
"Ya udah, ayo lebih baik sekarang kita masuk! Udah siang nih! Nanti kita telat lagi!" Ucapnya lagi mengajak semua teman-temannya itu masuk ke dalam perusahaan tersebut.
"Iya bener kata Tania, udah ayo lebih baik sekarang kita masuk! Ini kan hari pertama kita magang, masa iya sih dihari pertama kita magang ini udah langsung telat aja," sambung Nita yang langsung setuju dengan ajakan dari Tania sahabatnya itu, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah masuk ke dalam perusahaan tersebut, dan diikuti oleh semua teman-temannya itu dari belakang, namun sesampainya mereka semua di dalam perusahaan tersebut, tiba- tiba mereka semua dibuat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
"Eh semuanya! Sekarang kita harus ngapain nih? Kita harus ke mana? Kita semua kan nggak tau, pekerjaan apa yang harus kita kerjakan selama kita semua magang di Perusahaan ini!" Ucap Tania.
"Oh iya yah, kita semua kan nggak tau!" Sambung Nita.
"Nah, kalau kayak gini! Terus sekarang ini, kita semua harus ngapain dong? Kita semua harus ke mana?" Sambung Tari yang juga bingung dengan apa yang harus ia dan taman-tamannya itu lakukan di Perusahaan tersebut.
"Udah udah! Kalian nggak usah pada ribut! Lebih baik sekarang kita tanya ke Resepsionis aja, yuk!" Sambung Sinta mencoba untuk memberinya saran seperti itu, sambil menatap kearah Resepsionis tersebut yang sedang berdiri di tempat kerjanya.
"Oh iya yah, bener juga kata loh! Ayo lebih baik sekarang kita tanya Resepsionis aja!" Sambung Tania sambil buru-buru melangkah menuju Resepsionis tersebut, dan diikuti oleh teman-temannya itu dari belakang.
"Maaf Bu, saya mau tanya! Kita semua kan anak baru yang mau magang di perusahaan ini! Untuk anak baru yang magang seperti kita ini, pertama-tama kita semua harus ngapain dulu yah Bu?" Ucapnya lagi yang sudah berdiri tepat dihadapan Resepsionis tersebut bersama dengan semua teman-temannya itu.
"Baik, kalian semua anak magang di perusahaan ini?" Ucap Resepsionis tersebut dengan sangat ramah.
"Untuk anak magang di perusahaan ini, silahkan semuanya naik ke lantai dua! Nanti disana sudah ada Pak Andra, dan juga Ibu Dina, atasan kalian semua di Perusahaan ini! Yang nantinya akan memberikan arahan, dan juga tugas apa saja, yang nanti akan kalian semua kerjakan!" Ucapnya lagi dengan sangat jelas menyuruhnya seperti itu.
"Oh iya Bu, makasih yah Bu!" Ucap Tania dan teman-temannya itu secara bersamaan, kemudian mereka semua pun langsung buru-buru naik ke lantai dua menuju tempat dimana ruangan tersebut berada.
"Eh, ruangannya yang ini kan, bener?" Ucap Sinta yang baru saja sampai tepat di depan ruangan tersebut, bersama dengan semua taman-temannya itu.
"Kayaknya iya deh, bener ini ruangannya! Tuh di dalam juga kelihatannya udah banyak deh anak yang mau magang kayak kita!" Ucap Sinta sambil menatap kearah dalam ruangan tersebut, yang memang sudah terlihat cukup banyak anak-anak yang hendak magang seperti ia dan juga teman-temannya.
"Ya udah, ayo kalau gitu kita masuk! Kayaknya sekarang ini kita semua juga udah telat deh! Lihat aja tuh! Kayaknya mereka semua sekarang lagi di kasih tugas, dan juga arahan dari Pak Andra sama Ibu Dina, atasan kita di Perusahaan ini deh!" Ucap Tari yang langsung mengajak semua teman-temannya itu masuk kedalam ruangan tersebut, karena ia melihat dengan jelas kalau anak-anak magang tersebut sedang dikasih tugas, dan arahan oleh Pak Andra dan juga Ibu Dina, atasannya di perusahaan tersebut, yang tak terlihat jelas olehnya dan juga teman-temannya wajahnya itu seperti apa.
"Ya udah ayo! Kalau gitu kita cepat-cepat ketuk pintunya!" Sambung Tania, kemudian ia pun langsung buru-buru mengetuk pintu ruangan tersebut, TOK, TOK, TOK!
"Maaf Pak, Bu! Kita semua tel__at," seketika ucapannya itu pun tersendat, kemudain ia pun langsung terdiam, karena ia baru menyadari dan baru melihat dengan jelas, siapa itu sebenarnya Ibu Dina yang ia dan teman-temannya sebut sebagai atasannya di perusahaan tersebut.
