Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 29


__ADS_3

Hening, suasana kamar temaram itu dalam kesunyian yang kelam. Guren memandangi wajah Ran yang begitu polos saat terlelap. Benak Guren bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Penjelasan Miztard tadi siang tidak cukup meyakinkan Guren.


“Darah rendah? ... memang kalau darah rendah bisa pingsan selama ini, ya?”


Saat Guren termenung, mata tertutup yang ditatapnya itu tiba-tiba terbuku. Guren tersentak, lamunannya langsung buyar sesaat air mata Ran jatuh.


“A-ada apa? Kepalamu sakit.” Guren kelabakan, menemukan teko di atas nakas dan menumpahkan air untuk Ran minum.


Tapi Ran menolak, dia duduk menangis tersedu-sedu di antara kebingungan Guren yang tidak tahu harus berbuat apa.


“Aku panggilkan dokter, kau sakit—”


“Tidak. A-aku baik-baik saja, Kak.” Ran menghapus air matanya, namun butiran lain terus turun membasahi pipi Ran. Tiba-tiba Guren menarik kepala Ran masuk dalam dekapannya. Walau tidak tahu apa yang membuat Ran menangis, tapi Guren yakin ada sesuatu yang menyakiti hati Ran.


“Menangislah, jangan ditahan. Aku bisa pura-pura tidak dengar.”


Memang tidak bisa ditahan, Ran menangis meluapkan emosinya sembari memukul, mencakar, dan menggigit tubuh Guren. Guren tidak marah sama sekali, dia membiarkan Ran menyakiti tubuhnya. Ran menangis sampai seperti itu, artinya sakit yang gadis itu rasakan sangat parah.


Hingga tak ada lagi pergerakan juga suara Ran, gadis itu tertidur. Guren merebahkan tubuh Ran kembali, menaiki selimut hingga batas dada.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Ran?” gumam Guren. Dia tidak ada niatan bertanya langsung pada Ran, takutnya itu malah mengorek luka Ran. Lebih baik dia mencari tahu sendiri nanti.


***


Paginya Ran sudah rapi, menutupi bengkak di mata menggunakan foundation dan eyeshadow. Memaksa senyum, menjadi Ran yang banyak dikenal orang.


Pintu kamar terbuka, Ran berbalik ke belakang melihat Guren yang membawa piring dan juga segelas air putih.


“Kau mau ke mana?” tanyanya datar terpaku di ambang pintu.


“Kampus. Ke mana lagi?” jawab Ran dengan ceria serta senyum tipis.


Ini sulit dipercaya, Ran terlihat segar seakan kejadian semalam tidak pernah terjadi. Beberapa kali Guren mengedipkan matanya cepat, selanjutnya Guren sadar dia harus pura-pura tidak tahu seperti janjinya tadi malam pada Ran.


“Baiklah, makanlah ini dulu. Aku siap-siap, sekalian nunggu mobilku sampai.” Guren meletakkan apa yang ada di tangannya di atas kasur.


Saat Guren pergi, Ran duduk di kasur menyantap serapan yang mungkin Guren beli. Tatapan Ran merendah, dia mulai mengunyah pelan memasuki mode merenung.


Sejak kapan dia perhatian seperti ini? Ran terheran, Guren yang dia kenal tidak semanis ini. Tentu saja Ran ingat bagaimana dia menangis dalam dekapan pria itu juga menyakiti tubuh Guren, dan sekarang dia merasa lebih baik berkat itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Guren keluar hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang, tapi Ran tidak sadar. Guren melewati Ran begitu saja menuju lemari, Ran lagi-lagi melamun, Guren tahu itu. Dia biarkan saja selama Ran melamun sambil makan.


“Sudah selesai, ayo pergi.” Guren menepuk pundak Ran, menghancurkan dinding lamunan gadis itu.


Ran melirik piring yang ada di pangkuan, ternyata sudah kosong. Matanya membulat terkejut, Guren malah menahan tawa akan reaksi Ran.


***


“Ran kau baik-baik saja?” sambut Risti akan kehadiran Ran. Dia pikir hari ini Ran akan absen, tapi kesegaran wajah Ran meyakinkan Risti bahwa Ran sudah merasa lebih baik.


