Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong

Terpaksa Menikahi Om Duda Sombong
BAB 50.


__ADS_3

DI KANTOR BARA.


Waktu menunjukkan pukul 08:00 Pagi


Terlihat mobil Bara yang baru saja sampai, dan sedang berparkir di halaman kantor tersebut.


"Ya udah ayo sayang, sekarang kita turun! Udah sampai!" Ucap Bara.


"Iya, mas!" Ucap Tania, sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya.


"Aw, sssssttt! Aduh aduuuuuh!" Ucapnya lagi yang langsung saja mereunyi kesakitan, sambil memegangi bagian bawahnya. Dan untuk sekarang ini, sudah kesekian kalinya ia mereunyi kesakitan seperti itu, bahkan dari sejak ia masih di rumah, dan sejak dari ia hendak berangkat ke kantor.


"Tuh kan sayang, kamu ini sekarang lagi sakit! Jangankan untuk bekerja, berdiri aja kamu ini udah kesakitan banget kayak gitu!" Ucap Bara sedikit kesal. Karena ternyata, ia sudah berkali-kali menyuruhnya untuk libur ngantor hari ini, bahkan dari sejak mereka berdua masih berada di rumah. Akan tetapi, Tania istrinya itu tetap kekeuh dan keras kepala, memaksakan diri untuk tetap bekerja, meskipun keadaannya sekarang ini sedang kurang vit.


"Udah deh, kamu ini nggak usah bandel! Lebih baik, sekarang kamu istirahat aja di rumah, yah!"


"Sekarang, mas anterin kamu pulang! Kita muter balik!" Ucapnya lagi dengan sangat tegas menyuruhnya seperti itu, sambil buru-buru memarkirkan mobilnya itu kembali, untuk pulang.


"Maaas, Tania ini nggak papa maaas! Tania ini, nggak sakit! Tania ini, masih kuat kok!" Ucap Tania yang tetap kekeuh, dengan keinginannya itu.


"Masih kuat gimana? Orang keadaan kamu, sekarang kayak gini kok!" Ucap Bara lagi.


"Udah, kamu nurut aja sama mas! Sekarang, mas anterin kamu pulang!" Ucap Bara, lebih tegas lagi.


"Iiiiiihhhh! Mas Baraaaa, Tania nggak mau pulang, maaas! Tania nggak mau pulaaaang! Tania nggak mau di rumah sendirian, nggak ada maaaaas!" Rengek Tania, yang tetep kekeuh dengan keinginannya.


"Pokoknya kalau sekarang mas anterin Tania pulang, Tania turun paksa nih! Dari dalam mobil!" Ucapnya lagi, mencoba untuk mengancamnya seperti itu. Sehingga Bara yang sedang mengendarai mobilnya itu pun, seketika langsung menghentikannya.


"Kamu ini apa-apaan sih, sayang? Keras kepala banget sih, jadi anak! Susah dikasih taunya, tau nggak?" Ucapnya, yang sedikit terpancing emosinya.


"A_apa tadi mas Bara bilang? K_keras kepala?" Ucap Tania yang benar-benar tidak menyangka, kalau kata-kata seperti itu, akan keluar lagi dari mulutnya, setelah dua hari kemaren, mereka berdua saling bercumbu kasih.


"Maksud mas itu, apa? Ngata-ngatain Tania kaya gitu?"


"Asal mas tau yah! Tania bisa sakit kaya gini tuh! Gara-gara mas, tau nggak?"


"Gara-gara permainan mas, yang benar-benar kasar sama Tania!"


"Dan sekarang dengan seenaknya, mas malah ngata-ngatain Tania, kaya gitu?" Ucapnya lagi, tak terima.


"Mas ini jahat banget sih, jadi suami! Mas ini bener-bener suami, yang nggak punya perasaan!" Ucapnya lagi marah. Kemudian, ia pun langsung buru-buru keluar dari dalam mobil tersebut, meninggalkannya sendiri.


"T_Tania, sayang! B_bukan itu maksud mas, sayang! Bukan itu maksud, mas!" Teriak Bara, sambil buru-buru mengambil tas kerja miliknya, dan langsung buru-buru membawanya sendiri turun dari dalam mobil tersebut, untuk mengejarnya.



"T_Tania, sayang! B_bukan itu maksud mas, sayang! Bukan itu!" Ucap Bara lagi, yang sekarang ini sudah berjalan tepat di sampingnya, dan langsung buru-buru menarik tangannya. Karena sekarang ini, ia benar-benar sangat takut, kalau Tania istrinya itu akan ngambek kepadanya.


"Awas mas, lepasin! Mas nggak usah kejar-kejar, Tania!" Ucap Tania lagi, masih ngambek.


