Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 46. Ungkapan.


__ADS_3

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu cukup lama di ruangan Guren, kini tepatnya pada pukul tiga sore, Guren membawa Ran keluar dari ruangan itu.


Ran mencoba mengabaikan mata yang memperhatikan mereka, juga tentang tangan Guren yang merangkul pinggangnya posesif. Itulah kenapa Ran agak sedikit malu, bukan karena tatapan mereka melainkan sikap Guren yang sok romantis.


“Aduh-aduh posesif amat, Pak. Tenang aja enggak ada yang berani merebut istrimu,” sindir Miztard yang kebetulan berpapasan dengan mereka di pintu keluar. Mata pria itu tampak mengejek, juga bibir yang tersenyum lebar.


“Minggir!” Guren mendorong Miztard ke samping, melanjutkan langkah menuju mobilnya terparkir.


Setelah membukakan pintu, Guren meminta Ran untuk masuk. Biarkan saja bagaimana tingkah pria itu, jangan dipertanyakan, nanti malah ribet.


Ran pikir mereka akan pulang, tapi ... gang apartemen mereka baru saja dilewati tadi. Ke mana Guren ingin membawa Ran? Wanita ini pun menoleh ke arah samping, memindai Guren yang menatap lurus ke depan. “Kita mau ke mana?” Akhirnya Ran bertanya juga.


Bukannya menjawab Guren malah diam saja, melirik Ran sebentar lalu kembali fokus ke arah depan lagi.


Apa maksudnya itu? Apa salahnya menjawab? Huh~ Terserah pria itu saja deh. Mungkin dia ingin membeli sesuatu dulu sebelum pulang, atau menemui seseorang yang berhubungan dengan pekerjaan, iyakan?


Tidak. Sekarang mereka ada di Mall termewah di kota. Mereka menetap di salah satu toko yang menjual barang bermerek ... Guren tengah memilih dress wanita yang sesuai dengan tubuh Ran.


“Untuk apa lagi dress? Di rumah kan sudah ban—”


“Tiga hari lagi kita ke China. Sepupuku ada yang menikah di sana.” Guren berjalan mendekati Ran yang duduk di sofa lembut, pria itu ikut duduk menatap Ran dengan lekat juga hidung mereka hampir bersentuhan. “Keluargaku yang di sini pada sibuk, jadi kita berdua akan mewakilkan mereka semua. Banyak orang besar di sana, mereka suka menilai seseorang dari penampilan, aku tidak mau kau direndahkan mereka.”


Ok, sampai sini Ran paham. Dia akan dibawa ke acara pernikahan itu atas nama menantu Zullies family, dia harus memakai benda termahal, kan? Jangan sampai dia mempermalukan keluarga besar itu.


Astaga, tiba-tiba Ran jadi gugup. Padahal pernikahannya dengan Guren dulu juga banyak dihadiri oleh orang-orang besar, tapi dia tidak setakut ini. Mungkin karena ia akan pergi ke negara orang, dia sama sekali tidak tahu tata krama di sana seperti apa.


Apa dia harus bergaul dengan yang lain nanti? Biasa acara seperti itu orang-orang seperti mereka akan mencari teman untuk memperkuat posisi mereka. Sebuah kesempurnaan bagi mereka.


“Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?” Guren menyentuh kedua pipi Ran, memberi jarak agar dia bisa melihat dengan jelas wajah yang tiba-tiba kekurangan rona itu.


“A-aku harus apa nanti di sana? Aku mungkin akan menjadi orang bodoh sebab tak tahu bahasa mereka.”

__ADS_1


“Tidak perlu melakukan apa pun, kau hanya perlu menjadi pendampingku.”


Hanya jadi pendamping katanya? Kalau begitu kenapa tidak bawa patung saja? Dari pada Ran yang harus menyamar menjadi patung. Diam saja tentu tidak akan cukup, mengingat keluarga Guren sangat berpengaruh, mereka pasti akan mendekati Ran, untuk menjilat melalui Ran.


Semoga itu hanya pikiran saja, dan tidak benar-benar terjadi.


