Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 48. Pelayan ceroboh.


__ADS_3

Pengantinnya ada di singgasananya sejak 45 menit yang lalu. Ran sudah menyapa serta berkenalan dengan mereka beberapa saat lalu sejak kedatangannya.


Masalahnya sekarang adalah Ran tengah tidak nyaman, menahan perih di ************ sebab berdiri terlalu lama menemani Guren yang berbicara dengan orang-orang berdasi.


Pria itu seakan lupa bagaimana kegilaannya tadi siang. Ran ingin mengeluh, tapi dia tidak bisa menyela pembicaraan mereka sekarang. Terpaksa dia hanya diam saja. Ingin duduk pun Ran rasanya takut karena melihat para Nona ataupun Nyonya seperti sedang menunggu Ran pisah dari Guren.


“Permisi,” ujar seorang wanita dengan sopan, pembicaraan sempat terjeda, mereka terfokus pada wanita yang baru saja menyela. “Guren, boleh aku bawa istrimu untuk berkumpul dengan para wanita?”


Guren menunduk melihat istrinya yang sejak tadi banyak diam. Mungkin jika bergaul dengan wanita, Ran akan lebih menikmati pesta malam ini, pikir Guren.


“Iya, Tan. Kalau begitu aku titip istriku.”


“Terima kasih, ayo Nak ikut dengan Tante.”


Ran ikut saja dengan tantenya Guren ini, sepertinya dia juga tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi.


Xiying, nama wanita yang membawa Ran sekarang. Dia adalah mamanya Kanae, sekaligus mama mempelai pria. Wanita ini membawa Ran ke meja yang dipenuhi dengan wanita dan juga para menantu mereka.


“Silakan duduk, Ran.” Xiying menarik kursi untuk mempersilakan Ran duduk.


Seketika para wanita yang bicara menggunakan bahasa mandarin tadi berubah menjadi bahasa Inggris untuk menghargai Ran yang tidak mengerti bahasa mereka.


“Astaga, kamu cantik sekali. Dari tadi aku terus memperhatikanmu loh,” puji salah satu dari mereka.


“Bagaimana enggak cantik? Dia ini pilihan Tuan Tarmizi sendiri.” Xiying menyombongkan Ran. Ya pada dasarnya tidak ada yang tahu bagaimana awal mulai Ran masuk ke keluarga mereka, kecuali penghuni rumah Tarmizi.


Ternyata tidak buruk juga duduk bersama mereka. Para wanita ini baik, mereka tidak mencari-cari kekurangan Ran, malah mereka terus memuji Ran membuat Ran tersipu malu.


“Sudah setengah tahun menikah, apa kalian sudah menyiapkan program kehamilan?”


Ah! Akhirnya muncul juga pembahasan yang wajib bagi para Nyonya seperti mereka. Orang kaya memang selalu mempertanyakan soal penerus, apalagi bagi pasangan muda yang sudah menikah, mereka akan mengatakan....


“Bagus sekali jika kalian melahirkan banyak anak, apalagi suami masih kuat dan muda iya, kan? Jangan ragu untuk hamil, makin banyak anak makin bagus. Di hari tua tidak akan kesepian, mereka akan menjaga orang tua dan meneruskan bisnis.”

__ADS_1


“Tapi ya Bu, jaman sekarang banyak sekali wanita yang tidak mau melahirkan. Seperti menantu saya nih, sudah dua tahun menikah belum hamil juga. Katanya masih belum siap masih belum siap. Kamu itu sudah menikah, harusnya tidak ada kata tidak siap. Mau sampai putra saya menunggu?”


Ran melirik pada menantu Nyonya itu yang diomeli oleh mertuanya. Dia menundukkan kepala hampir menangis, kasihan sekali melihatnya.


Ran sedikit tersinggung dengan pembahasan yang satu ini. Dia jadi teringat Guren menginginkan bayi, dia pun sama saja seperti wanita Nyonya itu yang tidak siap. Tapi mereka ada perbedaannya, Ran menikah karena terpaksa, sedangkan wanita itu karena cinta. Seharusnya dia sudah siap seperti yang dikatakan Nyonya baju hitam, kalau tidak siap sebaiknya jangan menikah dulu.


Jangan salahkan mertua yang menuntut anak.


Maka dari itu Ran berusaha menjaga ekspresi agar tetap santai di depan mereka. Untunglah Muti tidak menyinggung soal anak pada Ran, mungkin juga wanita itu tidak menginginkan cucu yang lahir dari rahim Ran.


