Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 76. Tamu.


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit, Ran dan Guren kembali ke apartemen. Sekarang mereka tidak hanya berdua—ada manusia kecil berada di tengah-tengah mereka. Tidak ada alasan lagi bagi Ran untuk menyimpan senjata api yang berbahaya itu. Ran pun mengembalikan pistol kembali kepada Guren.


“Aku tidak perlu lagi benda ini untuk menjagaku, Kak Guren,” tutur Ran—di atas tangannya ada pistol yang terbaring melintang.


“Kau sudah percaya sepenuhnya padaku?” Bibir Guren terangkat puas, bersama mata yang berbinar.


Ran mengangguk. Zairin sudah lahir ke dunia tanpa ada niat Guren untuk menyakitinya seperti yang dikatakan Arif. Ran sekarang yakin jika Guren tidak akan pernah menyakitinya dengan sengaja lagi, pria itu membuktikan jika dia benar menginginkan Ran sebagai teman hidupnya hingga tubuhnya dikubur.


“Maafkan aku yang telah meragukanmu,” tutur Ran penuh sesal.


Guren menarik tangan Ran, membawa wanita itu untuk melihat malaikat cantik di Baby box. “Demi dia jangan pernah pergi dari aku lagi.”


Ran mengangguk haru. Jika melihat Zairin, Ran masih tak percaya jika dia adalah wanita yang melahirkan bayi kecil itu. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Rasanya belum lama Ran menyambut Guren di rumah sebagai pacar Pasya. Tapi sekarang? Astaga takdir memang selalu di luar nalar.


“Sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan melahirkan anakmu, Kak,” gumam Ran, masih menatap lekat wajah pulas Zairin.


Guren terpaku sejenak. Kemudian tangannya beralih mengacak-acak surai Ran. Ya, Guren juga tidak menyangka gadis yang banyak dibenci orang di kampusnya dulu—menjadi wanita yang membuat Guren bertekuk lutut.


***


Di meja makan, Ran makan sendiri—dilayani oleh pelayan yang sama seperti sebelumnya. Dia adalah seorang wanita berumur 40 tahun berasal dari pusat pencari pembantu yang sudah terlatih seperti robot yang tidak memiliki perasaan selain profesional dalam bekerja.


“Nyonya saya sengaja siapkan makanan yang bagus untuk ibu menyusui.”


“Terima kasih, Sanda.”


Memang ya, pelayan yang disewa di suatu organisasi itu berbeda. Mereka memiliki pendidikan lengkap—tidak perlu mengkhawatirkan tentang drama ART sebagai Pelakor. Mereka dibuat seperti robot pekerja yang tidak boleh sembarangan melirik, tidak banyak omong kosong, dan tentu saja mulutnya terkunci menjaga rahasia rumah majikan yang ia layani.


Datanglah Risti ketika Ran sudah menghabiskan separuh makanannya.


“Mana keponakanku!” Suara Risti cukup besar sampai Ran takut Zairin bangun olehnya.


Ran menatap tajam ketika wujud Risti sudah tampak. “Diam!” tekan Ran membuat Risti menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan.


“Apa aku membuatnya terkejut? Di mana dia sekarang, aku mau melihat dia mirip denganku atau dengan tunanganku?” Risti menarik kursi juga menyomot lauk yang ada di depannya.


“Dia anakku kenapa mirip dengan orang lain?”

__ADS_1


Oh iya, Risti sudah bertunangan dengan Baslan, pria yang pernah Risti ceritakan melamar waktu itu.


“Sekarang dia mana?”


“Di kamar lagi tidur. Aku selesaikan makan dulu, Sanda kau pergi sana cek Zairin, takutnya dia kaget dengan suara Risti.”


Risti bergerak hendak mengikuti Sanda, namun Ran menahan tangan Risti untuk kembali duduk. “Bersihkan dirimu dulu sebelum bertemu anakku. Entah berapa banyak virus yang kau bawa dari luar.”


“Haruskah?”


“Harus!”


“Ini nih ibu baru, lebai!”


“Terserah. Jika kau tidak mau membersihkan dirimu, maka tidak boleh bertemu dengan Zairin.” Telunjuk Ran lurus menekan-nekan jidat Risti yang bandel. Kemudian Ran tersadar sesuatu, dia sudah lama tidak melihat Aldo, kenapa dia tidak ikut datang?


