Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 55. Kedatangan mertua.


__ADS_3

Entah waktu memang semakin cepat, atau Ran yang terlalu sibuk dengan kuliahnya? Enam bulan berlalu sejak pertama kali dia menginjak negeri orang, itu terasa begitu cepat bagi Ran. Kegiatan kampus yang semakin banyak, mungkin menjadi salah satu alasan kenapa waktu tidak begitu terasa.


Sedangkan suaminya, Guren sudah sarjana sebulan yang lalu, kini pria itu terfokus pada pekerjaan tanpa diganggu lagi dengan tugas kampus.


“Hemm~” erang Ran sebal, akhir-akhir ini dia sering merasa mual, tapi minggu kemarin dokter bilang Ran akan masuk angin kalau kelelahan. Apa itu memang bisa terjadi setiap saat?


“Ran apa yang kau tunggu? Semua orang sudah berbaris di lapangan,” tegur Risti, menarik Ran untuk ikut pergi ke lapangan dalam rangka ... enggak tahu apa, mereka disuruh berbaris pagi ini.


Ran melihat malas ke arah luar. “Panas-panas begini, memang mau ngapain sih?”


“Engga tahu, tapi ikut saja dulu.”


Akhirnya Ran ikut saja, parahnya dia di barisan paling depan. Cahaya matahari langsung menembak Ran begitu sengit, sedangkan teman di belakangnya lebih adem sebab tubuh Ran yang tinggi menjadi pelindung mereka.


“Mau sampai kapan bapak itu mengoceh? Aku sudah tidak tahan berdiri di sini,” keluh Ran, tentu orang-orang sekitar yang dekat dengan Ran mendengar keluhan wanita itu.


Risti yang posisinya bersebelahan dengan Ran menjawab, “Dengarkan saja dulu, katanya—”


Ran sudah tidak mendengar jelas lagi suara Risti, kepalanya pusing serta mata yang berkunang-kunang. Ah dia sudah tidak sanggup lagi, dia merasa dunia sedang berputar absurd. “Apa terjadi gempa? Tolong aku, aku tidak bisa menggerakkan kakiku,” gumam Ran. Matanya mulai menggelap, selanjutnya benar-benar gelap. Tubuh Ran tumbang disambut beberapa orang di belakang, keadaan menjadi riuh, semua orang menanyakan apa yang terjadi.


Saat Ran kembali membuka mata, dia sudah tidak berada di lapangan lagi. Ruangan ini, ah maksudnya kamar ini, ini adalah kamarnya dan Guren.


“Apa masih terasa sakit? Kepalamu tidak pusing lagi, kan?” tanya Guren ketika mendapati istrinya telah membuka mata.


Ran menggeleng samar, dia tersenyum melihat wajah Guren yang menatap teduh dirinya. Pria itu berhasil menembus bentang pertahanan Ran, hati Ran menghangat karenanya.


“Kak Guren ....”


“Hm? Kau haus? Mau minum?”


Ran menunduk, menggenggam selimut di dadanya. Ran menarik napas dalam, menatap Guren dengan mata yang memperlihatkan genangan air tertahan. “Aku mencintaimu,” ucap Ran sembari tersenyum, air matanya pun berhasil jatuh.


Sedangkan Guren, dia mematung di tempat. Masih dengan keterkejutannya, Guren perlahan duduk di birai ranjang, “A-apa katamu? Coba ulangi lagi.” Guren memaku mata Ran dengan tatapan menggebunya.


“Aku mencintaimu.”

__ADS_1


Seketika Guren menarik Ran masuk ke dalam pelukannya, setelah sekian bulan menunggu akhirnya Ran menjawab perasaan yang selama ini digantung oleh wanita itu.


Guren kemudian memberikan jarak agar dirinya bisa melihat wajah Ran. “Kau sudah mengakuinya, itu artinya kau tidak boleh pergi dariku!” tekan Guren.


Ran mengangguk, lagian dengan alasan apa dia akan meninggalkan Guren? Hidupnya sangat enak di sini, disayangi juga dinafkahi, Ran tidak kekurangan apa pun, malah dia takut Guren yang akan meninggalkannya.


“Bagaimana denganmu, Kak? Apa setelah perasaan Kaka hilang, Kak Guren akan meninggalkanku?”


Pipi Ran ditangkup oleh Guren. “Bagaimana bisa aku meninggalkan wanita secantik ini?”


Benarkah? Yang Ran tahu laki-laki bisa berselingkuh dengan bentukan monyet sekalipun. Tapi Ran tidak ingin mengatakannya, dia tidak ingin merusak momen ini dengan menunjukkan tidak kepercayaan awal pada Guren. Dia harus mengingat kalimat ini, hubungan itu dibentuk atas dasar kepercayaan.


