Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 30. (Area 21+ Bocil harap skip Bab ini)


__ADS_3

"M_mas Bara, m_mas Bara nggak papa kan?" Ucap Tania panik melihatnya yang terlihat seperti kesakitan seperti itu.


"Aw, Ssssttttt! N_nggak, m_mas nggak papa kok!" Ucap Bara.


"M_mas cuma sedikit pusing aja!" Ucapnya lagi sambil memegangi kepalanya.


"P_pusing? T_tapi mas nggak papa kan? M_mas baik-baik aja kan?" Ucap Tania semakin panik. Kemudian dengan segera, ia pun langsung menempelkan tangannya itu tepat diatas jidatnya, untuk mengecek suhu tubuhnya. Sehingga Bara yang melihatnya pun, entah mengapa, jantungnya pun seketika DEG! Berdetak dengan sangat kencang.


"A_apa yang terjadi dengan aku? K_kenapa ngelihat gadis brutal ini pegang jidat aku kayak gini, tiba-tiba jantung aku jadi deg-degan banget kayak gini sih?" Ucapnya dalam hati bingung, dengan apa yang terjadi pada dirinya itu.


"Mas Bara diem dulu yah! Sekarang biar Tania cek!"



Ucap Tania sambil terus mengecek suhu tubuhnya. Ia tidak tau sama sekali dengan apa yang sedang Bara suaminya itu rasakan sekarang ini. Kemudian dengan segera, ia pun malah justru langsung ikut menempelkan pipinya yang sangat putih dan mulus itu, tepat di atas tangannya yang masih tertempel tepat di atas jidat Bara suaminya, sampai-sampai wajahnya dengan wajah Bara suaminya itu pun hampir bersentuhan. Sehingga lagi-lagi jantung Bara itu pun langsung berdetak dengan sangat kencang.


"N_nggak, nggak bisa! A_aku nggak bisa membiarkan gadis brutal ini terus-terusan kayak gini ke aku! Aku harus menghentikan semua ini! Bisa meledak lama-lama jantung aku kalau gadis brutal ini terus-terusan menempelkan pipinya diatas jidat aku kayak gini!" Ucapnya lagi dalam hati panik, karena ia benar-benar takut kalau sampai ia itu akan tergoda lagi olehnya, dan sampai terlihat lemah dihadapannya.


"Sabar yah mas!" Ucap Tania lagi yang masih terus menempelkan tangan dan pipinya itu tepat di atas jidatnya, sambil mengibas-ngibaskan rambutnya, sehingga aroma wangi parfum dan shampo yang melekat di tubuh dan rambutnya itu pun tercium sangat jelas olehnya.


"Aduuuuuh, sial! Mana wangi banget lagi ini rambut gadis brutal!" Ucap Bara dalam hati, yang seperti sudah tidak tahan lagi dengan semuanya.


"Tapi nggak papa sih mas, kayaknya mas baik-baik aja deh! Badan mas juga nggak panas kok, normal!" Ucap Tania sambil buru-buru mengangkat pipinya itu dari atas jidatnya, dan langsung mencoba untuk duduk kembali di tempat semula, namun belum juga sempat ia duduk, tiba-tiba Bara suami itu sudah mencegahnya.


"T_Tania!" Ucapnya.


"A_ada apa mas? Kok mas panggil Tani,,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba Bara suaminya itu pun langsung menarik tangannya dengan sangat kencang, sehingga membuatnya pun seketika langsung terjatuh tepat di atas pangkuannya, dengan posisi menghadap kearahnya.


"M_mas Bara, a_ada apa yah? K_kok mas Bara tarik tangan Tani,,,," lagi-lagi ucapan Tania itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba Bara suaminya itu pun langsung mencium bibirnya.



Karena sepertinya ia bener-bener sudah tidak bisa mengontrol lagi nafsunya.


"I_ini beneran? M_mas Bara, c_cium bibir Tania lagi? I_ini Tania nggak lagi mimpi kan?" Ucap Tania dalam hati syok dan tak percaya dengan apa yang sedang Bara suaminya itu lakukan lagi kepadanya, kemudian ia pun langsung memejamkan matanya, sambil memegangi dadanya yang terasa seperti sedang perang, karena saking deg-degannya.


