
Setengah jam kemudian,,,,
MASIH DI RUANG UTAMA BARA.
Terlihat Tania yang dari tadi sedang duduk di meja kerjanya, sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Aduuuh! Mas Bara itu sebenarnya kemana sih? Masa ke ruangan Mba Ayu, tapi lama banget!" Ucap Tania yang sudah mulai BT, karena ternyata dari tadi, ia itu benaran mengikuti apa perintah dari Bara suaminya.
"Terus mau sampai kapan, gue duduk diem terus kayak gini nggak ada kerjaan?" Ucapnya lagi bingung.
"Lagian mas Bara itu gimana sih? Masa iya, sekertarisnya sendiri disuruh 'Terserah kamu aja! Kamu mau duduk kek, tiduran, selonjoran, mau main HP kek! Terserah!'" Ucap Tania yang mengikuti seperti apa gaya ucapannya itu tadi kepadanya.
"Nggak, nggak bisa! Gue nggak bisa diem terus kayak gini nggak ada kerjaan! Sekarang ini kan gue lagi magang, gimana kalau nanti laporan kerja gue sampai jelek disekolahan?" Ucapnya yang baru mengingat, apa statusnya sekarang ini di Perusahaan tersebut.
"Iya bener, sekarang ini kan gue lagi magang! Gue nggak bisa diem terus kayak gini nggak ada kerjaan! Sekarang juga, gue harus cari kerjaan apa aja yang ada didalam ruangan ini, yang bisa gue kerjakan!" Ucap Tania lagi sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya, dan langsung buru-buru melihat-lihat dan mencari-cari disetiap sudut-sudut dari raungan tersebut, ada atau tidak pekerjaan untuknya yang bisa ia kerjakan. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, ia pun melihat meja kerja Bara suaminya, yang terlihat sangatlah berantakan, berkas-berkas dan dokumen-dokumen, semuanya berserakan diatas meja dengan tidak teratur, dan tidak tersusun dengan rapi.
"Ya ampun mas Baraaa! Mas Bara ini gimana sih?" Ucapnya yang sekarang sudah berdiri tepat di depan meja kerja tersebut, sambil terus memperhatikan meja kerjanya itu yang terlihat memang sangatlah berantakan.
"Katanya berkompeten dalam kerja, disiplin, punya etika! Tapi masa iya sih, meja kerjanya berantakan banget kayak gini?" Ucapnya lagi heran, karena menurutnya cara kerjanya itu tidak sesuai dengan apa yang ia ucapkan.
"Apa mungkin,,,, karena selama ini mas Bara itu seorang duda yah? Jadinya mas Bara itu nggak ada yang ngurusin, nggak ada yang merhatiin! Masa iya sih, seorang Presdir terhormat kayak mas Bara, meja kerjanya bisa sampai berantakan banget kayak gini!" Ucapnya yang lagi-lagi berbicara seperti itu. Namun sepertinya ia lupa, kalau sekarang ini Bara suaminya itu sudah tidak menduda lagi dan sudah mempunyai istri, yang tak lain adalah dirinya.
"Tapi ya udah deh nggak papa, lebih baik sekarang gue beresin aja meja kerja mas Bara! Lagian kan, sekarang ini gue juga lagi cari kerjaan!" Ucapnya lagi sambil tersenyum. Kemudian dengan penuh semangat, ia pun langsung buru-buru membereskan semua berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut, dan langsung menyusunnya satu-persatu dengan sangat rapih, menjadi satu.
"Naaah, beres deh!" Ucapnya lagi yang baru saja selesai membereskan berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut.
"Kalau kayak gini, kan kelihatannya jadi lebih rapi!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum memperhatikan meja kerja tersebut, yang sekarang ini terlihat jauh lebih rapih dari sebelumnya.
"Gue yakin deh, mas Bara pasti bakalan seneeeng banget! Ngelihat cara kerja gue ini yang,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Taniaaa! Kamu ngapain ada di meja kerja saya?" Ucap Bara yang baru saja datang dan masuk kembali ke dalam ruangan tersebut, marah. Sehingga Tania yang mendengarnya pun, seketika langsung gugup dan kaget dibuatnya.
"M_mas Bara," ucapnya.
