
10 menit setelah Muti pulang, barulah Guren muncul memasuki kamar. Dia memindai ekspresi istrinya yang tampak bingung. “Ada apa?” tanya Guren.
Ran menoleh, menghela napas sebelum berujar, “Aneh saja dengan perubahan sikap Mama yang secara tiba-tiba.”
“Dia senang banget waktu dengar kamu hamil.”
“Oh ... Hah apa?! Siapa yang hamil?” sentak Ran, matanya membulat menatap Guren bersama jantung yang dapat ia dengar suara detaknya.
Guren terkekeh, dia duduk, menggenggam kedua tangan Ran. “Kamu hamil, sudah memasuki usia dia bulan ... maaf baru bilang sekarang.”
Bagaimana ceritanya ini? Kenapa Ran tidak tahu sama sekali tentang kondisi tubuhnya sendiri. Dan rasanya juga tidak mungkin, Ran 'kan mengonsumsi obat penunda kehamilan.
“Jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda.” Guren pun bergerak untuk membuka nakas, di sekip buku dia menyembunyikan hasil USG bayinya. “Ini, anak kita.”
Ran menerima selembar foto itu, sungguh dia bingung harus bereaksi seperti apa? Marah, senang, sedih, kecewa, tercampur aduk menjadi satu.
“Sebulan yang lalu, saat kau mengeluh pusing dan tidak enak badan. Aku membawamu ke rumah sakit saat kau tidur, dokter curiga kau hamil, jadi dia menyarankan USG. Oh iya ...” Guren mengambil tasnya, dia menyerahkan lagi selembar foto. “Yang ini gambar bayi dua bulan, ini diperiksa saat kau pingsan tadi.”
Air mata Ran jatuh. Hal sepenting ini, kenapa Guren merahasiakannya? Dan lagi, mungkin dokter disuruh bohong mengatakan jikalau Ran hanya masuk angin saat dia selalu mual.
“Kenapa baru memberitahu aku?” lirih Ran menatap Guren kecewa.
Sekali lagi Guren menghembus napas kasar. “Aku takut kau tidak mau hamil anak itu. Bagaimana jika kau mengabor—”
“Tidak! Aku tidak sekejam itu!” sanggah Ran.
“Aku pikir kau akan melakukannya ... karena kau minum obat penunda kehamilan.”
“...!” Sekali lagi Ran dikejutkan oleh Guren, ternyata pria itu tahu Ran mengonsumsi obat.
“Tapi saat kau mengatakan mencintaiku, aku senang sekali, tidak tahan menyembunyikan kehamilanmu lebih lama.”
Guren memperhatikan raut Ran, wanita itu menunduk dengan air mata yang berjatuhan. Sakit Guren melihatnya, apa Ran sedih sebab dia hamil?
“Kau tidak suka, ya?”
Penuturan Guren terdengar lirih, larut ke dalam kepedihan. Ran mendongak cepat untuk menyangkal hal itu. “Bukan, bukan begitu. Aku ... aku hanya kaget. Bagaimana bisa aku hamil di saat aku—”
__ADS_1
“Obat itu aku ganti menjadi vitamin, Kanae yang membuatnya menjadi sama persis seperti pil milikmu itu.”
“Ka-Kanae?”
“Ingat waktu kau membuntutiku di kampus dulu? Aku sedang menanyakan tentang obat yang dibuat sama persis, bukan tentang komputer baru.”
Oh iya dia ingat. Ternyata sudah sejak lama Guren merencanakan ini, dia benar-benar dibodohi oleh Guren.
Ran mengelus perutnya, memang sudah mulai terasa perubahannya, pantas saja bulanan Ran tidak datang-datang, sebab ada janin di perutnya.
Guren sedikit lega melihat Ran mengelus perutnya sembari tersenyum tipis. Dia akan membiarkan Ran dulu menenangkan dirinya, sementara Guren duduk di depan komputer menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi.
***
Paginya Ran begitu bahagia, suasana hatinya sedang bagus sebab sudah menerima kenyataan tentang kehamilan ini. Bahkan dia merasa menggebu, mengelus serta mengajak anaknya mengobrol.
“Hati-hati, perhatikan langkahmu,” peringat Guren ketika Ran keluar dari mobil.
“Iya aku tahu.”
“Nanti pulang jam berapa? Aku jemput.”
