
Suara tangis yang memekakkan, membuat Pasya geram hendak mencekik Zairin. Dia mengecam Zairin dengan jari telunjuk dan mata yang melotot marah.
“Diam enggak! Diam!” tekan Pasya, sedikit mencibit Zairin hingga tangisan Zairin semakin kencang.
Sopir yang merupakan teman Pasya masa kuliah meringis pelan sebab kasihan dengan Zairin. “Pas, dia enggak bakal diam kalau kamu kayak begitu.”
“Terus aku harus bagaimana?! Aku diam saja dia tetap menangis. Kepalaku sakit, tahu enggak?!”
“Iya, tapi—”
“Sudah deh, La, mending kamu fokus aja nyetir sebelum aku ketinggalan kapal.”
Vela menarik napas panjang. Astaga, apa yang membuat Vela setuju untuk membantu Pasya. Vela yakin setelah ini dia akan habis. Tapi mau bagaimana lagi? Vela sudah capek menampung Pasya di rumahnya.
Sampai di pelabuhan, Pasya buru-buru naik ke kapal penangkap ikan. Kapal itu bukan kapal biasa, itu adalah kapal penyeludup yang membawa tepung halus yang berharga tiga miliar per-kilonya. Mereka juga menjalankan bisnis membantu para buronan untuk melarikan diri dengan harga yang fantastis.
“Ini uangnya, Pak.” Pasya menyerahkan sebuah tas yang penuh dengan uang.
Si bapak melirik anak yang menangis di gendongan Pasya. “Itu bukan anakmu?” tebaknya, mengangkat sebelah alis menambah kesan curiga.
“Iya,” jawab Pasya. Tidak perlu takut, semua penumpang kapal ini adalah orang-orang yang bermasalah.
“Oh ok.”
Benar ‘kan? Malah aneh jika kau yang normal menaiki kapal yang membawa barang ilegal, kesannya seperti intel yang tengah menyamar.
Kapal pun berangkat menjauhi daratan, Pasya bernapas lega sebab tidak mungkin lagi keluarga Zullies menemukan jejaknya—kepergian Pasya tidak membekas sebab tidak menggunakan cara normal.
“Akhirnya dia berhenti juga menangis. Repot banget sumpah.” Pasya diam lalu tersenyum jahat. “Bagaimana, Ran? Kau merebut priaku, aku merebut anakmu. Impas, ‘kan? Menangis darahlah kau di sana.”
Lagi bahagia-bahagianya membayangkan Ran dan Guren menderita, tiba-tiba suara keras pemilik kapal membuyarkan lamunan Pasya.
“Semuanya keluar! Apa kalian pikir kalian hanya akan duduk dan tidur saja di kapalku? Tidak! Kalian harus bekerja.” Pemilik kapal melempar jaring ikan ke para penumpangnya.
“Apa maksudmu? Kami sudah membayar mahal!” Pertanyaan Pasya mewakili setiap individu di situ.
__ADS_1
Pemilik kapal menyunggingkan senyum, berjalan mendekati Pasya lalu menarik dagu Pasya untuk menatapnya. Pasya gemetar, dia takut namun tidak bisa mengelak. Untunglah pria itu mulai menjauhkan diri.
“Uang kalian tidak ada apa-apanya dari pada risiko yang kami tanggung. Bekerja atau kami lempar ke laut! Tidak ada yang tahu jika kalian mati di sini, ingat itu.”
Pasya membendung air matanya, bagaimana ini? Siapa yang akan menjaga Zairin jika dia bekerja menangkap ikan? Atau ia lempar saja Zairin ke laut? Tapi ... melihat wajah pulas Zairin hati Pasya melunak, dia tiba-tiba jadi takut jika anak ini celaka.
“Ba-bagaimana dengan anakku?” cicit Pasya pelan, menumpahkan air mata mengenai pipi Zairin. Dia tidak tahu jika akan seperti ini jadinya. Pasya pikir dia hanya perlu menunggu sampai ke daratan selanjutnya.
“Itu bukan urusanku,” jawab pemilik kapal kemudian pergi.
Pasya bingung mau meletakkan Zairin di mana. Karena ini kapal penangkap ikan, ruangan di sini tidak diciptakan untuk kenyamanan—bau ikan, banyak barang yang membuat sisa tempat menjadi sempit.
Pasya melirik terpal kering dan kardus ikan beku yang lumayan bersih. Pasya menyusun benda itu menjadi tempat Zairin tidur.
“Kalau seperti ini dia pasti tidak akan terguling-guling oleh gelombang.”
“Hei kau yang di sana, cepat!” Kru kapal menghampiri Pasya.
