Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 22.


__ADS_3

"Enggak Tan! Tadi itu gue bener-bener denger dengan jelas, loh itu tadi ngomong kayak gitu!" Ucap Sinta yang kekeuh dengan pendapatnya itu.


"Iya bener banget! Gue juga tadi denger dengan jelas kok, loh itu ngomong kayak gitu! Sambung Nita yang juga mendengar dengan jelas ucapnya itu tadi.


"E_ enggak kok, beneran! T_ tadi itu gue enggak ngomong kayak git,,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong.


"Eh, kalian! Kenapa kalian semua malah jadi pada ribut sendiri?" Ucap Dina yang masih berdiri tepat dihadapan mereka semua, marah. Kemudian ia pun langsung melangkah mendekat kearah Tania.


"Dan kamu! Udah sekarang juga kamu minta maaf sama Pak Bara! Karena tadi, kamu itu sudah berlaku tidak sopan, dan mencoba untuk menentang ketetapan pekerjaan dari saya, yang sudah Pak Bara serahkan dan percayakan langsung kepada saya!" Ucapnya lagi menyuruhnya seperti itu.


"T_tapi Bu, ini semua nggak adil dong Bu buat saya! Masa semua anak-anak magang yang lain dapat kerjaan yang enak! Sedangkan saya, masa ditempatkan sebagai OB sih Bu?" Ucapnya lagi-lagi mencoba untuk protes, karena ia benar-benar merasa dianaktirikan olehnya. Kemudian tanpa ia sadari, ia pun langsung melangkah menghampiri Bara suaminya, yang juga masih berdiri tepat di hadapan mereka semua.


"Mas Baraaa, mas Bara nggak boleh diem terus kayak gini doooong! Mas Bara tolongin Taniaaa! Tania nggak mau jadi OB mas? Tania nggak mauuu!" Ucapnya merengek-rengek sambil menarik-narik lengan bajunya, sehingga membuat semua anak-anak magang yang ada di dalam raungan tersebut pun kaget dan heran melihat tingkah lakunya.


"I_itu anak apa-apaan sih? Berani banget berbicara, dan berperilaku nggak sopan kayak gitu sama Pak Bara!" Ucap salah satu dari anak magang tersebut.


"Tau tuh anak! Nggak sopan banget sih?" Sambung yang lainnya lagi kesal.


"Kayaknya itu anak emang nggak pernah diajarin sopan santun deh, sama orang tuanya! Masa sama orang sepenting Pak Bara, itu anak bisa nggak sopan banget kayak gitu sih?" Sambung yang lainnya lagi yang terus menghujatnya tiada henti, sehingga Sinta, Tari, dan Nita yang mendengarnya pun seketika langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Aduh Taniaaa! Itu anak apa-apaan sih? Kenapa itu anak nggak sopan banget kayak gitu sih sama Pak Bara!" Ucap Sinta yang ternyata juga kesal dengan tingkah laku Tania sahabatnya itu.


"Tau tuh Tania, apa-apaan sih! Mana nyebut Pak Bara dengan sebutan mas, sambil merengek-rengek kayak gitu lagi, kayak anak kecil aja tau nggak! Emang dia pikir, Pak Bara itu siapanya dia?" Sambung Nita yang juga kesal dengan tingkah lakunya itu.


"Padahal tadi itu gue udah kasih tau dia tau! Jangan panggil Pak Bara itu, Mas! Tapi kenapa itu anak malah berani banget nyamperin Pak Bara, sambil merengek-rengek kayak gitu?" Sambung Tari yang juga ribut mempermasalahkan sikapnya, sehingga Bara yang mendengarnya pun langsung mencoba untuk menghentikan sikap tidak sopan dari Tania istrinya itu kepadanya.


"Tania, lepasin!" Bisiknya tegas sambil melotot, berharap Tania istrinya itu bisa mengerti, kalau mereka semua itu tidak tau dengan statusnya sekarang ini. Akan tetapi sayang, Tania tidak peka sedikit pun dengan ucapannya, ia pun malah justru terus merengek-rengek.