"M_Mba-mba itu!" Ucapnya lagi dalam hati gugup dan kaget, karena ternyata benar dugaan dari teman-temannya, kalau ternyata Mba-mba yang tadi sempat menabrak Sinta salah satu dari temannya itu, adalah atasannya di perusahaan tersebut, yang tak lain adalah Ibu Dina yang Resepsionis tadi sebut juga sebagai atasannya di perusahaan tersebut, yang nantinya akan memberikannya arahan dan tugas apa saja yang akan mereka semua nanti kerjakan, yang sekarang ini sedang berdiri tepat dihadapannya dan juga dihadapan semua teman-temannya itu.
"A_apa! J_jadi ternyata, mereka semua ini anak magang di perusahaan ini?" Ucap Dina yang juga gugup dan kaget sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Hemm, bagus deh kalau gitu! Biar gue kerjain nanti kalian semua!" Ucapnya lagi dalam hati sambil tersenyum licik, kemudain ia pun langsung menatap kearah Tania dengan tatapan mata yang sangat sinis.
"Terutama buat perempuan yang sombong, belagu, dan sok cantik ini! Gue akan kerjain ini perempuan habis-habisan!" Ucapnya lagi, sepertinya sekarang ini ia benar-benar masih sangat dendam kepadanya, gara-gara masalah tadi yang sempat terjadi antara ia dan teman-temannya itu.
"Tania, Tan, itu bukannya Mba-mba yang tadi udah nabrak gue yah?" Bisik Sinta panik.
"Aduuuh, gawat nih Tan kalau kayak gini! Ternyata bener kan apa kata gue tadi! Kalau Mba-mba yang tadi nabrak gue itu pasti atasan kita di perusahaan ini!" Bisiknya lagi.
"Kalau kayak gini ceritanya, kita semua harus gimana nih sekarang? Gue yakin deh, pasti sekarang ini posisi kita di perusahaan ini tuh sedang terancam!" Sambung Tari dengan sangat yakin.
"Aduuuh, gimana dong kalau kayak gini! Apa lebih baik, sekarang kita semua minta maaf baik-baik aja sama Mba-mba ini!" Sambung Nita semakin panik, sambil terus menatapnya dengan raut wajah yang sangat ketakutan, sehingga Dina yang melihatnya pun semakin tersenyum bahagia lagi melihatnya.
"Hemmm, kayaknya bakalan seru nih ngerjain mereka!" Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Baru anak kemaren sore aja, udah sok-sokan berani nggak sopan sama gue! Nggak tau apa, kalau gue ini calon pacar dari Presdir di perusahaan ini!" Ucapnya lagi, menghayal. Karena ternyata dari dulu ia itu diam-diam telah jatuh cinta dan tergila-gila kepada Presdir di Perusahaan tersebut.
"Kalian semua kenapa diem aja? Udah ayo semuanya masuk!" Ucap Andra.
"Tau nih kalian! Baru hari pertama magang, bukannya disiplin! Malah udah langsung telat aja! Emang kalian pikir, perusahaan ini tuh perusahaan milik nenek moyang kalian apa?" Sambung Dina marah.
"Inget yah! Lain kali, kalian semua itu nggak boleh telat lagi kayak gini!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas.
"Karena kalau sampai kejadian ini terdengar, apalagi sampai ketahuan oleh Presdir di Perusahaan ini, kalian semua yang nantinya akan terkena masalah! Karena apa? Karena Presdir di Perusahaan ini, itu paling tidak suka dengan karyawan yang suka telat, dan tidak bisa disiplin seperti kalian-kalian!" Ucapnya lagi serius, kalau Presdir di Perusahaan tempat ia bekerja itu, yang kita pun belum tahu sebenarnya siapa itu orangnya, memang sangatlah disiplin dan paling tidak suka dengan karyawan yang suka datang terlambat.
"I_iya Mba, m_maaf!" Ucap Tania dan semua teman-temannya secara bersamaan, dengan secara tiba-tiba mereka semua menyebutnya dengan panggilan seperti itu, sehingga membuat Dina pun tersenyum kesal mendengarnya.
"A_apa tadi kalian bilang? Mba?" Ucapnya tak tetima dengan sebutannya itu, kemudian ia pun langsung melangkah mendekat ke arah mereka semua.
"Panggil saya Ibu, Ibu Dina! Karena meskipun usia kita ini tidak berbeda jauh, tapi saya ini adalah atasan kalian di Perusahaan ini! Yang nantinya akan memberikan arahan, dan juga tugas apa saja yang akan kalian semua nanti kerjakan di perusahaan ini!" Ucapnya lagi dengan sombongnya menyebutnya seperti itu, sehingga Tania yang dari tadi sedang mendengarkan ocehannya itu pun kesal mendengarnya.
