Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 33.


__ADS_3

DI PERJALANAN.


Waktu menunjukkan pukul 08:30 Pagi.


Terlihat Bara dan Tania yang sedang dalam perjalanan menuju kantornya bersama-sama. Karena hari ini, Ibu Risma mamahnya lah yang menyuruh mereka berdua untuk berangkat ke kantor bersama. Namun selama disepanjang perjalanan, Tania terus terdiam tiada henti, ia masih memikirkan kejadian yang kurang mengenakkan tadi, saat Aldo kakak iparnya itu dengan secara tiba-tiba menyentuh bagian terpenting dalam dirinya.


"Ya Tuhaaan, kenapa gue jadi inget terus sama kejadian itu sih?" Ucapnya dalam hati kesal, karena ia sudah mencoba untuk melupakan kejadian tersebut, akan tetapi kejadian tersebut malah justru terus-terusan muncul di pikirannya.


"Nggak, nggak mungkin! Pasti apa yang ada di dalam pikiran gue sekarang ini, salah! Pasti mas Aldo melakukan semua itu, itu karena mas Aldo nggak sengaja!" Ucapnya lagi dalam hati mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena ternyata dari tadi, ia itu masih sedikit panik dan sedikit ketakutan setiap kali ia mengingat kejadian tersebut. Karena falling dan firasatnya mengatakan, kalau Aldo kakak iparnya itu, tadi memang sengaja melakukan hal tersebut kepadanya.


"Aduuuuh! Tapi kenapa yah, falling dan firasat gue ini tetap aja mengatakan, kalau mas Aldo itu tadi memang sengaja ngelakuin semua itu sama gue?" Ucapnya lagi dalam hati semakin panik, sambil terus terdiam.


"Tania, kamu kenapa dari tadi diem terus kayak gitu?" Ucap Bara yang tiba-tiba bertanya seperti itu, sambil terus mengendarai mobilnya.


"Udah selesai belum kamu? Siapin semua berkas-berkas saya untuk meeting pagi ini? Sebentar lagi kita udah mau sampai loh, di Cafe tempat di mana saya dan klien penting saya itu akan meeting!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas bertanya seperti itu.


"Eh! I_iya mas, k_kenapa?" Ucap Tania yang tiba-tiba langsung terbangun dari bengongnya. Namun lagi-lagi, ia pun lupa menyebutnya dengan panggilan seperti itu. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya.


"Aduh Taniaaa! Harus berapa kali sih saya peringatin sama kamu, selama kita ini berada di lingkungan kerja, panggil saya ini, Pak! Pak Bara! Karena selama kita ini berada di lingkungan kerja, saya ini bos kamu, atasan kamu! Bukan suami kamu lagi! Kamu ini ngerti nggak sih sebenarnya?" Ucapnya lagi dengan nada suara yang terdengar sangatlah kesal. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, ikutan kesal dibuatnya.


"Iiiiiiiih!" Ucapnya dalam hati.


"I_iya deh iyaaaa! T_Tania ngerti, maaf!" Ucapnya lagi sambil cemberut.


"Ya udah! Udah selesai belum kamu, siapa semua berkas-berkas saya untuk meeting pagi ini?" Ucap Bara lebih tegas lagi bertanya seperti itu.


"U_udah! Semua berkas-berkasnya udah selesai Tania siapin kok! Kalau pak Bara nggak percaya, pak Bara boleh kok, cek semua berkas-berkas ini sendiri!" Ucap Tania yang dengan sangat lancangnya menyuruhnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun tersenyum dingin mendengarnya.


"Nggak perlu!" Ucapnya ketus.


"Ya udah, sebentar lagi kan kita udah mau nyampe di Cafe nih! Sebelum kita berdua ini nyampe di Cafe, saya mau peringatin kamu terlebih dahulu!" Ucapnya lagi dengan raut wajah yang sangat dingin.


"Setelah kita berdua ini nyampe di Cafe, saya mau, kamu ini tetep diem di dalam mobil, dan jangan kemana-mana! Apalagi sampai kamu ikut masuk ke dalam Cafe tersebut, dan ikut meeting dengan klien penting saya ini! Saya benar-benar nggak mau! Karena apa? Karena saya nggak mau, kalau kamu ini sampai bikin ulah, apalagi sampai bikin kekacauan disaat meeting penting saya dengan klien penting saya ini, mengerti!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas dan jelas mengingatkannya seperti itu terlebih dahulu, karena ia benar-benar tau betul seperti apa kelakuan Tania istri manja dan brutalnya itu.


"I_iya, mengerti!" Ucap Tania masih terus cemberut.


"Ya udah kalau gitu!" Ucap Bara lagi. Kemudian ia pun langsung buru-buru meninggikan kecepatan mobilnya itu kembali.


"Eeeeh, p_pak Bara! T_tapi tunggu dulu!" Ucap Tania gugup dan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Aduh Taniaaa, ada apa lagi sih?" Ucap Bara.


