
Suara pukulan dan rantai menjadi hal yang pertama kali yang Ran dengar saat bangun, dia membuka mata pelan kemudian melotot ketika mendapati Arif yang digantung bagai samsak tinju Guren.
Untuk sesaat Ran membeku, melihat Guren berkeringat dengan sarung tinju di tangannya. Darah menetes pelan dari kaki Arif yang berjuntai, pria itu sudah tidak sadar diri entah sajak kapan.
“Oh, kau sudah bangun?” ucap Guren, namun matanya terfokus pada titik tubuh Arif yang ingin ia pukul.
Ini kejam! Guren menganiaya Arif seolah Arif bukanlah manusia. Tubuh Ran gemetar kala Guren menoleh ke arahnya Guren melepas sarung tinju, maju mendekati Ran.
“Kau takut?” tanya Guren, berdiri menjulang menghadap Ran.
“...!” Pertanyaan Guren malah semakin membuat Ran takut. Sampai Guren duduk, mendekati wajahnya dengan wajah Ran. Ran memejamkan mata, dia merasakan napas hangat Guren menerpa kulit wajah.
Cup.
Guren mencium kening Ran dengan lembut. Desiran hangat menyebar melalui nadi Ran. Dia membuka mata, mendongak menatap sama menatap dengan mata Guren.
Apa tatapan setulus ini benar akan membunuh Ran? Lagi-lagi Ran digoyahkan oleh Guren.
Guren membawa Ran untuk sama-sama masuk selimut, dia memeluk Ran dari samping mengelus perut buncit Ran dan hampir menangis.
“Kenapa kau tinggalkan aku, Ran?” lirih Guren di telinga Ran, sangat lirih hingga tubuh Ran melepas olehnya.
“Katakan kenapa, Ran?” lanjut Guren.
Ran bungkam, Ran melirik Arif yang tergantung. Kalau dia katakan, akankah Arif akan mati? Ran masih menganggap cerita Arif benar, dia tidak ingin siapa pun lenyap di antara mereka.
Bungkam Ran malah membuat Guren emosi. Pria itu beranjak kasar, berjalan keluar menghempas pintu hingga foto di dinding pun jatuh dan pecah.
Barulah Arif membuka mata. “Ran to-tolong bantu lepaskan aku. Kita pergi dari sini sama-sama,” ucap Arif kesulitan mengeluarkan kata.
Ran tersentak sesaat, kemudian bahunya kembali melemas. “Tidak mungkin. Kita mana bisa kabur dari sini. Apalagi dengan keadaanmu yang entah bisa jalan atau tidak.”
__ADS_1
“Kalau kita di sini terus, kita bisa mati, Ran! Ingat, Guren itu psikopat. Dia akan membunuh aku, kamu, dan anakmu.”
“Apalagi? Apalagi yang akan dilakukan psikopat itu?” sambung Guren, melipat tangan di dada, bersandar di depan pintu bersama seringai tipis yang membekukan Ran juga Arif.
“Kak Guren?!”
Guren melangkah mendekati Ran di ranjang. “Kau percaya dengan yang dia katakan?” tanya Guren penuh tekanan. “Kau lebih percaya dia dari pada aku? Apa kau pergi meninggalkanku karena menganggap aku psikopat juga? Apa benar kau mencetaiku, Ran?” Guren menyudutkan Ran dengan rentetan pertanyaan yang tentu saja perasaan Guren ikut hancur.
Lihatlah bagaimana tubuh Ran gemetar hebat. Guren tidak tahan ingin menghukumnya sekarang juga, sungguh sulit diterima oleh Guren akan kenyataan Ran yang takut padanya.
Guren mengangkat tubuh Ran. Pemberontakan lemas Ran sungguh tidak berarti. Untuk mengatakan tidak saja Ran tidak sanggup.
“Mau kaubawa ke mana Ran, Guren?” ucap Arif, meronta dari ikatan yang melilit kuat tangannya. Arif takut Guren berlaku kasar pada Ran sebab kekecewaan besarnya.
Langkah Guren berhenti, dia menoleh sedikit ke belakang, menampakkan seringai tipis. “Menghukum istri nakal,” jawab Guren—melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.
Hukuman? Arif tahu hukuman seperti apa yang dilakukan suami pada istri tercinta. Sial! Arif iri, membayangkan Guren berhubungan dengan Ran, serasa membakar otaknya.
