Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 39. Kehangatan di cuaca sejuk.


__ADS_3

Suasana yang membuat hampir semua orang malas beranjak dari tempat tidur adalah ketika hujan yang panjang hingga pagi. Hawa sejuk yang ditimbulkan dari rintikan air, membawa rasa tenang yang berbeda.


Bagi sebagian orang suara gemuruh petir adalah hal yang menyeramkan. Namun tidak bagi Ran yang menyukai bagaimana gentur memancarkan kilat yang indah, kilatan yang selalu ia nantikan ketika badai.


Ran beranjak, bergerak cepat menyibak tirai yang menutupi jendela kaca besar apartemen mewah ini. Sudut bibir Ran terangkat, dia melihat bagaimana kilatan petir melukis langit kota yang belum beraktivitas.


“Tidak takut, hm?” Suara parau khas bangun tidur, membisik telinga Ran beserta tubuh pria itu yang tak berjarak di belakang Ran.


Siapa lagi kalau bukan Guren?


Ran menggeleng, sebagai jawaban jika dia tidak takut petir. Guren membuka matanya yang tadi terpejam menikmati momen. Wajahnya semakin maju, guna melihat bagaimana ekspresi wanita yang tengah ia peluk itu.


Takjub, mata Ran menggambarkan kekaguman besar. Mata itu melebar, mengamati fenomena alam yang paling ia sukai. Guren juga menikmati bagaimana wajah cantik Ran yang tengah fokus ke arah lain.


“Kau menyukai kilatan itu, Ran?” tanya Guren di sela-sela kedamaian. Leher Ran menoleh ke arah samping, arah di mana Guren menyanggahkan kepalanya di pundak Ran.


“Aku suka,” jawab Ran singkat, kembali lagi dia mengamati luar jendela. Namun dia mendadak kecewa, tidak ada guratan kilat lagi di langit.


Terdengar suara tawa kecil Guren. “Sudah selesai,” katanya.


“Padahal hujannya belum reda sama sekali. Aku pikir kali ini akan lebih lama dari biasanya.”


Guren melepaskan Ran, beralih menarik tirai untuk kembali menutup kaca. Sepertinya Ran tidak suka dengan tindakan Guren barusan, dia menatap Guren tidak senang sebab jendelanya ditutup.


“Ada apa? Ayo kembali tidur, menghabiskan waktu di atas ranjang, cuacanya pas sekali.”


“Tidak mau!”


Tidur katanya? Siapa akan percaya akan hal itu? Jelas sekali celananya menyembul, sesuatu di dalam sana sudah tegang.


“Pelit, padahal kau juga keenakan,” sindir Guren. Pipi Ran langsung memerah, dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah malu itu.


Tiba-tiba Guren menarik Ran, memojokkannya di jendela kaca yang tirainya Guren tutup tadi. Tangannya melorotkan gaun tidur Ran yang hanya sehelai menempel di bahu.


Gaun itu jatuh dengan begitu mudahnya. Guren menatap Ran dalam, tatapan yang memaku Ran untuk pasrah saja. Tubuh Ran memanas ketika satu tangan Guren masuk ke dalam kain segitiganya, menyentuh langsung titik yang paling sensitif Ran.

__ADS_1


“Eng,” Ran menahan suara laknat itu.


Selagi tangan Guren bekerja menelusuri area segitiga itu, bibirnya meraup bibir Ran pelan. Kaki Ran melemas, dia hendak merosot ke bawah detik ini juga. Guren tidak membiarkan Ran terjatuh, dia membawa Ran ke ranjang tak melepaskan tautan.


Ran terhempas bersama Guren yang berada di atasnya.


Sejenak Guren melepaskan bibir Ran, dia menanggalkan pakaiannya juga pakaian Ran yang tersisa. Kali ini bibirnya mendarat di puncak dada Ran, dia seperti bayi yang haus.


“K-ak ah. Jangan lama-lama, aku kelas pagi hari ini,” pinta Ran dengan suara rintihannya.


“Eng,” jawab Guren simpel, sebab tangan juga mulutnya sedang sibuk.


***


Habis mandi, Ran keluar berlari dari kamar mandi menuju lemari. Ini sudah pukul delapan, Guren tidak menepati janjinya untuk sebentar saja hingga Ran harus mengejar waktu sekarang.