"Sayang sayang, kamu nggak boleh ngambek kayak gini, sama mas sayang!" Ucap Bara.


"Bukan itu maksud mas, sayang! Beneran sayang, bukan itu maksud,,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsung terpotong.


"Woy, Bro!"



Teriak Alex, yang ternyata dari tadi sedang berdiri menunggunya, di depan kantor tersebut.

__ADS_1


"Aduuuuuh! Apaan sih, itu Alex? Kenapa harus datang, nggak tepat waktu kayak gini, sih?"



Ucap Bara dalam hati, semakin kesal.


"Tuh, temennya datang! Udah sekarang juga, lepasin tangan Tania!"



Ucap Tania lagi, masih terus ngambek.


"Nggak, nggak mau! Mas nggak akan pernah lepasin tangan kamu, sebelum kamu berhenti ngambek sama mas!" Ucap Bara, yang malah justru menggenggam tangannya semakin erat lagi.


"Woy, Bro! Ada apa ini? K_kok kalian berdua, pada pegang-pegangan tangan, kayak gini?" Ucap Alex, yang sekarang ini sudah berdiri tepat dihadapan mereka berdua.


"Eh! P_pak Alex, selamat pagi pak!" Ucap Tania, yang tiba-tiba berubah menjadi sangatlah sopan.


"Pagi juga, Tania cantiiiiiiiik!" Ucap Alex, sambil tersenyum menggodanya.


"Apaan sih loh, Lex!" Ucap Bara kesal, sambil menendang kakinya.


"Aw, sssssttt! Gila loh, Bro! Sakit tau, kaki gue!" Ucap Alex.


"Y_ya udah yah, kalau gitu! Pak Alex,,,,,," Ucap Tania lagi, sambil tersenyum dengan sangat ramah kepadanya. Kemudian, ia pun langsung menatap kearah Bara, dengan tatapan yang sangat sinis.


"PAK BARA, juga! Tania, ke ruangan Tania duluan!" Ucapnya lagi, yang sengaja menyebutnya dengan sangat jelas, sebutan seperti itu, tepat dihadapan Alex sahabatnya. Sehingga Bara yang mendengarnya pun, entah mengapa, ia pun merasa tak terima.


"A_apa tadi kamu bilang, sayang? K_kamu panggil mas, Pak?" Bisiknya yang sepertinya lupa, dengan peraturan-peraturan yang ia buat sendiri untuknya, selama mereka berdua sedang dalam lingkungan kerja.


"Iya, PAK BARA!" Ucap Tania lebih jelas lagi, sambil terus cemberut. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melangkah menuju ruangannya, meninggalkan mereka berdua.


"Selamat beraktivitas, Tania cantiiiiiiiik!" Teriak Alex lagi, sambil tersenyum mesum memandangi tubuhnya, yang sangatlah seksi itu, dari belakang.


"Tania, tunggu! Kamu masih marah, sama mas?" Teriaknya lagi, sambil terus berjalan untuk mengejarnya.


"Loh, Bara!" Teriak Alex.


"Kok loh malah ninggalin gue sendirian, disini sih?" Teriaknya lagi.


"Eh, guys! Kok Tania nya malah pergi sih?" Ucap Tari, yang ternyata dari tadi juga sedang berdiri di depan kantor tersebut untuk menunggunya, bersama dengan Sinta, dan juga Nita.


"Kalau kayak gini, ini bubur titipan Tante Savira, gimana dong guys?" Ucapnya lagi, yang ternyata dari tadi sedang menunggu-nunggunya, karena ia mau memberikan bubur titipan dari ibu Savira tersebut, untuknya.


"Ya udah lah, Tar! Mendingan sekarang, loh antar aja itu bubur titipan Tante Savira, ke ruangan Tania!" Ucap Sinta, yang langsung saja menyarankannya seperti itu.


"Iya bener banget! Udah mendingan sekarang, loh antar aja itu bubur! Ke ruangan Tania!" Sambung Nita, yang juga langsung menyarankannya seperti itu.


"Ya udah deh kalau gitu! Gue anterin bubur ini dulu, ke ruangan Tania, yah?" Ucap Tari.


"Kalau kalian mau kembali kerja, kalian kembali kerja aja, duluan!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melangkah menuju raungan tersebut.


"Waaah, nggak beres ini Bara!" Ucap Alex lagi, yang ternyata dari tadi juga, masih berdiri di tempat tersebut.


"Masa ia sih, gue ditinggalin disini, sendirian?"


"Bener-bener nggak beres itu, an,,,,,,," seketika ucapannya itu pun, langsusng terpotong. Karena tak terasa, ia pun jalan mudur mundur mundur, hingga tak sengaja ia pun menabrak seseorang PRAAAKKKKK!