“Aw!” pekik Ran tiba-tiba.


Rambutnya tersangkut di kencing lengan baju pelayan wanita yang baru saja lewat. Sanggul rambutnya terlepas, mengakibatkan rambu Ran tergerai serta hiasan rambutnya yang terbuat dari susunan batu ruby merah jatuh ke lantai.


Pelayan itu menginjak hiasan rambut Ran, bersama dengan suara panik orang-orang ketika melihat susunan batu ruby itu tercecer lepas dari penyanggahnya, dan beberapa juga hilang dibawa kaki orang yang lewat.


“Maafkan saya! Nona maafkan saya.” Pelayan itu membungkuk berkali-kali.


Xiying berdiri, menampar wajah pelayan wanita itu dengan keras. “Apa yang kau lakukan?! Gajimu seumur hidup juga tidak dapat mengganti rugi hiasan rambut itu!”


Nyonya lainnya malah memanasi Xiying untuk memarahi pelayan yang disewa untuk pesta pernikahan putranya itu. “Astaga, kalau enggak salah itu hiasan batu ruby merah delima yang pernah dilelangkan di Hong Kong. Itu sangat mahal.”


Mendengar hal itu pelayan wanita langsung bersujud di kaki Ran yang masih duduk di bangkunya, menciptakan perhatian tamu lainnya.


“A-apa yang kau lakukan?” gagap Ran, tanpa sadar malah duduk di lantai agar pelayan wanita itu berhenti sujud di kaki Ran.


Seketika para tamu kaget melihat Ran yang seperti itu. Bagaimana dia bisa merendahkan dirinya dengan duduk di lantai bersama seorang pelayan?


“Ran, apa yang kau lakukan!” Xiying menarik Ran untuk kembali duduk di kursinya lagi.


“Nona maafkan saya,” tangis pelayan itu terdengar pilu.


“Tidak apa-apa, aku tidak akan memintamu mengganti rugi. Berdirilah, dan lanjutkan pekerjaanmu.”

__ADS_1


“Ran—”


“Tidak apa-apa, Tante. Batunya bisa dipungut, pengrajin perhiasan bisa memperbaikinya nanti.”


Pelayan wanita itu langsung memungut butiran merah di lantai, menyerahkannya pada Ran lalu bergegas pergi.


Sialnya pelayan itu malah menyenggol gelas wine hingga jatuh, parahnya satu pecahan gelas itu menancap di betis Ran.


“Aw!”


Lagi-lagi kericuhan tamu terjadi, melihat satu titik yang menjadi tontonan mereka.


Kali ini Guren tidak bisa diam saja menonton urusan para wanita di sana. Dia bergerak cepat menghampiri Ran, berlutut di kaki istrinya guna mencabut pecahan kaca di betis Ran.


“Sakit,” ringis Ran meremas bahu Guren, yang menjadi teman pegangannya.


“Kau.” Mata Guren langsung menilik tajam pelayan wanita itu, pelayan itu langsung pingsan sebab tidak tahu lagi bagaimana menghadapi situasi.


Guren tidak memedulikan wanita itu, dia menggendong Ran membelah kerumunan orang yang hanya menonton saja.


Tujuan Guren adalah rumah sakit, betis Ran perlu dijahit sebab robekannya cukup besar.


Sementara itu Kanae memperhatikan bagaimana tajamnya tatapan Guren tadi yang dilempar ke arah wanita yang mencelakai Ran. Entah apa yang akan terjadi pada pelayan itu nanti, pikir Kanae.


“Kayaknya perhatian Guren pada Ran lebih besar dari pada dengan Pasya. Kalau begini bagaimana cara aku nyempil di kehidupannya?” gumam Kanae. Dia jadi kehilangan semangat juang setelah melihat kejadian barusan.


Pundak Kanae ditepuk dari belakang. “Mimpi apa kamu? Ran cantiknya kebangetan begitu, kamu masih belum berpikir untuk menyerah juga?”


“Luwang! Ngagetin sumpah.” Kanae mengelus dadanya, si sepupu malah ketawa tidak bersalah.


“Andaikan aku yang lebih dulu bertemu dengan Ran, mungkinkah dia sudah menikah denganku?”


“Siapa yang mimpi sekarang, hmm? Kau atau aku?”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2