“Ba-baju siapa ini?!” tanya Ran sedikit berteriak setelah membuka lemari.


Guren keluar dari kamar mandi berlilit handuk di pinggang sambil menggosok-gosok kepalanya menggunakan handuk. “Oh itu bajumu,” jawabnya santai, duduk di ranjang.


“Sekali lagi!” ucap Guren tiba-tiba dengan semangat.


“Engga! Aku sudah terlambat sekarang.” Ran menyilangkan tangannya, melindungi diri dari tatapan Guren.


“Ya sudah, sekalian aja terlambatnya.”


Begitu enteng mulut pria itu, padahal itu Ran sudah nyeri sebab ulahnya yang kasar.


“His, enggak mau! ... Ini bukan bajuku, bajuku ke mana?”


“Sudah disingkirkan. Aku ada bilang, kan, jangan membuatku malu, itu termasuk dengan baju miskinmu. Itu baju aku pilih sendiri untukmu, pakailah.”


Baiklah, Ran sudah tahu asal usul semua pakaian itu, dia tidak perlu sungkan memakainya. Anggap saja dia jual diri dengan Guren, dan mendapat bayaran berapa kehidupan mewah. Ran mengambil gaun merah muda feminin seenggan atas lutut, juga dalaman yang semuanya tampak baru.


“Pakai di situ saja, aku mau lihat,” tutur pria itu dengan wajah mesumnya.

__ADS_1


Ran menurutinya, peduli setan dengan tatapan Guren. Sialnya pria itu malah bersiul menggoda, setelah itu dia tertawa mendapat tatapan tajam Ran.


“Coba pergi ke walk in closet milikku,” suruh Guren.


Sebelumnya Ran tidak pernah masuk ke sana, bajunya saja hanya beberapa yang ditaruh di lemari pakaian yang ada di sudut kamar ini. Kenapa Guren tiba-tiba menyuruh Ran ke sana? Dari pada penasaran Ran pun pergi melihatnya.


“Hah?” Ran tercengang. Apa yang ia lihat di lemari kamar tidak sebanding dengan ada yang di sini. Deretan pakaian, sepatu, juga perhiasan wanita, hampir mendominasi ruangan yang semuanya berisi pakaian Guren. Kini tempat itu terbagi dua, milik Ran juga milik Ran.


“Kau suka,” bisik Guren di belakang Ran. Pria itu belum berpakaian sejak tadi.


“I-ini?”


“Milikmu semua, kau bebas menggunakannya. Ah, aku juga ada membeli beberapa lingerie—”


“Stop. Kenapa membeli itu juga?”


“Suka-suka aku, uang juga uang aku.”


“Yang pakai?”


“Kamu, tak mungkin aku. Tapi hanya boleh di depan aku saja, ya,” ucap Guren, kemudian tiba-tiba pria itu melongo membayangkan Ran memakai baju dinas itu.


Ran memutar bola matanya malas. Nanti saja berdebat dengan pria ini, dia harus bergerak cepat ke kampus.


***


Ran turun dari taksi setelah sampai di dekat kampus, berjalan seperti biasa dengan tatapan mata yang selalu tertuju padanya. Ran hari ini tampak beda, maksudnya penampilannya, dari atas sampai bawah, tampak mahal dan elegan.


Dia cantik, di tambah pakaian yang sangat cocok dengan Ran, sungguh memesona. Mata siapa yang tidak meliriknya sekarang?


Termasuk Arif, mulut pria itu menganga mengagumi wanita yang berstatus sebagai istri orang. Jantungnya berdebar merasakan getaran yang berbeda, setiap gerakan Ran bagai slowmotion di mata Arif.


“Aku menyesal Ran, sangat menyesal. Jika waktu bisa diputar kembali ... aku pasti tidak akan melemparkanmu pada Guren. Ini kebodohanku,” gumam Arif.


Anggap saja ini bagai karma bagi Arif. Dia jatuh cinta pada wanita yang ia anggap bahan tertawaan dulu. Siapa sangka jika wanita itu diam-diam dikagumi banyak orang? Kebencian mereka hanya sebatas rasa iri dengki, tak mampu menyaingi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2