"Oh i_ini mas! T_Tania lagi beres-beresin,,,,,," lagi-lagi ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Berkas-berkas dan dokumen-dokumen saya?" Ucap Bara yang baru saja sadar dan baru saja melihat, kalau semua berkas-berkas dan dokumen-dokumen miliknya itu, sudah tidak tersusun lagi diatas meja tersebut seusai dengan apa yang ia susun tadi. Karena ternyata meja kerjanya itu tadi tidaklah berantakan, akan tetapi karena sistem kerja ia itu, memang seperti itu. Kemudian dengan segera, ia pun langsung melangkah mendekat ke arah meja tersebut, dan berdiri tepat didepannya
"Mana berkas-berkas dan dokumen-dokumen saya untuk meeting hari ini?" Ucapnya lagi masih marah, sambil mencari berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut.
"B_berkas-berkas sama dokumen-dokumennya, udah Tania beresin jadi satu mas!" Ucap Tania dengan beraninya menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Bara pun semakin emosi dibuatnya.
"A_apa tadi kamu bilang? Berkas-berkas sama dokumen-dokumennya, udah kamu beresin jadi satu?" Ucapnya.
"I_iya mas, emang kenapa?" Ucap Tania yang memang benar-benar tidak tau apa kesalahannya itu.
"Ya ampun Taniaaa! Kamu ini ceroboh banget sih jadi sekertaris?" Ucapnya lagi.
"Emang siapa? Emang siapa yang udah berani nyuruh kamu untuk beresin berkas-berkas dan dokumen-dokumen saya?" Ucapnya lagi dengan suara yang sangat tinggi karena marah.
"N_nggak mas, nggak ada! T_Tania tadi cuma ngeliat meja kerja mas ini berantakan! Jadi Tania tadi cuma punya inisiatif, mau beresin meja kerja mas aja, udah!" Ucap Tania.
__ADS_1
Mendengar jawaban darinya, seketika Bara pun langsung melangkah mendekat ke arahnya.
"Kamu tau! Kamu tau nggak, hah?" Ucap Bara lagi semakin marah.
"Gara-gara kamu ngebersin meja kerja saya, saya jadi nggak tau! Mana berkas-berkas dan dokumen-dokumen yang mau saya bawa untuk meeting nanti siang, untuk saya bawa meeting nanti sore, dan untuk saya bawa meeting nanti malam!" Ucapnya lagi mencoba untuk menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya, mengapa ia bisa sampai semarah itu kepadanya.
"Y_ya ampun mas, T_Tania bener-bener minta maaf mas! T_Tania bener-bener nggak tau kalau kejadiannya bisa jadi seperti ini!" Ucap Tania yang benar-benar baru tau apa itu kesalahannya.
"Y_ya udah yah mas! Kalau gitu, berkas-berkas sama dokumen-dokumennya, semuanya biar Tania aja yang car,,,,,,,," lagi-lagi ucapannya itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba Bara suaminya itu pun langsung marah-marah lagi kepadanya.
"Terus mana? Terus mana bekas-bekas dan dokumen-dokumen penting yang saya simpan di atas lemari ini, yang sekarang ini mau saya bawa untuk meeting?" Teriaknya. Dengan secara tiba-tiba ia bertanya seperti itu, sehingga Tania yang memang tidak merasa membereskan berkas-berkas tersebut pun bingung.
"B_berkas-berkas sama dokumen-dokumen yang mana mas?" Ucapnya.
"T_tapi dari tadi juga, T_Tania nggak ngelihat mas! Apalagi sampai beresin berkas-berkas dan dokumen-dokumen yang mas simpan diatas lemari itu!" Ucapnya lagi mencoba untuk menjelaskan. Namun sayang, alih-alih mendengarkan penjelasan darinya, Bara pun malah justru langsung mengusirnya dari dalam ruangannya.
"Keluar sekarang juga kamu dari raungan saya!" Ucapnya dengan sangat tegas dan jelas menyuruhnya seperti itu.
"T_tapi mas, Tania nggak bohong mas! T_tadi itu Tania bener-bener nggak ngelihat, apalagi sampai beresin berkas-berkas sama dokumen-dokumen mas, yang mas simpan diatas,,,,,," lagi-lagi ucapannya itu pun langsung terpotong.
"Saya bilang keluar sekarang juga dari raungan saya!" Teriak Bara dengan suara yang lebih kencang lagi, sehingga membuat Tania pun seketika langsung terpancing emosinya.
