Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 44. Dijemput.


__ADS_3

Semua mata menoleh ke sumber suara yang tegas. Pria itu berekspresi datar namun menekan, dia berjalan mendekati tiga orang yang kaget atas kedatangannya.


Pria itu menatap Salsa dan Doni secara bergantian. Sepasang suami-istri itu ciut di hadapan orang yang berkuasa. Selanjutnya dia melirik Ran yang belum bisa menghentikan deru air matanya. Kasihan, batinnya.


“Pak Tarmizi, ka-kapan Anda datang?” sapa Doni hormat, mempersilahkan Tarmizi untuk duduk.


Tarmizi mengabaikan pertanyaan Doni. “Aku mendengar seluruh obrolan kalian. Salsa, kau memang memiliki jasa besar telah membesarkan anak yang bukan dari rahimmu. Jika kau menginginkan balas budi ... kau sendiri orang kedua yang merusak rumah tangga Lerina. Dengan Lerina pergi memberikan suaminya padamu, bisakah itu dianggap balas budi?”


“A-aku—”


“Ah tidak. Begini saja, anggaplah kau membesarkan Ran sebagai ucapan terima kasihmu pada Lerina. Lagian Ran itu anaknya Doni, tidak masalah jika dia besar di rumah papanya sendiri.”


Tarmizi sepertinya sudah mencari tahu seluk beluk identitas Ran. Dia tahu siapa Lerina, bahkan pernah mengobrol dengan wanita itu untuk melihat bagaimana sosok ibu kandung dari cucu menantunya yang masuk dalam keluarganya secara licik.


Tarmizi tidak mengungkap tentang Ran saat bertemu Lerina. Dia hanya menyamar sebagai kakek yang kelaparan. Lerina yang tidak mengetahui siapa Tarmizi membantu Tarmizi membeli makanan serta memberikan uang.


Satu lagi, suami Lerina bekerja di perusahaan milik Tarmizi sebagai direktur.


Salsa diam tidak berani membantah pria tua itu. Jika Tarmizi bilang begitu maka memang begitu, jangan menyangkal. Entah bagaimana nasibnya jika membuat pria tua itu tersinggung.


“Saya mengerti Pak Tarmizi,” jawab Salsa dengan kepala yang menunduk menatap ke lantai tempat ia berpijak.


Selanjutnya Tarmizi menarik tangan Ran hingga wanita itu terseret oleh langkahnya Tarmizi. “Untuk apa kau menangis?” tanya Tarmizi sembari terus melangkah ke luar.


Ran menghapus air matanya. Benar juga, kenapa dia menangis? Sekarang dia sudah mengerti alasan di balik kasih sayang yang miring antara dirinya dengan Pasya dan Adit. Tidak ada alasan lagi untuk menarik perhatian mereka ... Ran sudah dibuang, oleh Salsa, Doni, bahkan ibu kandungnya sendiri.


Dalam mobil, Ran duduk bersebelahan dengan Tarmizi di belakang. Raut wajah Tarmizi tampak tenang, wajar saja dia disegani banyak orang. Umur pria tua itu tak melunturkan aura ketegasannya.


Dalam keheningan, tiba-tiba Tarmizi bersuara tanpa menoleh ke arah Ran. “Soal ibumu ... kakek harap kau tidak mencarinya.”


Entah apa alasan Tarmizi mengatakan itu, tapi sebenarnya Ran tidak ada niat untuk mencari wanita yang telah membuangnya. Wanita itu pasti sudah hidup dengan baik, jangan sampai kehadiran Ran merusak kebahagiaannya.

__ADS_1


“Aku, aku juga tidak ingin bertemu dengannya,” jawab Ran. Tarmizi pun tampak tersenyum tipis.


“Baguslah.”


“Kakek,” panggil Ran sendu, Tarmizi menjawab dengan deheman saja. Ran menoleh ke pria tua itu, berkata, “Ke mana Kakek akan membawaku? Ini ... ini bukan jalan menuju apartemen.”


“Guren memintaku untuk membawamu ke kantor.” Hanya itu saja jawaban Tarmizi. Padahal Ran berharap Tarmizi juga menjelaskan bagaimana bisa pria itu berada di rumah papanya. Sekarang muncul pertanyaan baru lagi, kenapa pula Guren meminta kakek yang menjemputnya? Apa di kantor tidak ada sopir? Satu lagi, biasanya dia selalu memperbudak Miztard.


Ran ingin bertanya, tapi dia ragu sebab Tarmizi adalah orang yang hemat kata.


