Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 32.


__ADS_3

DI RUANGAN BERBEDA, DI RUANG MAKAN.


Terlihat Ibu Risma, Ayu, dan juga Aldo yang dari tadi sedang menunggu Bara dan Tania untuk sarapan bersama.


"Mah, maksud mamah itu apa sih? Nempatin Tania, menjadi sekertaris sementara untuk Bara?" Ucap Ayu kesal.


"Emang kenapa sayang? Mamah itu sengaja nempatin Tania sebagai sekertaris sementara untuk Bara, itu karena mamah mau mulai dari sekarang, Tania itu sedikit demi sedikit bisa belajar! Supaya nantinya, kalau Tania itu sudah lulus dari sekolah, dia itu sudah langsung bisa dan terbiasa menjadi sekertaris Bara!" Ucap Ibu Risma yang langsung menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Ayu pun bingung mendengarnya.


"A_apa tadi mamah bilang? Supaya nantinya kalau Tania itu sudah lulus dari sekolah, dia itu sudah langsung bisa dan terbiasa menjadi sekertaris Bara? Maksudnya, setelah Tania itu lulus dari sekolah nanti, Tania juga mau ikutan terjun untuk mengurus-ngurus semua bisnis di perusahaan keluarga kita ini mah?" Ucap Ayu kaget dan tak percaya.


"Ya iya dong sayang, kamu ini gimana sih! Emang kamu lupa, Tania itu sekarang siapa? Tania itu kan sekarang sudah syah menjadi istri Bara, adik kamu sendiri! Yang artinya, Tania itu sekarang sudah resmi menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga kita, sudah resmi menjadi menantu dari Almarhum Pak Arga Wijaya, papah kamu dan juga papah Bara, pemilik perusahaan PT. PUTRA WIJAYA! Jadi kedudukan Tania, sama kedudukan kamu dan juga kedudukan Aldo suami kamu, jabatannya sekarang ini sudah sama-sama tingginya di perusahaan keluarga kita ini! Tinggal nanti kita minta persetujuan dari Bara saja, selaku Presdir di perusahaan keluarga kita ini, mau menempatkan Tania istrinya itu sebagai apa? Sebagai sekertarisnya, sebagai manager, atau bahkan mungkin Bara mau menempatkannya lebih dari itu! Terserah Bara saja!" Ucap Ibu Risma lagi mencoba untuk menjelaskannya seperti itu, sehingga membuat Ayu pun semakin tak terima lagi mendengarnya.


"N_nggak, nggak mah! Pokoknya Ayu nggak setuju dengan keputusan dari mamah ini! Ayu bener-bener nggak setuju mah!" Ucapnya mencoba untuk menolak mentah-mentah keputusan dari Ibu Risma mamahnya itu.


"Lagian mamah ini kenapa sih? Emang mamah ini nggak mikir apa? Tania itu kan masih anak-anak mah, Tania itu belum pengalaman dan bahkan Tania juga belum tau apa-apa soal bisnis! Jadi Ayu benar-benar nggak setuju, kalau setelah lulus dari sekolah nanti, Tania ikutan terjun untuk mengurus-urus semua bisnis di perusahaan keluarga kita ini!" Ucap Ayu lagi, marah.


