnya dengan kata-kata yang tidak masuk akal seperti itu, apa lagi untuk seorang perempuan, sehingga membuat Bara pun seketika langsung kaget mendengarnya.
"A_apa tadi kamu bilang? Kamu nggak bisa bikin,,,,,,," seketika Bara pun langsung terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan, dan membuangnya kasar.
"Ya ampun mamaaah! Apa ini yang namanya istri idaman pilihan mamah? Masa bakin kopi aja nggak bisa!" Ucapnya dalam hati yang benar-benar sudah habis kesabarannya.
"M_mas Bara, mas Bara kenapa diem?" Ucap Tania semakin bingung.
"Oh n_nggak, nggak papa! Kalau kamu emang nggak bisa bikin kopi, ya udah nggak usah!" Ucap Bara yang mencoba untuk menahan emosinya, dan memilih untuk mengalah, dari pada akhirnya nanti malah jadi ribut.
__ADS_1
"Terus kalau gitu, sekarang Tania ngapain dong mas?" Ucap Tania lagi dengan polosnya bertanya seperti itu, ia tidak tau sama sekali, kalau sekarang ini Bara suaminya itu benar-benar sudah sangat kesal kepadanya.
"Ya udah terserah kamu aja kamu mau ngapain! Kamu mau duduk kek, kamu mau tiduran, selonjoran, kamu mau main HP kek, udah pokoknya terserah kamu!" Ucap Bara. Kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya lagi untuk mengantar berkas-berkas dan dokumen tersebut menuju ruangan Ayu kakaknya, meninggalkan Tania hanya sendiri di dalam ruangan tersebut.