"Ya Tuhaaan, kenapa ciuman ini lagi-lagi rasanya nikmat banget kayak gini? Tania bener-bener nggak bisa nolak ciuman ini dari mas Bara Tuhan, Tania bener-bener nggak bisa!" Ucapnya lagi dalam hati pasrah, karena lagi-lagi ia merasakan nikmat yang luar biasa dari ciuman Bara suaminya yang memang sudah sangat berpengalaman itu. Sehingga ia pun benar-benar tidak bisa untuk menolaknya lagi, dan ia pun malah justru terus memejamkan matanya, sambil terus menikmati disetiap sentuhan-sentuhan dari permainan bibir dan lidah Bara suaminya itu, yang memang benar-benar sudah sangat lihai memainkan lidah dan bibirnya. Sehingga Bara yang melihatnya pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun langsung ikut memejamkan matanya kembali, dan langsung menciumi bibirnya itu kembali tanpa henti-hentinya. Bahkan bukan hanya bibir yang ia cium, dengan sangat perlahan, bibir dan lidahnya itu pun berpindah-pindah tempat, dari bibir Tania, menuju wajahnya, leher, pundak, sampai dengan ke telinganya, dan kemudian ia pun langsung menciumi dan menjilati telinganya itu dengan sangaaaat perlahan.


"Aaaah, maaaas?" Desah Tania kenikmatan, sambil menggeliatkan tubuhnya dengan gerakan dan raut wajah yang terlihat sangatlah seksi. Sehingga Bara yang melihatnya pun, nafsu nya semakin tak terkontrol lagi, bahkan karena saking tak terkontrolnya, dengan secara tiba-tiba juniornya itu pun langsung bangun dan menegang. Sehingga Tania yang sekarang ini memang masih duduk di atas pangkuannya itu pun, merasakan sensasi yang luar biasa dari juniornya itu.

__ADS_1


"Aaaah, maaaas? Aaaaaah!" Rengeknya dengan sangat manjanya, sambil menggesek-gesekkan bagian bawahnya, tepat ke junior Bara suami yang masih mengeras dan menegang itu.


"Aaaahh, Ssstttttt, aaaaaah!" Suara Bara mendesah kenikmatan dan terlihat sangat lemah dihadapan Tania istrinya, karena ia pun merasakan nikmat yang luar biasa dari gesekannya itu.


"M_mas?" Ucap Tania sambil menatap dalam wajah tampannya itu, yang terlihat masih sangatlah lemah dihadapannya, dengan raut wajah yang sangat kenikmatan.


"I_iya kenapa? Enak yah? Enaaak?" Bisik Bara dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil tersenyum dan merapikan helaian rambutnya yang sedikit menutupi wajah cantiknya, dan juga bibirnya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung menciumi lagi bibirnya itu dengan sangat rakusnya dan tak ada henti-hentinya. Bahkan bukan hanya ciuman, bahkan sekilas tangan nakal Bara itu pun terlihat menyelusup masuk kedalam baju dan celana Tania istrinya.


"M_mas, m_mas Bara mau ngapain?" Ucap Tania gugup dan ketakutan.


"Sssssttt!" Bisik Bara tepat di telinganya.


"T_tapi mas, T_Tania nggak mau! T_Tania tak,,,,,,," seketika ucapan Tania itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba jari-jari nakal Bara suaminya itu pun, langsung memainkan bagian-bagian sensitifnya itu.


"Aaaah, maaaas? Aaaahh, aaaahh, j_jangan maaaas! Aaaaah,,,," suara Tania mendesah karena saking nikmatnya merasakan permainan dari Bara suaminya itu. Apalagi ini adalah kali pertama ia merasakan hal senikmat itu selama hidupnya. Sehingga mulutnya pun boleh berbicara, agar Bara suaminya itu untuk 'Jangan lakukan!' Namun kenyataannya justru gerakan tubuhnya itulah, yang tiba-tiba langsung menggeliat disetiap kali Bara suaminya itu menyentuh bagian-bagian sensitifnya itu. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi, kalau sekarang ini ia itu benar-benar sangat terangsang oleh sentuhan-sentuhan dan juga permainan dari jari-jari nakalnya itu. Sehingga Bara yang memang benar-benar sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti itu pun lagi-lagi tersenyum melihatnya.