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi, Guren bergerak untuk membukakan pintu. Saat kembali Guren bersama Mama Muti di sampingnya, wanita itu membawa keranjang buang yang segar dan berkualitas.


“Ran kamu sama Mama dulu, ya. Aku ada pekerjaan lain.”


Bohong, Guren hanya ingin memberikan waktu untuk dua wanita memperbaiki hubungan silaturahmi keluarga, sudah lebih satu tahun Ran menikah dengan Guren, tapi hubungan dia dengan keluarga Guren dingin.


“Bagaimana keadaanmu,” tanya Muti, sambil meraih pisau untuk mengupas buah apel.


“Baik, Ma.” Jawaban yang singkat, mau bagaimana lagi? Ran masih canggung dengan Muti.


Jantung Ran hampir lepas, apa ini? Kenapa Muti begitu baik sekarang? Apa apel itu sebenarnya beracun seperti apel yang dimakan Putri Salju?


Tangan Muti masih belum turun memegang piring itu, Ran tidak enak jika membiarkan tangan itu pegal. “Terima kasih, Ma.”


“Sudah makan belum?”


“A-aku akan masak, Mama lapar, ya? Tunggu sebentar ya, Ma.”


Muti menahan Ran yang ingin bangkit dari tempat tidur. “Ja-jangan, Mama saja yang masak.” Muti bergerak kaku, dia sama gugupnya dengan Ran.


“Ma, biar aku saja,” seru Ran karena Muti keluar kamar hendak memasak.


Padahal orangnya sudah hilang dari kamar, tapi Ran masih mendengar suara penolakan wanita itu.

__ADS_1


“Ada apa dengan mertuaku? Kenapa tiba-tiba baik begini?” heran Ran. Seingatnya tiga bulan yang lalu Muti datang ke sini memarahi Ran, tapi sekarang? Bahkan wanita itu tampak merasa bersalah dan ingin akur dengan Ran.


20 menit kemudian Muti datang menjemput Ran untuk ke meja makan, hanya ada mereka berdua, entah ke mana perginya Guren.


“Makanlah yang banyak, kau terlalu kurus Ran.”


“Benarkah? Padahal aku pikir aku akan menjadi model dengan tubuh seperti ini,” gumam kecil Ran.


Muti memperhatikan Ran saksama, astaga menantunya ini benar-benar cantik, cocok banget dipamerkan ke teman-teman sosialitanya, mereka pasti iri.


“Kau mau menjadi model?”


“Engga sih, Ma. Aku enggak tahu mau jadi apa, aku aja mikir sebenarnya untuk apa aku kuliah?”


“Sudahlah jadi ibu rumah tangga saja, kuliahmu menjadi pengalaman,” saran Muti, dia yang merupakan wanita karier tahu berapa sulitnya mengatur waktu untuk keluarga dan pekerjaan, oleh sebab itu dia hanya memiliki satu anak. Guren tumbuh besar dirawat oleh baby siter, bukan dirinya.


“Kenapa?”


“Biarkan saja Guren yang bekerja, tugasmu menyambutnya saat lelah, seperti keluarga yang sebenarnya,” tiba-tiba tatapan Muti menjadi sendu, Ran tidak mengerti kenapa seperti itu.


“Tapi bagaimana jika suatu hari kami membuat retakan? Aku tidak punya pegangan—”


“Nah di situlah peran besarmu. Pertahankan rumah tangga, selesaikan masalah tanpa ada kata cerai yang keluar dari mulut. Selagi Guren tidak melakukan kekerasan padamu ... mama mohon bersabar, teguhkan hatimu. Terdengar tidak tahu diri memang, tapi badai pasti akan reda.”


Terdiam sesaat.


“Ran, banyak wanita yang berpikir mereka harus punya pekerjaan atau saat mereka ditinggalkan nanti mereka tidak bisa apa-apa. Kenapa mereka memikirkan perceraian? Bukankah lebih bagus jika mereka hanya memikirkan bagaimana cara mempertahankan rumah tangga mereka?”


“Mereka hanya ingin mengamankan posisi mereka, Ma.”


Muti tersenyum getir, tangannya bergerak untuk mengisi piring Ran dengan nasi sambil berucap, “Kau sisihkan saja uang belanja dengan uang simpanan. Itu bisa berguna jika terjadi sesuatu. Guren tidak mungkin memberikan uang yang sedikit, kan?”


“Iya, Ma.”


“Mama harap kau memilih bertahan. Semua masalah ada solusinya, kau mengerti maksud mama, kan?”

__ADS_1


Ran tersenyum tipis sembari mengangguk, selanjutnya mereka sama-sama menikmati makan siang berdua ... tanpa Guren. Muti sangat perhatian, Ran tidak bisa menebak dengan apa yang sebenarnya terjadi secara mendadak ini.


Bersambung....


__ADS_2