"Iiiiiihhhh! Mas Bara itu kenapa sih? Selalu aja nggak mau dengerin dulu penjelasan dari Tania!" Teriaknya dengan mata yang berkaca-kaca, karena sekarang ini ia benar-benar sangat kasal sekaligus sedih, karena sudah dituduh-tuduh seperti itu olehnya. Kemudian dengan segera, ia pun langsung melangkah keluar dari dalam raungan tersebut, dan menutup pintunya dengan sangat kencang JEBREEET!
"Iiiiihhhhhh! Mas Bara itu bener-bener keterlaluan! Kenapa sih? Mas Bara itu selaluuu aja, nggak mau dengerin dulu penjelasan dari Tania!" Ucap Tania lagi, yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Oke nggak papa! Kalau mas Bara nyalah-nyalahin gue, gara-gara masalah foto pernikahan mas bara sama mantan istrinya yang jatuh semalam, gue terima! Karena itu semua memang gue yang salah! Gue yang udah nggak sengaja ngejatuhin foto itu sampai pecah!" Ucapnya sambil terus berjalan untuk keluar dari dalam perusahaan tersebut
"Karena apa? Karena berkas-berkas dan dokumen-dokumen itu hilang, itu semua bukan salah gue!" Ucapnya lagi yang memang benar-benar merasa tidak bersalah, karena ia memang benar-benar tidak pernah merasa membereskan berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut, dari atas lemarinya.
"Lagian kan kalau seandainya gue sampai salah juga, mas Bara itu nggak sepantasnya sampai marah-marah kayak gitu! Seharusnya kan mas Bara itu malah justru, ajarin gue, kasih tau gue! Gimana caranya agar gue ini bisa menjadi sekertaris yang baik buat,,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong. Karena tiba-tiba ada seorang pria yang tidak ia kenal, yang tak sengaja menabraknya.
"Aw, sssssttt! Aduh, aduh!" Ucapnya kesakitan.
"Y_ya ampun! Sorry banget yah? Soryyyyy banget! Soalnya gue ini lagi buru-bur,,,,," seketika ucapan lelaki tersebut pun langsung terpotong, kemudian ia pun langsung terdiam sambil terbengong, karena ia baru melihat dan baru menyadari betapa cantiknya wajah perempuan yang ia tabrak itu, yang tak lain adalah Tania.
"Gilaaaa, ini perempuan cantik bangeeet! Gue nggak salah lihat kan ini? Gue nggak lagi mimpi kan?" Ucapnya dalam hati yang benar-benar terpana dan terpesona melihat kecantikannya.
"Gue bener-bener baru tau, kalau di perusahaan ini, ternyata ada karyawan yang secantik ini!" Ucapnya lagi dalam hati tak percaya. Kemudian ia pun langsung tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Gue yakin banget deh, Fix! Ini perempuan pasti jodoh gue! Ini perempuan pasti bidadari yang udah Tuhan kirimkan untuk gue, untuk menghentikan jiwa ke playboyan gue selama ini!" Ucapnya lagi dalam hati, ngarep. Sambil terus tersenyum dan terbengong memandangi wajah cantiknya.
"M_maaf mas, mas nggak papa kan? Kok dari tadi mas diem aja ngelihatin saya?" Ucap Tania bingung melihatnya yang justru malah terdiam seperti itu.
"Oh n_nggak, g_gue nggak papa kok!" Ucap seorang lelaki tersebut yang masih terus terbengong memandangi wajah cantiknya.
"Oooh, syukur deh kalau gitu!" Ucap Tania sambil tersenyum. Kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah lagi untuk keluar dari dalam perusahaan tersebut.
"Eh tunggu dulu! Nama kamu siap,,,,,,," seketika ucapan lelaki tersebutpun langsung terpotong, karena ia melihat Tania yang sudah melangkah jauh darinya.
__ADS_1
"Aaahhhh, sial! Udah jauh lagi itu perempuan!" Ucapnya lagi.
***********
Kembali lagi ke Bara,,,,,
Terlihat Bara yang dari tadi sedang sibuk mencari-cari dan menyusun kembali, semua berkas-berkas dan juga dokumen-dokumen, yang tadi sempat Tania istrinya itu bereskan.
