Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 50. Kehangatan keluarga.


__ADS_3

Harus diakui, keluarga Wang jauh lebih hangat dibandingkan keluarga Zullies. Mereka menghargai Ran, tidak ada kata yang menyinggung yang keluar dari mulut mereka.


Bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya? Tentang Ran yang terdengar tidak tahu malu. Apakah mereka akan tetap sehangat ini pada Ran?


Lupakan itu! Mereka hanya perlu tidak tahu saja. Ran ingin menikmati bagaimana dia merasakan keluarga, keluarga yang tidak mengabaikan kehadirannya.


“Guren, istrimu ini sangat pemalu. Kenapa dia mendapatkan suami sepertimu?” tanya Xiying, dibarengi oleh suara tawa keluarga Wang.


Guren hanya mengangkat alisnya sebelah, selanjutnya dia melirik Ran yang tengah mengaduk-aduk makanan sebab malu. Guren tersenyum tipis, Ran yang malu-malu sangat manis.


Tak disadari olehnya ada sepasang mata lagi yang menatap Ran dengan kekaguman. Luwang, dialah orangnya. Sampai Kanae menginjak kaki Luwang, memintanya menjaga mata atau Guren mencungkil matanya menggunakan sumpit jika sampai ketahuan.


Mereka berhenti injak-injakan kaki sampai nama mereka disebut. “Kanae, Luwang, di meja makan pun kalian masih bisa bertengkar, ya,” tegur abangnya Kanae, orang yang bersanding semalam.


Mereka tahu Luwang dan Kanae injak-injakan kaki sebab meja bergetar oleh tingkah mereka.


“Dia yang duluan,” tunjuk Kanae.


“A-aku?”


Selanjutnya mereka saling tuduh-tuduhan sampai makan malam selesai. Ran dan Guren sudah di kamar, beristirahat dari hari yang melelahkan.


“Di sini tidak begitu buruk, kan?” tanya Guren, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Ran hingga kepalanya pun ikut tenggelam.


Dia membawa Ran sembunyikan di balik selimut yang besar, lampu telah mati menyisakan lampu tidur saja yang hidup. Ran tidak bisa melihat apa-apa, dia hanya bisa merasakan embusan napas yang menerpa ceruk lehernya.


“Em, mereka menyenangkan,” imbuh Ran, memejamkan mata merasakan kehangatan sosok pria yang kemarin sangat ingin ia hindari.


Susunan batu yang Ran tumpuk satu-persatu untuk membuat dinding, perlahan berjatuhan dengan Guren sebagai pengacaunya. Ran tidak tahu apakah dia bisa kembali membangun tembok yang susah payah ia bangun itu lagi.


Hati wanita itu lembut, tidak heran terkadang mereka begitu mudah menerima seseorang.


“Keluarga Zullies juga menyenangkan, mereka hanya belum mengenalmu saja. Kuharap kau cepat berbaikan dengan orang tuaku.”


Guren jadi tidak enak hati sebab Ran lebih nyaman dengan keluarga lain ketimbang keluarganya sendiri. Ini sulit, mengingat bagaimana benci orang tuanya pada cara Ran masuk di keluarga mereka.


Ran menyentuh tangan Guren yang melingkar di perutnya. “Kenapa Kak Guren menyukaiku? Aku ... aku bukan gadis baik. Wajar saja keluargamu tidak menyukaiku.”

__ADS_1


“Kenapa ... ya? Aku tidak tahu.”


Tidak ada alasan untuk mencintai, perasaan itu datang dengan seenaknya. Guren juga tidak ingat mulai sejak kapan perasaan itu timbul. Jika ditanya kenapa? Dia tidak tahu jawabannya.


“Bagaimana denganmu? Apa tidak ada rasa sedikit pun untukku?”


Ran diam, dia ingin pura-pura tidur saja dari pada menjawab pertanyaan Guren sekarang.


Guren menghela napas berat, dia harus lebih bersabar, setidaknya Ran tidak pergi dari sisinya ... untuk saat ini.


***


Sekitar pukul setengah delapan pagi, pintu kamar diketuk dari luar. Ran yang mendengar segera bangun, dia melirik jam kecil di atas meja, seketika mata Ran membulat.


Ini gawat, dia kesiangan. Memang tidak ada hal yang mengejarnya, tapi tetap saja ini bukan rumahnya. Setidaknya bangunlah pagi agar kau tidak dinilai pemalas oleh mereka.