"Ssssttt, sayang sayang udah! Kamu ini nggak boleh kayak gitu sayang! Udah lebih baik sekarang kamu ikuti aja apa itu keputusan dari mamah! Karena mas yakin, apapun itu keputusan dari mamah, pasti itu semua yang terbaik untuk keluarga kita, dan juga terbaik untuk perusahaan keluarga kita ini!" Ucap Aldo mencoba untuk menenangkannya, karena memang hanya itulah yang ia bisa lakukan selama ini. Karena ternyata selama ini, selama ia menjadi suaminya, ia itu tidak pernah bisa berbuat apa-apa selain hanya menenangkannya, dan bahkan ia pun hanya bisa nurut dengan apapun itu ucapan dan juga perintah darinya. Karena kalau sampai ia berani melawan, sudah pasti ia akan terkena oleh sasaran dari kemarahannya. Namun meskipun ia selalu diperlakukan seperti itu oleh Ayu istrinya, ia selalu mencoba untuk terus sabar dan menerimanya, lantaran ia sadar kalau ia itu terlahir dari keluarga yang hanya pas-pasan, yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan keluarga Ayu istrinya itu, yang sangatlah bergelimang harta. Namun meskipun sikap Ayu selalu seperti itu kepadanya, cinta Ayu untuknya benar-benar sangat tulus. Ayu memperlakukannya seperti itu, karena dari dasarnya ia itu memang memiliki sifat yang sangat arogan, serakah, ambisius, dan sangat emosional. Namun tidak bisa dipungkiri, dibalik sifat buruknya itu, Ayu pun sama seperti Bara, ia sangatlah berkompeten dalam kerja.


"Udah yah mas, cukup!" Ucap Ayu marah.


"Mas ini kenapa sih! Selaluuu aja mendukung mamah? Nggak pernah sekalipun mas ini mendukung keputusan dari Ayu selaku istri dari mas!" Ucapnya lagi semakin marah. Ia berbicara seperti itu karena memang benar, kalau selama ini, Aldo suaminya itu memang selalu mendukung apapun itu keputusan dari ibu Risma mamahnya. Namun Aldo melakukan semua itu, lantaran ia ingin mendamaikan hubungan antara Ayu dengan Ibu Risma mamahnya, agar bisa harmonis lagi seperti semula.


"Lagian asal mas tau yah! Mamah ini bisa sampai mempercayakan jabatan Presdir di perusahaan keluarga kita ini kepada Bara, itu semua gara-gara mas! Salah mas! Karena mas yang udah nggak becus mengurus semua bisnis di perusahaan keluarga kita ini! Coba aja kalau mas ini bisa sedikiiiiit aja lebih tegas, jabatan Presdir di perusahaan keluarga kita ini, sudah pasti jatuh atas nama mas!" Ucap Ayu terang-terangan meremehkan Aldo suaminya seperti itu, tepat dihadapan Ibu Risma mamahnya.


"Ayu! Kamu ini apa-apaan sih? Kamu ini nggak pantas tau nggak, ngomong sekasar itu sama suami kamu sendiri!" Ucap Ibu Risma yang langsung buru-buru menegurnya.


"Udah yah mah, cukup! Mamah nggak usah terus-terusan belain mas Aldo! Karena kenyataannya, mas Aldo itu memang kayak gitu!" Ucap Ayu.


"Mas Aldo itu memang seorang lelaki yang nggak akan pernah bisa tegas! Dan bahkan mas Aldo juga seorang lelaki yang nggak akan pernah becus mengurus bisnis di perusahaan keluarga kita ini!" Ucap Ayu yang lagi-lagi meremehkan Aldo suaminya seperti itu, sehingga membuat Ibu Risma pun semakin emosi dibuatnya.


"Ayu! Kamu ini semakin lama bener-bener semakin keterlaluan yah! Kamu ini benar-benar nggak punya sopan santun tau nggak sama suami kamu sendiri!" Ucapnya lagi dengan raut wajah yang sangat marah.

__ADS_1


"Sssssttt, mamah mamah udah mah! Udah nggak papa! Ayu bebas kok mah, mau ngomong kayak gimana juga tentang Aldo, Aldo nggak papa kok mah!" Ucap Aldo yang langsung buru-buru menenangkan Ibu Risma mamah mertuanya seperti itu.


"Nggak Aldo, tapi Ayu ini nggak sepantasnya merendahkan kamu seperti it,,,,,," seketika ucapan Ibu Risma pun terpotong.


"Ada apaan ini mah? Perasaan Bara dengerin dari atas, rame banget!" Ucap Bara yang baru saja turun dari dalam kamarnya, bersama dengan Tania dan juga Raya.