Semenjak kabur dulu Ran tidak pernah ke kampus lagi, entah bagaimana urusan Ran dengan kampus nanti. Sudahlah, Ran tidak peduli! Guren bilang dia yang akan mengurusnya. Tidak selesai pun tidak apa-apa, Ran sudah membulatkan tekad menjadi Ibu Rumah Tangga saja.


“Aldo ....” Suara Risti tampak lesu. Ran mengernyit, apa yang terjadi pada Aldo hingga Risti berekspresi seperti itu?


“Kenapa dengan Aldo?”


Alis Ran merendah, teman seperti apa dirinya yang tidak tahu keadaan sahabatnya?


“Entah virus dari siapa yang menular ke Aldo. Keterlaluan enggak sih? Seharusnya kalau memiliki penyakit yang mudah menular itu jangan ke mana-mana,” gerutu Risti. “Oh iya, suamimu ke mana?”


“Ke kantor, ada urusan mendadak katanya.”


“Syukurlah, aku rasanya tertekan jika ada dia.” Kemudian Risti berdiri menuju kamar mandi sekitar untuk membersihkan diri.


Cukup lama Risti bermain dengan Zairin, kini dia berpamitan pulang dengan alasan akan dinner bersama sang tunangan. 20 menit kemudian Ran kembali kedatangan tamu tak terduga.


Lerina, mamanya Aldo. Ran tidak ingat jika dia dekat dengan wanita itu, apa dia menggantikan Aldo untuk berkunjung.


“Tante, silakan duduk,” tawar Ran sopan.


“Terima kasih.” Lerina tersenyum canggung. Dia duduk merapatkan paha serta kepala yang menunduk segan.

__ADS_1


“Ada apa, Tante?” tanya Ran menyadari gelagat tidak nyaman dari Lerina.


Mata Lerina berkedut, air mata mulai terbendung di sana. “Maaf,” ucapnya tiba-tiba.


“..?!” Maaf? Ran bingung kenapa tiba-tiba Ran mengatakan itu. Memangnya Lerina punya salah apa dengannya?


“Tante boleh pinjam uang kamu enggak? Buat bawa Aldo ke rumah sakit yang menjamin. Tante janji akan mengbalikannya.” Kepala Lerina semakin tertunduk malu.


“Boleh, Tante. Enggak perlu pinjam, aku kasih aja, ya.” Ran mendekati Lerina, menggenggam tangan wanita itu—mengatakan tidak perlu sungkan karena Ran ikhlas.


“Terima kasih, ya, Ra-”


“Terima kasih, terima kasih. Enggak malu kamu?” sahut seseorang yang datang tiba-tiba. Dia berdiri menarik Ran untuk menjauh dari Lerina.


“Mama Salsa?”


Lerina menoleh ke arah Ran yang telah berdiri di sampingnya. “Aku sudah yakin wanita ini akan datang mengunjungimu, tentunya saat dia susah.”


“Maksud Mama apa?”


Lerina kesulitan bernapas, bagaimana jika Ran tahu dia adalah mama kandung Ran? Mama yang telah menelantarkannya. Apa Ran akan menarik kembali bantuan yang sangat Kering butuh 'kan itu?


Lerina tersenyum sinis melihat Lerina ketakutan. Oh astaga, Salsa bahagia sekali melihat raut wanita yang ia benci seperti itu.


“Dia ini wanita yang membuangmu, Ran,” tunjuk Salsa tepat di wajah Lerina.


Ran membelalak, kepalanya pelan-pelan menoleh ke Lerina. Wanita itu tidak menunjukkan perlawanan, berarti benar yang dikatakan Salsa?


“Tidak perlu memberikan uang pada wanita tidak tahu malu ini. Siapa yang membesarkanmu? Aku, ‘kan? Dia hanya melahirkanmu. Anj*ng bahkan lebih tahu bertanggung-jawab akan anaknya. Sedangkan dia? Dia tidak lebih baik dari pada Anj*ng. Abaikan saja dia, mana anakmu aku mau bertemu dengannya.”


“Sanda.”


Sanda langsung mengerti akan kode Ran. Dia membawa Salsa menemui Zairin di kamar Ran. Ini kunjungan pertama Salsa ke apartemen Ran. Tentu saja tujuannya adalah Zairin, kalau tidak dia tidak akan sudi bertamu di rumah Ran.


Salsa pergi barulah Ran kembali berurusan dengan Lerina yang menangis tersedu. “Jangan takut, Tante. Aku tidak akan menarik tawaranku tadi. Sekarang kau boleh pergi.”


“Terima kasih dan ... maafkan aku.”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2