"Sekarang ini saya harus cepet-cepet sampai di Cafe nih! Sebelum klien penting saya ini, nyampe terlebih dahulu dari saya!" Ucapnya lagi kesal.


"I_iya Pak, T_Tania juga tau!" Ucap Tania.


"T_Tapi,,,, emmmm? I_itu pak,,,,,," ucapanya lagi yang terlihat seperti orang yang sangat kebingungan.


"Tapi itu, tapi itu apa?" Ucap Bara semakin kesal, melihatnya yang seperti bertele-tele seperti itu.


"Eeemmm, i_itu pak! T_Tapi,,,Tania boleh nggak? Pinjem suami Tania dulu, sama Pak Bara?" Ucap Tania dengan secara tiba-tiba meminta izin seperti itu, sehingga membuat Bara pun bingung mendengarnya.


"Pinjem suami Tania dulu, sama pak Bara? Maksudnya?" Ucapnya yang terlihat seperti sudah sangat malas menanggapi ucapannya itu.


"I_iya Pak, T_Tania boleh nggak? Pinjem suami Tania dulu, sama Pak Bara?" Ucap Tania lebih jelas lagi.


"S_soalnya kan tadi kata pak Bara, selama kita ini berada di lingkungan kerja, pak Bara ini bos Tania, pak Bara ini atasan Tania, dan pak Bara ini bukan suami Tania lagi! T_tapi kan masalahnya, sekarang ini Tania pengin ngomong sama suami Taniaaa, gimana dong pak? T_Tania boleh nggak, pinjem suami Tania dulu, sama Pak Bara?" Ucapnya lagi mencoba untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu. Sehingga Bara yang mendengarkan penjelasan dari ucapannya itu yang benar-benar tidak masuk akal pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya ampun Taniaaa! Kamu ini dari tadi bikin saya pusing aja tau nggak sih! Emang kamu pikir, sekarang ini kita lagi main suami-suamian apa?" Ucapnya yang benar-benar sudah sangat kesal menghadapi sikap Tania, istrinya yang benar-benar seperti anak kecil itu.


"Y_ya habisnya gimana dong? T_tadi kan kata pak Bara, selama kita ini sedang berada di lingkungan kerja, pak Bara ini bukan suami Tania lagi, p_pak Bara ini bos Tania! T_tapi kan masalahnya, sekarang ini Tania mau ngomong sama suami Taniaaaa! Tania pengin curhaaat, Tania pengin minta pendapaaat, Tania pengin,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.


"Sssssttt! Iya iya udah cukup! Cukup jangan dilanjutin lagi! Mas udah tau, mas udah tau maksud kamu itu apa! Jadi sekarang juga, cepetan kamu ngomong! Kamu mau ngomong apa?" Ucapnya lagi dengan raut wajah yang terlihat sangatlah kesal. Namun sayang, melihatnya sekesal itu, Tania malah justru langsung tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"B_berarti sekarang ini, Tania udah boleh nih! Panggil mas Bara, mas lagi?"



Ucapnya lagi sambil terus tersenyum.


"Iya! Udah cepetan kamu ngomong! Kamu mau ngomong apa?"



Ucap Bara lagi ketus.


"I_itu mas! S_sebenarnya, T_Tania mau ngomongin masalah tadi pagi!" Ucap Tania.


"T_Tania mau ngomongin masalah, mamah sama Raya! M_mamah sama Raya yang tadi pagi, udah nggak sabar pengin cepet-cepet punya Dede Bayi dari kita maaas!" Ucapnya lagi mencoba untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu. Kemudian, ia pun malah justru langsung merengek-rengek kepadanya.

__ADS_1


"Tapi mas Baraaa, Tania belum siap maaas! Tania belum siap, kalau kita ini punya Dede Bayi duluuuu! S_soalnya kan, T_Tania ini belum bisa ngurusinnyaaaaa!" Rengeknya yang terlalu kejauhan memikirkan hal seperti itu dengannya. Sehingga membuat Bara pun seketika langsung tersenyum karena heran, mengapa ada perempuan se PD itu.


"Loh, kok mas Bara malah senyum doang sih?" Ucap Tania kesal.


"Tania ini serius maaas! Tania ini belum siap punya Dede Bayi dulu dari maaaas! Soalnya kan, Tania ini belum bisa ngurusinnyaaaaa! Lagian, Tania juga kan sekarang ini masih sekolaaah! Nanti siapa dong, yang kasih makan, sama kasih susu buat Dede Bayi kita?" Ucapnya lagi yang terus-terusan merengek-rengek meributkan masalah yang tidak masuk akal seperti itu kepadanya. Sehingga membuat Bara pun lagi-lagi langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar, karena saking pusingnya.