"Aduuuuuh! Dimana yah itu berkas-berkas dan dokumen yang mau aku bawa meeting sekarang? Perasaan semuanya udah aku susun lagi seperti semula, tapi kok masih nggak ada juga yah?" Ucapnya bingung, karena berkas-berkas tersebut sampai sekarang belum juga ketemu. Sehingga ia yang dari tadi sedang mencari-carinya pun, seketika langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Aduh Taniaaaa! Semua ini gara-gara kamu tau nggak sih!" Ucapnya lagi kesal. Kemudian ia pun langsung mencoba untuk mencari berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut lagi, namun disaat ia sedang mencari-cari berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangannya.
"Aduuuuuh! Kamu itu ngapain sih kesini lag,,,,,," seketika ucapan Bara pun langsung terpotong.
"Kesini lagi? Perasaan hari ini, gue baru kesini deh!" Ucap seseorang tersebut, yang tak lain adalah Alex, bingung.
ALEX.
Ia adalah sahabat terdekat Bara, sekaligus seorang CEO muda yang tidak kalah suksesnya dengannya, dan ia juga adalah seorang pria yang sangat tampan. Namun jika dibandingkan dengan Bara, sudah pasti Bara itu jauh lebih tampan darinya. Dan disini, mereka berdua pun memiliki sifat dan kepribadian yang sangat jauh berbeda, karena sifat dan kepribadian Alex disini! Mudah bergaul, masih lajang, playboy, suka mempermainkan perempuan, dan bahkan ia pun cukup sering memboking perempuan-perempuan malam disaat ia sedang kesepian, hanya untuk melampiaskan nafsunya. Namun ia seperti itu dan bahkan masih melajang sampai sekarang, bukan karena ia tidak laku atau tidak ada perempuan yang mau dengannya, akan tetapi karena ia itu belum menemukan seorang perempuan yang cocok untuknya.
"Eh kamu Lex! Aku kira siapa?" Ucap Bara yang mengira kalau yang datang dan masuk kembali ke raungannya itu, Tania istrinya. Kemudian ia pun langsung buru-buru mencari berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut lagi, sehingga Alex yang melihatnya pun bingung.
"Eh, loh lagi ngapain sih? Perasaan gue perhatiin, dari tadi loh itu sibuk banget?" Ucapnya.
"Oh i_ini, aku lagi cari berkas-berkas sama dokumen-dokumen penting!" Ucap Bara.
"Mana itu berkas-berkas sama dokumen-dokumen penting, mau aku bawa meeting sekarang lagi! Kalau sampai berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting itu hilang, bisa bahaya nih! Bisa gagal project aku sama,,,,,," seketika ucapannya itu pun langsung terpotong, karena tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya. TOK! TOK! TOK!
"Iya masuk!" Ucapnya dengan tegas.
"Maaf Pak, ini berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting Pak Bara, untuk meeting sekarang! Yang kemarin Pak Bara suruh saya untuk mengecek ulang!" Ucap seseorang tersebut yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu, yang tak lain adalah Dina. Dengan secara tiba-tiba ia berbicara seperti itu, sehingga Bara yang mendengarnya pun seketika langsung kaget.
"A_apa tadi kamu bilang? Berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting saya untuk meeting sekarang, yang kemarin saya suruh kamu untuk cek ulang?" Ucapnya.
"I_iya Pak!" Ucap Dina.
"Kamu ini lancang banget sih! Kapan kamu ambil berkas-berkas dan dokumen-dokumen ini dari raungan saya?" Ucap Bara marah.
"Loh, kan bukannya kemarin saya sudah chat langsung ke Pak Bar,,,,,,," seketika ucapan Dina pun langsung terpotong.
"Y_ya ampun Pak Bara! T_ternyata kemarin saya belum chat ke Pak Bara!" Ucap Dina yang baru ingat kalau ternyata kemarin itu, ia belum mengechatnya untuk meminta izin kepadanya, kalau ia akan mengambil berkas-berkas dan dokumen-dokumen tersebut dari dalam ruangannya.
"M_maaf banget yah Pak! S_saya benar-benar lupa!" Ucap Dina lagi gugup, dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Ya ampun Dina! Kamu ini bener-bener keterlaluan yah!" Ucap Bara marah, kemudian ia pun langsung terdiam dengan raut wajah yang sangat pusing.
"Aaaah, sial!" Ucapnya lagi kesal, karena sepertinya sekarang ini ia sangat menyesal, karena tadi sudah berlaku kasar, dan salah paham kepada Tania istrinya.
######
Jangan lupa like, coment, dan vote yah guys! 🙏
__ADS_1