"Ternyata benar dugaan aku, kamu ini memang gadis brutal! Tapi untuk masalah ini, kamu ini benar-benar gadis polos yang belum tau apa-apa! Karena kamu ini benar-benar masih perawan!" Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum, dan terus memainkan bagian sensitifnya yang memang benar-benar terasa masih sangat sempit itu, menggunakan jari-jarinya. Sehingga ia pun sangat yakin, kalau sekarang ini Tania istrinya itu benar-benar masih perawan.


"Aaahh, maaaas? Aaaah, sakit maaaas! Pelan-pelan masukin jarinyaaaa! Aaaah, sakit maaas, periiih!" Rengek Tania kesakitan, karena Bara suaminya itu sedikit kasar memasukkan jari-jari nakalnya itu ke bagian sensitifnya.


"Sakiiiiit? Periiiih?" Ucap Bara pelan, sambil mengusap-usap rambutnya.


"Nanti mas pelanin yaaaah, masukinnya!" Ucapnya lagi sambil tersenyum, dan terus mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang, Kemudian ia pun langsung memainkan jari-jari nakalnya itu kembali kebagian sensitifnya, dengan sangaaaat perlahan, sehingga lagi-lagi Tania pun mendesah kenikmatan dibuatnya.


"Aaaah, aaaaaah! Mas Bara,,, aaaaaah! Maaaas? Mas Baraaa,,,," Rengeknya sambil terus mendesah kenikmatan diatas pangkuannya, dengan keadaan yang terlihat sudah sangat pasrah, lemas dan tak berdaya.


"Papaaah,,,, mamah cantik?" Ucap Raya yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar mandi, kaget.


"Papah sama mamah cantik lagi ngapain? Kok papah sama mamah cantik main pangku-pangkuan?" Ucapnya lagi bingung.


"Terus mamah cantik diapain sama papah? Kok mamah cantik kayak kesakitan?" Ucapnya lagi yang terlihat sangatlah panik, karena tadi itu ia mendengar dengan jelas, suara ******* dari Tania mamah cantiknya itu, yang terdengar seperti orang yang sangat kesakitan.


"R_Raya!" Ucap Tania kaget, sambil buru-buru beranjak dari pangkuan Bara suaminya itu.


"Aduuuuuh! Kok aku bisa sampai lupa sih, kan tadi itu Raya pergi ke kamar mandi yah?" Ucap Bara dalam hati sedikit panik, karena ia takut kalau sampai Raya putri semata wayangnya itu, sampai melihat kejadian yang tidak sepantasnya ia lihat.


"Hiks,, hiks,, papaaaah, tadi mamah cantik diapain sama papaaaah? Hiks,, hiks,,, kok tadi mamah cantik kayak kesakitan? Hiks,, hiks,, mamah cantik tadi digalakkin yah sama papaaaah?" Rengek Raya yang tiba-tiba malah justru langsung menangis, karena sepertinya ia benar-benar tidak mau kalau sampai Tania mamah cantiknya yang sangat ia sayangi itu, sampai diapa-apain oleh Bara Ayahnya.


"Y_ya ampun sayang, k_kok kamu nangis sih? T_tadi itu mamah cantik nggak digalakkin kok sama papah, benaran!" Ucap Tania tergesa-gesa, sambil buru-buru menghampirinya, dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Hiks,, hiks,, mamah cantik bohong! Hiks,, hiks,, kalau mamah cantik tadi nggak digalakkin sama papah, hiks,,, hiks,, terus kenapa dong, tadi mamah cantik kayak kesakitan dipangkuan papah?" Ucap Raya lagi tak percaya, sambil terus menangis. Dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga membuat Tania pun gugup dibuatnya.


"Oh, i_itu sayang! T_tadi itu mamah cantik, eeemmm? I_itu,,,,," seketika Tania pun langsung terdiam, karena ia bingung harus menjawabnya apa.


"Itu sayaaaang, tadi itu kan mamah cantik lagi diobatin lukanya sama papaaaah, tapi tadi mamah cantik itu nggak mau diem! Mamah cantik ini cengeng bangeeeeet, bandel! Manja banget kayak anak kecil, nangis terus kesakitan nggak mau berhenti!" Ucap Bara. Dengan secara tiba-tiba ia berbohong dengan alasan seperti itu, kepada Raya putri semata wayangnya. Sehingga Tania yang sedang mendengarnya pun, seketika langsung melotot kearahnya.