"Y_ya ampun, ya ampun! B_bubur titipan Tante Savira!" Ucap seseorang tersebut, dengan sangat tergesa-gesa, dan panik. Dan seseorang tersebut ternyata adalah, Tari. Iya, seseorang tersebut ternyata adalah, Tari.

__ADS_1


"Ya ampuuun! Bubur titipan, Tante Saviraaaa!" Ucapnya lagi yang benar-benar kaget dan tak percaya, melihat nasib bubur tersebut akan terjatuh, dan tumpah berserakan di lantai seperti itu. Namun sayang, melihatnya kaget seperti itu, Alex malah justru tersenyum.


"Dasar anak kecil! Timbang bubur aja, sampai segitunya sih?"



Ucapnya yang malah justru berbicara seperti itu, dengan santainya, seperti tidak punya salah.


"A_apa Abang bilang?"



Ucap Tari, marah.


"T_timbang bubur doang, kata Abang?" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung melangkah lebih dekat lagi, kearahnya.


"Eh bang, asal Abang tau yah! Bubur ini tuh! Bubur titipan buat temen gue, yang lagi sakit tau nggak?"


"Tapi sekarang, lihat nih buburnya! Tumpah semuanya kayak gini, gara-gara Abang!"


"Lagian Abang ini, gimana sih? Orang udah salah juga, bukannya minta maaf! Ini mah malah senyum-senyum gitu, kayak orang nggak punya salah!"


"Pokoknya, gue nggak mau tau! Abang harus gantiin, ini bubur!" Ucapnya lagi, yang tiba-tiba memintanya untuk tanggung jawab, dengan hal sereceh itu. Sehingga Alex yang mendengarnya pun, lagi-lagi tersenyum.



"Eh, anak kecil! Loh tenang aja! Timbang bubur kayak gitu doang juga! Gue gantiin nanti, sekalian sama gerobag-gerobagnya!" Ucapnya, yang dengan sombongnya menantangnya seperti itu. Sehingga Tari yang mendengarnya pun, seketika langsung tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena heran, mengapa ada seorang lelaki sesombong itu.


"Ya udah kalau gitu, mana cepetan! Gantiin!" Ucapnya, yang juga langsung menantangnya seperti itu.


"Tapi nanti! Soalnya, sekarang gue ini lagi buru-buru!" Ucap Alex lagi.


"Dan satu lagi!"


"Eh, anak kecil! Jangan pernah sekalipun yah? Gue denger lagi, loh panggil gue ini, Abang!"


"Gue ini, bukan Abang loh!" Ucapnya lagi, dengan sangat jelas. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melangkah pergi, meninggalkannya.


"Iiiiiihhhh! Ngeselin banget sih, Abang ini!" Teriak Tari, marah.


"Gue ini, udah SMA! Gue ini, bukan anak kecil lagi!" Teriaknya lagi, tak terima. Namun sayang, Alex tidak menghiraukannya. Ia pun hanya melambaikan tangannya dari belakang, yang mengisyaratkan untuknya cukup jangan berbicara lagi, karena ia tidak akan pernah perduli dengan ucapnya. Sambil terus melangkah pergi, meninggalkannya.


"Iiiiiihhhh! Ngeselin banget sih, itu Abang-abang! Emang dia pikir, gue ini masih anak-anak apa?" Gerutu Tari, semakin kesal. Namun kenyataannya memang benar, Tari itu adalah sosok gadis yang bertubuh kecil, mungil, dan bahkan tidak ada kata seksi sama sekali, dalam dirinya.


Kira-kira seperti inilah, gaya dan penampilan keseharian Tari.



Yang benar-benar sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan Tania, atau dengan wanita-wanita malam yang sering Alex booking, untuk melampiaskan nafsunya setiap malam. Namun tidak bisa dipungkiri, dibalik gaya dan penampilannya itu, ia adalah sosok gadis yang cantik, manis, imut, lucu, dan bahkan sangatlah ceria. Mungkin ia bisa selalu ceria, karena ia belum pernah mengenal yang namanya cinta.


"Aduuuuuh! Gimana nih?" Ucapnya lagi bingung, sambil menatap kearah bubur tersebut.


"Mana ini bubur, udah berantakan banget kayak gini lagi!"


"Ah, udah deh! Mendingan sekarang, gue lanjutin ke ruangan Tania!"


"Gue minta maaf, sama dia!" Ucapnya lagi. Kemudian, ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya kembali, menuju ruangan tersebut.


######

__ADS_1


Maaf jika visualnya kurang pas 🙏


Kalau kalian nggak suka dengan adanya visual, kasih masukan aja! Secepatnya akan Author hapus 🙏


__ADS_2