"Iiiihhh, ngeselin banget sih ini nenek lampir! Udah cerewet, mana marah-marah terus lagi dari tadi! Kalau aja ini nenek lampir bukan atasan gue, asli deh! Udah gue jambak-jambak ini rambut nenek lampir!" Ucap Tania dalam hati, sambil menatap sinis kearahnya.
"Kenapa kalian masih diem? Udah ayo cepetan masuk!" Ucap Dina lagi.
"I_iya Bu, maaf!" Ucap mereka lagi secara bersamaan, kecuali Tania. la pun tidak menjawab ucapannya sama sekali, dan ia pun malah justru langsung buru-buru masuk kedalam ruangan tersebut, dengan raut wajah yang masih sangat kesal, kemudian diikuti oleh semua teman-temannya itu dari belakang.
Setelah mereka semua sudah masuk dan berkumpul didalam ruangan tersebut, dengan segera Andra dan Dina pun langsung buru-buru memberikan mereka semua arahan, dan juga pengumuman tentang tugas apa saja yang akan mereka semua kerjakan selama magang di perusahaan tersebut.
"Biak semaunya! Itulah tadi tugas yang akan kalian semua kerjakan, selama kalian semua magang di perusahaan ini!" Ucap Dina yang baru saja selesai memberikan pengumuman tersebut kepada mereka semua.
"Jadi sekarang ini, kalian semua sudah boleh langsung bekerja,,,," ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung tersenyum licik, sambil melangkah menghampiri Tania.
"S_saya?" Ucapnya gugup dan bingung, sambil menengok ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan benar atau tidak kalau dirinya lah yang ia maksud.
"Iya, kamu!" Ucap Dina dengan tegas.
"Emang kamu pikir, tadi itu saya nunjuk siapa?" Ucapnya lagi dengan nada suara yang terdengar seperti sedang memancing emosi, sehingga membuat Tania pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Sabar Tania, sabaaaar!" Ucapnya dalam hati.
"Khusus untuk kamu! Dari hari ini dan seterusnya, selama kamu masih magang di perusahaan ini! Saya akan tempatkan kamu sebagai, OB!" Ucapnya lagi dengan jelas menyuruhnya seperti itu, sehingga membuat Tania pun seketika langsung kaget dibuatnya.
"What! T_tadi Ibu ngomong apa? OB?" Ucapnya gugup karena saking tak percayanya mendengar ucapannya itu.
"Iya, OB! Emang kenapa?" Ucap Dina nyolot.
"Bu Dina, Bu Dina ini serius? Bukannya bagian OB itu tidak disarankan untuk anak magang yah Bu?" Bisik Andra yang tidak setuju dengan keputusan darinya, karena ia tau betul, kalau bagian pekerjaan tersebut itu tidak seharusnya diberikan untuk anak-anak magang. Namun mengapa Dina tetap kekeuh dengan keputusannya, karena sepertinya sekarang ini, ia itu sedang memulai permainannya, yaitu untuk mengerjain Tania.
"Udah yah Pak Andra, Pak Andra nggak usah ikuti campur! Lebih baik Pak Andra diam! Emang Pak Andra lupa, siapa yang lebih senior di Perusahaan ini diantara kita berdua?" Bisik Dina mencoba untuk menggertaknya seperti itu, dan itu sudah kesekian kalinya ia menggertaknya seperti itu disetiap kali mereka berdua berselisih pendapat, sehingga Andra yang statusnya memang masih bawahannya pun, lagi-lagi hanya bisa diam dan mengalah. Akan tetapi tidak dengan Tania, ia pun langsung mencoba untuk protes dengan keputusannya itu.
"T_tapi Bu, ini nggak adil dong Bu! Masa iya sih, semua anak-anak magang yang lain dapat kerjaan yang enak! Sedangkan saya, masa ditempatkan sebagai OB sih Bu?" Ucapnya tak terima.
"Udah yah, kamu ini nggak usah banyak protes! Karena apa pun itu keputusan yang sudah keluar dari mulut saya, itu semua sudah tidak bisa diganggu gugat lagi!" Ucap Dina serius, kalau apapun keputusan yang sudah keluar dari mulutnya, yang ia berikan untuk anak-anak magang, itu semua sudah tidak bisa diganggu gugat lagi oleh siapapun, kecuali Presdir di Perusahaan tersebut, karena Presdir di perusahaan tersebutlah yang sudah menyerahkan dan mempercayakan semua masalah tersebut kepadanya.
__ADS_1
"Tapi ini semua nggak adil dong Bu buat saya! Ini semua nggak adil!" Ucap Tania lagi mencoba untuk terus protes, karena menurutnya pekerjaan tersebut itu memanglah tidak adil untuknya, sehingga teman-teman segank nya pun ikut protes dengan tidak keadilan tersebut.