***


Setelah kembali duduk di mobil pun Ran masih memikirkan tentang acara pernikahan sepupu Guren di China. Kenapa dia yang dibawa? Kenapa tidak Pasya saja? Ah iya! Tentang Pasya ... Ran melupakan bagaimana dengan hubungan mereka.


“Kak Guren,” panggil Ran. “Kaka dan kak Pasya putus, ya?”


“Iya,” jawab Guren dingin.


“Kenapa?”


“Kenapa? Karena aku tidak bisa terus menggantungnya, iyakan?”


Guren melirik Ran yang terdiam. ‘Apa yang kau pikirkan Ran? Berpikir setelah Arif menarik ancamannya kau bisa kabur? Pasti mengejutkan bagimu menerima fakta aku melepaskan Pasya demi kau. Bagaimana rencanamu selanjutnya?’ batin Guren.


“Ke-kenapa tidak aku yang diceraikan saja?!” sentak Ran tiba-tiba.


Guren mengernyit, dia berakting seolah tidak tahu apa-apa. “Maksudmu? Bukannya senang rencanamu berhasil, malah ingin gagal. Pasya sedang patah hati sekarang, seharusnya kau senang, Ran. Bukannya kau muak dengan Pasya?”


“Ah i-itu ... memangnya Kak Guren enggak cinta lagi sama kak Pasya?”


“Aku lebih mencintaimu sekarang.”


Mata Ran sontak membulat dengan mulut yang ternganga. Apa dia tidak salah dengar tadi? “Jangan bercanda!”


“Aku serius.”

__ADS_1


“Aku tidak percaya!”


“Terserah ... aku akan menunggumu jatuh cinta padaku juga. Pikirkan tentang dirimu juga Ran. Apa yang akan kau lakukan jika kita memang bercerai?”


Ran diam. Setelah bercerai dia akan pergi ke mana nanti? Dia tidak diinginkan oleh keluarganya, ke mana dia akan pulang?


“Aku menginginkanmu, Ran,” ucap Guren tiba-tiba.


Ran menoleh ke arah pria yang sibuk menyetir itu. Benar juga, selama ini Ran selalu pulang ke rumah suaminya. Walaupun papa mengusir Ran, biar begitu dia tidak pernah tidur di jalan berkat Guren.


Kalau dipikir-pikir lagi, kehidupan Ran jauh lebih baik bersama Guren ketimbang bersama papanya. Ran hidup enak, tidak mengemis uang untuk biaya kampusnya lagi, tidak lelah bagai Cinderella yang diperbudak ibu tiri, dan dia memakan makanan yang baru, bukan sisa di meja makan seperti dulu.


“A-aku akan pikirkan,” cicit Ran menundukkan kepala, serta menggenggam tangannya erat-erat.


Guren hanya tersenyum tipis.


Guren sudah mencintainya, itu berarti ini kesempatan emas untuk memperbaiki takdir ‘kan? Menjadi menantu sebenarnya dari keluarga kaya itu, nikmat mana yang kau dustakan?


Sampai di apartemen, Ran langsung ke dapur, bersiap untuk membuat makan malam. Sedangkan Guren duduk di depan TV. Sudah tak di samping Ran lagi, Guren mengacak-acak rambutnya kasar sebab ia pikir ia terlalu cepat mengungkapkan perasaan. Ran menjadi canggung pada dirinya.


Terbukti sejak pengungkapan perasaan tadi, mereka hanya diam saja di mobil bahkan sampai masuk apartemen.


“Tapi tadi dia bilang akan pikirkan tadi, kan? Itu artinya dia akan mencoba membuka hatinya juga, kan?”


“Iyalah! Apalagi kalau enggak kayak begitu. Dia kapan selesai datang bulannya, ya? Mau cepat dibuat hamil biar dia enggak punya pilihan.”


Guren sudah kayak orang stres. Tanya sendiri jawab sendiri, rambutnya bahkan sudah acak-acakan. Ran dapat melihat pria di depan TV sana, dia tidak tahu apa yang membuat Guren seperti itu. Mungkin kepalanya pusing, pikir Ran tak ambil ribet.


Padahal Guren seperti itu karena dirinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2