Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 51. Polos.


__ADS_3

“Kak Pasya kabur dari ramah,” ucap Ran pada pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dengan teliti Ran memindai reaksi Guren setelah mendengar kabar itu. Awalnya Guren menelengkan kepala, selanjutnya entah apa yang ia pikirkan, Guren tidak merespons apa pun.


“Tidak khawatir?” tanya Ran, dia benar-benar tidak puas dengan reaksi Guren yang terkesan datar. Apa itu hanya akting?


Lagi-lagi Guren tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ran berpikir kenapa Guren datar saja, setidaknya penasaran sedikitlah.


Merasa terus diikuti oleh mata Ran, Guren balik menatap. “Kau menyuruhku mencarinya?”


“Berdasarkan keinginan Kak Guren saja.”


Apa Ran tengah menguji Guren? Baiklah sepertinya Guren harus ikut dalam percobaan ini. “Kalau kau memintaku, aku akan mencarinya ... sebagai ipar.”


Oh belah juga jawaban Guren. Sebagai keluarga tidak ada salahnya saling membantukan? Apalagi berdasarkan permintaan istri.


“Bagaimana dengan keinginanmu, Kak Guren? Apa kau tidak bisa bergerak sendiri sesuai pikiranmu?”


Guren bergerak maju mendekati wanita yang duduk di ranjang dengan tatapan mata yang tidak dapat Guren baca sama sekali. Apa mau wanita ini, ya?


Guren membungkuk, memperkecil jarak antara wajahnya dengan Ran. “Aku akan hubungi Miztard untuk mencari kakakmu.” Setelah itu Guren kembali membuat jarak, berjalan menuju arah cermin untuk merapikan rambut.


“Tidak perlu ... Miztard tidak seluang itu. Mama pasti sudah hubungi polisi untuk mencari Kak Pasya, tidak perlu merepotkan Miztard.”


Guren tersenyum dalam diam, dia menang. Ran pasti hanya ingin tahu, dibandingkan Pasya dan dirinya, mana yang lebih penting bagi Guren.


Walaupun sebenarnya membantu sesama keluarga itu hal yang wajar, tapi situasi mereka sekarang berbeda. Jika Guren bergerak mencari Pasya, dia seperti mantan yang masih memiliki perasaan.


Lebih baik mengandalkan orang lain saat ini.


“Ran maaf,” ucap Guren tiba-tiba.


Maaf? Untuk apa? Ran mengernyit tidak mengerti.


“Malam ini kita tidak bisa jalan-jalan. Paman memintaku untuk membantunya mencari pesien yang hilang di rumah sakit.”


“Kau sudah berjanji.” Ran menatap kecewa. Guren melanggar janjinya, untuk apa jari kelingking mereka saling bertaut semalam?

__ADS_1


“Janji adalah hutang, boleh aku minta tempo? Malam ini saja, malam besok walaupun ada *******, aku akan tetap membawamu melihat malam Baijing.”


Ran berpikir sejenak. Sepertinya ini darurat, dia tidak bisa terlalu bersikap seenaknya mentang-mentang Guren menyatakan cinta padanya.


“Ok, malam besok harus sudah dibayar, ya.”


“Ok.” Guren mengacungkan jempolnya. “Malam ini mungkin aku pulang larut, atau malah enggak pulang. Kamu tidur saja duluan.”


“Aku memang selalu tidur duluan.”


***


Guren sudah pergi Ran sendiri di rumah besar ini, satu-satunya wanita yang paling dekat dengannya di sini malah pergi bekerja. Tante Xiying adalah seorang perawat di rumah sakit, dia senang dengan profesi itu, jadi dia tidak bisa menemani Ran.


Tidak apa Ran sendiri berdiam diri di halaman rumah, setidaknya tidak ada yang mengusiknya.


Sampai beberapa menit kemudian datanglah seorang laki-laki. “Hai Ran, kau sendirian di sini?” Dia mendudukkan pantatnya tepat di sebelah Ran.


Terlalu dekat, Ran jadi sedikit takut dengan jarak tidak wajar itu. Ran pun sedikit bergeser pelan. “Iya,” jawab Ran terkesan kaku.


Luwang, dialah laki-laki itu. Dia sadar Ran bergeser tubuh menjauh tadi, Luwang sedikit tersinggung. Biar begitu, senyum tidak luntur dari bibir laki-laki itu.


“Hah? Oh iya ti-tidak apa-apa.”


Bulu kuduk Ran berdiri ngeri, Luwang merangkul pundak Ran. “Kita keluarga, santai saja,” imbuhnya agar Ran menormalisasi sentuhan yang katanya keluarga itu.