"Iiiihhh mas Baraaa, pokoknya Tania nggak mau lepasin tangan mas Bara, sebelum mas Bara bilang ke Tania! Kalau Tania ini akan di tempatkan yang sama, dengan anak-anak magang yang lainnya!" Ucapnya lagi sambil terus merengek-rengek dan terus menarik-narik lengan bajunya, sehingga membuat Dina pun ikut kesal melihatnya.


"Eh, kamu! Kamu ini apa-apaan sih? Nggak punya sopan santun banget kayak gini sama Pak Bara!" Ucapnya dengan sangat tegas, sambil buru-buru menarik tangannya untuk menjauhkannya darinya.

__ADS_1


"I_iya bener Bu Dina, Pak Andra juga! Tolong bawa anak ini menjauh dari saya!" Ucap Bara menyuruh kedua karyawannya seperti itu, sehingga membuat Tania pun kesal dibuatnya.


"Iiiihhh, kok mas Bara kayak gitu banget sih sama Tania! Mas Bara tega banget sih?" Ucapnya.


"Pokoknya Tania nggak mau menjauh dari mas Bara, sebelum mas Bara kasih tau Tania! Kalau Tania ini akan di tempatkan yang sama, seperti anak-anak magang yang lainnya!" Ucapnya lagi-lagi berbicara seperti itu, sambil terus menarik-narik lengan bajunya, sehingga membuat Bara pun semakin emosi lagi dibuatnya.


"Bu Dina, Pak Andra, tunggu apalagi! Cepetan bawa anak magang ini menjauh dari saya!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas.


"Oh i_iya, Baik Pak!" Ucap mereka berdua secara bersamaan. Kemudian mereka berdua pun langsung buru-buru menarik Tania dan membawanya ketempat semula bersama dengan anak-anak magang yang lainnya, sehingga Bara yang melihatnya pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Bener-bener yah itu gadis brutal!" Ucapnya dalam hati, sambil menyeka lengan bajunya yang tadi sempat ditarik-tarik olehnya, dengan sangat sombongnya.


"Ya udah! Bu Dina, Pak Andra, tolong kalian urus semua masalah ini sampai selesai! Dan berikan pekerjaan untuk mereka, sesuai dengan apa yang tadi sudah kalian tetapkan!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas dan jelas menyuruhnya seperti itu, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut, karena sepertinya sekarang ini, ia itu benar-benar sudah sangat lelah mengahadapi sikap Tania istrinya, yang masih sangat-sangat labil itu.


"T_tapi Mas! N_nggak bisa kayak gitu dong mas! Ini semua nggak adil untuk Tania mas! Ini semua nggak adil!" Teriak Tania mencoba untuk terus protes dengan apa keputusan darinya itu, sehingga Dina yang sedang berdiri di hadapannya pun langsung tersenyum bahagia melihatnya.


"Rasain loh!" Ucapnya dalam hati.


"Pak Bara, tunggu!" Teriak Andra yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa lagi?" Ucap Bara yang baru saja sampai tepat di depan pintu keluar ruangan tersebut.


"M_maaf Pak, ini ada telepon dari Ibu Risma! Kata beliau, salah satu anak magang yang bernama Tania, harus ditempatkan sebagai sekertaris Bapak untuk sementara, untuk menggantikan ibu Tika selama masa cuti!" Ucapnya mencoba untuk menyampaikan pesan tersebut dengan sangat jelas, sehingga membuat seisi ruangan tersebut pun kaget dan syok mendengarnya.


"A_apa! J_jadi sekertaris Pak Bara untuk sementara?" Ucap semua anak magang tersebut secara bersamaan, heran dan tak percaya.


"N_nggak, nggak mungkin! Emang sehebat apa sih itu anak! Bisa sampai ditempatkan sebagai sekertaris Pak Bara untuk sementara?" Ucap mereka lagi sambil menatap sinis kearahnya, karena sepertinya sekarang ini mereka semua benar-benar iri dengan kedudukan yang ia dapatkan itu. Bahkan bukan hanya mereka saja yang kaget dan syok, akan tetapi semua anggota gank Tania pun ikut kaget dan syok mendengar kabar tersebut.


"A_apa! K_kita semua nggak lagi mimpi kan ini? Beneran Tan, loh ditempatkan sebagai sekertaris Pak Bara untuk sementara?" Ucap Sinta gugup karena saking tak percayanya dengan kabar tersebut.