"Iya Bu, ini semua nggak adil untuk Tania! Ini semua nggak adil!" Teriak Tari.
"Bener, ini semua nggak adil Bu! Ini semua nggak adil!" Teriak Nita.
"Pokoknya Tania harus mendapatkan bagian pekerjaan seperti apa yang kita semua dapatkan!" Teriaknya lagi.
"Iya, bener banget Bu! Pokoknya Tania harus mendapatkan bagian pekerjaan, seperti apa yang kita semua dapatkan!" Teriak Sinta.
"Iya, bener banget Bu!"
"Iya Bu, bener!"
"Bener!"
"Bener!"
"Bener!" Teriak mereka semua lagi, saling bersautan satu sama lain, dan tak ada henti, sehingga ruangan tersebut pun terdengar sangatlah berisik dan gaduh, bahkan suara kegaduhan tersebut pun terdengar sampai luar, dan bahkan sampai terdengar ke dalam ruangan Presdir di Perusahaan tersebut, yang memang berada persis di samping raungan tersebut, sehingga Presdir di Perusahaan tersebut, yang kita pun belum tau sebenarnya siapa itu orangnya, yang sekarang ini sedang mengerjakan pekerjaannya itu pun, merasa sangat terganggu dengan adanya kegaduhan tersebut.
"Aduuuuuh! Suara apaan sih itu?" Ucapnya marah, sambil buru-buru melangkah keluar menuju ruangan tersebut.
"Dina, Andra, ada apa ini? Kenapa ruangan ini terdengar sangat berisik, bahkan sampai terdengar dari dalam ruangan saya?" Ucapnya yang sudah sampai dan masuk kedalam ruangan tersebut, dengan raut wajah yang sangat dingin, dan juga terlihat sangatlah marah.
"B_Bapak,,," Ucap Dina gugup dan kaget, kemudian ia pun langsung buru-buru menyapanya dengan sangat hormat.
"Selamat pagi Pak!" Ucapnya dengan sangat sopan, sambil menundukkan kepalanya.
"Selamat pagi Pak!" Ucap Andra yang juga langsung menyapanya dengan sangat hormat, dan ikut menundukkan kepalanya, karena itu semua memang sudah Tata Krama bagi setiap karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Pagi!" Ucapnya dengan sangat tegas dan dingin.
"I_ini Pak, sebelumnya saya mau minta maaf! Kalau ruangan ini terdengar sangat berisik, bahkan sampai terdengar dari dalam raungan Bapak! Soalnya ini ada salah satu anak magang, yang mencoba untuk protes dengan pekerjaan yang sudah saya tetapkan untuknya!" Ucap Dina mencoba untuk menjelaskan.
"Padahal tadi itu, saya sudah jelas-jelas memberi tahu dia! Kalau apapun itu keputusan dari saya, itu semua sudah tidak bisa diganggu gugat lagi! Karena kalau sampai dia mencoba untuk mengganggu gugat keputusan dari saya ini, itu artinya dia melawan apa perintah dari Bapak, dan juga tidak sopan kepada Bapak! Tapi anak magang ini terus protes, dan tidak terima dengan pekerjaan apa yang sudah saya tetapkan untuknya!" Ucapnya lagi berlaga seolah-olah ia lah yang paling benar, sehingga membuat Tania pun semakin kesal dibuatnya.
"Iiiihhh, ngeselin banget sih ini nenek lampir! Bisanya cuma ngadu! Mana caper banget lagi ini nenek lampir sama Presdir di perusahaan ini! Sampai mau muntah gue lihatnya!" Ucapnya dalam hati sambil menatap sinis kearahnya, yang sekarang ini sedang berdiri tepat di hadapan Presdir di perusahaan tersebut. Akan tetapi ia tidak melihat jelas seperti apa wajah dari Presdir tersebut, karena terhalang oleh Dina dan juga Andra.
"Oh, jadi itu masalahnya!" Ucap Presdir di Perusahaan tersebut.
"Kalau memang itu masalahnya, emang sekarang dimana anak,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba ia melihat siapa itu sebenarnya anak magang tersebut.
"T_Tania!"
Ucapnya dalam hati gugup, sambil terus terbengong menatap kearahnya, karena sekarang ini ia benar-benar kaget dan tak percaya, kalau ternyata anak magang di Perusahaan nya itu adalah Tania, istrinya sendiri. Iya Tania, istrinya sendiri, karena ternyata Presdir di Perusahaan tersebut adalah,,,,
"M_Mas Bara,,,"
__ADS_1
Ucap Tania yang juga sangat gugup, karena ia juga benar-benar kaget dan tak percaya kalau ternyata Presdir di Perusahaan tempat ia dan teman-temannya itu magang adalah Bara, suaminya sendiri.