“Engga, naik taksi aja. Kak Guren banyak kerjaan iya, kan?” teriak Ran karena jaraknya sudah agak jauh dari Guren.
“Betapa usiaku sekarang? Rasanya aku sudah tua melihat mereka yang masih menempuh pendidikan,” tutur Guren, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia melanjutkan perjalanannya, sambil berpikir akan masa lalu. Takdir benar-benar lucu, dulu dia tidak pernah berpikir bahwa yang akan menjadi istrinya adalah adik dari pacarnya.
Guren masih ingat bagaimana ekspresi Ran ketika dia datang menjemput Pasya. Waktu itu Ran selalu menanti buah tangan Guren, dia sangat bahagia saat Guren bertamu.
Guren pun tertawa sambil memukul setir, hatinya terasa digelitiki. Kini wanita itu hamil anaknya, menjadi separuh jiwanya.
***
“Kau hamil! Waw!” Risti membuat wajah konyol. Apa sebegitu kagetnya dia?
“Kamu dan Miztard kapan?”
“Hamil?”
__ADS_1
“Menikah! Jangan hamil di luar.”
Pipi Risti menggelembung, dia melipat ke dua tangannya di dada, juga membuang muka tanda merajuk.
“Kenapa?” tanya Ran, padahal dia tahu kalau Risti akhir-akhir ini sensitif dengan kata ‘nikah.’ Wanita itu sudah capek menanyakan keseriusan Miztard atas hubungan mereka yang entah sampai kapan begitu-begitu saja.
“Jangankan menikah! Semenjak dia sarjana, bisa dihitung berapa kali aku melihat barang hidungnya. Teleponku juga jarang diangkat, alasannya selalu sibuk.”
“Kak Miztard itu akan menggantikan posisi papanya saat umur 30 tahun nanti. Wajar saja dia perlu banyak hal untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin,” bela Ran.
“Kenapa tidak suamimu saja?”
“Dia tidak mau. Lihatlah, papanya saja yang merupakan anak pertama memilih menjadi Hakim dari pada menjadi pemimpin perusahaan. Sama dengan Kak Guren yang memilih jalannya sendiri dari pada mengikuti arus yang ditentukan turun temurun.”
Kemudian Ran mengelus punggung Risti, memberikan semangat tanpa kata. Risti sepertinya sudah capek digantung terus, ketakutan muncul sebab Miztard tidak seperhatian dulu.
“Sebenarnya ada anak teman papaku yang datang melamar ke rumah. Bagaimana menurutmu, Ran? Aku terima atau menunggu Miztard yang tidak pasti?”
Pantas saja Risti galau tentang nikah akhir-akhir ini, ternyata ada yang melamar. Ran diam sesaat, biarkan dia menormalkan ekspresi yang sempat kaget tadi.
“Cepat jawab, Ran?”
“Ah i-itu aku tidak tahu ... bagaimana kau bicarakan ini dengan Miztard?”
“Bicarakan bagaimana? Menghubungi saja sulit!”
Situasi Risti pasti sedang dalam kebingungan yang besar, apalagi orang yang melamar Risti adalah sosok mapan dan tidak kalah tampan. Pria itu menunjukkan keseriusan pada Risti, sedangkan orang yang Risti cintai dihubungi saja sulit.
Lamunan Risti buyar ketika Ran mengatakan, “Aku akan minta Kak Guren untuk menyampaikan pesanmu ke Kak Miztard. Oh! Atau kau ikut aku saja ke kantor—”
“Boleh?!” sorak Risti seperti mendapatkan harapan.
“Iya boleh.”
Tapi kemudian dia kembali tertunduk lesu. “Tapi aku takut malah mengganggu dia.” Tangannya ia kepalkan kuat, membayangkan Miztard memarahinya di depan banyak orang, pasti akan sangat memalukan.
Kecemasan Risti terlihat jelas di netra Ran, memang sepertinya menyusul ke kantor bukanlah ide yang bagus. Bagaimana jika Miztard kelelahan dan tidak bisa berpikir jernih? Dia bisa saja emosi berlebih nanti. Bisa runyam iya, kan?
“Ya sudah, aku suruh Kak Guren saja untuk menyampaikan pesanmu.”
__ADS_1
“Terima kasih, Ran.”
Bersambung....