"I_iya Tan, i_ini serius kan Tan?" Sambung Nita yang juga tak percaya.

__ADS_1


"G_gue juga nggak tau! S_sebenarnya, ini tuh mimpi apa nyata sih?" Ucap Tania sambil terbengong, karena ia juga benar-benar kaget dan tak percaya dengan kabar tersebut, kemudian ia pun langsung terdiam sambil tersenyum.


"Ternyata mamah Risma itu bener-bener baik banget yah sama Tania! Terimakasih yah mama Risma? Hari ini mamah Risma bener-bener udah menjadi dewa penolong bagi Tania!" Ucapnya lagi dalam hati, sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia, sehingga Dina yang dari tadi masih berdiri di sampingnya pun kesal melihatnya.


"Kurang ajar! Emang ini anak magang siapa sih? Emang sepenting apa sih untuk perusahaan ini! Sampai-sampai ibu Risma, mantan Presdir di Perusahaan ini, menempatkan ini anak magang sebagai sekertaris sementara untuk Pak Bara?" Ucapnya dalam hati sambil menatap sinis kearahnya.


"Seharusnya kan gue yang ditempatkan sebagai sekertaris Pak Bara untuk sementara?" Ucapnya lagi yang benar-benar kesal mendengar kabar tersebut.


"A_Apa! M_mamah ngomong kayak gitu?" Ucap Bara yang juga gugup dan tak percaya dengan semuanya.


"I_iya Pak! Kalau Pak Bara nggak percaya, Pak Bara bisa kok ngomong langsung sama beliau! Ini sekarang beliau masih menelpon saya!" Ucap Andra sambil memberikan ponselnya itu kepadanya.


"Ya udah," ucap Bara lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah untuk menjauh dari mereka semua, dan langsung berbicara dengannya, via telepon.


"Mah, mamah ini apa-apaan sih? Mamah yang bener aja! Masa iya sih, anak magang kayak Tania, ditempatkan sebagai sekertaris Bara? Apa kata karyawan dan rekan-rekan bisnis Bara nanti mah?" Ucapnya mencoba untuk protes dengan apa keputusan dari Ibu Risma mamahnya itu.


"Bagaimana kalau nanti sampai mereka semua curiga, apalagi sampai mereka semua tau, kalau Bara ini udah menikah sama Tania! Seorang gadis yang sangat brutal, manja, centil, nggak punya sopan santun, bagaimana mah? Bagaimana? Bisa-bisa hancur nanti reputasi Bara sebagai Presdir di perusahaan ini mah?" Ucapnya yang lagi-lagi menilai Tania istrinya seburuk itu.


"Pokoknya Bara nggak setuju mah! Bara nggak setuju dengan apa keputusan dari mamah ini!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas dan jelas.


"Udah yah Bara, kamu ini nggak usah banyak protes! Mamah itu sengaja nempatin Tania sebagai sekertaris kamu, supaya Tania itu bisa belajar! Karena apa? Karena kamu mau menghindar sejauh apapun itu darinya, tetap aja! Nantinya Tania juga yang akan menjadi sekitaris kamu, setelah Tania itu lulus dari sekolah!" Ucap Ibu Risma lebih tegas lagi darinya.


"Pokoknya awas aja yah! Kalau sampai kamu menentang apa keputusan dari mamah ini! Mamah nggak akan pernah tinggal diam!" Ucapnya lagi mencoba untuk menggertaknya seperti itu.


"Nggak mah, nggak! Pokoknya Bara nggak setuju mah, Bara nggak setuju!" Ucapnya lagi-lagi menolak apa keputusan darinya itu.


"Mamah denger kan? Mamah denger kan apa kata dari Bara tadi?" Ucapnya.


"Mah, mamah!" Teriaknya, karena dengan secara tiba-tiba Ibu Risma mamahnya itu pun langsung memutuskan sambungan telepon tersebut, TUT, TUT, TUT,,,,


"Aaaahhhh, sial! Pakai acara dimatiin segala lagi ini telepon!" Ucapnya lagi marah, sambil menjambak-jambak rambutnya karena saking pusingnya.

__ADS_1


__ADS_2