Setelah sekian bulan tidak bersetubuh, Ran bangun dalam keadaan sakit-sakit, terutama di bagian inti. Menoleh ke sana ke mari, Ran tidak menemukan pelaku yang m*mperk*sanya.
Dia ingin tahu sudah berapa lama ia tidur sejak pagi tadi, namun Ran tidak menemukan jam di kamar ini. Kemudian datanglah Guren membawa piring dan juga gelas.
“Aku lupa kau belum makan,” tuturnya—menyiapkan makanan yang ia beli ke dalam piring. “Makanlah dulu.” Guren menodongkan sendok, dia ingin menyuapi Ran.
Ran duduk—menahan selimut untuk tetap menutupi tubuh telanjangnya. Ran lapar, bukan waktunya untuk keras kepala—menolak makan di situasi berbadan dua.
Setelah selesai dengan makan, Guren menaruh saja piring kotor di atas nakas. Dia melirik Ran yang kembali berbaring lagi.
“Ran, sejak tadi kau tidak menjawabku ... tolonglah, jika tidak ada komunikasi masalah kita tidak akan pernah selesai.”
“....” Ran tidak bergeming, masih setia dengan posisi berbaring membelakangi Guren. Tapi di balik selimut, tangannya mencengkeram kuat seprei yang telah berantakan sejak awal. Pandangannya mulai buram oleh air yang menggenang di mata.
__ADS_1
“Ran, kau—”
“Olif, Vera,” potong Ran cepat.
Dua nama itu menggetarkan Guren, setelah beberapa detik Guren kembali seperti semula lagi. Ya, seharusnya ini tidak mengejutkan, Ran pasti sudah diberitahu oleh Arif.
“Aku tidak akan menyangkal itu,” jawab Guren, mulai dari sekarang sepertinya dia harus lebih terbuka pada Ran—jika dia ingin mendapat kepercayaan Ran lagi.
Ran semakin gemetar, isak tangisnya juga sudah tidak ia sembunyikan lagi.
“Kenapa? Kenapa Kak Guren jahat banget? Apa aku akan bernasib sama seperti mereka?”
“Tidak, aku janji.”
“Bohong! Kau punya hobby aneh membunuh wanita hamil ‘kan? Itu sebabnya kau menuntut aku hamil. Jangan berpura-pura lagi—kumohon lepaskan aku dan anakku.”
“Apa?!” Guren tersentak. Siapa yang menyebar hoaks seperti itu? Oh iya, tentu saja Arif! Sekarang Guren mengerti kenapa Ran begitu ketakutan. “Ran, k-kau ...!” Guren kehabisan kata-kata, dia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Ran. Memang tentang Olif dan Vera itu benar, tapi apa-apaan dengan hobby gila itu?
“Setelah aku mati, Kak Guren akan membawa Kak Pasya dari persembunyian, ‘kan? Lagian tidak mungkin Kak Guren mencintaiku dalam waktu yang singkat, kau masih membenciku sama seperti awal pernikahan kita, ‘kan?” Tidak ada air mata yang tertahan sekarang, Ran meluapkan kegelisahannya tidak peduli ingusnya menggantung seperti Tarzan di dahan.
Guren mengacak rambutnya kasar. Sejak kapan dia menyembunyikan Pasya? Dia saja tidak ada niat untuk mencari wanita itu. Percayalah, Guren ingin merobek mulut dusta Arif yang menghasut Ran dengan tuduhan palsu.
“Kenapa?” Ran mengelap ingus ke samping sehingga berlepotan di pipi. “Yang kukatakan benar, ‘kan?”
Guren menggeleng lemah. Oh Tuhan bagaimana cara Guren menjelaskan pada Ran? Setiap kata jadi sulit terucapkan, otaknya bingung mau menjelaskan dari mana—sebab kebanyakan masa lalu Guren sangat buruk, hingga dia takut menceritakan pada Ran.
Di tengah kebingungannya, Guren bergerak mengelap ingus Ran. Kemudian dia keluar untuk menenangkan diri—menyusun kalimat sebagai penjelasan.
“Ternyata benar,” gumam Ran, memandang pintu yang sudah tertutup rapat. Dia mengambil penilaian sepihak akan reaksi bungkam Guren yang tidak menyangkal tuduhan yang Ran dapat dari Arif.
Bersambung....
__ADS_1