
Tante, walaupun Ran sudah tahu bahwa Lerina adalah ibu kandungnya, Ran tidak mengubah panggilan yang seharusnya. Lerina membuka pintu kontrakan dengan lemas, dia duduk di kursi kayu menghapus air mata yang terus keluar.
“Kenapa? Kenapa aku menangis? Kenapa aku sakit hati? Kenapa ... kenapa dia tidak memanggilku ibu?” Lerina menutup wajahnya, menahan suara agar tidak kedengaran oleh Aldo.
Ya, kenapa? Kenapa Lerina bertanya seakan dia tidak tahu jawabannya? Seharusnya dia sadar diri—datang di saat susahnya saja.
Kemudian terdengar suara batuk Aldo dari kamar, Lerina menyeka air mata, memasang masker sebelum masuk ke kamar Aldo.
“Aldo,” panggil Lerina lirih. Air matanya jatuh lagi melihat darah hasil batuk Aldo di tangannya sendiri. “Kita ke rumah sakit, ya?”
Aldo menggeleng—mengelap sisa darah di tangan dan bibir menggunakan kain lap. Terdengar suara napas Aldo yang sulit, namun dia tetap berusaha untuk mengeluarkan kata.
“Tidak usah, Ma. Kita mana ada uang.”
“Mama yang urus itu, kamu enggak usah pikirkan masalah uang. Asalkan kamu sembuh mama rela melakukan apa saja.”
Dan lagi Aldo menggelengkan kepala, dia tidak ingin menjadi beban di ekonomi mereka yang tengah sulit sekarang.
“Kita ke rumah sakit sekarang, ambulans sebentar lagi datang.”
“Ambulans? Mama dapat uang dari mana?” Kening Aldo mengernyit, tanpa pikir panjang lagi Aldo merebut tas Lerina. Dia membongkar isi tas Lerina. Lerina ingin merebut kembali tapi entah kenapa tangannya terasa lemas dan tidak mampu sehingga dia hanya membatu ketika Aldo mendapatkan selembar cek yang bertanda-tangan atas nama Ranizi Liszila.
“A-apa maksudnya ini, Ma?” Suara Aldo gemetar, dia pernah bilang pada Lerina untuk tidak mengemis pada Ran, sesusah apa pun mereka.
“Mama tidak punya pilihan lain, Do. Tidak ada orang yang mau meminjamkan kita uang, dan ... mama hanya terpikir Ran.”
“Apa dia sudah tahu semuanya?”
“Iya.”
Aldo menggulung bibirnya ke dalam. Segara Aldo mengambil ponsel—mencari nama Ran di kontak dan mengirim pesan teks.
__ADS_1
[Ran, jangan ambil Mama dariku. Dia satu-satunya yang aku punya sekarang.]
Beberapa menit kemudian balasan masuk.
[Dia ibumu, apa yang membuatmu berpikir aku akan merebutnya? Dari pada aku, kaulah anak yang sesungguhnya. Walaupun tidak melahirkan, tapi dia yang merawatmu dari bayi. Kau lebih menyayangi Tante Lerina dari pada ibu kandungmu sendiri ‘kan, Aldo? Aku juga begitu, aku lebih sayang Mama Salsa karena dia adalah wanita yang kupanggil Mama selama bertahun-tahun. Dia merawatku dan membesarkanku.]
Aldo menangis membaca pesan dari Ran. Ya, Ran benar. Walaupun Salsa pilih kasih, tak dipungkiri dia berhasil membesarkan Ran bersama anak-anaknya yang lain. Aldo beruntung karena Ran bukanlah wanita yang banyak drama.
Satu pesan kembali masuk dari kontak yang sama.
[Jangan buat dia khawatir. Cepatlah sembuh, Abang tiriku.]
Kali ini Aldo mengangkat tipis bibirnya, menoleh ke arah Lerina yang tertunduk lemas lalu berkata, “Apa ambulansnya masih lama, Ma?”