"Taniaaa, cukup! Udah cukup! Udah cukup kamu jangan ngeributin masalah kayak gini terus sama mas!" Ucap Bara yang mencoba untuk menahan emosinya.


"Lagian emang kamu pikir, mas juga udah kebelet banget apa pengin punya anak dari kamu?" Ucapnya dengan jelas menjawabnya seperti itu. Sehingga membuat Tania pun bingung mendengarnya.


"K_kalau emang mas nggak kebelet pengin punya anak dari Tania, t_terus kenapa dong? Semalam mas ngelakuin kayak gitu sama Tania?" Ucapnya.


"Kalau nanti Tania ini sampai hamil gimana?" Ucapnya yang tiba-tiba langsung menatapnya, dengan tatapan mata yang sangat tajam, dan terlihat sangatlah panik. Sehingga Bara yang melihat kepanikannya itu pun, lagi-lagi ia pun tersenyum heran melihatnya.


"Ya ampun Taniaaa! Kalau mas cuma ngelakuin kayak gitu doang sama kamu, mana mungkin sih, kamu ini bisa hamil!" Ucapnya.


"Y_ya iya sih mas, T_Tania juga tauuu! T_tapi gimana kalau nanti mas sampe pengin ngelakuin kayak gitu lagi sama Tania? Mas peluk-peluk Tania lagi kayak semalam, mas cium-cium Tania lagi, mas juga pegang-pegang ini Tania lagi, t_terus udah gitu, n_nanti mas kebablasan lagi ngelakuin kayak gitu sama Tania, sampai Tania ini ham,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.


"Sssssttt! Cukup! Cukup Tania, cukup! Kamu ini ngomong apa sih?" Ucap Bara yang benar-benar sudah habis kesabarannya, menghadapi sikap Tania istrinya, yang selalu berfikiran tidak masuk akal itu.


"Sekarang mas mau ngomong sama kamu, dengerin!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas menyuruhnya seperti itu.


"Kamu nggak usah panik, apalagi sampai kamu ini ketakutan kayak gini! Karena apa? Karena sampai kapanpun, mas ini nggak akan pernah ngelakuin kayak gitu sama kamu, apalagi sampai mas ini menghamili kamu! Itu semua benar-benar nggak mungkin! Karena apa? Karena semua itu benar-benar suatu hal yang sangat mustahil buat mas! Bener-bener mustahil, ngerti!" Ucapnya lagi dengan sangat jelas dan sombongnya berbicara seperti itu. Sehingga Tania yang mendengarnya pun kesal dibuatnya.


"Iiiiiihhhh!" Gerutu nya sambil cemberut. Namun sayang, melihatnya cemberut seperti itu, lagi-lagi Bara suaminya itu pun tidak menghiraukannya sama sekali.


"Ya udah! Lebih baik sekarang kamu dieeem, jangan cerewet! Karena sebentar lagi, kita ini sampai di Cafe!" Ucapnya dengan sangat tegas dan jelas menyuruhnya seperti itu. Kemudian ia pun langsung buru-buru meninggikan kecepatan mobilnya itu kembali. Namun baru saja ia meninggikan kecepatan mobilnya itu kembali, tiba-tiba ia sudah mengerem mobilnya itu kembali secara mendadak.


"Aw, Ssssttttt! Aduh aduh aduh!" Teriak Tania kesakitan, karena dengan tak sengaja jidatnya itu terpentok mengenai bagian depan mobil tersebut.


"Mas Baraaaa! Mas Bara ini apa-apaan sih ngerem mobil secara mendadak? Kan kepala Tania ini kepentoook, sakit tau!" Ucapnya lagi marah, sambil mengusap-usap jidatnya itu.


"Mas Bara ini sengaja yah, mau buat Tania celaka?" Ucapnya lagi, masih terus marah-marah. Namun sayang, melihatnya marah-marah seperti itu, Bara suaminya itu pun lagi dan lagi tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun malah justru terlihat terdiam sambil terus terbengong menatap kearah seorang perempuan berpakaian rapi dan berhijab, yang terlihat seperti baru saja keluar dari dalam sebuah rumah sakit, yang berbeda tepat di pinggir jalan yang sedang ia lewati. Iya, seorang perempuan berpakaian rapi dan berhijab, yang terlihat seperti baru saja keluar dari dalam sebuah rumah sakit, yang berada tepat di samping jalan yang sedang ia lewati. Karena ternyata itulah alasannya, mengapa ia sampai mengerem mobilnya itu secara mendadak.


"P_perempuan itu! K_kenapa dari jauh, p_perempuan itu mirip banget sama,,,," seketika ia pun langsung terdiam dan tidak bisa berkata-kata, sambil terus menatap kearah seorang perempuan tersebut.


#######


Maaf jika Visualnya tidak sesuai, dan maaf juga baru bisa Up.

__ADS_1


Jangan lupa!


Like, coment, kasih hadiah, dan vote yah guys!


__ADS_2