Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 59. Salah waktu.


__ADS_3

Dua wanita sampai di rumah besar yang sering mereka jadikan sarang untuk mengerjakan tugas. Mereka masuk, menemukan wanita yang duduk diam di sofa sembari beberapa kali menyeka air mata yang jatuh.


Apa dia mama tiri Aldo? Ran dan Risti baru pertama kali melihat wanita itu, biasanya mereka datang dalam keadaan orang tua Aldo tidak pernah ada di rumah.


Risti dan Ran pun saling pandang-pandangan, mereka ragu, apakah kedatangan mereka malah menjadi pengganggu di sore hari ini.


“Kita pulang aja enggak sih?” bisik Risti, selagi wanita di sana belum menyadari keberadaan mereka.


Ran mengangguk setuju, mereka datang di saat yang tidak tepat. Baru saja mau berbalik, suara wanita itu terdengar.


“Siapa kalian?”


Bahu tamu tidak diundang itu terangkat kaget, pelan-pelan mereka memutar kepala melihat wanita tua di sana yang menatap dengan penuh keheranan.


Tidak punya pilihan lain, mereka sudah tertangkap basah, lebih baik berterus terang. “Ka-kami temannya Aldo, Buk ... maaf, sepertinya kami datang di waktu yang tidak tepat,” ucap Risti, memasang ekspresi canggung plus malu.


“Duduklah dulu, ibu akan panggilkan Aldo di kamar.”


“Ti-tidak!” Ran menghentikan wanita yang hendak berdiri itu. Ini tidak benar, mereka malah diperlakukan seperti tamu padahal mereka bukan ingin datang sebagai tamu, niat mereka bukan ingin merepotkan seperti ini. “Aldo pasti sedang sedih, biarkan dia sendiri dulu,” lanjut Ran.


Risti mengangguk setuju, padahal niat mereka datang adalah untuk membantu, tapi ... bagian mana yang ingin dibantu? Dia pikir akan ada persiapan seperti kenduri, misalnya. Tapi di sini tampak sepi seperti tidak akan mengadakan hal itu, padahal waktu mamanya meninggal di desa dulu ada hal semacam itu.


Wanita paruh baya itu kembali duduk, dia diam sebab tidak tahu mau beraksi seperti apa pada tamu yang datang di hari duku, terlebih bukan untuk ngelayat.


“Nama kalian siapa?” Akhirnya wanita ini memilih untuk berkenalan.


“Aku Risti, dan ini Ran,” tunjuk Risti.

__ADS_1


Ibunya Aldo memandang dua wanita cantik secara bergantian, bibirnya terangkat tipis namun terkesan menyedihkan. Matanya saya, air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.


“Kami turut berduka cita, Bu. Semoga Ibu dan Aldo kuat menerima, juga menjalani hidup dengan baik,” ungkap Risti, sedangkan Ran hanya melihat karena dia bukan orang yang pandai berinteraksi.


Wanita itu mengangguk. “Terima kasih, oh iya karena kalian temannya Aldo mungkin kita akan sering berjumpa, nama ibu Lerina.”


Saat wanita itu menyebut namanya, Ran teringat oleh kejadian masa lalu, di saat Salsa marah dengan tuduhan ; gara-gara Ran Pasya pergi dari rumah. Wanita itu menyebut nama mama kandung Ran, nama yang sama dengan nama wanita di depannya saat ini, Lerina.


Ran menggelengkan kepalanya, mengingatkan diri untuk tidak usah memikirkan tentang ibu kandungnya. Ran tidak perlu berurusan dengan wanita yang membuangnya, lebih baik anggap saja tidak ada.


“Ada apa, Ran?” tanya Lerina, tingkah Ran yang tampak cemas menarik perhatiannya.


Ran terdiam sesaat, kemudian dia bertemu tatap dengan Lerina hingga spontan dia mengalihkan pandangan. “Ti-tidak ada ... sepertinya kami harus pulang, maaf mengganggu ya, Bu.”


Ran sudah tidak tahan, dia tidak nyaman setelah tahu nama wanita tua itu. Dia ingin segera cepat pergi, sekarang melihat wajah Lerina malah membuat Ran mual. Mungkin saja dedek bayi sedang bosan hanya duduk canggung di depan wanita yang tengah berduka.