“Aku baik-baik saja.”


“Terlihat seperti itu, aku sampai tak yakin bahwa gadis yang berteriak histeris semalam adalah kau.”


Hanya senyum sebagai respons, selanjutnya Ran duduk diam menunggu dosen masuk. Pelajaran di mulai setelah itu, Ran banyak melamun hingga tak terasa sudah pukul tiga sore.


Ran beranjak, tidak ada kelas lagi untuk Ran hari ini, dan juga untuk besok. Tinggal pulang, Ran berjalan menuju kelas Guren di lantai dua, tapi baru saja sampai tiba-tiba dari belakang Pasya memanggil Ran.


“Ada apa, Kak?”


“Ikut aku sebentar.” Pasya menggandeng Ran sambil berjalan santai seolah hubungan persaudaraan mereka begitu akrab.


“Lepas!” Ran menepis tangan Pasya, tiba-tiba dari samping lorong dia di sergap oleh empat orang teman Pasya.


Ran memberontak, namun usahanya sia-sia. Ran merasakan ada suntikan yang ditusuk pada tubuhnya, entah suntikkan apa itu.


“Cepat seret dia masuk ke ruangan!”


Ran pun dibawa ke gudang yang sudah lama tidak terpakai, di sana ada dua pria yang memasang wajah mesum. Ran ketakutan, berteriak mengusir mereka agar tidak menyentuh Ran.


“Diam, Ran! Diam!”


Ran yang banjir air mata melirik Pasya yang hanya diam tidak melakukan apa pun di situ. “Kak ... tolong,” lirih Ran penuh harap.


Tapi Pasya malah menggelengkan kepala, mendadak Ran tersentak dan sadar dia juga pernah menggelengkan kepala pada seseorang yang minta tolong.


Ternyata begini rasanya, rasa benci langsung timbul begitu saja, sangat benci sampai-sampai Ran ingin Pasya mati sekarang juga. Itu adalah perasaan alami manusia ketika dikhianati.


Dua cowok itu ingin menelanjangi Ran, sedangkan teman-teman Pasya menyiapkan HP untuk merekam.

__ADS_1


“Ran sayang jangan melawan. Kami akan bermain pelan.”


“Sialan! Lepaskan aku!”


Ran semakin memberontak ketika mereka mulai merobek baju Ran. Tak sengaja mata Ran melihat sebuah korek yang jatuh dari saku salah satu cowok, dia mengambilnya dan kemudian membakar rambut mereka satu-persatu.


Mereka berteriak mencoba memadamkan api yang begitu cepat menyambar. Pasya dan teman-temannya fokus pada kepala yang terbakar itu, dan inilah kesempatan Ran.


Dia ambil karung yang tergeletak untuk menutupi bagian atasnya yang hanya tinggal bra, Ran berlari ke luar dikejar dua teman Pasya lainnya.


“Kak Guren!”


Ran masuk ke kelas Guren, tak peduli dengan Dosen yang masih mengajar di kelas itu.


Semua mata tertuju pada Ran, mereka bertanya-tanya kenapa Ran menyelimuti diri menggunakan karung.


Tangis Ran pecah, dia langsung berlari dan melompat memeluk pria itu.


“A-ada apa, Ran?”


Guren membekap tubuh Ran agar suara tangis Ran sedikit teredam. Saat satu tangan Guren memeluk pinggang Ran, dia pun sadar Ran tidak memakai baju.


“R-Ran, kau?”


Guren bingung mau menutup tubuh Ran pakai apa, hari ini dia tidak memakai jaket ataupun semacamnya. Matanya sibuk mencari sana sini, dan ... Miztard.


“Lepas jaketmu, Miztard!”


“A-apa?” Miztard bingung.


“Cepat!”


Saat Guren mendapatkan jaketnya, dia langsung menutupi tubuh Ran, selanjutnya pergi tak peduli dengan perhatian seisi kelas termasuk Dosen.


Dua cewek yang mengejar Ran tadi, bersembunyi di kelas lain, tak berani menunjukkan diri saat Guren lewat menggendong Ran pergi.


Rencana mereka gagal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2