Ran menyingkirkan tangan Luwang dari pundaknya, menarik napas dalam dan berdiri dari tempat. “Luwang maaf, aku lupa mematikan keran air di kamar mandi.”


Dengan langkah yang normal, Ran berjalan pergi agar tidak terkesan seperti orang yang menghindari Luwang.


Tentu saja Luwang tahu jika keran air hanya alasan untuk Ran melarikan diri. Dia menatap punggung yang tertutup oleh geraian rambut panjang yang menari-nari ditiup angin. Sangat indah.


“Cih, ku pikir dia wanita yang mudah didekati,” geram Luwang, pasalnya istri sepupunya yang baru menikah saja tidak sedingin ini ketika digoda oleh Luwang.


Luwang memang ada kelainan, dia suka mengganggu wanita cantik yang sudah menikah. Setelah rumah tangga wanita itu hancur, bersamaan dengan itu Luwang akan meninggalkan wanita itu. Dia menikmati bagaimana seorang wanita yang menyumpahinya dengan air mata.


Tidak ada yang tahu kelainan itu, termasuk keluarganya. Dia bermain dengan sengat rapi, sosok yang lebih hina dibandingkan dengan Guren.

__ADS_1


“Luwang,” panggil Wanita yang menyembulkan kepalanya di dekat dinding.


Seketika Luwang tersenyum, itu adalah istri sepupunya. Sepertinya wanita itu kesepian juga di rumah besar itu.


Luwang memastikan situasi aman, tidak ada yang memperhatikan mereka. “Kemarilah, Kak Genji. Rumah ini pasti membosankan bagi Kakak, iyakan?”


Sama seperti Ran, wanita itu juga orang baru di rumah ini. Dia juga ditinggalkan oleh suaminya untuk bekerja.


Genji berlari kecil duduk di tempat yang tadinya adalah tempat Ran. Mereka berdua bercakap-cakap juga tertawa bergurau.


Padahal dari jendela lantai dua ada Ran yang melihat bagaimana hubungan mereka seperti yang tidak semestinya. Ran tidak ambil pusing hal itu, mungkin mereka hanya mendekatkan diri sebagai keluarga.


“Tapi sampai merangkul pinggang seperti itu ... ah! Mungkin begitu cara orang China bergaul. Aku tidak tahu apa-apa sebaiknya diam,” gumam Ran, melanjutkan langkah menuju kamar.


Tapi ... Ran tidak bisa berhenti memikirkan apakah yang dilakukan dua orang di bawah sana wajar? Apalagi Genji terlihat seperti wanita polos, bahkan dari wajahnya.


“Sepertinya aku harus turun.” Mungkin Ran bisa melakukan sesuatu, mengajak Genji untuk jalan-jalan santai bersama misalnya.


“Kak Genji,” panggil Ran. Napasnya tersengal sebab berlarian dari lantai dua. “Kak, temani aku jalan-jalan, mau?”


Genji menoleh tersenyum ramah pada Ran. “I-iya boleh,” jawabnya. Ah dia gugup sekali melihat Ran, wajah cantik Ran membuat kepercayaan dirinya turun.


“Aku boleh ikut?”


“Tidak!” Ups, Ran menutup mulutnya menggunakan tangan. Dia mewaspadai Luwang, tapi pria itu malah ingin ikut. “Aku mau menikmati waktu dengan teman wanita, maaf. Ayo Kak Ganji.” Ran menarik Genji begitu saja tanpa peduli bagaimana raut Luwang yang gelap.


Genji sepertinya wanita yang polos, Ran ingin menyelamatkan wanita mungil itu.


Sampai keluar gerbang barulah Ran melepaskan tangan Genji, dia berbalik menatap serius Genji. “Kak, aku rasa tidak usah terlalu dekat dengan Luwang.”


“Kenapa? Kita keluarga, Ran kamu jangan berpikir buruk pada Luwang. Dia baik sekali, aku nyaman mengobrol dengannya.”


Astaga, benar tebakan Ran, Genji ini adalah gadis bodoh yang sepertinya memiliki hati yang sungkan.


“Kaka terlalu polos, ini berbahaya. Sampai suami Kaka pulang, Kaka tetaplah bersamaku.”


“Bagaimana dengan Luwang? Dia ingin bertem—”

__ADS_1


“Tidak usah pikirkan dia!” Ran geram sekali dengan wanita bodoh ini, di mana abangnya Kanae mendapatkan gadis sepolos ini? Baik boleh, bodoh jangan.


Bersambung....


__ADS_2