"Eh, k_kamu sayang! N_nggaaak, nggak ada apa-apa kok!" Ucap Ibu Risma yang langsung pura-pura tersenyum..


"Y_ya udah ayo sayang, cepetan duduk! Raya, Tania juga, ayo cepetan duduk sayang! Biar pagi ini, kita semua sarapan bersama." Ucapnya lagi dengan penuh perhatiannya, sambil terus tersenyum. Sehingga membuat Ayu pun iri melihatnya.


"Apaan sih mamah! Kenapa mamah malah jadi tambah perhatian dan sesayang ini sama Tania?" Ucapnya dalam hati kesal.


"Nggak, ini semua nggak bisa dibiarin! Aku nggak bisa diem terus kayak gini, melihat semua perhatian dan juga kasih sayang mamah, direbut begitu aja sama Tania! Secepatnya, aku harus cari cara untuk bisa singkirin Tania dari dalam rumah ini!" Ucapnya lagi dalam hati sambil menatap sinis kearahnya.


"Oh iya sayang, gimana kemaren? Kamu nyaman nggak, magang jadi sekertaris mas Bara?" Ucap Ibu Risma mencoba untuk bertanya seperti itu, kepada Tania menantu tersayangnya.


"Alhamdulillaaah, Tania nyaman kok mah!" Ucap Tania sambil tersenyum dengan sangat ramah. Ia tidak mau menceritakan bagaimana susah dan tersiksanya ia menjadi sekretaris Bara suaminya itu kemaren, karena ia tidak mau kalau Ibu Risma mamah mertuanya itu sampai banyak pikiran.


"Syukur deh kalau gitu sayang, mamah jadi lega dengernya!" Ucap Ibu Risma lagi, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"I_iya mah, emang kenapa yah mah?" Ucap Tania penasaran.


"Yaaaah! Berarti kamu ini masih lama dong lulus sekolahnya?" Ucap Ibu Risma lagi.


"Soalnya ini sayang, mamah ini sekarang bener-bener udah nggak sabar, pengin cepet-cepet punya cucu, dari hasil benih cinta Bara sama kamu sayang!" Ucapnya lagi serius, kalau sekarang ini ia memang benar-benar sudah tidak sabar menginginkan hal tersebut darinya. Namun dengan secara tiba-tiba ia berbicara dengan hal yang mengagetkan seperti itu, sehingga Bara yang dari tadi sedang sarapan pun, seketika langsung keselek dibuatnya.


"Uhuk!" Suara Bara batuk, yang kemudian langsung buru-buru minum segelas air.


"Aduh mamaaah! Mamah ini ngomong apa sih?" Ucapnya.


"Lagian mana mungkin sih mah, Bara ini sampai punya anak dari Tania!" Ucapnya lagi dengan sangat yakin, dan percaya dirinya berbicara seperti itu.

__ADS_1


"I_iya mah, m_mamah ini ngomong apaan sih mah? L_lagian mana mungkin sih mah, m_mas Bara ini sampai punya anak dari Tania!" Ucap Tania yang langsung ikut-ikutan menjawabnya seperti itu.


"Loh, emang kenapa? Namannya juga kan rumah tangga! Kalau udah menikah, ya tinggal punya anak!" Ucap Ibu Risma yang benar-benar heran mendengar jawaban dari mereka berdua.


"Lagian asal kalian tau yah! Kalian berdua ini harus segera punya anak! Apalagi anak laki-laki, karena apa? Karena nantinya, anak laki-laki kalian itulah yang akan meneruskan bisnis di perusahaan keluarga kita ini!" Ucapnya lagi serius. Dengan secara tiba-tiba ia pun berbicara seperti itu, sehingga membuat Ayu yang dari tadi sedang sarapan bersama dengan mereka pun, kaget mendengarnya.


"A_apa! T_tadi mamah ngomong apa? A_aku nggak salah dengar kan?" Ucapnya gugup dan panik.