***


Ini baru pertama kalinya Ran menginjakkan kaki masuk ke dalam gedung besar nan tinggi. Dulu Ran hanya bisa melihat gedung ini dari luar, tidak pernah terpikirkan olehnya jika suatu hari akan masuk atau bahkan menjadi menantu pemilik gedung ini.


Sungguh menakjubkan.


Karyawan yang berlalu lalang, sontak memberi hormat saat Tarmizi dan Ran lewat. Tarmizi berjalan angkuh tak menoleh pada mereka yang menghormatinya.


Angkat dagumu, jangan menunduk pada mereka. Buat mereka segan padamu, buat mereka berpikir jika kau bukan orang yang bisa diajak bercanda. Begitulah gambaran ekspresi Tarmizi yang dapat Ran nilai.


Maka Ran akan mengikuti hal itu.


Astaga ini pengalaman baru. Ran tidak pernah bersikap arogan sebelumnya. Tapi ... sepertinya dia cocok bersikap seperti itu, auranya berubah 180° dari Ran yang cengengesan menjadi Ran yang elegan tak terbantahkan.


“Bagus,” ucap kakek tersenyum tipis, menatap lurus ke depan.


Ran bisa mendengar bahwa pria tua itu baru saja merasa bangga pada dirinya.


Tepatnya di lantai yang hampir menyentuh puncak, lift terbuka. “Belok kiri di persimpangan koridor ujung. Ruangan berpintu besar di ujungnya adalah ruangan Guren, pergilah ke sana.” Setelah berkata seperti itu, Ran keluar, sedangkan Tarmizi melanjutkan ke lantai yang paling atas.


“Belok kiri?” gumam Ran sendiri.

__ADS_1


Ran berjalan melewati pembelokan yang ada menuju koridor ujung. Sampai di ujung, ternyata koridor satu ini berbeda, begitu luas dan terdapat dinding kaca polos yang membuat Ran bisa menikmati kota dari ketinggian.


Sepertinya Ran menyukai tempat ini, dia bahkan tidak bergerak lagi untuk ke ruangan Guren, mendekati kaca membuat lututnya lemas melihat ke bawah dengan takjub.


“Oh iya, Kak Guren!” Ran pikir Guren memiliki urusan yang penting hingga mengundangnya ke sini. Ran pun terburu-buru melangkah menuju pintu yang di ujung sana.


Tok tok. Ran mengetuk pintu sampai seorang pria membukakan pintu, menarik Ran masuk dan kembali mengunci pintu.


“Kenapa lama sekali,” tanya Guren, menggiring Ran untuk duduk di sofa.


“Ada urusan apa memangnya?” tanya Ran sambil matanya menelusuri ruangan Guren. Ada layar yang begitu besar, juga beberapa komputer yang menempel di dinding juga meja. Semuanya menyala, terdapat tulisan-tulisan yang sepertinya kode-kode yang tak Ran mengerti.


Bibir Guren terangkat tipis. Ekspresi istrinya itu tampak lucu. “Kau duduklah di sini, atau mau pesan makanan untuk makan siang?” tawar Guren.


“Ah iya.” Ran merogoh tasnya, mengambil ponsel untuk memesan makanan secara online. “Kak Guren mau makan apa?”


“Pesanan pizza dan cola, aku hanya ingin itu.”


Guren kembali ke tempat duduknya, menekan keyboard dengan sangat cepat serta matanya yang terlihat sangat teliti menelusuri beberapa layar yang ada di hadapannya.


“Luar biasa sekali tingkat kefokusannya,” gumam Ran pelan ketika melihat Guren di sana.


Hanya terdengar suara keyboard saja di antara mereka. Ran semakin bingung gunanya dia di sini untuk apa? Terlebih tadi yang menjemputnya tadi adalah kakek Tarmizi langsung.


“Kau tidak ada kelas juga. Apa salahnya menemani aku di sini?” tutur Guren tiba-tiba di sela kesibukan pria itu.


Padahal Ran sama sekali tidak bersuara. Apa pria itu bisa membaca pikirannya?


“Aku tidak bisa membaca pikiranmu.” Lagi, Guren membuktikan dia tahu isi pikiran Ran.


Guren berbalik melihat wajah kaget Ran, kemudian dia tertawa geli. “Semua orang pasti akan bertanya-tanya seperti itu jika berada di posisimu, Ran. Aku hanya menebak, sepertinya benar, ya?”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2