Ran beranjak untuk membuka pintu, ternyata Tante Xiying. “Tante?”


Xiying tersenyum, kemudian dia sedikit mengintip ke dalam, melihat Guren yang tidur bertelanjang dada. Dia pun tersenyum kecil dengan segala pemikirannya, terlebih rambut Ran tampak lepek.


“Pantas saja belum bangun di jam segini, pasti karena olahraga malam ‘kan?” Nada suara Xiying terdengar menggoda, dia juga menaik-naikkan alisnya.


“Kenapa pipimu merah begitu? Santai saja. Oh iya kalau masih lelah tidur saja, kami akan sarapan duluan.”


Setelahnya Xiying pergi. Huh~ Ran menghela napas, dia kembali masuk. Ya sudah nanti saja dia keluar bersama Guren, dia pun pergi mandi.


Di sini Xiying kembali bergabung dengan keluarganya. Mereka menatap Xiying, tentu Xiying tahu apa arti tatapan itu. “Kita duluan saja. Guren dan Ran akan menyusul nanti.”


“Kenapa mereka tidak bergabung dengan kita?” tanya sang suami.


Xiying menutup mulut menahan tawa. “Guren saja belum bangun, mungkin dia kelelahan.”


Tidak ada anak kecil di antara mereka, mereka semua paham apa yang dimaksud Xiying. Pengantin baru yang ada bersama mereka seketika bersemu merah.


Bukan Xiying namanya kalau tidak jahil. “Hei pengantin baru. Bagaimana malam kalian? Jangan mau kalah ya dengan Guren, Ran.”


“Ma-mama~” rengek menantu Xiying.

__ADS_1


“Kenapa kalian cepat sekali bangunnya? Putraku sepertinya kau kurang ganas, bergurulah dengan Guren nanti.”


“Kenapa aku harus berguru dengan Guren?”


“Karena sepertinya Guren hebat. Kau tahu? Waktu malam pesta pernikahan kalian, Ran jalannya pincang-pincang seperti kepiting. Makanya mama kemarin membawanya untuk duduk.”


Mereka semua tertawa, lucu sekali saat Xiying memperagakan cara jalan Ran waktu itu.


Dalam hati Kanae berkata ; Guren ‘kan pemain. Wajar sih.”


Sedangkan mereka tidak ada yang sadar bahwa ada satu wanita yang bersembunyi di balik lemari sebab mereka membicarakannya.


“Ah malunya.” Ran menutup muka. Tadinya dia berubah pikiran, ingin bergabung dengan Xiying sebab perut yang tiba-tiba terasa lapar.


Pelan-pelan dia berjalan kembali ke kamar. Nanti saja deh makannya, sekitar setengah jam lagi misalnya.


“Kak Guren, ini sudah siang ayo bangun.” Ran mengguncang tubuh Guren. Apa pria ini mati? Kenapa dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi? Lebih baik Ran memainkan ponselnya sembari menunggu Guren bangun. Wi-Fi di rumah ini juga tidak terkunci, Ran bebas menggunakannya.


Mata Ran membulat membaca beberapa pesan dari Adit.


[Kak Pasya menghilang, Kak. Dia ikut kalian ke China, ya?]


Pasya hilang? Sebegitunya dia sakit hati hingga kabur dari rumah. Ran melirik Guren yang masih setia menutup mata, kalau pria itu tahu apa yang akan ia lakukan, ya?


Ok nanti Ran akan memberitahunya, kita lihat apakah dia akan meninggalkan Ran demi wanita itu.


Ran kembali fokus ke ponselnya, membelas pesan Adit dengan jawaban ‘tidak.’


Kurang dari semenit satu pesan kembali masuk.


[Kau anak sialan tak tahu diuntung! Gara-gara kau anakku pergi, bagaimana caramu mempertanggungjawabkan ini? Aku akan mencekikmu jika dia tak kunjung ketemu.]


Membaca pesan itu, Ran menebak yang mengetik adalah Salsa.


“Salahku?” Ran tersenyum miris, apa-apa selalu saja salahnya.


Tapi Ran tidak ingin benar-benar bermusuhan dengan Salsa. Mau bagaimanapun wanita itu berpartisipasi membesarkan Ran, juga bisa dihitung dalam seumur hidup berapa kali wanita itu memukul Ran. Lumayan baik, kan?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2