Ran menarik Risti untuk berdiri, berpamitan pergi lalu kemudian hilang dari balik pintu utama dengan cepat, dia sudah tidak tahan untuk muntah.


“Bagaimana, ya, rupa sosok Zila sekarang? Dia hidup dengan baik, kan?” gumam Lerina, dia memanggil putrinya dengan nama belakang. Terakhir dia melihat Zila saat masih balita, setelah itu dia tidak tahu apa-apa lagi tentang putri yang ia tinggalkan, sebab suami melarang Lerina untuk mengunjungi Zila.


Dia bersandar di bantalan sofa, sudah lama sekali dia tidak memikirkan Zila, tapi wanita muda yang datang tadi kembali menyetrum ingatannya. Lerina menatap kursi yang diduduki Ran dan Risti tadi, oh! ... ada dua amplop coklat yang tertinggal di sana. Saat Lerina cek, ada nama Aldo di masing-masing amplop, pasti kedua wanita tadi yang sengaja meninggalkannya.


“I-ini ...” Lerina mengeluarkan sejumlah uang yang tebal, matanya mengerjap tidak percaya. Kenapa mereka memberikan begitu banyak?


Ada niat di lubuk hati Lerina untuk mengembalikan uang itu, tapi di goyahkan dengan pemikiran tentang dirinya yang memang membutuhkan uang untuk bertahan sampai mendapatkan pekerjaan baru.


Dari perusahaan suaminya dia mendapatkan tunjangan, tapi tidaklah cukup untuk bertahan sebab Lerina membayar gaji pembantu serta pajak mobil menggunakan uang itu.

__ADS_1


“Terima kasih,” gumam Lerina.


“Mama.”


Lerina menoleh ketiak mendengar anaknya memanggil, mata pemuda itu bengkak dan juga wajahnya pucat.


“Iya?”


“Itu dari Ran dan Risti, kan?” tanya Aldo, dia tahu dua temannya datang, Aldo hanya mengintip di tempat lain sebab dia tidak berani menunjukkan seberapa hancurnya dia sekarang.


Lerina mengangguk, dia kemudian sadar kalau uang itu atas nama Aldo, dia merasa ini bukan haknya. Lerina pun mengulurkan tangan menyerahkan tumpukkan kertas itu. “Ini ... mereka memberikannya untukmu.”


Aldo mendorong kembali. “Ini Mama saja yang kelola. Oh iya, Ma, sebaiknya mobil-mobil yang tidak terpakai dijual saja, dari pada kita menanggung pajaknya. Rumah ini juga jual saja, terlalu besar. Kita sudah tidak punya membantu, siapa yang sanggup membersihkannya?”


Lerina tersenyum, tadinya dia ingin membicarakan hal ini dengan Aldo, tapi ternyata Aldo sudah paham akan keadaan mereka sekarang. Dia pun mengangguk setuju.


Walau banyak kenangan yang melekat di setiap sudut rumah, terpaksa mereka akan mereka tinggalkan. Hidup itu tentang masa depan, jangan sampai mempertahankan masa lalu malah membebani mereka. Kenangan akan selalu melekat di otak mereka, itu sudah cukup.


“Tentang anak Mama,” singgung Aldo tiba-tiba. “Papa sudah tidak ada, tidak ada lagi yang melarang Mama untuk bertemu dia.”


Lagi-lagi Lerina tersenyum kecut, pantaskah dia menunjukkan wajah dengan bangga pada anak yang ditelantarkan? Dan Zila tidak ingin tahu tentang ibu kandungnya, itu yang dikatakan oleh istri mantan suaminya.


“Tidak perlu, mama dengar dia sudah menikah.”


“Benarkah? Terus apa masalahnya? Temui saja dia, mungkin dia juga sedang mencari Mama.”


“Tidak, dia tidak ingin tahu siapa mamanya ... Aldo hentikan, jangan membuat mama seperti wanita yang tidak tahu diri yang di saat kesusahan baru ingat anaknya.”

__ADS_1


Aldo tersentak, setelah diam beberapa detik, dia pergi kembali ke kamar.


Bersambung....


__ADS_2