Lerina mengangkat kepalanya, hatinya menghangat melihat senyum Aldo. Tiba-tiba Lerina mengerti apa yang di mau oleh Ran, dan jawaban dari kenapa Ran tetap memanggilnya Tante walaupun sudah mengetahui status mereka. Ran ingin Lerina menjadi sandaran Aldo, Ran ingin fokus Lerina tidak pecah. Ran tidak marah, Ran tidak dendam, hanya saja Ran tahu siapa yang lebih membutuhkan sosok ibu yang sebenarnya.
Aldo tengah rapuh sekarang, Ran tidak ingin merebut apa pun dari pria itu. Lagi pula kehidupan Ran sudah lebih baik, dia memiliki lebih dari apa yang ia impikan.
***
Guren, Ran, dan satu malaikat kecil mereka tengah menikmati angin musim panas di taman yang baru di buka setelah sekian lama di tutup.
“Kenapa kau senyum-senyum, Ran,” selidik Guren ketika Ran melihat layar ponsel. Guren sangat posesif, dia akan selalu bertanya jika Ran tengah memegang ponsel sambil mengetik, apalagi sambil senyum-senyum seperti itu.
“Bukan apa-apa,” acuh Ran.
Geram dengan Ran yang memilih ponsel dari pada Guren atau anaknya, Guren mengangkat Zairin—mendudukkan Zairin di paha Ran.
Zairin sudah berusia 6 bulan, tentu saja dia sudah bisa duduk.
Tangan Ran refleks memegang Zairin, kemudian dia mendongak melihat Guren yang telah berdiri. “Mau ke mana?” tanyanya.
__ADS_1
“Ambil laptop di mobil.”
“Hais, tidak perlu.” Ran tahu jika Guren bisa menembus sistem ponselnya dari laptop, maka Ran serahkan ponselnya pada Guren. “Ini, ambil.”
Yang Guren dapati adalah isi pesan dari Lerina yang menunjukkan foto Aldo serta keterangan kesehatan Aldo yang sudah lepas dari TBC.
[Terima kasih, Ran. Berkat mendapatkan perawatan terbaik, Aldo sekarang sudah sembuh. Tante tidak tahu harus berterima kasih seperti apa.]
“Aldo sudah sembuh?”
“Iya, kabar gembira iya, ‘kan?” Ran memasang wajah jutek. Agak sebal kadang dengan Guren yang terlalu posesif.
“Heheh, iya.” Guren kembali duduk, kembali mengambil Zairin yang ada di pangkuan Ran.
Selanjutnya Ran memposting foto mereka ke media sosial. Dalam waktu yang singkat Ran kebanjiran komentar positif. Rata-rata dari mereka memuji dan sebagainya ungkapan iri dengan pasangan yang mendekati sempurna di mata mereka.
“Sudah main Hp-nya!” Guren merebut ponsel Ran—menarik Ran agar berbaring menatap langit bersama.
Langit yang biru ternyata cukup nikmat di tatap dalam situasi santai seperti ini. Apa begini perasaan Asuna yang terlelap di bawah pohon dalam anime Sword Art Online seasons 1?
“Apa enggak apa-apa ya, Kak?”
“Apanya?”
“Besok pernikahan Kak Miztard, tapi kita malah santai di sini sedangkan yang lain pada sibuk.” Ran tertawa kecil. Guren yang mengajaknya, padahal yang banyak kerjaan Guren. Entah bagaimana reaksi Kakek sekarang? Pasti akan ada perdebatan lagi antar Guren dan Kakek nanti.
“Biarkan saja, aku lelah di suruh ini itu.”
“Jahat, padahal pas kita nikah, Kak Miztard ringan tangan. Sedangkan Kak Guren?”
“Biarkan saja, sebagai gantinya aku sudah siapkan hadiah spesial.”
__ADS_1
Entah hadiah seperti apa yang disiapkan oleh Guren, dari ekspresi jahat Guren sekarang, Ran tidak yakin itu sesuatu yang wajar.
Bersambung....