"Bara sama Tania harus segera mempunyai anak, apalagi anak laki-laki? Karena nantinya, anak laki-laki mereka itu lah yang akan meneruskan bisnis di perusahaan keluarga kita ini?" Ucapnya lagi dalam hati tak percaya.


"N_nggak, nggak bisa! Ini semua nggak bisa dibiarin! Aku benar-benar nggak ikhlas, kalau sampai penerus perusahaan keluarga aku ini, adalah anak dari Bara dan juga Tania! Iya benar, aku benar-benar nggak ikhlas." Ucapnya lagi dalam hati tak terima.


"Kayaknya memang benar rencana aku tadi, secepatnya aku memang harus singkirin Tania dari dalam rumah ini! Secepatnya aku harus cari cara untuk memisahkan Bara dari Tania, supaya mereka berdua tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa mempunyai anak!" Ucapnya lagi dalam hati sambil terus menatap sinis kearah Bara dan juga Tania, karena sekarang ini, ia benar-benar semakin tidak suka lagi kepada mereka berdua.


"Nggak papa kan sayang? Kamu mau kan punya anak dari mas Bara? Kamu mau kan sayang, kasih mamah ini cucu?" Ucap Ibu Risma yang langsung bertanya seperti itu kepadanya.


"Iya mamah cantik, mamah cantik mau kan punya anak dari papah? Mamah cantik juga mau kan, kasih Raya ini Adik bayi?" Sambung Raya yang juga langsung ikutan bertanya seperti itu, sambil tersenyum dengan penuh harap. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, semakin gugup lagi dibuatnya.


"Eeemmmm, g_gimana yah sayang? I_itu sayang, b_bukannya mamah cantik ini nggak mau kasih Raya ini adik Bayi, t_tapi,,,,," seketika ia pun langsung terdiam, karena ia benar-benar bingung harus menjawabnya apa. Namun disaat ia sedang kebingungan seperti itu, seketika ia pun langsung dibuat kaget, karena dengan secara tiba-tiba, entah disengaja atau tidak, tangan Aldo kakak iparnya itu, menyentuh bagian pahanya yang sangat putih dan mulus itu, yang berada di bawah kolong meja. Sehingga membuatnya pun seketika langsung terdiam sambil menelan salivanya.


"Tania, sayaaang, kamu kenapa?" Ucap Ibu Risma bingung melihatnya yang tiba-tiba terdiam seperti itu.


"Oh n-nggak, T_Tania nggak papa kok mah!" Ucap Tania gugup, sambil buru-buru menyingkirkan tangan Aldo itu dari pahanya.


"T_tadi itu gue nggak salah kan? T_tadi itu tangan mas Aldo, bener-bener menyentuh paha gue kan?" Ucapnya dalam hati sedikit ketakutan, sambil menatap kearah Aldo kakak iparnya itu, yang justru terlihat sangatlah tenang dan biasa saja.


"T_tapi, kenapa mas Aldo kelihatan tenang dan biasa aja? Apa mungkin, tadi itu mas Aldo nggak sengaja yah menyentuh paha gue?" Ucapnya lagi dalam hati bingung.


"Iya bener, mungkin tadi itu mas Aldo emang beneran nggak sengaja menyentuh paha gue! Lagian kan setau gue, mas Aldo itu seorang lelaki yang baik, dan bahkan setau gue, mas Aldo juga seorang suami yang benar-benar sangat setia sama istrinya, yaitu Mba Ayu! Jadi mana mungkin mas Aldo ini bisa dengan sengaja melakukan hal sepicik itu?" Ucapnya lagi dalam hati mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, meskipun sesungguhnya sekarang ini, ia pun masih sedikit ketakutan dengan apa maksud dari sentuhan tangannya itu.


#########

__ADS_1


Maaf baru bisa Up!


Buat siapa saja yang mendukung novel ini untuk lanjut, tolong coment yah guys! Supaya author bisa lanjutkan cerita ini, dengan semangat 🙏


__ADS_2