Pasya berlutut dengan tangan yang bertaut. “Aku pakai kardus ini untuk anakku, ya.” Muka Pasya memelas, meminta untuk memaklumi Zairin yang masih bayi.
“Terima kasih.”
Hari-hari Pasya begitu berat, dia bagaikan budak yang takut akan di buang ke laut kapan saja. Namun ada yang lebih menakutkan bagi Pasya, yaitu Zairin. Kesehatan Zairin memburuk, Pasya hanya bisa memberi roti tawar yang di haluskan seperti bubur. Itu tidaklah cukup bagi Zairin yang membutuhkan nutrisi. Apalagi Zairin sering menangis sebab tidak mendapat asupan ASI. Pasya sering ditampar oleh bos sebab suara Zairin sangat mengganggu.
“Zairin.” Pasya menangis. Tubuh Zairin semakin panas, tak jarang Pasya bersujud di kaki Bos meminta sesuatu yang lebih layak untuk Zairin, seperti selimut misalnya.
Sekali lagi Pasya menghadap bos. “Bos anak saya kedinginan, tolonglah Bos pinjamkan selimut.”
“Kamu pikir saya tidak kedinginan?! Aku tidak peduli dengan anakmu, oh lagian dia bukan anakmu kenapa kau begitu peduli?”
Ya, kenapa Pasya peduli? Bukankah dia ingin membalas dendam melalui Zairin? Itu juga menjadi pertanyaan Pasya sendiri. Hatinya melunak ketika melihat Zairin, niat jahatnya seketika hilang berganti dengan rasa sayang. Kenapa ini bisa terjadi?
Pasya menggendong Zairin ke luar, menatap hamparan biru yang begitu luas. Air mata Pasya jatuh, dia berharap daratan akan terlihat. Pasya ingin membawa Zairin ke rumah sakit, tidak peduli jika Pasya tidak memiliki uang lagi, dia rela menjual dirinya sendiri agar Zairin sembuh.
“Ya Tuhan, aku salah, hukumlah aku ... tapi kumohon selamatkan anak ini.” Pasya menatap langit memohon. Dia tahu Zairin tidak mungkin bertahan lebih lama lagi jika tidak segera mendapat penanganan dari Dokter. “Tunjukkan keajaibanmu,” lirih Pasya.
__ADS_1
Tiba-tiba Pasya melihat ada beberapa kapal lain tak jauh darinya. Selanjutnya Pasya mendengar suara teriakan.
“Kita sudah sampai di perbatasan, Bos. Kapal Angkatan Laut sudah terlihat menuju kemari.”
Pasya berjongkok menyembunyikan diri di dekat tumpukan kardus ikan—mengintip kru yang melapor pada bos.
“Seperti biasa, bunuh para penumpang setelah itu lempar ke laut.”
“Baik, Bos.”
Pasya gemetar, mengetahui dirinya juga dalam bahaya, dia masuk ke dalam kardus ikan beku untuk bersembunyi. Zairin yang lemah tidak mengeluarkan suara apa pun. Selanjutnya Pasya mendengar suara keributan di luar.
“Jangan! Jangan bunuh ak—ahk!”
“Kalian bohong! Kalian bilang akan mengantar kami ke—”
“Kami tidak bohong. Kami sudah mengantar kalian ... hanya sampai perbatasan saja.” Mereka tertawa.
Suara-suara mengerikan Pasya tangkap dengan jelas. Penumpang yang bersama Pasya sebelumnya sudah mati dan akan dibuang ke laut.
“Mereka bodoh sekali. Mereka tidak berpikir, kenapa para penyelundup tidak pernah tertangkap? Karena mereka menjadi mayat yang membawa tepung mahal di perut mereka.”
“Bos para mayat sudah diisi dan diikat semua. Kita jatuhkan sekarang?”
“Ya.”
Mereka menjatuhkan mayat, mengikat menggunakan tali jernih yang dibuat khusus dan membiarkan mayat tenggelam seperti sebuah jangkar. Sebelumnya mereka sudah menggunakan pemberat. Setelah pemeriksaan selesai nanti, mereka akan menyeret mayat begitu saja tanpa menaikkannya kembali.
Angkatan Laut tidak akan curiga sebab tidak ada tali yang tampak menyangkut di bawah kapal. Mereka akan lebih fokus menggeledah kapal dan surat izin setelahnya.
Begitulah cara mereka meloloskan diri dari pemeriksaan Angkatan Laut. Menggunakan penyelundup sebagai wadah plus mendapatkan uang dari wadah itu sendiri.
Seperti sebuah keajaiban, mereka seakan lupa ada satu penumpang yang seharusnya membekas di ingatan mereka. Penumpang yang sering bersujud demi memohon untuk anaknya, kini tahu rahasia mereka.
Bersambung....
__ADS_1