"M_mas Bara!" Ucapnya pelan sambil terus melotot, karena ia benar-benar tidak terima dengan alasannya itu. Namun sayang, melihat Tania istrinya melototi nya seperti itu, Bara tidak menghiraukannya sama sekali, ia pun malah justru terus mencoba untuk menenangkan Raya putri semata wayangnya itu, agar berhenti menangis, dan percaya dengan ucapannya.


"Iiiihhh! Ngeselin banget sih mas Bara itu! Cari alasan sih cari alasan, tapi nggak usah ngata-ngatain Tania kayak gitu juga kali!" Ucap Tania dalam hati kesal, sambil cemberut.


"Tapi beneran kan pah? Papah nggak lagi bohongin Raya! Tadi itu mamah cantik beneran nggak digalakkin sama papah?" Ucap Raya lagi.


"Iya sayaaaang, kalau anak cantik papah ini nggak percaya, anak cantik papah ini boleh kok, nanya langsung ke mamah cantik!" Ucap Bara yang tiba-tiba menyuruhnya seperti itu, sehingga membuat Tania pun semakin kesal lagi dibuatnya.


"Mas Baraaa!" Ucapnya lagi pelan sambil terus melotot kearahnya. Namun sayang, lagi-lagi Bara suaminya itu pun tidak menghiraukannya sama sekali.


"Emang bener mamah cantik, apa kata papah tadi? Kalau tadi itu mamah cantik nggak digalakkin sama papah?" Ucap Raya mencoba untuk menanyakan langsung kepada Tania mamah cantiknya itu.


"Oh, i_iya sayang! Tadi itu kata papah beneran kok! M_mamah cantik tadi nggak digalakkin kok sama papah!" Ucap Tania gugup, kemudian ia pun langsung melangkah mendekat kearahnya.


"Tadi itu mamah cantik kayak kesakitan gituuu! Itu karena tadi mamah cantik ini lagi diobatin lukanya sama papaaah! Tapi waktu mamah cantik ini diobatin lukanya sama papaaaah,,,,," seketika ia pun langsung terdiam, sambil menatap sinis kearah Bara suaminya.


"Mamah cantik ini nggak bisa diem, cengeng banget, bandel! Manja banget kayak anak kecil, nangis terus kesakitan nggak mau berhenti!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengikuti ucapan dari Bara suaminya itu dengan sangat jelas, agar Bara suaminya itu puas sekalian mendengarnya. Namun sayang, Bara suaminya itu hanya tersenyum dingin mendengarnya, kemudian ia pun malah justru langsung melangkah mendekat ke arah Raya putri semata wayangnya.


"Tuuuuh kan, kamu dengar kan apa kata mamah cantik sayang? Sekarang kamu udah percaya kan sama papah?" Ucapnya sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Iya papah, Raya sekarang udah percaya kok sama papah!" Ucap Raya sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Ya udaaah, kalau gitu sekarang papah mandi dulu yaaah?" Ucap Bara lagi yang juga ikut tersenyum. Kemudian ia pun langsung menatap kearah Tania istrinya, dengan tatapan mata yang sangat dingin, dan tidaklah selembut dan semanis saat bersama Raya putri semata wayangnya tadi.


"Iiiiiihhhh!" Ucap Tania semakin kesal, sambil terus cemberut. Namun sayang, lagi-lagi Bara suaminya itu pun tidak perduli, ia pun malah justru langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk mandi dan membersihkan seluruh badannya.


Namun sesampainya ia di dalam kamar mandi, tiba-tiba ia pun langsung tersenyum sambil memandangi jari nakalnya itu yang masih sedikit basah dan licin, yang tadi sempat ia mainkan ke bagian sensitif Tania istrinya itu. Kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Aduh Baraaa! Kamu ini udah gila kali yah? Sebenarnya apa sih yang tadi udah kamu lakukan sama gadis brutal itu!" Ucapnya dalam hati tak percaya, sambil terus tersenyum memandangi jari nakalnya itu.


##########


Meskipun novel ini sangat minim pembaca, dan author juga sudah sangat merasa lelah ngelanjutin cerita ini, tapi author tetap berusaha untuk semangat!

__ADS_1


Meskipun sebenarnya sangat menyedihkan, berusaha untuk tetap semangat tanpa ada penyemangat! 😭😭😭


__ADS_2